ログイン"Gatot, ayo dong jangan berhenti jilatnya. Basahin, bikin aku basah."Gatot yang duduk di lantai bawah sofa, tepat di depan selangkangan Amelia, tersenyum geli melihat majikannya menggila. Amelia yang biasanya sangat galak dan judes, kini justru memohon minta dipuaskan olehnya."Hajar, hajar selagi masih bisa, Tot. Anggap aja balas dendam karena dia udah sering bentak-bentak lu selama ini," kata Gatot dalam hati.Lalu tangannya yang menelusup ke paha bagian dalam Amelia, menarik celana dalam putih berenda yang dipakai oleh wanita itu.Srek!Dengan sekali tarikan yang lumayan kasar, celana dalam milik Amelia melorot hingga ke pangkal paha. Lalu, Gatot mengangkat kedua kaki wanita itu agak tinggi, hingga tampaklah vaginanya yang gundul tanpa bulu sedikit pun.Sepertinya, Amelia memang baru saja mencukur habis bulu kemaluannya.Gluk!Gatot meneguk ludah dengan amat kasar kala matanya melihat onggokan daging kecil yang diapit bibir apem tembemnya. Merah muda, sangat bersih, dan aroma khas
"Nggak lihat kenapa? Payudaraku nggak menggoda dan nggak bikin kamu sange? Atau ... aku nggak cantik dan nggak menarik?!"Amelia yang duduk di atas sofa mengusap-usap payudara besarnya yang menyembul. Sedangkan matanya memindai penampilan anak buahnya dari ujung kaki hingga ke wajah. Lalu turun lagi dan berhenti tepat di area selangkangan yang ditutupi menggunakan dua tangan.Gluk!Diperhatikan oleh Amelia, pria berbadan kekar pemilik nama lengkap Gatot Subroto itu meneguk ludah. Tengkuknya terasa dingin, tetapi keringat jagung justru membasahi keningnya."Saya nggak menarik di mata kamu? Hmm!" Amelia kembali buka suara, membuat Gatot semakin gugup dibuatnya.Batin Gatot, apa yang harus ia katakan sekarang? Haruskah mengatakan jika ia tertarik pada tubuh bosnya itu? Tapi bagaimana jika ia malah dianggap cabul dan kurang ajar?Mengatakan tidak tertarik, itu artinya ia berbohong. Lalu, apa jadinya jika Amelia malah merasa tersinggung karena dianggap tak memiliki daya tarik?Kini Gatot b
Di bagian dalam klub, tepatnya di ruangan pribadi Mira, di sanalah kini ia dan Arga berada.Arga tampak duduk santai di kursi seberang meja kerja Mira. Sedangkan Mira sendiri membuka sebotol minuman dan menuangnya ke dalam gelas. Lalu memberikannya pada Arga."Saya nggak mau minum!" kata Arga begitu Mira menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu padanya.Pemuda itu langsung menolak dengan tegas. Tak ingin meneguk minuman beralkohol tersebut.Ditolak oleh Arga, Mira tersenyum kecil dan angguk-angguk kepala. Lalu duduk di kursinya, menikmati isi gelasnya seorang diri.Setelah apa yang terjadi, Mira benar-benar tak mau lagi mengusik Arga. Baginya, pemuda itu mau memaafkannya dan kembali bekerja di klubnya saja sudah menjadi sebuah keberuntungan yang besar."Oke, oke. Aku nggak bakal paksa kamu minum lagi," kata Mira. "Sekarang gini, aku ngajak kamu ke sini karena mau bahas soal gaji. Gajinya aku naikin dua juta dari gaji awal. Dan, di luar gaji, tip yang kamu dapat dari pelanggan a
Setelah mendapat izin dari Wulan, Arga pun benar-benar mencoba kembali bekerja di klub malam milik Mira.Di sore menjelang malam hari tersebut, tepatnya pada pukul enam, Arga yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi, bersiap untuk berangkat ke klub. Ia berpamitan pada Wulan yang sedang melipat pakaian di atas kasur."Aku berangkat sekarang ya, biar nggak kemaleman sampai klub. Tinggal di rumah tidurnya jangan malam-malam, dan kalau ada yang ketuk pintu jangan dibukain. Satu lagi, kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau kabarin Dion, soalnya aku udah bilang ke dia kalau mulai malam ini aku bakalan kerja di klub!"Wulan yang dipamiti oleh Arga, mengangkat wajahnya dan mengangguk. Sedangkan bibirnya tersenyum kecil pada sang suami."Eum, iya. Kamu kerja aja yang tenang, aku bisa jaga diri kok!" kata Wulan dengan suaranya yang terdengar santai dan tenang."Aku bawa kunci cadangan biar nggak bangunin kamu. Jadi tidur aja yang nyenyak," lanjut Arga dan kembali direspons anggukan
"Rencananya aku mau balik lagi kerja di klub, gimana menurut kamu?!"Wulan yang melerai pelukannya, mendongak dan menatap wajah Arga yang terlihat begitu serius saat berbicara.Wanita itu menggigit bibir. Sedangkan matanya yang menatap sendu sang suami tanpa berkedip."Tanpa kartu identitas, aku susah cari kerjaan, Sayang. Mentok kerja kuli panggul di pasar kayak Dion. Jadi buat sekarang ini, cuma kerja di klub aku bisa dapat duit yang gajinya besar. Itu pun bisa tanpa kartu identitas karena sebelumnya aku udah pernah masuk ke sana. Kalau belum pernah, mana mungkin bisa!" kata Arga menjelaskan. Suaranya santai, terdengar tenang dan serius. Mendengar perkataan sang suami, Wulan semakin erat menggigit bibirnya. Keningnya berkerut, membuat alisnya bertaut. Sedangkan matanya yang menyipit masih saja menatap Arga tanpa berkedip."Kamu mau balik kerja ke klub, padahal kan Bos ka—""Aku tahu dia berani ngelakuin hal yang nggak pantas kayak gitu karena pengaruh temennya, Sayang. Dia juga uda
"Kalau kamu nggak percaya dan ngerasa udah aku khianatin, atau bahkan jijik sama aku, aku pasrah. Aku bakal pergi dari sini sekarang, dan bakalan urus perceraian kita secepatnya." Arga berbicara pelan sembari melepaskan tangannya yang sejak tadi menarik-narik kain yang melilit tubuh polos istrinya. Nada bicara pemuda itu terdengar pasrah. Bahkan air mukanya terlihat sedih. Ia lalu menghela napas pelan dan kembali menundukkan kepalanya. Keadaan di dalam kamar tersebut menjadi hening. Wulan yang masih saja membuang muka, sama sekali tak memberikan reaksi apapun. Ia tetap diam di posisinya tanpa bergerak sedikitpun. Setelah beberapa saat diam, Arga beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Wulan. Lalu hendak melangkah pergi.Melihat pergerakan Arga, Wulan segera menoleh dan menatap sang suami. "Jangan pergi, Ga!" katanya, masih dengan wajah memerah. Sedangkan nada suaranya terdengar gemetar. Namun, Arga sama sekali tak mengindahkan perkataan Wulan. Arga tetap keluar dari kamar t







