Share

17. Ancaman Musuh

last update Last Updated: 2025-10-14 22:42:32
Rael menatap dengan kaget situasi yang ada di hadapannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika pak tua itu bisa sampai ke ruangannya. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata gerak-geriknya selama ini selalu diawasi.

“Ada perlu apa kau sampai ke kamarku? Kita sepertinya tak sedekat itu,” tanya Rael, berusaha menutupi keterkejutannya. Ia mencoba tampak lebih tenang.

“Bagaimana dengan hukuman cambuk kemarin? Apa belum puas dengan apa yang Nyonya lakukan?”

“Aku baik-baik saja dan tidak masalah. Sekarang aku sudah lebih sehat. Apa pedulimu?” jawab Rael datar.

Rael menatap pria tua di depannya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Udara di ruangan terasa berat, seperti menekan dada siapa pun yang berdiri di dalamnya. Ia tahu, kedatangan pak tua itu bukan tanpa alasan.

“Aku akui keberanianmu,” ucap si pak tua akhirnya, suaranya berat dan datar, seolah menahan sesuatu yang lebih tajam dari sekadar kata. “Kau bahkan tak mendapatkan apa pun dari gudang itu. Jika kau tetap nekat seperti hari ini, aku ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   88. tahun yang berganti

    Tahun berganti tanpa perayaan besar. Itu disengaja.Kerajaan memilih menandai waktu dengan laporan singkat—apa yang berhasil, apa yang gagal, dan siapa yang bertanggung jawab. Di balai kota, papan-papan lama diganti. Tulisan diperbarui. Tidak indah, tapi jujur.Rael membaca semuanya sekali, lalu berhenti. Ia belajar kapan harus melepaskan.Namun sebuah catatan kecil menarik perhatiannya: **komisi pelabuhan sementara diperpanjang untuk ketiga kalinya**. Tidak salah. Tapi kebiasaan darurat yang terlalu lama selalu berubah watak.Ia mendatangi rapat komisi. Duduk di belakang. Mendengar alasan-alasan yang masuk akal—cuaca, keamanan, transisi. Lalu ia bertanya satu kalimat, pelan namun tepat sasaran.“Kapan tepatnya sementara ini berakhir?”Ruang hening. Ketua komisi menyebut tanggal. Rael mengangguk. “Tuliskan. Umumkan. Pasang jamnya.”Besoknya, jam pasir besar dipasang di pelabuhan—simbol yang disepakati. Bukan ancaman, melainkan pengingat. Orang-orang menertawakannya. Lalu menunggu.---

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   87. hari ketika raja jatuh sakit

    Hari ketika Raja jatuh sakit, lonceng istana tidak dibunyikan.Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena kebiasaan baru: tidak ada keadaan darurat yang diumumkan sebelum kerangkanya siap. Rael sedang di pelabuhan ketika kabar itu sampai—lewat kurir yang kehabisan napas, bukan dekret.Ia tidak berlari. Ia berjalan.Di ibu kota, Dewan Hukum sudah berkumpul. Wajah-wajah yang dulu mudah terbakar kini lebih terkendali, meski ketegangan tetap terasa. Rael berdiri di belakang lagi, tempat yang paling ia sukai. Seorang hakim tua membuka sidang, membaca kerangka darurat yang telah disahkan berbulan lalu. Tidak ada perebutan kata. Hanya jeda-jeda yang diisi napas panjang.“Pelaksanaan dibatasi tujuh hari,” kata hakim itu. “Ditinjau publik. Diperpanjang hanya dengan alasan tertulis.”Rael mengangguk pelan. Kebiasaan bekerja.---Di luar, kota bergumam. Tidak panik, tetapi waspada. Papan pengumuman dipenuhi penjelasan singkat—apa yang dilakukan, siapa bertanggung jawab, kapan berakhir.

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   86. musim dingin

    Musim dingin turun perlahan, bukan dengan salju tebal, melainkan angin tajam yang memotong percakapan. Di pelabuhan, layar-layar kapal digulung lebih awal. Orang-orang belajar pulang sebelum gelap. Di saat seperti itu, keputusan kecil terasa lebih berat dari biasanya.Rael menerima kabar singkat dari selatan: gagal panen kedua menyusul. Bukan bencana—belum—tetapi cukup untuk menekan cadangan. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul suara-suara yang mulai merindukan “tangan kuat”. Kalimatnya sama, nadanya sama. Sejarah jarang kreatif.Rael tidak menulis surat. Ia berangkat.Bukan ke istana. Ia menuju desa-desa di selatan, menempuh jalan berlumpur, menginap di rumah-rumah kayu. Ia mendengarkan—lebih banyak daripada berbicara. Petani menyebutkan benih yang tak cocok. Kepala desa menyebutkan gudang yang terlalu jauh. Pedagang kecil menyebutkan ongkos yang melonjak karena perantara.Di satu desa, seorang perempuan tua bertanya, “Apakah Raja tahu?”Rael menjawab jujur. “Ia tahu sebagian. Kita ak

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   85. tahun yang berakhir tanpa perayaan

    Tahun itu berakhir tanpa perayaan besar. Justru di situlah letak keanehannya—kerajaan bertahan tanpa perlu sorak-sorai. Di pelabuhan kecil, Rael menyadari bahwa ketenangan yang panjang sering kali menandai perubahan yang lebih dalam.Suatu pagi, ia menerima tamu yang tidak ia duga: guru hukum muda yang dulu ia kirimi surat. Wajahnya lebih matang, sorot matanya tegas. “Aku diutus bukan oleh Raja,” katanya, “melainkan oleh Dewan Hukum baru.”Rael mengangkat alis. “Dewan Hukum?”“Kami membentuknya,” jawab sang guru. “Tanpa pengumuman. Tanpa lambang. Untuk menafsirkan aturan—bukan hanya menegakkannya.”Rael tersenyum kecil. “Itu berbahaya.”“Dan perlu,” balasnya. “Kami butuh satu hal darimu.”Rael menuangkan teh. “Aku tidak kembali ke istana.”“Bukan itu,” kata sang guru. “Kami butuh catatanmu.”Rael terdiam. Catatan—bukan arsip resmi, bukan laporan—melainkan lembaran-lembaran berisi kegagalan, kompromi, dan keputusan yang ia ambil dengan tangan gemetar namun kepala dingin. Catatan yang t

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   84. Ingatan lama

    Beberapa bulan kemudian, keseimbangan yang rapuh itu diuji oleh sesuatu yang lebih berbahaya daripada tekanan luar: **ingatan lama**.Sebuah pamflet muncul di pasar-pasar pagi. Kertas murah, tinta pudar, bahasanya sederhana—namun isinya tajam. Bukan tuduhan. Bukan fitnah terang-terangan. Melainkan cerita: tentang masa lalu Rael, tentang asal-usulnya yang bukan bangsawan, tentang keputusan-keputusan “dingin” yang menyelamatkan kas namun menutup bengkel kecil, tentang orang-orang yang pernah kalah agar banyak yang selamat.Orang-orang membacanya, lalu menaruh kembali pamflet itu. Tidak marah. Tidak membela. Mereka mulai **mengingat**.Rael membaca satu salinan, melipatnya rapi. “Ini bukan serangan,” katanya pada kepala pengawal. “Ini pengujian legitimasi.”“Perintah?” tanya pengawal.“Tidak ada penangkapan. Tidak ada bantahan resmi.” Rael menggeleng. “Biarkan orang menilai.”---Di Dewan, beberapa anggota gelisah. “Kita harus menjelaskan!” seru seorang bangsawan.“Penjelasan terdengar s

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   83. Refolusi

    Beberapa minggu berlalu. Istana tampak tenang, terlalu tenang—seperti danau setelah badai, permukaannya rata namun dasarannya masih bergerak. Rael tidak lengah. Ia tahu, kekuasaan yang kehilangan pusat akan mencari jalan baru untuk mengeras.Komisi independen mulai bekerja. Nama-nama lama kembali muncul, bukan dengan teriakan, melainkan dengan tanggal, angka, dan tanda tangan. Banyak yang jatuh pelan—dipindahkan, dipensiunkan, diasingkan ke jabatan tak berpengaruh. Tidak ada kepala dipancung. Rael memastikan itu. Ketakutan yang berlebihan melahirkan dendam; ia butuh kesunyian.Suatu pagi, Raja memanggil Rael ke taman dalam. Angin berdesir di antara pepohonan tua.“Kerajaan berutang padamu,” kata Raja tanpa basa-basi.Rael menunduk. “Kerajaan hanya membayar utangnya sendiri, Yang Mulia.”Raja tersenyum tipis. “Aku ingin kau menjadi Perdana Menteri.”Kata itu menggantung. Rael mengangkat kepala, matanya tenang. “Saya tidak akan menerimanya.”Raja terkejut. “Mengapa?”“Karena satu orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status