ANMELDEN“Ssst! Jangan keras-keras!” bisik Dani panik. Matanya kembali melirik ke arah Surya. “Ayah bisa bangun.”“Kalau begitu Kak Dani harus bikin aku diam.”Tatapan mereka bertemu. Di mata Rara, ada tantangan yang tak bisa Dani abaikan. Dan entah karena letih, penasaran, atau nafsu yang sudah terlalu lama ia tahan, tiba-tiba sesuatu di dalam dirinya runtuh.“Sial,” desis Dani.Ia meraih tubuh Rara dan mengangkatnya, lalu mendudukkannya di tepi sofa panjang dekat jendela, tepat di seberang ranjang Surya. Rara terkikik tertahan sambil melingkarkan lengannya di leher Dani.Dani menunduk. Lidahnya menyentuh puncak dada Rara yang sudah mengeras, memutarinya perlahan, lalu mengulum dan menyesapnya dengan lembut.“Ahh! Kak Dani …!” Rara menggigit punggung tangannya sendiri agar suaranya tidak keluar. Tubuhnya melengkung, dadanya terdorong semakin dalam ke mulut Dani.“Hmm … mmh …” Dani menyedot kuat-kuat, lalu menggigit pelan dengan ujung giginya. Satu tangannya meremas dada Rara yang satunya, men
Dani buru-buru mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian ganti, lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah tergesa. Rambutnya masih basah, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal.Tas kecil milik Tante Rina seperti yang diceritakan oleh Rara.Matanya menyapu seisi kamar rawat. Meja di samping ranjang, kursi, laci kecil, sofa di dekat jendela. Tidak ada apa pun yang mirip tas itu. Dani membuka laci satu per satu, mengintip ke bawah ranjang, bahkan memeriksa sela-sela sofa.Kosong.“Sial,” desisnya pelan. “Sepertinya sudah dibawa sama Tante Rina.”Ia menghela napas dan menoleh ke arah Surya. Ayahnya masih terlelap dengan napas teratur, selang oksigen terpasang di hidung, dan infus menetes pelan dari kantong di sampingnya. Wajah pria itu tampak tenang, terlalu tenang untuk orang yang beberapa jam lalu kolaps.“Obat apa yang sebenarnya dikasih ke Ayah?” gumam Dani lirih.“Kak Dani cari apa sih?”Dani tersentak. Rara sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu sudah keluar dari kamar mand
19“Rara?”Dani terbelalak. Air pancuran masih mengalir deras di atas kepalanya, tapi tubuhnya langsung kaku saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya.Di sana, Rara tampak tersenyum jahil. Rambut panjangnya sedikit basah terkena percikan air, dan gaun tipis yang ia kenakan mulai menempel di lekuk tubuhnya.“Hai, Kak Dani. Mandinya kok nggak ngajak-ngajak Rara sih?” suaranya mendayu-dayu, sengaja dibuat sedikit mendesah untuk menggoda Dani.“Astaga! Kamu ngapain di sini?” Dani buru-buru menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. “Bukannya tadi kamu sama Rosa sudah pulang?”“Aku balik lagi. Aku nggak bisa tidur di rumah, Kak.” Rara mendekat selangkah.“Aku kepikiran Kak Dani terus,” suaranya setengah berbisik. Jemarinya mulai berani mengusap dada telanjang Dani yang sudah basah.“Keluar, Ra! Ini kamar mandi rumah sakit. Kamu nggak boleh ikutan masuk ke sini!” usir Dani seraya menepis tangan Rara yang bermain membentuk lingkaran di dadanya.Bukannya menurut, Rara justru malah menempelk
18“Tante Rina …?”Dani membeku di ambang pintu. Matanya langsung tertuju pada ranjang. Surya ternyata tidak lagi berbaring dengan tenang seperti beberapa menit sebelumnya. Tubuhnya sudah bergeser ke tepi ranjang, sementara Tante Rina berdiri di sampingnya dengan wajah panik.“Dani, tolong!" pekik wanita itu dengan panik.“Ayah!”Dani bergegas masuk dengan cemas. Baru beberapa langkah ia mendekat, tubuh Surya tiba-tiba kembali limbung. Tangannya yang masih terpasang infus bergerak lemah, seolah berusaha mencari pegangan.“Pegang tangan ayahmu, Dan!” seru Tante Rina."Ya ampun! Ayah kenapa?” Dani segera menghampiri sang ayah. Dia menangkap tubuh ayahnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Tante Rina ikut menopang bahunya dari sisi lain.“Ayah! Ayah kenapa?”Surya tidak menjawab. Matanya hanya terbuka sedikit, napasnya terdengar berat. Dani semakin panik melihat wajah ayahnya yang pucat.“Tante, panggil perawat!”“Tidak perlu!” jawab Tante Rina cepat.Dani menoleh tajam. “Kenapa tidak
17Dani langsung terkejut ketika pintu toilet terbuka dari luar. Dia buru-buru memperbaiki celananya sambil mundur beberapa langkah.“Siapa itu? Jangan masuk!”Namun terlambat, karena pintu sudah terbuka begitu saja. Begitu pintu terbuka lebih lebar, Dani justru semakin terkejut. Orang yang berdiri di hadapannya adalah Tante Rina, ibu tirinya sendiri.“Tante Rina?” Dani menatapnya tidak percaya. “Kenapa Tante masuk ke sini?”“Ya ampun!" Rina mengerutkan kening. “Dani, seharusnya Tante yang bertanya. Kenapa kamu ada di sini?”“Apa maksud Tante?” mata Dani memicing.“Ini kan toilet perempuan.”"Hah?” Dani tercengang, hingga bibirnya setengah terbuka.Dia buru-buru keluar dan menoleh ke arah pintu. Baru kali ini dia benar-benar memperhatikan papan kecil yang terpasang di atas pintu.TOILET WANITA.Wajah Dani pun seketika memerah. Ia seperti dicakar sampai ke dalam-dalamnya.“Ya ampun!” Ia tepuk jidatnya keras.Dia benar-benar salah masuk.“Maaf, Tante. Aku tadi nggak lihat tandanya,” uca
Bab 16Dani masih berdiri mematung setelah mendengar kabar dari Rara.“A … apa? Ayah kolaps, Ra?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.“Iya, Kak. Tapi ayah sekarang sudah dibawa ke rumah sakit.”Dani mengusap wajahnya dengan gelisah. Pikirannya langsung kacau. Di satu sisi, dia tidak mungkin membiarkan ayahnya sendirian dalam kondisi seperti itu. Namun di sisi lain, neneknya baru saja sakit dan kondisinya belum sepenuhnya pulih.Kalau dia pergi sekarang, siapa yang akan menjaga nenek?Dani pun menoleh ke arah kamar.“Nek,” lirihnya, dan segera masuk ke kamar menghampiri neneknya.“Nenek masih bangun?” tanya Dani, sambil duduk di tepi tempat tidur di sebelah sang nenek.Nenek membuka mata perlahan. “Kenapa, Nak?”“Nek, Dani baru saja dapat telepon dari kota. Katanya ayah kolaps dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”Mendengar itu, nenek langsung terlihat cemas. Tampak dari gurat keriput di wajahnya yang semakin cekung.“Apa? Surya sakit?” ulangnya dengan suara bergetar.“Iya, Ne
Bab 4“Rosa, hentikan!”Dani langsung menahan tangan adik tirinya itu sebelum handuk yang melilit tubuhnya benar-benar terlepas.Napasnya memburu, seirama dengan jantungnya yang berdetak kacau saat tubuh Rosa masih menempel erat di dadanya.“Kenapa sih, Kak? Kakak benci sama aku ya?” rengek Rosa ma
Bab 3Dani menelan ludah pelan sambil terus menatap ke arah lantai atas. Tangannya meletakkan gelas ke meja secara perlahan. Ia ragu jika tadi ia hanya salah dengar, tapi ternyata telinganya tetap menangkap suara aneh dari kamar Surya.Suara desahan itu masih terdengar samar di tengah sunyinya ruma
Bab 2Dani membelalak saat gadis di depannya benar-benar menarik tali lingerie itu perlahan. Kain tipis tersebut melorot sedikit demi sedikit dari bahunya, membuat Dani refleks memalingkan wajah.“Heh! Jangan aneh-aneh kalian ya!” bentak Dani gugup.Namun kedua gadis itu malah terkikik geli melihat
Bab 1“Kak, puasin aku dong!”Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai







