LOGINGadi dan Arleta saling mencintai. Meskipun mereka berbeda keyakinan. Bahkan demi Arleta, gadis yang tengah hamil calon bayinya, Gadi rela meninggalkan kepercayaannya. Namun, semua itu tidak lantas membuat kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja, terlebih lagi Gadi yang menyesal karena pernah meninggalkan keyakinannya hanya demi perempuan.
View MoreChapter One
“Do you want me to kneel, my king… or would you rather watch me bend over?” Liana’s lips trembled as she whispered the words. The silk of her dress clung to her hips, the red fabric falling low enough that the tops of her breasts threatened to spill free. She should have been ashamed. She should have kept her mouth shut. But the words left her tongue like honey dripping down a blade, sweet but dangerous. Kael Ardyn’s golden eyes sharpened in the glow of the torchlight. He sat high on the obsidian throne, one arm resting lazily on the carved armrest as though he had already claimed every inch of her body. The muscles beneath his black silk shirt shifted when he leaned forward, and the sight made her knees weaken. “Speak carefully, little bride,” Kael said, his voice low and cruel. “You are not in your mother’s hut anymore. Every word you say here… belongs to me.” Liana swallowed hard, her throat dry. Around them, the great hall stretched high into the shadows. Tall windows glowed with firelight, spilling across velvet curtains and golden pillars. Dozens of courtiers lingered in the corners, whispering. They were watching her humiliation, her transformation from a village girl to the king’s newest possession. But it was only Kael she could feel—his gaze, his hunger, the weight of his power filling the room thicker than the smoke of the braziers. Her hands curled at her sides. “If my words belong to you, then let me give you more,” she said softly. “Would you like me to beg for your touch?” Gasps rose from the crowd. Kael’s smile was sharp enough to cut. He rose from his throne with a grace that felt unnatural for a man of his size. His cloak swept behind him like liquid gold as he descended the steps. Every eye followed him, but Liana’s body stiffened as he came closer. She wanted to hate him. She wanted to spit in his face. But her pulse betrayed her. The thrum between her thighs betrayed her. “You think this is a game,” Kael murmured when he stood before her. His height swallowed her completely, his shadow falling over her until she could no longer see the courtiers. Only him. “You think opening your mouth and speaking like a wh*re will give you power.” Her breath caught. She should have denied it. She should have looked away. But instead, her chin lifted, and her lips parted. “Maybe I am a wh*re now, if that is what it takes to survive in your palace.” The sharp edge of Kael’s laugh rolled through the hall. He seized her wrist, pulling her against him so swiftly her breasts pressed against the hard wall of his chest. The courtiers gasped again, the whispers rising to a frenzy. Kael bent his head so only she could hear him. His voice burned against her ear. “Say it louder. Let them all hear what kind of bride I have brought home.” Liana’s heart hammered. Every inch of her screamed to resist, to claw at his face, to curse him for tearing her from her family. But his hand tightened on her wrist, and the heat of his body spread into her skin like fire sinking into snow. “I belong to the king,” she said. Her voice cracked. “Louder,” Kael demanded. Her stomach twisted. Shame and desire braided together until she could not tell them apart. “I belong to the king!” she shouted, her voice echoing off the pillars. The courtiers erupted. Some laughed cruelly, others murmured in approval, but all eyes stayed fixed on her trembling body. Kael released her wrist, only to slide his hand to her waist. His fingers pressed into her curves possessively. He tilted her chin upward, forcing her to meet his gaze. “Now they know,” he whispered. “And soon you will know it too, in every way a woman can.” Liana’s lips parted to answer, but her throat closed. She hated him. She feared him. But beneath the terror pulsed something darker—an ache she had no right to feel. Kael stepped back at last, turning to address the court. “This woman is mine,” he announced. His voice boomed like a war drum. “From this night forward, her body, her words, her loyalty belong to the throne.” The courtiers cheered and bowed, their voices rising until the hall shook. But Liana’s mind was already spinning. She could still feel Kael’s hand on her waist, the heat lingering as if he had burned his claim into her flesh. She should have felt like a prisoner. Instead, her skin tingled with a hunger she did not want to name. And when Kael’s gaze flicked back to her, heavy and unyielding, she knew one truth would soon consume her. The king was relentless. And he desired her.Aku Berpindah Agama Karena AibBagian. 5Atas permintaan Pak Hartono, pagi-pagi sekali aku sudah berada di kediaman beliau. Hari ini adalah hari pembuktian perkataanku kemarin. Hari ini juga aku akan buktikan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Arleta.Ku rasakan suasana di minggu pagi ini terasa sangat berbeda. Matahari pagi lembut menyapu kulit ari ku. Ku hembuskan nafasku perlahan, aku tatap dalam-dalam bayangan diriku dalam cermin ruang keluarga rumah Pak Hartono.'Gadi Prasetyo, hari ini akan menjadi titik balik dalam hidupmu.' ucapku dalam hati.Keputusan terbesar sepanjang sejarah hidupku telah aku pilih. Setelah apa yang sudah terlewati, aku tidak akan menambah luka di hati Arleta lagi. Sudah cukup kebodohanku kemarin. Meskipun pilihanku ini menyesakkanku. Dan bahkan mungkin dianggap suatu kesalahan besar, tapi aku mencoba untuk menerima dan memulai semuanya dari titik nol dalam hidupku.Dadaku masih terasa sesak. Ku
Nayla beranjak pergi dari hadapanku setelah aku memohon padanya untuk jangan membahas perihal kehamilan Arleta pada Pak Hartono. Ku lihat Nayla menghampiri Pak Hartono. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku harap Nayla bersedia membantuku. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa bicara jujur pada Pak Hartono. Nayla Pratiwi. Dia adalah wanita yang pernah ada di masa lalu ku. Nayla adalah mantan kekasihku sebelum aku menjalin hubungan dengan Arleta. Hubungan kami tidak di restui oleh kedua orang tua Nayla. Karena mereka ingin melihat Nayla sukses menjadi seorang Dokter. Pada saat itu, Nayla masih berkuliah di jurusan kedokteran. Dan aku, aku hanyalah seorang penjual gorengan yang tidak akan mampu memberikan kebahagiaan materi pada Nayla. Itu sebabnya aku mundur dari hubunganku bersama Nayla. Meskipun kami saling mencintai. Dan kini, aku bertemu lagi dengannya setelah sekian tahun disaat dia sudah sukses menjadi seorang dokt
Aku Berpindah Agama Karena AibAkupun segera beranjak menyusul Pak Hartono yang sudah berjalan terlebih dulu menuju dapur. Kulihat Mbak Ningsih sedang mengatur meja makan dengan rapih. Aku hanya tersenyum ketika Mbak Ningsih melihatku."Duh Mas Gadi ini, tatapannya itu lho, bikin klepek-klepek!" ujar Mbak Ningsih dengan ciri khas bicaranya yang genit-genit manja."Heh, Ningsih! Ngapain kamu godain calon ayah anak aku!" celetuk Arleta yang sedang membawa satu wadah besar nasi goreng pesanan Pak Hartono.Aku dan Arleta terbelalak. Kemudian Arleta tersadar akan perkataannya itu. Mbak Ningsih pun ikut terkejut dengan kata-kata Arleta."Hah? Calon ayah? Emang Non Leta ham--""Sssttt!" dengan buru-buru aku mengangkat jari telunjukku ke arah bibirku. Memberi isyarat pada Mbak Ningsih untuk menghentikan perkataannya. Aku khawatir Pak Hartono mendengar apa yang kami bicarakan."Ada apa to kok rame banget," celetuk Pak Hartono yang berjala
Aku Berpindah Agama Karena AibTok tok tok!Aku mengetuk pintu dengan ragu ketika aku dan Arleta sudah berada di depan pintu rumah Pak Hartono. Tubuh mungil Arleta bersembunyi di belakang punggungku. Arleta benar-benar takut menghadapi Papanya sendiri. Tangan Arleta begitu kuat mencengkeram lenganku. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang sedang ketakutan di marahi oleh orang tuanya.Tidak lama, terdengar seseorang sedang membuka kunci pintu dari dalam. Seketika jantungku berdesir. Arleta semakin mencengkeram lenganku."Kak, aku takut" bisik Arleta pelan."Ssst, tenang ya, Sayang" jawabku menenangkannya."Loh, Mas Gadi--" ucap Mbak Ningsih sambil mencoba melongok ke arah belakang punggungku dan berusaha melihat Arleta. Ternyata yang membukakan pintu adalah Mbak Ningsih."Lah, Non Leta kok nemplok di belakangnya Mas Gadi to, udah kayak jin yang suka nempel di badannya orang ae" ucap Mbak Ningsih dengan logat jawanya yang kental






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore