Mag-log inSebuah senyuman kecil, nyata dan tanpa topeng, muncul di wajah Xylas. Hal itu mengubah seluruh penampilannya, membuatnya terlihat lebih muda, seperti orang yang ramah dan bisa didekati.“Mungkin kau murid yang berbakat.” Dia menatap Lysandra. Dan untuk sesaat, keributan di sekitar mereka seolah menghilang. “Besok kita lanjutkan. Setiap hari. Sampai kau bisa mengalahkan pengawal terbaikku.”Dia membimbingnya keluar dari lapangan, meninggalkan para prajurit yang terpana dan bisik-bisik yang semakin menjadi-jadi. Bukan hanya statusnya yang ditinggikan, tetapi sekarang Kaisar secara terang-terangan seolah membawanya, mendukungnya, baik secara mental maupun fisik.Pesannya jelas bagi semua yang melihatnya. Wanita ini di bawah perlindunganku, dan aku sedang mempersiapkannya untuk sesuatu. Dia penting bagiku.Saat dia berbalik dan berjalan pergi, memanggil instruktur kepala untuk suatu hal, Lysandra berdiri di tempat, pedang itu terku
Esoknya, Lysandra kembali ke pekerjaannya membersihkan debu di perpustakaan pribadi Kaisar. Lysandra membuka salah satu buku di perpustakaan pribadi Xylas. Saat ada langkah kaki mendekat, dia buru-buru menutup buku itu. Mengembalikannya ke tempat semula.“Lyra,” suara tegas itu, membuat Lysandra menoleh.Dia menyahut, “Ya, Yang Mulia?”“Ikut aku,” katanya, tegas.Lysandra melangkah di belakang Xylas. Beberapa pelayan menunduk lalu berbisik ketika melihat Lysandra. Xylas berhenti, dua membawa Lysandra ke lapangan latihan pedang.Angin siang hari menerpa wajah Lysandra saat mereka tiba di lapangan latihan yang luas. Bunyi dentingan pedang dan teriakan prajurit mengisi udara. Xylas berjalan dengan langkah tegas, tidak memperhatikan tatapan penasaran atau bisikan yang mengikuti mereka. Para prajurit segera berhenti dan membungkuk saat dia lewat.Dia berhenti di depan rak senjata, mengambil sebilah pedang
Pertemuan Lysandra dengan Xylas bersama Ratu Utara dan Putri Mahkota palsu yang baru saja kembali itu berlangsung cukup menegangkan. Ratu Utara, Clara, membungkuk untuk memberi hormat pada Xylas.“Salam, Yang Mulia.”“Duduklah,” kata Xylas.Ratu Utara dengan wanita yang wajahnya adalah wajah asli Lysandra itu duduk.Pandangan Xylas terarah pada wajah Putri Lysandra itu. “Anda masih hidup. Syukurlah,” katanya.“Sebuah keajaiban terjadi, Yang Mulia. Kakak … maksud saya, Putri Mahkota Lysandra ternyata masih hidup setelah saya dinobatkan sebagai ratu yang baru,” kata Clara.Xylas mengangguk dengan anggun, namun tatapan mata elangnya tidak pernah meninggalkan wajah si penipu itu. “Memang sebuah keajaiban,” ucapnya.“Kisahmu pasti sangat luar biasa. Aku ingin mendengarnya ... secara detail,” kata Xylas.Clara segera menyela, “Oh, Yang Mulia, dia masih sangat lemah. Ingatannya k
“Bukan sebagai selir, tapi sebagai tawanan yang paling dijaga. Kita akan mengatakan kepada istana bahwa kamu adalah medium yang bisa mendeteksi sihir sekaligus korban dari serangan di perbatasan yang sekarang takut sendirian. Itu akan memberi kita alasan dan aku bisa punya kesempatan untuk menjaga kamu dari dekat, dan memberi kamu akses untuk mengamati Putri palsu itu dari dekat.”Lysandra mengangguk, pikirannya berputar cepat. Langkah itu tentu berbahaya. Itu akan membuatnya menjadi target yang lebih besar. Namun langkah itu juga memberinya kekuatan, akses, dan perlindungan tingkat tertinggi.“Berada di kamar sebelah juga sudah cukup bagi saya, Yang Mulia,” kata Lysandra.“Tidak. Aku ingin membuatmu aman. Tanpa ada yang berani mengganggumu,” kata Xylas.“Besok kita akan kembali bertemu dengan Putri Mahkota dengan Ratu Utara. Sekarang sebaiknya kita istirahat,” kata Xylas.Lysandra menunduk, hendak melangkah pergi
Lysandra tergagap-gagap. “Y-yang Mulia. Dia ... Putri Mahkota itu. Palsu. Dia palsu, Yang Mulia.”Xylas menaikkan satu alisnya. “Lyra. Kau bicara apa?”Lysandra menatap wajah Xylas. “Yang Mulia, percayalah. Dia ... Putri Mahkota yang palsu,” kata Lysandra sekali lagi.Xylas mendekat. Kali ini tangannya terulur untuk menyentuh kening Lysandra. “Kau tidak demam. Tapi mungkin ini efek syok kemarin,” kata Xylas.“Tidak. Yang Mulia, saya berkata jujur. Mereka ... mereka menggunakan sihir gelap. Sihir yang bisa mengubah wajah seseorang.”Lysandra menepis tangan Xylas dengan gerakan tak terduga, sebuah tindakan berani yang membuat matanya melotot. Dia mundur selangkah, namun tidak menunduk. Api kejujuran yang membara mengalahkan semua pelatihan untuk patuh.“Saya tidak demam, bukan karena syok," desisnya, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. “Saya tahu karena ….” Lysandra terdiam.Dia ingi
Xylas mengatakan hal peringatan. Dia tidak hanya mengungkapkan kepemilikannya secara pribadi atas Lysandra. Dia sekarang secara resmi menempatkannya dalam lingkaran kekuasaannya, menjadikannya terlindungi dari intrik wanita-wanita seperti mereka di istananya.Inggrid tersipu malu marah, sementara Giselle hanya menunduk lebih dalam, menyembunyikan kilatan perhitungan di matanya.Xylas tidak peduli. Dia terus berjalan, menarik Lysandra bersamanya, meninggalkan kedua putri yang terpana dan seluruh halaman istana yang kini berbisik.Saat mereka melewati koridor yang sepi menuju ruang takhta, Xylas membungkuk sedikit, suaranya rendah. “Mereka adalah ular berbisa dengan pita sutra. Jangan pernah terima makanan atau minuman dari mereka. Jangan pernah sendirian dengan salah satu dari mereka. Jika mereka mendekat, laporkan padaku.”Lysandra mengangguk, perasaannya campur aduk. Di satu sisi, dia dilindungi. Di sisi lain, dia sekarang dit







