เข้าสู่ระบบTogar Totop, sang Kepala Pelayan Sopo Kota Sibolga, terpaku dengan tatapan kosong. Di dalam benaknya, ia masih tidak percaya. Bagaimana mungkin sebuah desa yang sebelumnya hanya dijaga oleh dua atau tiga orang, mampu memporak-porandakan seribu pasukan bersenjata lengkap hingga hancur tercerai-berai dalam hitungan menit? Ini bukan lagi sekadar pertempuran; ini adalah pembantaian oleh kekuatan yang tak kasat mata."Nak, larilah!" teriak Togar dengan suara parau, mencoba memberikan peringatan kepada Pangeran Kota yang masih berdiri di sisa-sisa reruntuhan keretanya. "Tren sudah berubah! Strategi kita sudah berakhir! Sekarang masih ada celah untuk melarikan diri sebelum mereka mengepung kita sepenuhnya!"Namun, Pangeran Hali Suksung justru menepis seruan Togar kepadanya. Ia menoleh perlahan dengan tatapan mata yang tidak lagi sinkron dengan realitas di sekitarnya."Hah... kabur?" gumamnya dengan senyum miring ya
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!""Aku Bondut Jolma! Selama aku berdiri di sini, kalian tidak akan pernah lewat!"Bondut duduk tegak di atas pelana, mencengkeram tombak panjangnya dengan mantap. Dari tubuhnya yang kekar, terpancar aura membunuh yang begitu pekat—sebuah manifestasi dari dendam kesumat yang selama ini terkubur jauh di lubuk hatinya. Matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan musuh yang merangkak naik."Sudah kukatakan... JANGAN LEWAT!"Saat kavaleri pertama mencapai jangkauannya, Bondut bergerak. Tombak panjangnya tidak hanya menusuk, tapi diayunkan dengan tenaga murni yang mampu mematahkan tulang.Slash! Slash!Jeritan kesakitan pecah. Ayunan tombak itu menghantam kavaleri dari sisi kanan dan kiri secara bergantian. Bondut bertarung seperti iblis yang haus darah, setiap gerakannya adalah pembalasan atas nyawa istri dan putrinya yang dirampas oleh kebiadaban Siba
Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru
Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai
Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi
"Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r







