MasukTrixxie Angeles. Gusto lang niyang paghiwalayan ang kapatid at ang hipag pero nag-backfire ang plano niya. Nagbunga ang isang gabibf pinagsaluhan nila ni Gavin. Gavin Mendez. Isang lalaking malikot sa babae ngunit nagkagusto sa babaeng may asawa na. Ano ang kaya niyang isakripisyo sa ngalan ng pag-ibig? Dumaan ang limang taon at kailangan niyang makipagkita sa lalaking nilinlang niya para sa kapakanan ng kanyang anak na may sakit. Ano ang kaya niyang ibigay sa lalaking minsan na siyang sinabihan na walang iibig sa kanya?
Lihat lebih banyak“Hentikaaan! Kamu siapa?” tanya Anis yang memiliki paras manis sambil menghunuskan pedang. Sementara sosok hitam tinggi besar dengan wajah bertaring merah sudah lama berdiri di depan Anis.
Ketika sosok hitam tinggi besar yang mengerikan itu mendekati gadis bernama Anis, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sosok lelaki yang sangat rupawan. Sosok itu menampilkan senyum menyeringai yang cukup membuat siapapun akan luluh. Jika sosok tampan itu ada di dunia nyata, mungkin akan mirip Gong Yoo Oppa. Ah iya, satu sosok yang benar-benar diidamkan oleh kebanyakan gadis pecinta Drakor.
“Ka-kamu mau ngapain?” Dengan polosnya Anis bertanya kepada sosok lelaki berwajah rupawan yang misterius itu mulai mendekati wajahnya.
Sosok lelaki rupawan itu menjauhkan tubuhnya dari sosok Anis. Sosok gadis itu hanya mengerjap-ngerjapkan kedua netranya.
“Anis, aku datang ke sini hanya ingin memberitahumu bahwa apid an kebahagiaan yang sangat luar biasa mendatangimu. Hanya saja, selama perjalanan itu, kamu akan harus melalui beberapa ujian. Sebenarnya, ujian tersebut bukan seperti ujian sewaktu masih sekolah.” Sosok lelaki tampan yang tidak pernah memberitahu identitasnya itu menjelaskan hal yang tidak dimengerti oleh Anis.
“Maksudmu apa?” Anis memang kebingungan dengan penjelasan dari sosok misterius itu. Hanya saja, Anis sudah tidak merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketika memandang sosok itu, mata sang gadis tidak berkedip sedikit pun. Mungkin ia mulai terpesona oleh ketampanan dari sosok jelmaan makhluk Genderuwo.
“Dengarkan aku! Intinya, ketika kamu lahir di dunia, kamu akan dikaruniai oleh banyak sekali nikmat yang luar biasa. Gunakan nikmat itu untuk membantu apid . Oke. Aku harus pergi dulu.” Ketika sosok misterius itu akan melangkahkan kakinya untuk pergi, Anis menghentikannya.
“Tunggu dulu! Sebenarnya aku masih nggak ngerti, tapi aku akan berusaha mengikuti apa katamu.”
Sosok lelaki tampan yang misterius itu hanya melempar senyum sinis untuk ke sekian kalinya. Mungkin setiap lelaki tampan di dunia ini memang suka sekali tersenyum sinis–seolah-olah ketampanan hanya milik mereka saja. Anis yang baru menyadari sikap sosok misterius itu ingin memuntahkan sesuatu. Mungkin Anis merasa sangat muak melihat ketidakramahan sosok itu.
“Aku merasa sangat aneh. Sebenarnya aku sedang berada di mana?” Akhirnya, Anis mulai menyadari keberadaanya. Ia mulai berjalan secara perlahan ke setiap sudut tempat itu.
Sebuah tempat asing yang ditumbuhi oleh pohon hijau dengan kesejukan yang luar biasa. Angin semilir menerpa rambutnya yang hitam sedikit bergelombang. Ia pun mulai mendengar beberapa kicauan burung yang bertengger di ranting-ranting pohon. Sungai kecil yang berada di seberang utara gubuk lapuk, mengalirkan gemericik air yang membuatnya menghentikan langkah.
Anis menikmati setiap suara indah yang mengalir tenang dari sungai kecil itu. Ia merenung lalu kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia memang sedang berada di sebuah bukit asing. Ia kembali melihat dirinya pun sedang mengenakan pakaian serba putih.
“Sebenarnya aku sedang berada di mana, Tuhan?” tanya Anis sambil mengedarkan pandangannya ke atas langit yang begitu biru.
Lalu, siapa yang akan menjawab pertanyaan gadis manis itu? Ia benar-benar merasa sendirian. Ketika tangisnya meledak, tiba-tiba saja sebuah cahaya putih besar menghantamnya. Tubuhnya seolah-olah pecah menjadi butiran-butiran partikel yang sangat kecil. Jika partikel itu dilihat melalui miskroskop, akan terlihat potongan tubuh Anis yang cukup mengerikan.
Mulai dari kulit, rambut, hingga kuku-kuku yang menghitam karena pemiliknya tidak pernah membersihkannya. Namun, gadis manis itu selalu memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki. Ia selalu mendapatkan perawatan kecantikan terbaik. Bahkan, ia sangat rela mengeluarkan uang puluhan juta untuk perawatan wajahnya agar tetap terlihat awet muda.
“Hei, kau Anis si gadis manis, kita akan bertemu di dunia lain. Dunia yang akan membawamu pada kenikmatan palsu. Namun, dunia itu benar-benar tempat yang tepat untuk melakukan semua kebaikan yang akan mengantarkanmu pada kenikmatan yang sesungguhnya. Kau hanya perlu membawa beberapa bekal sebelum menikmati kenikmatan yang sesungguhnya.”
Hanya kalimat itu yang masih terdengar oleh Anis sebelum gadis manis itu benar-benar menghilang.
***
Kudus, Tahun 1970
Sebuah desa Karangjawa yang berada di pinggiran Kota Kudus, Jawa Tengah telah dikaruniai satu keluarga kecil dari kalangan Priyayi. Meskipun desain rumahnya joglo terbuat dari papan. Rumah mereka terbilang mewah pada masa itu. Rumah jawa itu cukup rame dengan kehadiran tiga orang anak, satu diantaranya seorang perempuan cantik yang bernama Warti. Usianya baru 9 tahun yang tentu saja sangat senang bermain dengan teman sebayanya, tetapi ia sudah sangat terlihat dewasa dibandingkan teman-temannya.
“Lho, Pakne, beras yang ada di dalam karung ini tiba-tiba habis? Padahal baru tiga hari lalu kita habis menggiling gabah, lho.” Suara wanita bernama Nyimas Sekar Sari yang sangat lembut dengan logat khas Solo mulai menggema.
Seorang lelaki bernama Raden Mas Cokro yang masih sangat muda, usianya sekitar 35 tahun berjalan pelan menuju istrinya. Seperti hari-hari biasanya, sang suami mengenakan beskap–sebuah penutup kepala Jawa khas Solo dengan pakaian adat Solo yang khusus bagi kalangan Priyayi.
“Walaaahhh, Buneee. Aku lupa, kemaren berase diutang sama Mbok Jum.”
“Lho gimana, to, Pak! Berasnya masih tinggal sedikit malah dikasihkan sama orang lain. Lalu, kita makan pakai apaan?” Suara Nyimas Sekar Sari meskipun terdengar sangat lembut, tetapi cukup menyayat hati lantaran ketidakikhlasannya.
Semua amarah yang diluapkan oleh Nyimas Sekar Sari sangat normal. Siapapun bakalan marah jika mengetahui makanan satu-satunya sudah habis.
“Sudahlah, Bune. Pekara makanan masih bisa dicari. Kita masih punya ketela, ya. Lagipula sebentar lagi panen. Kita bisa makan pakai ketela.” Begitu sang suami menyahut perkataan Nyimas Sekar Sari, amarah wanita cantik itu secara perlahan mereda.
Bayangkan saja keluarga seorang Priyayi dari Solo harus merasakan kepahitan. Namun, mereka sudah menyatakan untuk hidup sederhana. Mereka akan sangat jarang memakan makanan seperti daging ayam, kerbau, apid an makanan yang dinilai mewah.
“Iyo, Pak. Aku sendiri sudah tua. Lagian Warti juga sudah mulai besar. Apalagi biaya sekolahnya semakin mahal,” ucap Nyimas Sekar Sari lalu duduk di tepi ranjang sambil mengelus-elus dadanya. Amarah yang tadinya meledak, kini mulai mereda. Suaminya memang sosok yang sangat layak dijadikan seorang idola keren.
“Masalah biaya sekolahnya Si Warti yo biasa saja. Nanti aku tak menjual hasil kebun ketela. Kita harus memikirkan kematian, Bu.” Perkataan sang suami yang terakhir, menyentak hati istrinya.
“Pak, kematian kita memang sangat dekat. Njenengan[1] bisa saja berkata seperti itu, tapi aku ini istrimu. Aku jelas saja nggak rela kalau njenengan yang mati duluan.”
“Ya sudah, Bu. Kita akan mati bersama.”
“Halah, bahasamu itu lho, Pak malahan persis seperti orang yang sedang main ludruk[2].”
“Tapi sampeyan akhirnya bisa tertawa juga, to?” tanya sang suami sambil mencubit hidung Nyimas Sekar.
Tawa mereka pecah yang terdengar oleh Warti–kebetulan perempuan cantik tersebut sudah pulang dari sekolah.
***
[1] Njenengan merupakan kata dari Bahasa Jawa yang artinya Anda dan bersifat formal.
[2] Ludruk merupakan sebuah acara teater Jawa yang menghadirkan lelucon-lelucon segar dan adegan lucu.
Wala ng nagawa si Trixxie at Gavin sa pagrerebelde ni Tatiana. Pero, si Trevin ay may ginawang hakbang. "Ito ang igaganti mo sa lahat ng sakripisyo ni Mama para lang maging safe tayo? If you only knew half the tale I knew, you will think about your actions," nangangalaiting saad ni Trevin sa nag-iisang kapatid na babae. "Pabayaan mo na kasi ako. Kapatid lang kita. And please stop parenting me. Pareho lang tayong anak, and yet here you are acting like almighty superior," mataas na tinig na saad naman ni Tatiana. Naningkit ang mga mata ni Trevin sa mga sinabi ng kapatid. Umigkas ang kanyang kamay at sapol ang kanang pisngi ni Tatiana. Kaagad na namula ang mukha ng huli lalo at malakas ang sampal na 'yon. "You bit*h! Get out. If you want to destroy your future, go on. Just don't cry after he has had enough of you. I have warned you." Tiim pa rin ang bagang ni Trevin habang pinagmamasdan ang kapatid na sapo ang pisngi na tinamaan ng sampal. Mas nangingibabaw ang
Six years later “Sino ang lalaking ‘yun Tatiana, huh?” galit na tanong ni Trevin sa kapatid. Kasalukuyang sinusundan ng bente tres anyos na si Trevin ang kapatid na katatapos lang ng debut nang nakaraang buwan. “Kausapin mo ako. Huwag mo akong talikuran!” Nangalaiti na si Trevin sa kawalan ng pakialam ng kaisa-isang kapatid na babae sa kanyang sinasabi. Nahuli lang naman niya ito sa bar sa kabilang bayan. Ang paalam lang nito ay may tatapusin na group project. Pero, lingid sa kaalaman nito, may tracking app siyang kinabit nang palihim sa cellphone nito. Nagulantang pa ito nang inabutan niyang inisang lagok ang tequila kasama ang isang lalaking matangkad na hindi pamilyar sa kanya. Nakapulupot ang braso nito sa baywang ng kapatid at base sa sweetness ng dalawa, duda siyang may relasyon ang mga ito. “Am I still entitled to say anything?” asik ni Tatiana sa kapatid. Tinalikuran ang kapatid at saka umakyat na ng hagdan. Dahan-dahan ang ginawa niyang pag-aky
Matuling lumipas ang mga buwan at naging maayos naman ang pinagbubuntis ni Trixxie. Akala nila magiging maayos na ang kanilang buhay pero muling may nagtangka na nanloob sa tahanan ng mga Mendez. Nahuli ang mga salarin lalo at nakuryente ang mga ito sa wire fence na naka-install pala tuwing gabi sa bakod nila Gavin. Kasalukuyang nasa isang tagong bodega sina Trevin habang ini-interrogate niya ang dalawang lalaki na nahuli nila. “Ayaw n’yo pa rin kumanta kung sino ang mga amo ninyo?” tanong ni Trevin habang pinagkiskis ang mga livewire na ididiin niya sa mga salarin. “Wala kaming amo!” sigaw ng lalaki habang halos mabaliw na sa takot. Ididiin na sana ni Trevin ang wire dito nang pumiyok ang isa. “Si Sir Salvador ang nag-utos sa amin,” sigaw ng isa. “Gago! Papatayin tayo ng mga Guevarra,” singhal ng isa. Napangiti si Trevin lalo at di na nila kailangan na dungisan ang kanilang kamay para parusahan ang mga salarin. Kailangan lang nilang pakawalan an
“Talaga, my love? Kahit noong nabuntis ka kay Tatiana, wala ka talagang balak maghabol sa akin?” tanong ulit ni Gavin. Napag-usapan na nila ang topic na ‘yon sa mga nakaraang taon. Pero, sa tuwina na-a-amaze na marinig ni Gavin ang dahilan ni Trixxie. “Paulit-ulit ka rin, eh. Alangan naman na maghabol ako may Dianne ka at wala akong balak na manira ng may relasyon,” katwiran niya kay Gavin. “Kahit noong may nangyari sa atin wala ka man lang nararamdaman sa akin?” “Meron. Nagagalit ako dahil kailangan mo pa gamitin si Trevin na dahilan para lang makuha mo ang gusto mo,” naiinis na sagot ni Trixxie. “Sa ganda at kinis mo naman kasi, sino ang hindi mahuhumaling?” nakakalokong saad ni Gavin sa asawa. Pinasadahan pa niya ng tingin mula ulo si Trixxie. “Aysus! Nakaapat ka na sa akin, Mendez! Huwag mo nga akong binobola.” “Totoo naman eh. Pakakasalan ba kita kung hindi ako nahuhumaling sa ‘yo?” “Tigilan na nga n
Isang buwan ang nakalipas ang kasal ni Trixxie at Brandt ay dumating ang huli mula sa trabaho nito. Tuwang-tuwa si Trevin lalo na at may pasalubong itong mamahaling chess piece set na yari sa crystal. Kaagad na lumapit si Brandt sa asawa at hinalikan sa pis
Tatlong araw ang lumipas ay hindi na nakadalaw si Gavin sa hospital. May emergency na nangyari sa site sa Bulacan kaya ang leave na na-file ay na-cancel. Tumawag na lang siya kay Trixxie para ipaalam dito na hindi siya makakadalaw, Wala naman naging problema dahil hindi na
Ayaw na magkomento ni Trixxie sa sinabi ni Gavin. Dapat lang naman siguro na ito na magbayad sa mga gagastusin sa operasyon at gamutan. Pagkatapos niyang mag-ala hostess para lang pagbigyan ang tawag ng laman nito ay siguro naman ay sapat na iyong kabayaran. Ramdam pa nga niya ang hapdi n
Alas onse na ng tanghali nakarating si Trixxie sa hospital. Buti na lang at andun ang Kuya Harvey niya at siyang salitan na nagbabantay kay Trevin kasama ng mga magulang. Isang nakangiting Trevin ang sumalubong kay Trexxie. "Mama." Inangat nito ang mga braso, tanda na gusto nito yumakap sa ina. Ku












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan