แชร์

Angin Senja Membawa Pergi Kenangan
Angin Senja Membawa Pergi Kenangan
ผู้แต่ง: L.S

Bab 1

ผู้เขียน: L.S
Setelah meninggalkan Adrian, aku menikah dengan seorang miliarder.

Belum lama ini, suamiku mengatakan ingin mengalihkan seluruh aset atas namanya menjadi atas namaku. Aku buru-buru menolak, tetapi sayangnya aku tidak sanggup melawan ketulusannya. Suamiku berkata bahwa di mana hartanya berada, di situlah cintanya berada.

Suamiku ingin memberiku rasa aman agar aku tidak perlu bergantung pada siapa pun. Bahkan untuk proses pengalihan kepemilikan harta itu, dia sengaja memilih kota kelahiranku, Kota Agenso.

Berhubung tidak punya pilihan lain, aku pun datang ke firma hukum terbesar di Kota Agenso.

Aku baru saja hendak menyebutkan nama untuk janji temu yang sudah kubuat, tetapi dari belakang malah terdengar suara ejekan yang terasa begitu familier.

"Eh, bukannya ini Ferlin Tanjaya yang dulu mati-matian mengejar Adrian Lukman si primadona kampus itu?"

Gerakanku langsung terhenti, lalu perlahan aku menoleh.

Beberapa wajah yang kukenal langsung masuk ke pandanganku.

Mereka adalah teman-temanku semasa kuliah.

Sementara itu, pria yang berdiri tepat di tengah mereka ....

Dia mengenakan setelan jas yang rapi. Wajahnya tampan dengan sorot mata yang dingin.

Seluruh dirinya memancarkan aura seseorang yang telah lama berada di puncak kekuasaan.

Meski lima tahun telah berlalu, aku tetap mengenalinya dalam sekali pandang.

Adrian.

Suasana mendadak hening.

Saat berikutnya, beberapa mantan teman kuliahku itu sudah ramai mengobrol satu sama lain.

"Buset. Benar-benar Ferlin? Apa-apaan penampilannya itu?"

"Tas Hermes dan jam tangan Patek Philippe yang dia pakai pasti palsu, 'kan? Mana mungkin dia sanggup beli yang asli?"

"Niat banget pura-pura jadi orang kaya di depan mantan pacarnya. Eh, ternyata firma hukum ini malah milik mantannya sendiri. Lucu banget."

Tawa pelan langsung pecah di seluruh ruangan.

Aku sendiri sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.

Dulu saat masih kuliah, mereka juga selalu berkumpul di sekitar Adrian sambil menjadikanku sebagai bahan tertawaan.

Waktu itu, hampir seluruh kampus tahu bahwa aku menyukai Adrian.

Setiap hari aku membawakan sarapan untuk Adrian, menunggu kelasnya selesai, lalu menemaninya belajar di perpustakaan sampai lewat tengah malam.

Adrian tidak pernah menolakku. Namun, dia juga tidak pernah mengambil langkah lebih dulu.

Sampai suatu hari aku demam tinggi hingga hampir 39 derajat, tetapi tetap memaksakan diri untuk datang menyaksikan lomba debatnya.

Setelah pertandingan selesai, Adrian menatapku yang sudah hampir tumbang, lalu berucap dengan nada datar, "Coba saja kita pacaran."

Begitulah akhirnya kami mulai menjalin hubungan.

Setelah berpacaran, sikap Adrian tetap dingin.

Hanya saja, saat ujian akhir dia akan menandai bagian-bagian penting untuk kupelajari. Ketika melihatku mulai mengantuk, dia juga akan mengancam dengan raut wajah serius.

"Kalau kamu nggak belajar yang benar, aku akan menciummu."

Saat ada mahasiswi lain yang memberikan surat cinta kepadanya, Adrian akan menggenggam tanganku sambil berkata singkat, "Maaf, aku sudah punya pacar."

Saat Adrian melihatku terpaku menatap pria tampan yang sedang bermain basket hingga hampir meneteskan air liur, dia akan menutupi mataku dengan telapak tangannya yang sedikit dingin.

Kemudian keesokan harinya, Adrian malah bergabung dengan tim basket kampus dan memberitahuku bahwa mulai sekarang, aku hanya boleh melihatnya seorang diri.

Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa Adrian menyukaiku.

Sampai menjelang kami lulus ....

Ivana Erlangga si gadis tetangga yang tumbuh bersama Adrian sejak kecil, berhasil diterima di kampus kami.

Hubungan mereka terlalu akrab.

Setiap kali berada di dekat mereka, aku justru merasa seperti orang asing.

Bukan berarti aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun, Adrian selalu mengerutkan dahinya dan memarahiku dengan nada tidak sabar.

"Ferlin, kamu benar-benar menyebalkan kalau begini."

Meski begitu, aku tetap tidak menyerah.

Aku selalu berpikir, kalau aku bersabar sedikit lagi, pasti semuanya akan berakhir dengan baik.

Aku terus bertahan sampai malam sebelum pernikahan kami.

Ibuku ditabrak sebuah Porsche yang dikendarai orang mabuk hingga terpental dan langsung meninggal di tempat.

Adapun orang yang mengemudikan mobil tersebut adalah Ivana.

Saat aku tiba di kantor polisi, kebetulan kulihat Ivana sedang mencengkeram lengan baju Adrian sambil menangis hebat hingga seluruh tubuhnya gemetar.

"Kak Adrian, aku benar-benar nggak sengaja ...."

"Aku cuma terus kepikiran kamu akan menikah. Karena terlalu sedih, makanya aku minum sangat banyak ...."

Sementara itu, Adrian berdiri di sisinya sambil menenangkan dengan suara pelan.

"Jangan takut. Aku di sini."

Pada momen itu juga, seluruh darah di tubuhku terasa membeku.

Malam itu juga, aku langsung membatalkan pernikahan kami.

Sekaligus mengakhiri hubunganku dengan Adrian.

Pria itu tidak berusaha menahanku.

Setelah lama terdiam, Adrian hanya berujar lirih.

"Ivana bagaikan adikku. Aku nggak mungkin mengabaikannya."

Kemudian saat persidangan dimulai, Adrian sendiri yang menjadi pengacara pembela Ivana.

Keluarga Erlangga memiliki kekuasaan dan koneksi yang luar biasa. Ditambah lagi Adrian sangat pandai berdebat dan memutar kata-kata.

Kasus "mengemudi dalam keadaan mabuk hingga menyebabkan kematian" berhasil diubah menjadi sekadar kasus kecelakaan lalu lintas biasa.

Pada akhirnya, Ivana hanya dijatuhi hukuman percobaan.

Di hari putusan dibacakan, Ivana langsung menangis tersedu-sedu dalam pelukan Adrian.

Sementara itu, aku duduk di seberang mereka. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang yang telah membunuh ibuku justru dipeluk dan dilindungi oleh Adrian.

Aku dan ayahku tidak mau menerima putusan tersebut. Kami terus mengajukan banding.

Akan tetapi, sebelum hasilnya keluar ....

Ayahku meninggal dunia karena jatuh sakit, setelah terlalu lama hidup dalam penderitaan dan kelelahan mengurus perkara tersebut.

Lantaran telah menyinggung Keluarga Erlangga, aku diboikot hingga tak bisa lagi bekerja. Bahkan, aku diculik dan dipaksa berfoto telanjang.

Pada akhirnya, aku melarikan diri ke luar negeri dalam keadaan yang begitu menyedihkan ....

Saat kenangan itu kembali memenuhi pikiranku, perutku tiba-tiba terasa mual.

Aku tidak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi. Aku menoleh ke arah resepsionis sambil berbicara.

"Tolong batalkan janji temuku. Aku akan mencari firma hukum lain."

Adrian menatapku dari atas ke bawah. Matanya menyapu setelan busana rancangan khusus yang kukenakan, juga perhiasan-perhiasan mewah yang menghiasi tubuhku, seolah sedang memandangi sesuatu yang menjijikkan.

"Nggak perlu bersandiwara begini."

Nada bicara Adrian tetap angkuh, persis seperti dulu.

"Murahan banget."

Aku menatapnya sejenak.

Tiba-tiba kusadari, diriku yang dulu terus-menerus mengalah demi Adrian memang terlihat sangat murahan.

Aku pun terkekeh sinis. Berhubung malas meladeninya, aku berbalik dan hendak pergi.

Namun dari belakang, kembali terdengar gelak tawa yang begitu sombong.

"Padahal jelas-jelas dia datang karena Pak Adrian, tapi masih saja nggak mau mengaku!"

"Jangan-jangan, dia masih belum bisa melupakan Adrian? Bukannya dulu dia kelihatan sangat berprinsip waktu membatalkan pernikahan?"

"Sekarang, Adrian sudah menjadi rekan di firma hukum ini dan sebentar lagi akan menikahi wanita cantik dari keluarga terpandang. Pasti dia sangat menyesal!"

Ucapan mereka yang saling bersahutan akhirnya benar-benar membakar emosiku.

Aku masih bisa memaklumi kalau mereka meragukan tas dan perhiasan yang kupakai.

Namun, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka mengira aku masih belum bisa melupakan Adrian.

Belum lagi semua dendam masa lalu sudah cukup membuatku membenci Adrian sampai ke ubun-ubun. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki seseorang yang benar-benar kucintai.

Kalau saja suamiku tidak sedang sibuk menangani proyek akuisisi yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, hari ini dia pasti akan datang menemaniku.

Aku berbalik. Tatapan dinginku menyapu wajah mereka satu per satu.

"Kalau kalian masih asal bicara, akan kusobek mulut kalian."

Adrian hanya melirikku sekilas. Bahkan, dia terkekeh pelan.

"Ferlin, umurmu sudah 28 tahun, bukan 18 lagi."

"Kamu mengejarku sampai ke tempat kerjaku, tapi masih saja nggak mau mengaku. Memangnya itu ada gunanya?"

Amarahku sudah meluap hingga ke tenggorokan. Aku tidak sanggup lagi berpura-pura tenang.

Aku menatap lurus ke mata Adrian, lalu berbicara dengan suara dingin.

"Suamiku mau mengalihkan seluruh aset atas namanya menjadi atas namaku."

"Aku datang ke firma hukum ini untuk berkonsultasi mengenai urusan hukum yang berkaitan dengan hal itu."

"Kalau soal mengejarmu ... Adrian, bagiku kamu cuma mantan yang bahkan nggak pantas diakui. Di saat seperti ini, kamu masih saja membanggakan diri. Apa kamu nggak merasa seperti itu kurang pantas?"

Usai aku melontarkan kata-kata itu, seluruh ruangan langsung gempar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status