เข้าสู่ระบบMikhaila Ameera Violetta POV
Aku membuka mata tatkala aku merasakan punggungku yang terasa basah. Suara isakan tangis yang lirih bisa aku dengar sayup-sayup dari arah belakang tubuhku. Aku tahu ini suara Bara, tapi kenapa ia menangis? Saat aku tundukkan pandanganku, tangan Bara masih melingkari perutku dengan begitu erat.
Mikhaila Ameera Violetta POVSatu minggu sudah aku berada di rumah sakit dan kondisi Langit belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan kesehatan yang signifikan. Seharusnya Langit bisa sembuh dengan beberapa prosedur operasi yang dijalani, tapi yang ada Langit justru semakin sering sesak napas, beratnya juga sulit untuk naik ditambah jika minum asi, ia sering tersedak. Sampai sekarang bahkan aku belum pernah menggendongnya. Nasibku sungguh mengenaskan sebagai seorang ibu baru.Aku beruntung memiliki Bara yang mau mengurus berkas milik Langit ke sana ke sini. Mungkin juga gosip di luaran sana tentang Bara dan diriku mulai muncul kepermukaan lagi. Terlebih Bara mengurus semuanya sendiri tanpa meminta bantuan keluarga. Terserah, aku sudah tidak peduli dengan semuanya. Bagiku prioritas utama adalah ke
Bara Nareswara POVBegitu Mikha keluar dari ruangan Langit di rawat saat ini, aku bisa melihat matanya yang berlinangan air mata. Melihat semua itu hatiku menjadi sesak sendiri. Aku tidak perlu bertanya-tanya kenapa ia bisa seperti ini? Tentu saja itu karena melihat kondisi Langit yang memperhatikan.Begitu kursi roda yang di duduki Mikha sampai di hadapanku, aku langsung berlutut di hadapannya. Sambil terisak, Mikha memanggil namaku."Kenapa, Yang?""Malam ini aku mau nangis. Cuma untuk malam ini aja. Tolong jangan minta aku untuk berhenti."Aku sedikit heran dengan permintaan Mikha ini, namun aku memilih menganggukkan kepalaku. Kini aku usap air mata yang membasahi wajahnya, namun aku tidak me
Mikhaila Ameera Violetta POVKenapa kondisi Langit seperti itu? Kenapa ia tidak menangis ketika lahir? Kenapa tubuhnya membiru? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku. Ambyar sudah afirmasi positif yang selalu diberikan oleh suami, sahabat bahkan psikolog yang aku ajak berkonsultasi selama ini. Ya, Langit seperti ini mungkin karena salahku. Karena aku bukan ibu yang baik dan tidak bisa menjaganya ketika berada di dalam kandungan. Aku tahu jika diriku seperti orang gila dan tidak jelas pemikirannya, tapi inilah yang aku rasakan saat ini. Rasanya aku benar-benar bukan ibu yang baik apalagi jika aku harus bertemu dengan Bara. Aku tidak sanggup melihat wajahnya. Karena itu aku memilih untuk tidak melihatnya sama sekali.Aku kira keluargaku akan mendukungku seperti apa yang orangtua
Bara Nareswara POVSejak pulang ke rumah hingga sore ini, aku sama sekali tidak bisa berleha-leha. Mulai dari membantu Mikha melakukan induksi, hingga kini menunggunya di rumah sakit. Terpaksa kali ini aku memberitahukan jika Mikha sudah hampir melahirkan karena bukaannya sudah sembilan. Satu bukaan lagi dan lengkap. Karena itu aku memberitahu keluarga dan tentunya kedua teman Mikha. Daripada aku diam saja, yang ada nanti justru akan menjadi masalah.Aku tidak keberatan untuk mencucikan celana dalam Mikha yang terkena lendir bercampur darah miliknya. Bagiku tidak ada rasa jijik toh bagaimanapun juga, ini semua adalah tugasku. Kalo bukan aku mau siapa lagi?"Bar, kamu makan dulu sana di bawah."
Mikhaila Ameera Violetta POVHari kedua Bara ada di rumah dan kami hampir tidak pernah keluar dari kamar, terutama aku. Ya, tentu saja aku tidak keluar dari kamar karena Bara yang memilih untuk mengambilkan makan dan minum ke dapur. Meksipun aku sebenarnya ingin turun tapi untuk berjalan saja rasanya sudah sakit. Seperti ada yang mengganjal di daerah intiku. Semakin menjadi-jadi semua rasa sakit dan tidak nyaman ini sejak Bara tidak henti-hentinya menggempur diriku sejak kemarin dengan alasan sedang berupaya membantu Langit membuka jalan lahirnya. Apesnya Bara bahkan tidak berhenti memainkan kedua puncak gunung kembarku hingga menghisapnya. Alasannya pun tak kalah membuat geleng-geleng kepala. Dari alasan agar kelak ketika Langit lahir, put**g milikku sudah muncul dan tentunya untuk membantu merangsang terjadinya kontraksi.
Bara Nareswara POVSetiap hari aku selalu berdoa agar Mikha jangan sampai melahirkan sebelum aku pulang ke rumah. Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menemaninya dalam melewati masa-masa persalinan. Terlebih kami membuat adonan Langit bersama, jadi tidak mungkin aku tidak ikut ambil bagian dalam proses Mikha melahirkan.Sepertinya Tuhan mendengar semua doa-doaku karena siang ini ketika aku sampai di rumah kembali, aku menemukan Mikha yang sedang melakukan Yoga di tempat gym pribadiku. Aku memilih menunggu dirinya sampai selesai di dekat pintu. Satu setengah bulan tidak berjumpa dengannya nyatanya membuatku cukup tersiksa. Tidak peduli hampir setiap hari kami melakukan video call terlebih di kala malam hari sebelum kami beristirahat malam, tapi bertatap muka



![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



