LOGINMargareth berlari ke tempat arisan, dengan wajah yang berseri-seri. "Hai, hai, aku punya kabar baik!" ia berkata, dengan suara yang lantang.Rekan-rekannya di arisan memandang Margareth, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Apa itu, Margareth? Jangan tegang-tegang amat!" salah satu dari mereka berkata, dengan suara yang santai.Margareth tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Amanda hamil! Aku baru saja mendapat kabar dari Rudi. Aku tidak bisa percaya!" ia berkata, dengan suara yang penuh kegembiraan.Rekan-rekannya di arisan berteriak, dengan wajah yang penuh kejutan. "Wah, selamat ya, Margareth! Rudi dan Amanda akhirnya punya anak!" salah satu dari mereka berkata, dengan suara yang lantang.Margareth tersenyum, dengan mata yang penuh kebanggaan. "Ya, aku sangat senang. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa cucu. Dan kabar ini juga membantah semua kabar yang mengatakan Rudi mandul," ia berkata, dengan suara yang tegas.Rekan-rekannya di arisan memandang satu sama lain, dengan w
Alex berjalan keluar dari kafe, masih merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu gugup saat meminta saran dari Amanda. Tapi ada sesuatu yang membuat ia merasa bahwa Amanda adalah orang yang tepat untuk memberikan saran. Alex mengambil napas dalam-dalam, dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencari nomor Amanda, dan mengirimkan pesan singkat. "Amanda, aku ingin berbicara dengan kamu. Bisa kita bertemu?" ia menulis. Amanda membalas pesan Alex beberapa menit kemudian. "Tentu, Alex. Kapan kamu ingin bertemu?" ia menulis. Alex tersenyum, merasa sedikit lebih tenang. "Aku bisa bertemu kamu sekarang, jika kamu tidak sibuk," ia menulis. Amanda membalas lagi. "Aku tidak sibuk. Kita bisa bertemu di taman kota. 30 menit lagi?" ia menulis. Alex merasa sedikit lebih tenang, dan membalas pesan Amanda. "Baik, aku akan ada di sana," ia menulis. Alex berjalan ke taman kota, merasa sedikit gugup. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengan Amanda, t
Rudi memasuki kafe dengan wajah bahagia, langsung menuju ke meja di mana Alex duduk. Ia tersenyum lebar, memandang Alex dengan mata yang penuh kekaguman. "Alex, kamu benar-benar gacor! Aku tidak percaya kamu bisa membuat Amanda hamil, di saat aku sudah menyerah," Rudi berkata, dengan suara yang penuh antusiasme. Alex tersenyum, merasa tidak nyaman dengan pujian Rudi. "Ah, itu bukan masalah besar, Rudi. Aku hanya kebetulan saja," ia berkata, dengan suara yang santai. Rudi tidak peduli, terus memuji Alex. "Tidak, tidak, kamu benar-benar hebat! Aku sudah mencoba selama bertahun-tahun, tapi tidak ada hasil. Kamu datang, dan dalam waktu singkat, Amanda sudah hamil. Kamu benar-benar jagoan!" Rudi berkata, dengan suara yang penuh kekaguman. Alex merasa semakin tidak nyaman, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Rudi, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah siap menjadi ayah?" ia bertanya, dengan suara yang santai. Rudi tersenyum, dengan ma
Alex bahagia mendengar kabar kehamilan dari Amanda. Mengira anak yang di kandungan Amanda adalah anaknya. "Aku senang mendengar kabar ini, Amanda. Aku harap anak kita akan tumbuh sehat. Cantik atau ganteng seperti kita," ucap Alex sembari menggenggam tangan Amanda. Amanda melepaskan tangan Alex, dengan ekspresi yang serius. "Tapi aku berpikir ini bukan anak kamu, Lex," ia berkata, dengan suara yang lembut. Alex terlihat bingung, tidak percaya apa yang Amanda katakan. "Apa maksudmu? Kamu bilang ini bukan anakku?" ia bertanya, dengan nada yang sedikit keras. Amanda menghela napas, mencoba untuk menjelaskan. "Lex, kita hanya berhubungan beberapa kali. Aku tidak yakin jika anak ini adalah anakmu," ia berkata, dengan suara yang jujur. Alex merasa seperti dipukul, tidak percaya apa yang Amanda katakan. "Tapi...tapi kita sudah berhubungan layaknya suami istri. Mana mungkin anak dalam kandungan kamu bukan anakku?" ia bertanya, dengan nada yang tidak percaya. Amanda memandang Alex, d
Rudi masih belum bisa menyembunyikan rasa bahagia yang begitu besar. Ia begitu bahagia dengan kehamilan dari Amanda. Ia terus mencium sang istri sepanjang perjalanan pulang, tidak bisa menahan kegembiraan yang membanjiri dirinya."Amanda, aku tidak bisa percaya! Kita akan memiliki anak!" Rudi berteriak, dengan mata yang berkilau.Amanda tersenyum, dengan wajah yang merah karena malu. "Rudi, berhenti! Orang-orang akan melihat kita!" ia berkata, dengan suara yang lembut.Tapi Rudi tidak peduli. Ia terus mencium Amanda, tidak bisa menahan kegembiraan yang membanjiri dirinya. "Aku tidak bisa menunggu untuk memberitahu ibu dan ayah! Mereka akan sangat bahagia!" Rudi berkata, dengan suara yang penuh antusiasme.Amanda tersenyum, dengan mata yang berkilau. "Aku juga tidak bisa menunggu untuk melihat wajah mereka ketika mendengar kabar ini," ia berkata, dengan suara yang lembut.Rudi memandang Amanda, dengan mata yang penuh kasih. "Aku cinta kamu, Amanda. Aku tidak bisa membayangkan hidupku t
Rudi dan Amanda duduk di ruang pemeriksaan dokter, menunggu hasil pemeriksaan dengan hati yang penuh harapan. Dokter masuk ke ruangan, dengan senyum yang lebar di wajahnya."Amanda, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kamu hamil," dokter berkata dengan suara yang tenang dan profesional.Rudi dan Amanda saling memandang, mata mereka berkilau dengan kegembiraan. Mereka tidak bisa percaya bahwa hasil pemeriksaan ini benar-benar positif."Hamil?" Rudi bertanya kembali, seperti tidak percaya.Dokter mengangguk. "Ya, istri kamu hamil. Selamat, kalian berdua akan menjadi orang tua!"Rudi dan Amanda berpelungan, menangis dan tertawa bersama. Mereka tidak bisa menahan kegembiraan mereka. Rudi mengangkat Amanda ke udara, berputar-putar di ruangan."Kita akan memiliki anak! Kita akan memiliki anak!" Rudi berteriak dengan gembira.Amanda menangis, dengan senyum yang lebar di wajahnya. "Aku tidak bisa percaya, Rudi. Aku hamil."Dokter tersenyum, melihat pasangan muda ini begitu bahagia. "Selamat,







