LOGIN*Terinspirasi dari Kisah Nyata* Ariana hanyalah seorang wanita biasa yang hidup dengan anak dan suaminya. Namun, ia harus menerima kenyataan bahwa Devan, suaminya bekerja serabutan dan sering memberi jatah uang lima ribu sehari. Tak hanya itu, Devan juga menomorsatukan temannya ketimbang dirinya ataupun sang anak. Tak jarang pula, Ariana dijelek-jelekkan di hadapan teman tongkrongannya itu. Pria itu selalu "playing victim" dan merasa dirinyalah yang paling tersakiti. Dia juga harus menerima kenyataan pelik karena dia dianggap rendah oleh keluarga suaminya. Selain itu, terdapat satu rahasia dari keluarga Devan yang membuat keluarganya berantakan. Lantas, apakah Ariana akan terus bertahan dalam pernikahan ini? Atau, dia rela bercerai dan menjadi aib di keluarga besar untuk meraih bahagianya?
View More“Ya sudahlah, Kaira. Namanya juga laki-laki jadi wajar saja kalau bermalam dengan perempuan lain. Anggap saja itu sebagai jatah mantan. Kamu ini kolot banget, deh! Lagian kayak kamu enggak pernah gitu aja sama mantan!”
Ucapan yang bernada seperti cacian dari wanita paruh baya di hadapannya itu membuat manik cokelat milik Kaira seketika membulat sempurna. Wanita itu sangat terkejut mendengar pembelaan dari calon ibu mertuanya setelah ia melaporkan perselingkuhan calon suaminya tepat dua hari sebelum mengikat tali pernikahan. Bukannya merasa iba kepada dirinya, ibu mertuanya dengan enteng menganggap wajar kesalahan anaknya.
Dengan keberanian yang dimiliki, Kaira pun mencoba membela diri atas tuduhan yang dilakukan oleh Widya, calon ibu mertuanya.
“Jangan samakan aku dengan perempuan murahan itu, Bu! Aku perempuan baik-baik dan punya harga diri! Sedangkan yang dilakukan sama Mas Bayu ini sudah keterlaluan. Dia tidur dengan Melodi di apartemennya!” Kaira mencoba menyakinkan sekali lagi, Kaira menatap wajah Widya yang tampak santai ketika dirinya mengadu soal perselingkuhan Bayu juga Melodi, seakan menunjukkan jika selingkuh itu hal kecil dan biasa.
“Kamu tuh lebay banget, sih, Kaira! Bercinta satu malam itu hal biasa, hal lumrah kalau hidup di kota. Lagipula kamu tahu apa soal harga diri. Kamu ini hanya seorang anak yatim piatu yang tidak pantas mengatakan soal harga diri. Sudah untung Bayu mau sama kamu yang tidak jelas bibit, bebet, bobotnya. Kamu tuh harus banyak-banyak bersukur, Bayu memilih kamu untuk dijadikan istri dibanding sebagai wanita pemuas nafsu saja.”
“Hal biasa? Lumrah?! Itu namanya zina, Bu! Bahkan mereka bercinta di atas ranjangku sendiri padahal sebentar lagi kita akan menikah! Mereka benar-benar seperti tidak punya hati nurani dan malu!” sanggah Kaira dengan suara yang begitu lantang.
Amarah Kaira membuat napasnya tak beraturan. Netra cokelatnya terus menghunus tajam ke arah Widya, merasa kecewa dengan calon ibu mertuanya yang membela Bayu dan tutup mata dengan kesalahan anaknya yang jelas-jelas sudah Kaira berikan bukti kuatnya.
“Halah sudahlah! Mungkin Bayu memilih tidur dengan Melodi karena dia jauh lebih baik dari pada kamu yang banyak drama ini!”
Seolah tak peduli dengan perkataan maupun perasaan Kaira, Widya tetap bersikukuh membela anaknya, bahkan sampai memojokkan calon menantunya sendiri. Matanya yang sedari tadi melototinya itu bahkan menatap rendah ke arah Kaira yang tengah berdiri dengan tubuh lesu.
Kaira benar-benar merasa percuma menjelaskan soal perbuatan Bayu yang selingkuh. Bagaimanapun seorang Ibu pasti akan selalu membela anaknya, meski anaknya jelas-jelas salah. Kaira pun merasa sia-sia datang ke rumah ini.
Kini Kaira melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke arah Widya, menatap sendu wajah yang sudah tampak jelas garis kerutan di beberapa titik bawah mata. Kaira mencoba memelas supaya Widya mengubah pikiran dan membuka hati agar membela dirinya meski sangat mustahil.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Widya. Kaira memegangi sebelah tangan calon ibu mertuanya, terus mengiba agar hati calon ibu mertuanya luluh.
“Aku mohon Bu, apa Ibu tidak bisa lakukan sesuatu? Kita berdua sama-sama perempuan. Bagaimana jika hal ini terjadi pada Ibu?”
Widya tersentak kaget mendengar ucapan calon menantunya itu. “Jangan kurang ajar kamu, Kaira! Ayahnya Bayu tidak akan berbuat seperti itu!”
“Lalu aku harus bagaimana, Bu. Aku tidak bisa menoleransi perselingkuhan yang dilakukan Mas Bayu.” Kaira menatap kecewa, namun hal tak terduga terjadi. Widya menampar Kaira karena merasa sudah lancang dan berani kepadanya.
“Dasar kamu gak tahu diri!”
Tidak bisa menahan rasa sakitnya karena cacian yang bertubi-tubi, Kaira memberanikan diri melawan Widya meski sudah diprediksikan jika dirinya akan mendapat caci maki lagi.
Dengan sekuat tenaga, Kaira mencoba mendongakkan kepala menatap Widya, membuktikan jika dirinya tidak gentar sama sekali meski tidak memiliki siapapun.
“Aku memang anak yatim piatu. Tapi tidak rendahan seperti Bayu, anak Ibu!” seru Kaira, tegas penuh penghinaan kepada Widya.
“Dasar jalang kamu, Kaira! Beraninya kamu menghina anak saya! Keluar kamu dari rumah ini!” teriak Widya lantang sambil mendorong tubuh Kaira untuk segera angkat kaki dari rumahnya.
Kaira yang diusir dengan begitu kasar, bahkan dituding-tuding menggunakan telunjuk oleh Widya kini berbalik arah, berlari keluar dari kediaman keluarga Wijaya.
Perasaan Kaira sangat campur aduk. Sakit, kecewa, sedih, semuanya menjadi satu. Kaira bahkan merasa frustrasi sendiri karena merasa tidak ada yang membelanya di saat kondisi seperti ini. Terlebih sahabat yang sangat dipercaya kini berani berkhianat. Kaira benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua.
Putus asa, Kaira bergegas pergi tanpa tujuan yang jelas. Yang dilakukannya hanya terus berlari kencang sembari membawa rasa sakit hati yang menyesakkan dada. Saking tidak memedulikan sekitarnya, Kaira langsung saja menyebrang jalan, hingga terdengar suara klakson mobil berdengung kencang yang membuat tubuh Kaira justru berdiam membeku di tengah jalan.
Tak lama terdengar suara gesekan decitan ban dengan aspal yang berhenti di depan tubuhnya, membuat Kaira jatuh terduduk sambil menangis tergugu.
Hal ini sontak membuat pemilik pengendara mobil buru-buru keluar untuk memastikan korban yang ditabraknya.
“Mbak, tidak apa-apa, ‘kan?”
Bukannya menjawab, Kaira justru menangis kencang dan menjadi-jadi yang membuat pemilik kendaraan itu ketakutan. Pemilik kendaraan itu mencoba mendekat untuk memastikan keadaan Kaira, yang sepertinya terluka parah jika didengar cara menangisnya.
“Mbak, mana yang sakit? Apa ada yang patah? Bengkok atau—” Belum selesai bertanya, suara tangis Kaira semakin kencang juga histeris, yang membuat pemilik kendaraan itu semakin kaget juga takut.
“Bajingan!” teriak Kaira, menatap sinis ke arah pria itu. “Semua pria sama saja! Semuanya bedebah!” maki Kaira dengan penuh emosi.
Pria itu merasa kaget juga bingung ketika Kaira justru memaki dirinya. Terlebih langsung dinilai ‘bajingan’ oleh perempuan yang baru dikenalnya ini. Merasa panik karena tangis Kaira makin kencang, pria itu mengajak Kaira untuk masuk ke dalam mobilnya, mengatakan akan bertanggung jawab kepada Kaira atas insiden ini. Kaira sendiri justru meluapkan perasaan sesaknya kepada pria yang entah siapa namanya ini, yang pasti Kaira merasa lega ketika mengeluarkan itu semua.
“Apa aku salah mengadu sama calon ibu mertua kalau anaknya selingkuh?! Tapi kenapa perselingkuhan itu justru dianggap lumrah oleh mereka! Apa karena aku hanya seorang yatim piatu yang tidak memiliki keluarga hingga pantas disepelekan, hah?! Apa aku tidak pantas bahagia seperti orang-orang itu! Aku juga manusia yang memiliki perasaan juga hati! Tega-teganya mereka berkhianat di belakangku tanpa memikirkan perasaan aku sedikit pun!” luap Kaira soal unek-uneknya barusan, yang semakin membuat pria itu bingung.
Kaira masih terus menangis kencang, meluapkan apa yang dirasakan oleh hatinya. Lain hal dengan pria yang kini bersama Kaira. Pria itu justru merasa heran dengan korban yang ditabraknya ini.
“Perasaan tadi kepalanya gak tertabrak, tapi kok …,” gumam pria itu pelan, namun masih bisa didengar jelas oleh Kaira.
Kaira yang tidak terima dengan sindiran halus tersebut langsung melirik tajam ke arah pria yang tengah mengerutkan dahi tengahnya, seperti sedang berpikir keras. Bahkan melihat penampilan pria itu yang mirip seorang Aktor luar negeri membuat Kaira berpikir spontan atas ide gilanya ini.
“Aku minta pertanggung jawaban atas apa yang sudah kamu lakukan!”
“Iya, Mbak! Saya akan bertanggung jawab atas insiden tidak disengaja ini. Mbak ingin saya bawa ke rumah sakit mana?”
Kaira menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan. “Aku tidak mau ke rumah sakit!”
“Lalu?” Pria itu menatap Kaira sembari mengangkat sebelah alisnya ke atas, menunggu lanjutan dari ucapan Kaira yang membuatnya deg-degan, takut dimintai sejumlah uang yang fantastis.
“Aku mau kamu menikah denganku!”
Keesokan harinya, tepat di hari Senin pagi. Farel menyarankan bibinya untuk mendatangi Ariana. Tak hanya itu, Beliau juga diminta untuk menjelaskan pekerjaan yang nantinya akan dikerjakan oleh Ariana. Alhasil, dirinya pun segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ariana. Di sana, Farel menyuruh Devan untuk meninggalkan keduanya. Sebelum itu, dia mengucapkannya melalui telepon yang dia miliki. Tak lama kemudian, ketika Farel berangkat dengan sang bibi, Beliau pun bertanya dengan sopan kepada keponakannya. "Farel, gimana kalo Bibi nanti nggak bisa bayar perempuan itu? Kamu kan tahu, Bibi memang baru aja pindah di sini. Sebenernya, kalo untuk makan dan biaya kehidupan sehari-hari, uangnya masih cukup. Tapi, kalo untuk bayarin perempuan itu, gimana? Bibi bingung loh, Farel." Wanita berkerudung hitam itu melihat ke arah Farel dengan wajah gelisahnya. Namun, tak lama kemudian, Farel menghembuskan nafas panjang. "Nggak papa, Bi. Nanti, Farel juga ikut bantuin Bibi untuk bayar gajinya. Lag
Farel dan Devan saling beradu dalam diam, keduanya hendak menimbang satu sama lain. Lalu, tak lama setelah itu, Devan kembali angkat bicara. "Ariana, Farel sama aku berusaha menyelamatkan kamu, tadi. Terus, pas itu, Farel nyamar jadi pemulung. Tapi, nggak taunya dia itu udah bawa temennya. Keduanya langsung nyergap orang yang udah jahatin kamu, kemarin. Makanya itu, hehehe," ucap Devan sambil tertawa. Lelaki itu hanya bisa diam ketika dirinya berusaha untuk tak mengerti apa-apa. "Hah?! Yang bener aja dong, Devan! Apa katamu tadi?! Beneran, nih?! Jadi, kalian berdua berusaha menangkap orang itu, ya?!" Ariana menaikkan salah satu alisnya. Lantas, keduanya mengangguk kan kepala. Ariana langsung menghembuskan nafas panjang, mengusap peluh di kepalanya, sambil menunggu momen yang tepat, untuknya berbicara. "Huh, untung aja kalo gitu," balas Ariana dengan perasaan ragu. Meski demikian, kedua matanya menoleh ke beberapa arah. Lantas, dirinya langsung memberi salam dan pergi ke dalam ruma
"Siapa yang menyelamatkan siapa, Farel?! Jangan mengada-ngada! Kalo kamu membongkar kasus ini, bisa-bisa Istriku kenapa-napa lagi!" bentak Devan dari dalam mobil. Lelaki itu melirik Farel sekilas. Lantas, ia meneguk ludahnya sendiri. "Seratus! Aku nggak nyangka kamu sepintar itu. Tapi, kamu tenang aja. Aku ke sini untuk ngasih pilihan ke kamu. Yang penting, aku kan udah ngasih tahu kamu lokasinya di sini. Kalo urusan kamu mau ngehajar dia atau enggak, itu urusan kamu. Lagian, aku udah tahu satu korban yang berhasil kabur dari rumah itu," ucap Farel."Apa maksudmu, ha?!" pekik Devan dengan suara lantang. Lelaki itu merasa geram setengah mati. Ingin rasanya dia menghajar Farel, karena baginya, apa yang dia lakukan sama saja membuang waktu percuma."Enggak ada. Aku cuman mau kamu amati aja, siapa orang-orang mereka. Lihat, mereka semua sedang mengobrol di halaman depan rumah. Berpakaian seperti orang biasa. Terlihat seperti orang baik pada umumnya. Tidak ada yang aneh. Rumah mereka juga
Dari kejadian itu, Devan semakin gencar melindungi Ariana. Dirinya tak segan-segan menelepon wanitanya, sekalipun dia berada di hari yang sibuk. Beberapa jam sekali, Devan menyempatkan diri untuk ke kamar mandi dan menelpon istrinya. Ketika jam kerja selesai, dirinya juga tak segan-segan untuk langsung pulang. Sementara itu, Farel langsung bergegas mencari tahu. Tentu saja, dia tidak melakukannya sendiri. Karena, setelah lima hari lamanya, dia menghubungi Devan dan mengajaknya ke suatu tempat. "Van, kamu ada waktu luang, nggak? Kayaknya, aku udah menemukan pelakunya. Dan berita baiknya, aku tahu siapa orang ini. Kamu mau ngasih dia pelajaran?" tanya Farel sembari tersenyum sinis, di balik teleponnya. Deg!Devan menghembuskan nafas panjang. Mulanya, ia kebingungan dengan kalimat Farel yang agak dominan mengarah ke perkelahian. "Tunggu dulu, apa dia adalah seorang wanita? Atau laki-laki? Ariana sebelumnya sudah pernah bercerita denganku. Hanya saja, aku tidak tahu apakah yang meneror
"Kamu ini ngomong apa, sih?! Kamu nggak malu?! Di sini ada Siana, Ma! Cepetan pulang sana!" pekik Devan tak kalah lantang. Siana yang melihatnya, seketika mencoba menenangkan keduanya. "Sudah-sudah, lebih baik kalian berdua menyelesaikan permasalahan ini di rumah. Nggak baik kalo diselesaikan di
"Mas, sampai kapan kamu berpura-pura jadi suami dan ayah baik?" lirih Ariana pening.Selama menanti kehadiran anak dan suaminya pulang, suasana hatinya sangat buruk. Berulang kali, dia memijat kening. Namun, sepertinya ujian Ariana belum berhenti. Suara perempuan yang merupakan teman dari Ariana
Hal itu membuat Ariana spontan menjerit. "Aw! Kenapa kamu nyubit lenganku, ha?!" tanya Ariana, ia sengaja melantangkan suaranya agar Jarot mendengarnya."Hssst, kamu jangan berisik, deh. Sini kopinya. Biar aku yang bawain buat temenku." Devan menjawabnya dengan ketus. Ia langsung membawakan kopi ke
Devan yang terjatuh dari motor, segera berdiri dan membenarkan sepeda motornya. Namun, ia sama sekali tak membantu sang anak. "Vasya, kamu ke sini cepetan," ucap Devan. Untungnya, Vasya hanya mengalami luka ringan. Jadi, Vasya akhirnya mencoba berdiri dan berjalan ke arah Devan. "Lihat, kan?! Geg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews