Teilen

373. Laki-laki Sejati

last update Veröffentlichungsdatum: 30.08.2026 12:25:37

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil sport itu berbelok memasuki kawasan perumahan paling elit dan terisolasi di sudut kota, tempat bertenggernya kediaman para pengusaha papan atas dan pejabat negara.

Porsche 911 merah itu melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pagar besi yang menjulang tinggi.

Di balik pagar raksasa itu, terhampar pelataran luas berumput hijau yang mengapit sebuah bangunan bertingkat empat dengan arsitektur klasik modern yang amat megah dan mewah.

Pilar-pilar
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   633. Tidak Terburu-buru

    Bunyi kunci pintu bergema halus di dalam ruangan yang sejuk. Desy memutarkan badannya perlahan, menyandarkan punggung seputih porselennya pada daun pintu yang tertutup rapat.Paras ayunya yang masih menyisakan lelehan air mata haru kini merona merah padam.Jemari lentiknya yang gemetar dengan berani merayap turun melintasi tali gaun feminin berwarna merah muda yang dikenakannya sejak pagi. Dengan satu tarikan halus, kain gaun berpotongan anggun itu meluncur mulus melintasi pinggul padatnya, merosot jatuh menumpuk di atas lantai granit yang sejuk.Di balik gaun tersebut, Desy rupanya sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun. Keindahan tubuh polos seputih porselen miliknya, dengan gumpalan dada mengkal yang ranum, perut ramping yang rata, serta celah kewanitaannya yang polos gundul, terpampang nyata."Mas Teja... hhh..." bisik Desy parau dengan suara yang teramat halus dan manja. Sepasang mata bulat beningnya menatap redup lurus ke arah sepasang mata keemasan sang pemuda.Gadis

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   632. Jangan Menangis!

    Sore hari mulai menjelang di kawasan Surabaya Timur. Setelah seluruh proses penataan perabot, pemasangan pendingin udara, serta penyusunan peralatan elektronik di rumah minimalis dua lantai Blok A8 selesai dengan sempurna, Teja mengajak Desy untuk bergegas. Mereka menjemput Desan.Pajero Sport putih milik Teja meluncur tenang membelah jalanan kota menuju Sekolah Dasar Negeri tempat Desan mengenyam pendidikan. Di pelataran sekolah yang mulai senggang, tampak Desan berdiri tegap menanti dengan tas punggung barunya. Begitu melihat kendaraan gagah sang pemuda perkasa berhenti tepat di depan gerbang, binar gembira seketika memancar jernih dari sepasang mata bulat bocah berusia dua belas tahun itu."Mas Teja! Mbak Desy!" seru Desan riang seraya berlari kecil dan melompat masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk."Gimana sekolahnya hari ini, Desan?" sapa Teja ramah dari balik lingkar kemudi, mengusap pelan kepala klimis bocah tersebut."Seru banget, Mas! Tadi aku dapet teman baru banyak. Terus

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   631. A-8

    Pagi yang cerah di kawasan Surabaya Timur menyambut kedatangan SUV Mitsubishi Pajero Sport berwarna putih mengilap milik Teja. Usai mengantarkan Desan melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah barunya dengan seragam rapi, Teja melajukan kendaraan bertubuh gagah itu menuju salah satu perumahan elit yang sedang berkembang pesat di wilayah tersebut.Teja melangkah tegap melintasi pintu kaca otomatis kantor pemasaran berpendingin udara itu. Jemari kekarnya menggenggam erat telapak tangan halus Desy, saling bertaut mesra tanpa jarak. Desy yang mengenakan gaun feminin berwarna merah muda tampak bersandar anggun di samping lengan berotot Teja, memancarkan pesona yang memikat. Seorang petugas pemasaran pria berseragam rapi langsung bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman hangat dan bungkukan hormat yang amat dalam."Selamat pagi, Bapak, Ibu! Selamat datang di Marketing Gallery Perumahan Cluster Grand Residence. Ada yang bisa saya bantu untuk hunian impiann

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   630. Tempat Tinggal Baru

    Teja tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya secara halus sembari menatap wajah sang ayah yang penuh kehangatan."Enggak usah, Yah. Desy tadi pagi sudah masak banyak di klinik, jadi aku mau makan di sana saja," tolak Teja dengan nada baritonnya yang lembut.Toni yang mendengar alasan tersebut seketika menghentikan langkahnya menuju dapur. Pria tua itu memutar badan, menyunggingkan senyuman jahil."Cieee… ada yang masakin nih ye sekarang?!" goda sang ayah terkekeh-kekeh, memandangi Teja yang mendadak salah tingkah.Garis wajah tegap Teja seketika merona tipis. Sang pemuda berambut dreadlock panjang itu tersenyum malu-malu, lalu dengan cepat meraih telapak tangan kanan sang ayah untuk diciumnya kembali sebagai tanda pamit."Aku berangkat dulu, Yah!" seru Teja terburu-buru.Tanpa menunggu balasan sang ayah yang makin tertawa terkekeh di ambang pintu, Teja berlari terbirit-birit menuju pelataran parkir, melompati anak tangga teras dan langsung melesat masuk ke dalam mobil Pajero Sport p

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   629. Berguna Bagi Orang Lain

    Teja melajukan Pajero Sport putihnya membelah jalanan kota Surabaya yang mulai berangsur sepi dari kepadatan siang. Sinar matahari sore membias hangat di atas kaca depan mobil, memancarkan pantulan cahaya keemasan yang menenangkan.Perjalanan sore itu terasa begitu tenang bagi sang pemuda berambut dreadlock panjang tersebut. Di sepanjang jalan, pikiran Teja melayang pada rentetan pencapaian akademis dan dinamika hidup yang dijalaninya belakangan ini.Draft berkas skripsi yang baru saja dituntaskannya di perpustakaan kampus bersama Nana benar-benar tersusun dengan argumentasi hukum dan manajemen bisnis yang tajam. Beban pikiran mengenai tugas akhir akademisnya perlahan terangkat, memberikan ruang bernapas yang cukup lega di tengah kesibukannya mengelola organisasi bela diri dan urusan bisnis.Ia juga merasa sangat terbantu oleh dukungan Nana, Jesen, dan juga Endro, padahal ketiganya juga pasti pusing dengan persiapan skripsi mereka masing-masing.Teja menyunggingkan senyum tipis tatk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   628. Persiapan Skripsi

    “Siang, Na," balas Teja hangat. Jemari kekarnya mengusap pelan puncak kepala Nana, memberikan gestur perhatian sederhana yang seketika membuat senyuman manis Nana kian mengembang anggun.Jesen yang berdiri di sebelah Endro langsung menyenggol lengan sahabatnya itu seraya terkekeh pelan."Waduh, waduh... Yang ketua asosiasi bela diri sekaligus pemegang saham Grup Yulio baru nyampe nih! Aura Bos Besar memang beda ya, Ndro!" goda Jesen seraya menepuk bahu tegap Teja."Iya nih, Jo. Udah kayak adegan film aja pas kamu turun dari Pajero tadi," timpal Endro tertawa terkekeh. "Gimana kabarmu, Jo? Urusan kemarin lancar kan?"Teja tersenyum tipis, menyambut tinju santai dari kedua sahabatnya. "Lancar, Bro. Semua udah terkendali dengan baik. Kalian sendiri gimana? Ada kendala?""Aman, Jo! Yang penting sekarang kita langsung masuk kelas aja yuk, dosennya udah mau jalan ke kelas nih," ajak Jesen seraya melirik jam di pergelangan tangannya.Mereka berempat kemudian melangkah bersama menyusuri kori

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status