MasukRudi dan Amanda duduk di sofa studio podcast, dengan senyum yang manis. Host podcast, seorang influencer muda, menyambut mereka dengan hangat. "Selamat datang, Rudi dan Amanda! Aku sangat senang memiliki kalian berdua di podcast aku hari ini."Rudi tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Terima kasih, aku senang berada di sini. Aku berharap bisa berbagi cerita tentang kesuksesan aku dan Amanda."Host podcast tersenyum, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Baiklah, mari kita mulai. Rudi, aku tahu kamu adalah salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan kamu menjadi pengusaha?"Rudi tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Aku mulai dari bawah, dengan modal yang kecil. Aku bekerja keras dan tidak pernah menyerah. Aku selalu percaya bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, kita bisa mencapai apa saja."Amanda hanya mengangguk, dengan senyum yang lembut, sementara Rudi terus berbicara tentang kesuksesannya. Host podcast terus mengajukan pertanyaan,
Margareth berlari ke tempat arisan, dengan wajah yang berseri-seri. "Hai, hai, aku punya kabar baik!" ia berkata, dengan suara yang lantang.Rekan-rekannya di arisan memandang Margareth, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Apa itu, Margareth? Jangan tegang-tegang amat!" salah satu dari mereka berkata, dengan suara yang santai.Margareth tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Amanda hamil! Aku baru saja mendapat kabar dari Rudi. Aku tidak bisa percaya!" ia berkata, dengan suara yang penuh kegembiraan.Rekan-rekannya di arisan berteriak, dengan wajah yang penuh kejutan. "Wah, selamat ya, Margareth! Rudi dan Amanda akhirnya punya anak!" salah satu dari mereka berkata, dengan suara yang lantang.Margareth tersenyum, dengan mata yang penuh kebanggaan. "Ya, aku sangat senang. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa cucu. Dan kabar ini juga membantah semua kabar yang mengatakan Rudi mandul," ia berkata, dengan suara yang tegas.Rekan-rekannya di arisan memandang satu sama lain, dengan w
Alex berjalan keluar dari kafe, masih merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu gugup saat meminta saran dari Amanda. Tapi ada sesuatu yang membuat ia merasa bahwa Amanda adalah orang yang tepat untuk memberikan saran. Alex mengambil napas dalam-dalam, dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencari nomor Amanda, dan mengirimkan pesan singkat. "Amanda, aku ingin berbicara dengan kamu. Bisa kita bertemu?" ia menulis. Amanda membalas pesan Alex beberapa menit kemudian. "Tentu, Alex. Kapan kamu ingin bertemu?" ia menulis. Alex tersenyum, merasa sedikit lebih tenang. "Aku bisa bertemu kamu sekarang, jika kamu tidak sibuk," ia menulis. Amanda membalas lagi. "Aku tidak sibuk. Kita bisa bertemu di taman kota. 30 menit lagi?" ia menulis. Alex merasa sedikit lebih tenang, dan membalas pesan Amanda. "Baik, aku akan ada di sana," ia menulis. Alex berjalan ke taman kota, merasa sedikit gugup. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengan Amanda, t
Rudi memasuki kafe dengan wajah bahagia, langsung menuju ke meja di mana Alex duduk. Ia tersenyum lebar, memandang Alex dengan mata yang penuh kekaguman. "Alex, kamu benar-benar gacor! Aku tidak percaya kamu bisa membuat Amanda hamil, di saat aku sudah menyerah," Rudi berkata, dengan suara yang penuh antusiasme. Alex tersenyum, merasa tidak nyaman dengan pujian Rudi. "Ah, itu bukan masalah besar, Rudi. Aku hanya kebetulan saja," ia berkata, dengan suara yang santai. Rudi tidak peduli, terus memuji Alex. "Tidak, tidak, kamu benar-benar hebat! Aku sudah mencoba selama bertahun-tahun, tapi tidak ada hasil. Kamu datang, dan dalam waktu singkat, Amanda sudah hamil. Kamu benar-benar jagoan!" Rudi berkata, dengan suara yang penuh kekaguman. Alex merasa semakin tidak nyaman, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Rudi, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah siap menjadi ayah?" ia bertanya, dengan suara yang santai. Rudi tersenyum, dengan ma
Alex bahagia mendengar kabar kehamilan dari Amanda. Mengira anak yang di kandungan Amanda adalah anaknya. "Aku senang mendengar kabar ini, Amanda. Aku harap anak kita akan tumbuh sehat. Cantik atau ganteng seperti kita," ucap Alex sembari menggenggam tangan Amanda. Amanda melepaskan tangan Alex, dengan ekspresi yang serius. "Tapi aku berpikir ini bukan anak kamu, Lex," ia berkata, dengan suara yang lembut. Alex terlihat bingung, tidak percaya apa yang Amanda katakan. "Apa maksudmu? Kamu bilang ini bukan anakku?" ia bertanya, dengan nada yang sedikit keras. Amanda menghela napas, mencoba untuk menjelaskan. "Lex, kita hanya berhubungan beberapa kali. Aku tidak yakin jika anak ini adalah anakmu," ia berkata, dengan suara yang jujur. Alex merasa seperti dipukul, tidak percaya apa yang Amanda katakan. "Tapi...tapi kita sudah berhubungan layaknya suami istri. Mana mungkin anak dalam kandungan kamu bukan anakku?" ia bertanya, dengan nada yang tidak percaya. Amanda memandang Alex, d
Rudi masih belum bisa menyembunyikan rasa bahagia yang begitu besar. Ia begitu bahagia dengan kehamilan dari Amanda. Ia terus mencium sang istri sepanjang perjalanan pulang, tidak bisa menahan kegembiraan yang membanjiri dirinya."Amanda, aku tidak bisa percaya! Kita akan memiliki anak!" Rudi berteriak, dengan mata yang berkilau.Amanda tersenyum, dengan wajah yang merah karena malu. "Rudi, berhenti! Orang-orang akan melihat kita!" ia berkata, dengan suara yang lembut.Tapi Rudi tidak peduli. Ia terus mencium Amanda, tidak bisa menahan kegembiraan yang membanjiri dirinya. "Aku tidak bisa menunggu untuk memberitahu ibu dan ayah! Mereka akan sangat bahagia!" Rudi berkata, dengan suara yang penuh antusiasme.Amanda tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Aku juga tidak bisa menunggu untuk melihat wajah mereka ketika mendengar kabar ini," ia berkata, dengan suara yang lembut.Rudi memandang Amanda, dengan mata yang penuh kasih. "Aku cinta kamu, Amanda. Aku tidak bisa membayangkan hidupku t







