Memilih Jalan Taaruf
Memilih Jalan Taaruf
Author: Endah Hao
Bab I (Tentang Dio)

Patah hati, kekecewaan, rasa dikhianati, dan diselingkuhi oleh mantan tunangan membuatku jera untuk menjalin kembali sebuah hubungan. Aku menyibukkan diri dengan usaha bisnis online shop. Usaha yang sudah ditekuni kurang lebih dua tahun ini akhirnya membuahkan hasil dan mempunyai banyak pelanggan.

Aku menjual pakaian-pakaian gamis modis zaman sekarang, mengikuti trending dan permintaan pelanggan terus dilakukan, untuk kepercayaan mereka kepada toko kami. Bisnis ini dimulai saat Dio—mantan tunanganku—meninggalkan diri ini bersama perempuan yang tak lain adalah adikku sendiri. Saat itu kami sedang mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan yang waktunya tinggal dua minggu lagi.

Hati ini seketika hancur, tak mau bila semua menjadi seperti ini. Tubuhku serasa dilempar batu, ketika tahu Chika—adik kandungku—tega merebut Dio dariku. Mereka berkhianat saat aku sedang menjalani studiku di UGM Yogyakarta.

***

Flashback

Hubungan kami memang sudah terjalin semenjak di bangku SMA. Jika mengenang masa itu, rasanya tak terlupakan bagaimana Dio memilih diriku menjadi kekasih hatinya. Saat lulus sekolah, aku memang tak langsung kuliah. Kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perusahaan milik Papa mengalami kebangkrutan yang pada akhirnya membuatku memilih untuk bekerja terlebih dahulu membantu keluarga.

Dio kuliah di Universitas Negeri Jakarta, tetapi ia tetap setia mendampingi ketika aku sedang terjatuh. Keseriusan dan kasih sayangnya membuat hati ini percaya bahwa ia adalah laki-laki yang pantas untuk menjadi imamku nanti. Walaupun aku hanya bekerja sebagai SPG di salah satu Departemen Store di Jakarta, Dio tidak malu akan hal itu.

Dio selalu memberiku semangat dan motivasi dalam menjalani semuanya. Selain membantu keuangan keluarga, aku juga menabung untuk kuliah nanti. Papa pun mulai bangkit kembali membangun perusahaannya, rasa syukur yang kuterima, karena walau begini orang yang disayangi masih ada berada di sampingku.

“Kamu di mana, Mas?” tanyaku di telepon kepada Dio. Hari ini aku pulang kerja dijemput Dio, sebagai pasangan kekasih yang sudah sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing, membuatku dan Dio jarang bertemu. Kami menyempatkan bertemu seminggu sekali.

“Ini sebentar lagi aku sampai. Kamu tunggu di tempat biasa, ya,” jawab Dio. Suaranya yang lembut dan penuh perhatian, membuatku selalu merindukannya.

“Iya, Mas. Aku udah di tempat biasa kok,” sahutku yang tak sabar akan kedatangannya.

“Aku udah sampai, nih,” ucapnya sambil melambaikan tangannya di balik jendela mobil berwarna biru tua terparkir di seberang jalan. Aku pun langsung menghampiri Dio dan masuk ke dalam mobilnya.

Sebelum pulang, kami mampir terlebih dahulu di rumah makan seafood langganan. Ah, tentu rasanya sangat bahagia sekali sampai saat ini aku masih bersamanya. Di hubungan kami yang sudah berjalan tiga tahun, perhatian Dio masih sama, ia selalu terbuka dan memprioritaskan diriku.

Parasnya yang gagah, hidung mancung, berkulit putih dengan rambut cepak lurusnya seakan membuat mata ini hanya tertuju padanya. Aku memandangi saat ia sedang fokus menyetir mobil. Rasanya aku wanita yang beruntung telah memiliki sesosok lelaki seperti dirinya.

Malam semakin larut, Dio hanya mengantarku sampai depan pintu rumah. Ia juga berpamitan kepada kedua orang tuaku dan memberi makanan yang juga tadi dibelinya di rumah makan seafood. Lalu tiba-tiba Chika datang meledek kami berdua yang sedang saling menatap satu sama lain.

“Cie-cie pandang-pandangan, kayanya berat banget buat pulang, Mas,” celetuk Chika sambil merangkul dari belakang.

“Eh, Chika. Iya berat banget, masih kangen sama kakak kamu,” sahut Dio dengan raut wajah penuh senyuman kepadaku.

“Duh, bikin iri deh. Beruntung banget Kak Andini punya pacar kaya Mas Dio.” Chika pun tambah menggoda kami, akan ucapan mesra dari Dio.

“Ah bisa aja kamu, Chik,” sahutku yang langsung menyikut Chika, lantaran malu karena rasanya seperti anak ABG yang baru saja merasakan jatuh cinta.

“Ya sudah, aku pulang, ya. Dah sayang.” Dio melambaikan tangannya ke arahku. Chika yang melihatnya langsung menggodaku.

“Yaelah, Kak, sampai segitu ngeliatinnya, orangnya aja udah gak keliatan,” ucapnya lalu lari sambil terus menggodaku.

Aku menyusul Chika, kami berlari-larian seperti anak kecil. Usiaku dengan Chika tak jauh berbeda hanya berjarak dua tahun saja. Kami hanya dua bersaudara, jadi apa-apa selalu berdua, tak hanya sebagai adik juga sekaligus teman curhat saat sedang ada masalah dengan Dio.

***

Hari sudah berganti, seperti biasa aku menjalani aktivitas. Sedih yang dirasa, karena tak bisa bertemu dengan Dio. Namun, aku percaya bahwa cintanya tak akan mengkhianati hati ini. Walau keadaan ekonomi keluarga sudah stabil, aku harus tetap melanjutkan kerja dalam satu tahun ini, karena tahun depan diri ini ingin kuliah di UGM Yogyakarta.

Dari SMA aku selalu memimpikan untuk kuliah di sana, entah mengapa tekadku kuat, mungkin karena di sana adalah kota terpelajar, yang membuat diri ini begitu penasaran bagaimana tinggal di luar kota, jauh dari keluarga. Hati kecil terkadang berat jika harus meninggalkan Dio di sini. Namun, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

[Mas, kalau aku kuliah di UGM kamu tak apa di sini?] Aku mengirim pesan kepada Dio, berharap ia menyetujui keputusanku ini.

[Jika itu yang terbaik untukmu, aku tak masalah. Apa pun itu aku akan selalu mendukungmu.] balas Dio, yang seakan memberi ketenangan di hati.

[Apa benar begitu? Kita akan menjalin hubungan jarak jauh selama empat tahun, apakah kamu akan sanggup dan tetap setia menungguku?] Ada keraguan dalam hatiku, karena rasanya memang berat bila harus jauh dari orang yang disayang.

[Kamu tak mempercayaiku? Apakah selama ini aku macam-macam di belakangmu? Tidak ‘kan? Aku akan selalu setia untukmu, karena aku sangat mencintaimu.] Perkataannya kali ini tentu membuatku percaya. Selama ini memang hubungan kami baik-baik saja, jika ada masalah pasti diselesaikan dengan bijak.

[Aku selalu percaya sama kamu kok, Mas. Makasih ya udah selalu dukung aku.] balasku dengan emoticon love kepadanya.

Aku pun mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti tes melalui online. Biaya juga sudah aku persiapkan dari uang tabungan selama bekerja. Impian menjadi wanita karier begitu terngiang dalam hati. Aku ingin menjadi pengusaha wanita muda. Semoga ini adalah keputusan yang tepat untukku kuliah di sana.

***

Satu tahun berlalu, akhirnya hari yang dinantikan tiba, aku lulus tes dan diterima di UGM. Hati begitu senang, hasil jerih payah terbayarkan dengan baik. Dio yang mendengarkannya sangat senang, sampai-sampai dia datang ke rumahku hanya untuk memberi bunga atas diterimanya di Universitas yang selama ini aku impikan.

Dio adalah sesosok lelaki yang romantis, ia tak henti-hentinya selalu membuatku terpukau dengan segala tingkah lakunya itu. Sering kali ia memberi kejutan untukku, yang terkadang tak pernah terpikirkan olehku.

“Makasih ya, Mas, bunganya.”

“Sama-sama sayangku. Mas, seneng dengernya kamu lulus tes. Nanti kalau udah di sana, kamu jaga kesehatan, ya, jangan sampai telat makan biar mag kamu gak kambuh.”

“Iya, Mas. Kamu tenang aja, aku bisa kok jaga diri aku di sana.”

“Ya sudah, aku pulang, ya. Kamu juga jangan tidur terlalu larut besok kan kamu harus packing dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk di sana.

“Iya. Masku sayang. Kamu hati-hati di jalan, ya.”

Dio pun pulang dengan mobilnya itu. Jika melihat dirinya, hati begitu berat dan tak rela bila harus berjauhan dengannya. Namun, demi meraih cita-cita beserta untuk membahagiakan kedua orang tua, aku harus bisa menerima risiko yang terjadi.

Related chapters

DMCA.com Protection Status