ANMELDENTim Teja melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka dengan cepat menyusuri vegetasi Hutan Camar Hitam yang kian menanjak dan rapat.Setengah jam kemudian, suasana di sekeliling mereka mendadak berubah hening. Kicauan burung dan derik serangga yang semula memenuhi hutan seketika lenyap tanpa sisa.Teja segera menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan kanan. "Berhenti! Ada aura bahaya yang sangat kuat di depan kita," peringatnya tegas.Dari balik semak belukar yang lebat, melangkah keluar seekor singa jantan berukuran raksasa. Bulu surainya berwarna cokelat gelap, sementara tubuhnya dua kali lebih besar dari singa pada umumnya. Matanya memancarkan amarah yang tinggi, menandakan teritorialnya baru saja terganggu.Auman dahsyat menggelegar dari tenggorokannya, menggetarkan pepohonan purba di sekitar mereka. Gelombang tekanan udara dari deru suara itu membuat bulu kuduk anggota tim Teja seketika meremang.Di belakang singa jantan tersebut, nampak seekor singa betina yang terluka pa
Pria beralis codet langsung merangsek maju untuk menyambut Linda dengan pukulan lurus yang cukup keras. Angin pukulan berhembus lumayan kencang mengincar bagian wajah sang gadis.Namun, Linda bergerak jauh lebih cepat. Ia merendahkan tubuhnya dengan lincah, membiarkan tinju pria itu melayang tipis di atas kepalanya.Sebelum pria beralis codet sempat menarik lengannya, Linda menyarungkan serangan balasan berupa dorongan dua telapak tangan yang sangat bertenaga. Hantaman itu mendarat telak di bagian ulu hati sang ketua kelompok.BAM!Tubuh besar pria beralis codet langsung terdorong ke belakang dan tersungkur di tanah basah. Ia memegangi dadanya sembari berusaha mengais udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.Di sisi lain, pria penuh bekas jahitan dan pria berkepala botak mencoba menyerang Panda secara bersamaan dari dua arah. Pria penuh jahitan melayangkan tendangan melingkar ke arah leher Panda, sedangkan si botak mengincar bagian perut dengan ayunan tangan kekarnya.Panda tida
Handy talkie yang dibawakan oleh pihak panitia berbunyi. Suara kresek sinyal terdengar sebentar sebelum terdengar pemberitahuan resmi dari pusat pengawas. Panitia menjelaskan jarak tempuh dari gate awal menuju puncak gunung yang bisa memakan waktu seharian penuh. Jika menghadapi kendala, maka semua bisa menginap di hutan dan melanjutkan keesokan harinya."Kalau kita nginep, apa nggak keduluan sama tim lain, Ja?" tanya Linda. Gadis itu menatap Teja dengan raut cemas sembari membetulkan posisi tas perbekalannya."Semua tim bakal menghadapi kesulitan masing-masing. Kalau kita yang selancar ini saja masih butuh nginep, apalagi mereka?" jawab Teja. Ia menatap tenang ke arah rombongannya dan mengamati penguatan mental dari energi Qi-nya yang mssih cukup tebal di masing-masing sanubari anggota tim.“Butuh waktu berapa lama bagi tim lain buat mengatasi hewan buas kayak buaya putih tadi? Belum lagi hadangan tim yang ingin menggugurkan pesaing mereka. Kita sudah terbilang paling cepat sampai
Di pinggir tebing, buaya putih tampak semakin asyik mempermainkan kawanan Doni. Gerakan reptil raksasa itu sangat santai namun berdampak fatal bagi mental lawan. Lolongan ketakutan dari kelompok itu menggema keras di sekeliling dinding batu.Ia nampaknya tidak lapar dan hanya ingin bersenang-senang saja. Makhluk itu sengaja memutari area terdesaknya Doni cs tanpa langsung melancarkan gigitan mematikan.Ekornya bergerak menggempur Doni dan yang lainnya. Sabetan ekor keras itu berulang kali menghantam tanah basah dan tubuh mereka secara acak.Cakar kakinya sengaja ia goreskan ke tubuh mereka hingga pakaian mereka terkoyak. Garisan luka dangkal yang menyisakan perih luar biasa kini menghiasi kulit kelompok mesum tersebut."Ampun! Tolong jangan bunuh kami!" teriak Doni parau. Wajahnya sudah bercampur tanah dan air mata ketakutan yang mengucur deras.Begitu juga dengan para anak buahnya yang juga tak ada satu pun yang masih berdiri dengan tubuh bersih. Merah darah dan lumpur cokelat menya
Teja hanya menatap santai Doni dan anggota timnya. Pria berambut panjang itu melipat kedua tangannya di dada sembari menyaksikan tingkah sombong kelompok Doni tersebut.Ketenangan raut wajah Teja sedikit pun tidak tergoyahkan oleh ocehan meremehkan dari lawan."Sori, aku lebih percaya sama timku!" balas Linda ketus. Gadis itu menatap tajam ke arah Doni dengan sorot mata penuh kejijikan."Ahaha, coba kulihat, gimana cara kalian menyeberangi sungai yang lebar dan dalam ini," ejek Doni. Pria berkulit legam itu tertawa dan berkacak pinggang sembari mengisyaratkan anak buahnya untuk menyaksikan kebingungan kelompok Teja.Tepat setelah itulah dari samping sungai di mana Doni dan anggota timnya berada, muncul buaya putih yang tadi sudah ditundukkan Teja. Kehadiran reptil raksasa sepanjang tiga meter itu secara tiba-tiba langsung memutus tawa mengejek kelompok Doni. Kibasan ekornya yang basah menyapu tumpukan daun kering di Tepi Sungai.Mulutnya langsung terbuka lebar saat melihat kawanan m
"Ayo buruan bayar!" tagih Teja tanpa rasa malu. Pria berambut panjang itu menyodorkan pipi kanan dan kirinya secara bergantian sembari memamerkan senyum jahil di hadapan kedua gadis tersebut."Nanti aja selesai acara!" tolak Linda. Matanya membelalak, mencoba bersikap galak meski rona merah di pipinya semakin tidak bisa disembunyikan."Malu, Ja, ada Bintang sama Pedro. Nanti saja lah," timpal Panda. Gadis oriental itu merapatkan seragamnya sembari menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan godaan dari Teja.Teja menunjuk ke arah puncak gunung Hutan Camar Hitam yang masih terlihat jauh. Puncak yang tertutup kabut tipis itu tampak begitu menjulang tinggi di seberang lebatnya vegetasi hutan."Puncak gunungnya masih jauh lho. Siapa yang bisa jamin nanti nggak ada gangguan semacam buaya ini lagi?" racau Teja memasang raut wajah penuh ancaman terselubung."Kan ada kamu yang bisa jinakin," rajuk Linda manja. Ia memegang lengan Teja sembari menggoyangkannya pelan, berharap pria itu meleleh da
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T







