LOGINSaat menyerahkan kegadisan kepada kekasihku satu bulan sebelum pernikahan yang direncanakan dengan laki-laki pilihan orang tuaku, aku berpikir tidak akan pernah menyesalinya. Namun ternyata itu adalah awal semua penderitaanku
View MoreIn a life that now feels like a distant memory, I basked in the warmth of what I believed to be a happy family. I was blissfully unaware of the storm brewing beneath the surface, until July, my birth month I was supposed to be 30 years old when my world came crashing down.
On that fateful day, I discovered my husband Andre had secretly married another woman Kimora . The shocking revelation left me reeling, as I tried to comprehend how this could have happened right under my nose. For twelve long years, I had been married to a man I thought I knew inside and out. Little did I know that the person I had devoted my life to had been leaving a double life.You might think that you are shocked now, but brace yourself, because there's more to this twisted tale of betrayal and heatbreak. As I began to investigate further, I noticed layers upon layers of lies while one more disturbing than the last. And then, as if the emotional turmoil wasn't enough, I found myself facing a new and chilling threath Malicious online trolls targeted me with a barrage of hateful messages, making me fear for my safety. But even more sinister were the secrets I discovered in the once loving sanctuary of my matrimonial home. I couldn't shake the feeling that my life was in danger, and I knew that I had to fight back to protect myself from unseen forces.My love life was on the emotional rollercoaster that was my journey to uncover the truth and confront the threats that loomed over me.I felt the pain of betrayal, the anger at being deceived, only to have her life turned upside down in the blink of an eye.The first time l encountered his bad character. My husband and I were in Dubai in April, soaking up the sun and enjoying what I thought were moments of marital bliss. One evening, as we were on a video call with our kids back in the USA, a message popped up on his phone. It read, "Every time I see her pictures, it makes me sad." My heart skipped a beat, and I couldn't help but question him about the message. My husband brushed it off, saying it was a girl from his past who had been harassing him. He denied knowing her or having any sort of relationship with her. I wanted to believe him, but deep down, I knew that something wasn't right. I cried my eyes out, feeling betrayed and helpless. Upon returning to the USA, l couldn't shake the feeling that I needed to do something about the situation. With a heavy heart, I decided to voice my concerns to my husband's parents. However, their response was I should put my mind at rest that he will never do such a thing,His mother insisted that the lady was merely a business partner, but my husband quickly silenced her from revealing any more.All these contradictions and evasiveness from the family began to take a toll on me psychologically and mentally abusing my sanity.They tried to minimize the issue, dismissing it as neither serious nor deep. Driven by a desperate need for the truth, I took matters into my own hands. I went through my husband's phone and found some strange numbers that he had been communicating with on W******p. My heart pounding, one of the numbers I called ended up being a female. I questioned her about her relationship with my husband, but she flatly denied knowing him at all. Feeling cornered, I hung up and sent her a text message, including a picture as proof that her number was saved on his phone as Kendra(which later found out her real name is Kimora Williams ). Yet, she still denied it, insisting that she had no connection to him whatsoever.I felt stuck, unsure of how to proceed. It seemed as if everyone involved was determined to keep me in the dark, denying any serious relationship between my husband and Kimora. But I couldn't ignore the nagging feeling that there was more to this story, and I knew l had to keep digging to uncover the truth.However, I kept hopes up. Thinking the marriage was salvageable. On June 20th, my husband informed me that he needed to travel to Paris for an important project. I wasn't keen on the idea, but he managed to convince me with documentary evidence that he had been approved for a 57,000,000 Dollars grant for the oil and the gas station he is building. He insisted that he had to be in Paris to monitor and supervise the project personally.On June 27th, same year, I found out that My son had also contracted The flu and started running a fever. I was furious with him for leaving us in such a vulnerable state, and I couldn't bring myself to answer any of his calls. My anger grew as I struggled to care for my sick child feeling isolated and overwhelmed. On July 1st, I was resting in bed with my daughter when I received a phone call from a friend of mine. She inquired about the whereabouts of my husband and asked if there were any problems in the marriage. I told her there was no issue, aside from him leaving for Paris while I was sick with our son. She then asked if that waş truly the only problem in our home .My curiosity grew, so I asked her what she meant. My friend sent me a picture that made my heart drop -they were dressed in white and pink coordinating colors, looking all too comfortable with each other. The wind was knocked out of my sails, and I felt completely blank. I dialed his number, my hands shaking with fury. Instead of addressing my concerns, he began interrogating me about not picking up his calls. I couldn't believe his audacity. ignoring his questions, I sent him the picture my friend had shared with me and demanded an explanation. He immediately started apologizing, but I pressed him further, asking him why he was apologizing and what for. He told me that the lady was celebrating her birthday, and that's why they were dressed in matching clothes. I couldn't help but ask why he was the only one matching with her since I didn't see a crowd of people wearing the same outfits. It was evident to me that there was more to these pictures .Pada akhirnya kami memberikan nama Ammar pada anak ketiga kami, nama itu memiliki arti yang bagus dan juga termasuk paduan dari namaku dan nama mas Damar.Kami dikaruniai lagi anak laki-laki yang lucu. Dulu saat kami begitu ingin Yang Kuasa belum berkenaan memberikannya, sekarang dengan mudahnya semua diberikan kepada kami. Seperti itulah rezeki, jika belum menjadi hak kita meskipun hampir ada dalam genggaman tetap saja akan terlepas juga. Semua keluarga lagi-lagi berkumpul di rumah ini untuk ikut berbahagia bersama kami. Hanya Nisa dan suaminya yang tidak bisa datang karena sedang hamil juga. Akhirnya adik iparku itu juga hamil saat ini. "Apa kamu masih tidak suka papa menjodohkanmu dengan pria pilihan papa?" tanya papa sambil mengelus kepalaku. Aku sedang berada di kamar membereskan baju-baju juga hadiah dari teman-temanku dan keluarga kami untuk baby Ammar dan papa barusan masuk ke kamarku sambil membawa hadiahnya untuk cucunya. "Kenapa papa bilang seperti itu, kalau aku menye
POV DAMAR____________Aku sudah menyiapkan semua sebelum berangkat ke rumah sakit. Termasuk melakukan reservasi hotel didekat rumah sakit. Aku pikir jika belum ada pembukaan atau baru pembukaan awal, kami akan menginap di hotel terdekat dengan rumah sakit. Mengingat hari ini sudah masuk Hpl nya, agar tidak terlalu jauh mondar mandir dari rumah ke rumah sakit. Si kembar sudah aman bersama dengan neneknya, jadi kami tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua untuk saat ini. Kami berjalan beriringan menuju kamar hotel yang sudah kami pesan, beristirahat dan rileks sebelum melahirkan mungkin bisa juga menjadi pilihan untuk Amelia saat ini. "Mau istirahat atau mandi dulu," tanyaku begitu kami memasuki kamar. "Aku ingin rebahan dulu mas," jawabnya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang cukup luas untuk kami berdua. Aku meletakkan beberapa barang bawaan yang tadi sempat aku bawa serta kedalam kamar. Setelah itu ikut merebahkan diri disampingnya. Aku mengelus-elus pinggangn
"Perut mama besar ya?" tanya Yumna sambil memegang perutku yang sudah membuncit."Iya, ada adiknya, Sayang," jawabku sambil membelai rambutnya. "Boleh sayang adik?" kali ini Zikri yang datang menghampiriku. "Tentu boleh," jawabku sambil merentangkan kedua tanganku. Membiarkan kedua anak tersebut memeluk perutku. "Wah adiknya bergerak-gerak," pekik Yumna kegirangan. Sepertinya dia merasa gerakan yang ada di perutku, yang barusan juga aku rasakan. "Hai anak-anak, kalian sedang apa?" tanya mas Damar yang baru selesai mandi. Dia baru saja pulang dari bekerja meskipun baru tengah hari."Ada adik di dalam sini, dan dia bergerak-gerak," seru Yumna kegirangan."Apa kalian sayang adik?" tanya mas Damar lagi. "Sayang ... sayang," pekik ke-duanya sambil loncat-loncat. "Mau segera betemu dengan adik?" tanya mas Damar sambil mengelus perutku. "Mau!" jawab Zikri. "Kalau begitu hari ini Yumna sama Zikri menginap di rumah nenek yaa, mama sama papa mau ke dokter biar adiknya cepat keluar."
POV FARHANKu kecup kening wanita berpipi tirus yang tertidur di samping kemudian aku menyelimutinya. Siang tadi dia pingsan lagi gara-gara panik memikirkan putranya. Entah apa penyebabnya, jika panik melandanya dia akan pingsan. Kuhela nafas panjang sambil menatap langit langit kamar kami, begitu banyak cobaan yang menimpanya hingga dia seperti ini dan aku adalah salah satu orang yang mempunyai andil dalam penderitaan yang menimpanya. Beruntungnya dia tidak mengalami depresi meskipun banyak hal yang dia pendam.Malam itu saat dia tidak sadar karena ku beri obat tidur aku menggaulinya. Aku berpikir saat umi menyuruhku untuk menjemputnya di malam hari, itu adalah sebuah keberuntungan buatku. Beberapa kali melihatnya timbul keinginanku untuk mencicipi tubuhnya. Hingga saat umi memintaku untuk menjemputnya kemudian mengantarkannya ke pesantren aku malah membawanya ke rumah kami setelah dia tidak sadar karena obat yang aku berikan.Namun aku mendapati sebuah kecewakan, ternyata dia tid
POV DAMAR______&&_____Tengah malam buta aku memacu kuda besi menuju peternakan, aku abaikan dinginnya udara malam, meninggalkan istriku yang sepertinya dikuasai oleh ribuan pertanyaan. Jono, orang yang bertugas menjaga peternakan mengatakan jika dia menangkap orang yang beberapa hari ini bikin rusuh
Suasana desa yang sejuk dan asri kembali menyapa kami. Pada akhirnya mas Damar dan aku memutuskan untuk pulang juga ke kampung. Kami berangkat selepas subuh dan sampai di kampung ini selepas Zuhur. Kami akan tinggal di rumah besar itu lagi, dimana untuk mempertahankannya bapak rela mengorbankan bany
" Mana suamiku!" tanya Zahra ketus. "Dia suamiku juga, Zahra," ucapku setenang mungkin. "Suruh dia pulang ke rumah ibu, jangan biarkan dia di rumah ini. Atau kalau tidak aku akan membuka lagi keburukanmu di group alumni," ancamnya.Zahra selalu saja memgancamku dengan hal itu, dulu saat dia memintak
"Ayo mbak saya antarkan," ucap mbak Susi yang sudah menungguku di depan pintu keluar. Aku memang tidak berniat membawa mobil yang biasa aku pakai, itu bukan mobilku. Tapi milik mertuamu."Kita bisa naik motor," ucapnya lagi. "Mbak Susi ... Tolong bantu aku," terdengar teriakan Zahra dari dalam rumah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore