Share

5. Rahasia di Tengah Gemerlap

Penulis: W.M.G
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-25 14:40:33

Sira baru saja turun dari pelaminan, masih dengan jantung yang berdebar dan perasaan yang kacau diikuti oleh Arwan yang terus ada di sampingnya.

Belum sempat Sira bernapas lega, suara riang tiba-tiba  memanggil namanya dari arah belakang.

“Sira? Ya ampun, ini beneran Sira Aghnia Aziza, kan?”

Sira menoleh, dan seketika senyum tipis muncul di wajahnya. Beberapa teman kuliah yang dulu sering nongkrong bareng di kampus melambai ke arahnya. 

“Oh, kalian juga datang…” Sira menghampiri dengan langkah pelan, menyembunyikan gejolak hatinya yang masih bergetar.

Sebelum ia benar-benar sampai, Sira menoleh ke Arwan yang masih setia berdiri di sampingnya.

“Kak, kamu nyusul ke meja guru-guru lain aja, ya. Aku mau ngobrol sebentar sama teman-teman kuliahku.”

Arwan menatapnya sejenak, seolah ragu untuk meninggalkannya sendirian, namun akhirnya ia mengangguk.

“Jangan lama-lama, Ra,” katanya pelan, lalu berlalu.

"Siapa, Ra? Suami kamu? Jangan bilang kamu udah nikah tapi gak ngabarin kita?" Tanya Merry menyelidik.

"Bukan, Mer. Cuma teman kerja. Tuh mereka di sana, tadi kita datangnya juga rame-rame sama yang lain." Sahut Sira sambil menunjuk ke arah meja tempat rekan kerjanya berkumpul.

"Ohh...." Merry mengangguk.

"Ganteng juga, Ra. Boleh kali di kenalin sama aku?" Ucap Dina menimpali sambil memandangi Arwan dari jauh.

"Sadar, Din. Kamu lupa sekarang udah jadi pacar Riko." Kata Merry sambil memukul punggung Dina pelan.

Sira duduk di kursi kosong di antara teman-temannya.

"Hah? Sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Sira sambil memandangi Dina dan Riko bergantian.

"Udah gak usah di bahas. Gak sengaja aja kita pacaran." Sahut Dina sambil tertawa.

Setelahnya mereka hanya berbincang ringan tentang masa kuliah, tentang dosen killer, tugas akhir yang membuat stres, dan reuni yang hanya selalu jadi wacana.

Sira tersenyum, meski sebagian besar pikirannya tak benar-benar ada di sana. Pandangannya sesekali melirik ke pelaminan, di mana Gavin dan Raina masih sibuk menerima tamu terakhir.

“Eh, itu Gavin sama istrinya udah kelar salaman. Gila, ya, mereka cocok banget,” ujar Dina sambil terkekeh.

Sira hanya tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan rasa perih yang tiba-tiba kembali menyergap.

Beberapa menit kemudian, Gavin dan Raina benar-benar menghampiri meja mereka.

“Halo semua, gimana makanannya? Kalau mau nambah jangan malu-malu, ya.” sapa Raina dengan tawa ringan.

“Lah, pengantinnya malah keliling. Jelas malu kalau mau nambah. Takut dibilang rakus nanti.” sahut Riko bercanda.

Sira berusaha tersenyum sopan. Ia menunduk sedikit saat Raina menatapnya.

“Kamu temen kuliahnya Mas Gavin juga ya? Siapa tadi namanya?” tanya Raina ramah, mencoba mengingat nama Sira.

“Sira, teman satu prodi,” jawab Sira pelan.

“Wah, pantes kayak akrab banget.” Sahut Raina. "Kok gak pernah cerita sih Mas, punya teman secantik ini." Lanjutnya lagi sambil menyenggol Gavin yang berdiri di sampingnya.

Sira menelan ludah, ada rasa takut yang kini bergemuruh di dadanya. Ini kah rasanya jadi simpanan? Sementara Gavin hanya diam. Tatapan matanya sesaat bertemu dengan Sira, lalu segera menghindar. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi lidahnya kelu di hadapan dua dunia yang kini bertabrakan, rahasia dan kenyataan.

"Raina...!" Beberapa orang perempuan berdiri tak jauh dari sana tiba-tiba melambai dan memanggil Raina. Menyelamatkan Sira dari rasa bersalah dan canggung yang sulit dijelaskan.

"Sebentar ya, Mas. Ada teman-teman SMAku, aku ke sana dulu." Ujar Raina pamit.

Tak lama, Riko berdiri sambil bertepuk tangan ketika lagu kesukaanya terdengar dinyanyikan di atas panggung. 

“Ayo dong, kita nyanyi di panggung dulu biar seru! Lagu nostalgia, biar makin rame!”

Suara tawa riuh menyambut ajakan itu.

"Boleh tuh, suara Riko sama Dina, kan, bagus. Biar jadi kenangan indah di pernikahan Gavin." Sahut Deny semangat.

“Sira, kamu ikut, kan?” tanya Dina.

Sira langsung menggeleng. “Aku nggak bisa nyanyi.”

“Gue juga nggak,” sahut Gavin spontan.

“Yah, payah kalian berdua,” Keluh Deny pura-pura kecewa, lalu berlalu menyusul teman-teman lain yang sudah lebih dulu naik ke panggung musik.

Kini hanya Gavin dan Sira yang tertinggal di meja bundar itu. Suasana hening. Canggung. Terlalu banyak hal yang tidak terucap di antara mereka.

Gavin akhirnya membuka suara.

“Kami berangkat bulan madu besok,” ucapnya lirih. “Ke Jepang. Raina udah ngerencanain semuanya.”

Sira menatap meja di depannya, bibirnya mengerucut getir.

“Apa aku perlu tahu semua itu, Vin?” suaranya pelan, tapi tajam.

Gavin terdiam. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk menutupi luka di mata Sira.

Perempuan itu kemudian beranjak, berusaha menenangkan diri, tapi sebelum sempat melangkah, tangan Gavin tiba-tiba terulur di bawah meja dan menggenggam jemarinya.

Genggaman itu hangat, tapi juga menyakitkan. Terlalu banyak kebingungan yang menyelimuti disana. Sikap Gavin tiba-tiba berubah, padahal sebelumnya ia sering kali tidak peduli akan kehadiran Sira.

“Jangan pergi dulu, Raa.” Suara Gavin terdengar parau.

Sira terpaku. Ia menunduk, memastikan tak ada yang memperhatikan.

“Lepasin, Vin… tolong,” bisiknya, suaranya bergetar. Ada ketakutan dan kebingungan di sana.

Gavin tidak menjawab. Ia hanya menatap Sira dalam diam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan di depan dunia.

“Ada apa, Vin? Sebenarnya kamu ada masalah apa?” Tanya Sira akhirnya. Iba melihat keletihan yang mendalam di mata suaminya.

Gavin masih diam, tapi genggaman tangannya semakin erat bertaut di bawah sana.

Keheningan itu bertahan lama, sampai akhirnya suara langkah dan tawa kembali terdengar mendekat.

“Mas!”

Raina muncul lagi, wajahnya cerah seperti biasa. Ia menatap mereka bergantian, tanpa curiga sedikit pun.

“Mas, foto bentar sama teman-teman aku, yuk!”

Gavin buru-buru melepaskan genggaman tangannya, lalu menghampiri Raina yang langsung menggandeng lengannya.

Sira menarik napas dalam, kepergian Gavin menyisakan rasa dingin. Ia menggenggam telapak tangannya sendiri. Mencari sisa-sisa jejak tangan suaminya yang sedang coba ia pahami.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    86. Runtuhnya Harapan

    Kekacauan di pesta pernikahan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Jeritan Sira membelah keheningan yang mencekam saat tubuh Ibu Mirna merosot ke lantai pelaminan yang dilapisi karpet merah. Wajah wanita tua itu pucat pasi, dengan bibir yang membiru dan napas yang satu-satu."Ibu! Bangun, Bu! Jangan begini, Sira mohon!" Sira memangku kepala ibunya, air matanya jatuh membasahi pipi wanita yang paling ia cintai itu. Tangannya gemetar hebat, ia tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata kerabatnya yang terus memandang mereka.Di sisi lain, Raina masih belum berhenti. Emosinya yang sudah di puncak gunung membuat nuraninya tertutup. "Bagus! Akting apalagi ini? Apa dengan pura-pura sakit begini kalian pikir aku akan luluh?!" teriak Raina dengan suara parau yang menyayat."RAINA, DIAM!" Gavin membentak dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang tersentak.Gavin menatap Sira yang sedang menangis histeris memangku ibunya, lalu menatap Raina yang sud

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    85. Hancur

    Dunia seolah berhenti berputar bagi Gavin tepat setelah Andre mengucapkan kalimat itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna kalimat tersebut, seorang perempuan cantik dengan pakaian mewah yang tampak menonjol diantara kerumunan masuk ke tempat acara. Ia menarik perhatian hampir separuh orang yang ada di sana.Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, namun wajahnya sepucat kapas. Langkahnya tidak stabil, matanya liar mencari sesuatu di antara kerumunan tamu yang tampak asing baginya.Raina benar-benar datang.Sira, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut pelaminan, merasa jantungnya seakan dicabut paksa dari rongganya. Ia melihat Raina masuk ke area pesta dengan napas memburu. Seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Mirna, menoleh dengan bingung melihat kedatangan wanita cantik yang tampak sangat tidak tenang itu.Pandangan Raina menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti di satu titik. Suaminya ada di sana seperti yang ia sangka, karena saat memarkirkan mobilnya tadi, ia melihat mobi

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    84. Ilusi yang Hampir Sempurna

    Begitu mereka menginjakkan kaki di area resepsi, suasana mendadak riuh. Kehadiran Sira yang menggandeng pria setampan dan semapan Gavin benar-benar mencuri perhatian. Musik dangdut yang tadinya memekakkan telinga seolah menjadi latar belakang saat pasang mata para kerabat dan tetangga tertuju pada mereka. Sira merasakan telapak tangannya dingin. Namun, Gavin seolah tahu kegelisahan itu, ia mengeratkan genggaman jemarinya, menyatukan telapak tangan mereka tanpa celah. "Sira! Ya ampun, ini suaminya?" seru Bibi Sarah, salah satu kerabat yang dikenal paling vokal. "Ganteng sekali, Ra! Pantas saja kemarin nikahnya diam-diam, takut diambil orang ya?" Sira hanya bisa tersenyum kaku. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai berhamburan layaknya peluru. "Kok belum ada resepsi? Kami nunggu lho!" tanya Paman Syarif sambil menepuk bahu Gavin. "Iya nih, tahu-tahu sah saja. Terus, sekarang Sira sudah isi belum? Jangan ditunda-tunda ya, Bibi Mirna sudah pengen nimang cucu itu," timpal keraba

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    83. Genggaman Tangan

    Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Setelah menjemput Ibu Mirna di halte, suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh oleh suara khas seorang ibu yang penuh kecemasan. Ibu Mirna duduk di kursi belakang, matanya tak henti menatap punggung menantunya dan sesekali beralih pada Sira."Gavin, apa kabarmu, Nak? Sehat?" tanya Ibu Mirna, suaranya terdengar lembut namun penuh selidik."Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Gavin ramah, sesekali melirik dari spion tengah.Ibu Mirna terdiam sejenak, lalu dengan nada ragu yang kentara, ia melanjutkan pertanyaannya yang membuat Sira seketika menegang. "Gavin... Gimana Sira selama ini? Apa dia sering cerewet dan membuatmu tidak nyaman? Apa dia sering mengganggumu atau membuat masalah? Kalian... benar-benar baik-baik saja, kan?"Mendengar kekhawatiran ibunya yang begitu mendalam, Sira tidak tahan untuk tidak bereaksi. Ia menoleh ke kursi belakang dengan wajah yang tampak lelah."Bu... sudah Sira bilang berkali-kal

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    82. Detak Jantung di Pagi yang Dingin

    Pukul tujuh pagi, embun masih betah menempel di kaca jendela rumah sederhana Sira. Suasana begitu sunyi hingga deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan pagar terasa sangat kontras. Sira yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya tidak menyangka bahwa Gavin akan datang satu jam lebih awal dari kesepakatan mereka di telepon semalam.Kamar mandi rumah itu terletak di luar kamar, mengharuskan Sira melintasi ruang tamu untuk bisa kembali ke kamarnya. Sira keluar dengan rambut yang masih basah, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya hingga sebatas paha.Langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak saat melihat sosok pria jangkung sudah berdiri tegak di tengah ruang tamunya.Gavin mematung. Tatapannya tertancap pada Sira tanpa berkedip sedikit pun. Pemandangan di depannya, istrinya dengan kulit yang masih lembap oleh sisa air, bahu yang polos, dan helai rambut basah yang jatuh di tulang selangka, membuat jantung Gavin berdetak kencang di luar kendali. Darahnya b

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    81. Sandiwara Lagi

    Lelah, akhir pekan ini Sira kira ia akan bisa istirahat dengan tenang. Terutama karena masalah tuduhan itu sudah selesai dan ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi masalah baru muncul lagi, malam ini menjadi malam yang penuh dengan kecemasan lagi bagi Sira.Setelah kepulangannya dari kafe bersama Melati, sebuah panggilan telepon dari ibunya, Mirna, benar-benar mengacaukan detak jantung dan pikirannya. Ibunya tiba-tiba meminta atau lebih tepatnya memohon padanya agar ia dan Gavin datang besok untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan kerabat dekat ibunya.Sira memandangi layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Ia tahu benar apa maksud di balik permintaan ibunya. Mirna adalah orang yang paling tajam instingnya, ia pasti mulai mencium ada yang tidak beres karena Sira semakin jarang membicarakan Gavin. Apa lagi setelah pernikahannya dengan Gavin, ia tidak pernah muncul berdua diberbagai acara keluarga Sira. Jadi kali ini bagi Mirna, kehadiran mereka berdua besok a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status