LOGINHidup bertiga dalam satu atap setelah Danu —suaminya, memutuskan untuk menikahi sang mantan kekasih sebab pernikahan mereka yang tak kunjung diberi keturunan, hidup seorang wanita bernama Mita hanya berisi kepahitan dan kepiluan. Hatinya selalu tersakiti setiap melihat kemesraan yang kerap kali ditunjukkan Danu dan istri keduanya itu, di hadapannya. Hingga kehadiran sosok seorang duda dengan anak satu bernama Amar, tiba-tiba membuat hati Mita kembali bahagia dan sejenak mampu melupakan rasa sakit hatinya terhadap tingkah mesra pasangan Danu dan Selena. Lantas, bagaimana kehidupan rumah tangga Mita selanjutnya setelah sang madu akhirnya hamil anak dari suaminya? Bagaimana juga hubungan Mita dengan Amar yang sepertinya mulai ada percikan cinta yang hadir di hati tanpa mereka sadari? ***
View MoreAt 3 AM, I had awoken to the ringing of a phone, rustling of the sheets and the thunder humming outside my bedroom window.
It didn’t take long to recognize the ringtone I heard and understand what was happening in that moment. That was Charlotte’s ringtone. Charlotte was my husband Leonardo’s childhood sweetheart, and she had made a habit of calling my husband to her side at every opportunity even in the most impromptu hours of the night. And Leo had made a habit of being completely available after every call - explaining why he had personalized her ringtone in the first place. I listen at his side silently, waiting for the moment he would refuse to run to her side. A wishful thought I knew would never come to fruition. “Don't cry, I'll be there soon." After a few simple words, Leo quickly got up and prepared to go out. He hadn’t noticed I had been listening or conscious at the moment. “Are you leaving?” I say through a yawn. Being pregnant made me especially tired lately, not that Leo had noticed any difference. “I’m sorry Claire. I hope I didn’t wake you.” Leo took a single moment to sit next to me and caress my face. His touch was warm and comforting. But it was only a moment. “Charlotte needs me, but I’ll be back soon” my husband was always available when she “needed” him. Even if it were at my expense. It was a horrible feeling watching your husband be readily available for another woman at her beck and call. I look outside the window and see the faint rain littering the sill and the sky lighting with streams of electricity. This weather was no match for the dedication Leo had to Charlotte. The dedication I longed for as his wife. “It’s raining. Don’t you think it would be better to head out in the morning?” I say in a small voice preparing for the worst of reactions when I see his face turn cold and stern. He pulls his hand away almost as if I had disgusted him. “Have you no sympathy, Claire?! Charlotte is disabled and she needs my help. How could you be so selfish?” He says this coldly, an accusation he had used prior, also for the benefit of Charlotte. I have been married to Leo for five years but when it comes to Charlotte - I was an imposition or better yet, an enemy at best. I drop my head to avoid his cold gaze and shrink. “I just worry about your safety in this weather.” And knowing Charlotte has 24 hour dedicated medical staff and Nannie’s, I saw no reason for Charlotte to need my husband. Leo wasn’t a doctor or specialist. “I didn’t mean it in that way, Leo.” I say this as the words became coal, choking in my throat. I’m not a person made for confrontation. It made me feel small and my emotions got the best of me. “I know what you meant. You just didn’t mean for me to hear it.” He seethed at me. I curled my knees close to my chest as I watched him change his clothes - facing his back towards me with disgust. After getting dressed, I watched Leo leaving without so much as a goodbye or acknowledgment that I was still there. I look at the clock on the nightstand and see that it’s well past 3 AM now. Not to mention, today was our fifth wedding anniversary. I tried to calm my roaring emotions and not break down in tears. But the tears had escaped as I sobbed silently, covering my face. I had become used to this behavior and these reactions when it came to Charlotte over the course of our marriage. Charlotte would make certain to call Leo on every occasion and important moment of my marriage. And she would succeed every time. Leo would run to her side, leaving me to feel like the outsider. Charlotte and Leo had grown up together from a very young age. They were inseparable until Charlotte was involved in an accident that left her unable to walk. I’m not exactly what happened being that Leo always refused to say more but it left Charlotte wheelchair bound. Leo’s family and sister knew what had happened, but they would never tell me as they much less enjoyed having to utter a single word to me. They hated me for reasons I still don’t know. What I do know is that Leo had felt guilty and has shamelessly run to charlottes side after every call. Her needs outweighed mine in the eyes of my husband. I lay under the quilt, trying to soothe and collect myself as I pull out a pregnancy test I had hidden in the nightstand. A clear indication that a baby was on the way and yet, my husband was nowhere to be found. I hoped to share this news with Leo although fear had stopped me at every chance. Leo had no interest in having children. He made that clear when he had me start contraceptives right after our wedding ceremony. A child would require his wholehearted attendance and that would take away the time he’s set aside for Charlotte. But I want this child. I touch my stomach gently to feel the tiny life that’s started to grow inside me despite the odds. I fell in love the moment I knew it existed. I rub my Stomach lightly as I drift back into the exhaustion of pregnancy and fall asleep. I awake a few hours later to an empty bed with cold sheets. Leo hadn’t come back. I decide to call him as I worried. The phone rang twice before I heard a shrill woman’s voice on the other end. It was Charlotte. “Leo is sleeping.” Why was she answering my husband’s phone? Was he sleeping in her bed?Proses ijab kabul berjalan dengan lancar. Meski sudah dua kali menikah, Danu tetap merasa gugup ketika acara hendak dimulai. Tapi, sang penghulu membuat suasana hatinya jauh lebih baik sebab kepandaiannya mencairkan suasana. Nisa dihadirkan setelah Danu mengucap ijab kabul. Gadis itu muncul bersama Mita mengenakan kebaya berwarna pink yang cantik, secantik wajahnya. Beberapa orang yang belum mengenal Nisa, tampak terpesona dengan kecantikan gadis itu yang tampak alami. Ya, Nisa meminta pada penata riaknya untuk tidak mendadaninya dengan riasan yang tebal. "Natural saja, tapi bagus."Alhasil, beginilah penampakan Nisa sekarang. Mampu membuat semua orang terpana dengan kecantikannya yang khas dan alami. "Orang kaya yang enggak banyak tingkah. Danu beruntung." Amar berkata pelan kepada istrinya. Mita tersenyum mendengar ucapan Amar. Ia setuju dengan pujian suaminya itu. "Aku pikir keduanya beruntung," balas Mita memilih tak memihak. "Setuju.""Kamu tidak cemburu atau iri 'kan, Mas
Sebelum saya melanjutkan bab terakhir kisah Danu dan Nisa, izinkan saya mempromosikan cerita terbaru yang berjudul PENGANTIN YANG TAK DIINGINKAN. Saya berharap kalian suka dan membaca cerita tersebut yang akan saya update di bulan Februari besok. Cerita ini masih ber-genre romantis. Mengisahkan dua insan manusia yaitu Shania dan Alex yang menikah bukan atas dasar cinta.Bagaimana kisah keduanya? Tentu kalian harus membacanya dari awal sampai akhir supaya tidak penasaran. Untuk itu, saya beri kalian spoiler di bab awal, ya. Untuk bab selanjutnya kalian bisa buka cerita PENGANTIN YANG TAK DIINGINKAN di baris paling bawah. Selamat membaca. Happy reading! BAB 1.Malam itu Shania berdiri di depan cermin, memandang wajahnya yang lesu. Ia merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak diinginkannya. Pernikahan dengan Alex, putra keluarga kaya, terasa seperti sebuah kesepakatan bisnis, bukan persatuan cinta.Shania masih ingat jika teman kuliahnya itu adalah kekasih Maura, primadona kampus yang
Namun, ide dan saran Danu justru diterima dengan sangat baik oleh Rendy dan istrinya. Kedua orang tua Nisa dengan serta merta setuju dan langsung mem-booking aula hotel miliknya di tanggal yang Danu minta. "Kalian ini kenapa sih? Kok bisa-bisanya kompak untuk urusan beginian," ucap Nisa saat Danu menyampaikan keinginannya tersebut. Nisa mungkin hanya protes di mulut, karena pada kenyataannya, ia pun merasa bahagia karena akan segera melepas masa lajangnya. Ia dan Danu akan menikah dengan acara yang ayahnya buat begitu mewah. "Kamu anak Ayah dan ibu satu-satunya. Tidak mungkin kalau kami membuat pesta sederhana dengan keluarga dan kolega kita yang begitu banyak.""Lagipula, Ayah ingin semua orang tahu bahwa putri Ayah yang cantik ini sudah ada pemiliknya. Seorang laki-laki pemberani yang bisa menaklukan hati putri Ayah yang sangat terjaga ini. Danu bukan seorang lelaki pengecut yang tidak mampu menghadapi aral dan masalah."Ucapan sang ayah membuat Nisa terdiam. 'Apakah ayah sudah t
"Jadi, Mas Danu yakin kalau dia tidak akan mengganggu kita lagi?" tanya Nisa setelah mendengar penuturan Danu tentang pertemuannya dengan Selena. "Semoga saja begitu. Aku tidak mau berkata yakin sebab wanita itu bisa saja melakukan hal di luar nalarnya. Tapi, aku cukup memberinya penjelasan tentang sesuatu.""Penjelasan apa?""Bukan penjelasan. Tapi, lebih ke ancaman mungkin." Danu terkekeh. "Mas Danu ngancam apa?""Aku cuma bilang, jangan macam-macam dengan hubunganku sekarang. Karena calon mertuaku bukanlah keluarga sembarangan. Mereka bisa melakukan apa saja jika ada yang berani mengusik anaknya.""Kamu bilang begitu?" Nisa menatap tak percaya. "Ya." Danu terkekeh. Dipandangnya Nisa yang malah menggeleng karena ceritanya. "Kamu ini ada-ada saja.""Memanfaatkan kekayaan keluargamu aku pikir akan berhasil. Setidaknya, ia langsung bungkam ketika aku bicara begitu.""Haha. Kamu percaya diri sekali.""Aku kenal Selena. Dia memang bukan perempuan lemah lembut seperti Mita. Tapi, aku
Acara makan malam berlangsung penuh kehangatan. Kedua keluarga seperti sudah sangat akrab hingga membuat acara malam itu berlalu dengan penuh tawa dan kegembiraan. Baik Danu dan Nisa sama-sama bisa melupakan debaran di hati mereka karena kedua orang tua mereka yang berbicara tanpa henti, membicara
Nisa mematut wajahnya di depan cermin. Sudah lebih dari lima kali ia bolak balik di depan kaca besar yang memantulkan dirinya di sana. Beberapa kali juga ia berganti pakaian hanya demi terlihat sempurna saat makan malam nanti. Lebih tepatnya di depan keluarganya Danu. Danu benar kalau ibunya sudah
Pekerjaan yang banyak tidak membuat Danu melupakan pesan-pesan yang Selena kirimkan semalam. Setelah hampir setengah tahun ia mengubur kisah masa lalunya, sosok itu kembali hadir di saat Danu sudah mulai membuka lembaran baru di dalam kehidupannya. Sepanjang malam Selena mencoba menghubungi, tapi
Danu sampai di rumahnya sebelum makan malam. Ibunya sudah stand by di dapur menemani pelayan yang sedang menyiapkan makanan. "Malam, Bu!" sapa Danu menyempatkan masuk ke dapur. "Eh, Nu. Malam. Baru pulang?" jawab sang ibu seraya mengulurkan tangan saat Danu menariknya. "Iya, Bu. Banyak banget ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews