MasukSaat Lysandra dan Xylas berjalan beriringan melewati taman menuju ke menara sayap utara, Xylas dan Lysandra bertemu Inggrid. Putri bangsawan itu buru-buru mendekat.
Dia membungkuk, “Yang Mulia, saya ingin menyampaikan pesan dari utusan Kerajaan Timur,” Inggrid menyerahkan gulungan surat pada Xylas.“Kerajaan Timur? Duke Henrick? Beraninya dia menyampaikan lewat dirimu dan bukan melalui Giselle?”“Ampun, Yang Mulia. Saya hanya menyampaikan pesannya,” tatapan Inggrid menatap tak suka pada Lysandra.Xylas membuka gulungan surat itu, membaca isinya sekilas. Dia lalu menyerahkan gulungan itu pada Lysandra. “Lyra. Aku ingat, setelah kita memeriksa dokumen, kita akan berlatih pedang dan pertahanan kaki,” kata Xylas.Lysandra mengangguk. Tanpa mengucapkan kalimat apa oun, Xylas membawa Lysandra menjauh. Mereka berdua berlalu, meninggalkan Inggrid dengan wajah merah padam.“Awas saja kau budak sialan!” InggrLysandra kembali ke kamarnya. Kamar Kaisar. Namun malam itu, Lysandra tidak bisa tidur.Dia akhirnya berjalan ke arah balkon, berdiri di balkon kamar yang sekarang mereka bagi, menatap bulan yang tertutup awan. Pikirannya dipenuhi oleh labirin cermin, oleh suara Clara yang marah, dan oleh kenyataan bahwa dia sekarang memiliki kekuasaan tetapi juga tanggung jawab yang lebih besar.Dia mendengar langkah kaki di belakangnya, lalu merasakan kehangatan saat Xylas berdiri di sampingnya, menyandangkan selimut di bahunya. “Tidak bisa tidur?”“Ada banyak hal yang saya pikirkan, Yang Mulia,” sahutnya.Xylas berdiri di sampingnya, juga menatap kegelapan. “Aku juga.”Xylas terdiam sejenak. “Aku telah memerintahkan agar liontin asli milik Putri Mahkota Lysandra yang sudah tidak bersinar itu disimpan di ruang harta karun yang paling aman. Itu adalah miliknya. Suatu hari, mungkin aku bisa memberikan liontin itu pada pemiliknya lagi. Meskipun aku tahu, itu mungkin mustahil.”Lysandra tersentak. Xylas
Pelukan itu tidak seperti sebelumnya. Bukan pelukan posesif, bukan pelukan kemenangan yang penuh gairah. Pelukan itu adalah pelukan yang penuh dengan kelegaan yang begitu besar hingga hampir membuat tubuhnya lemas.Xylas merangkulnya dengan erat, wajahnya tertanam di lekuk lehernya, tubuhnya yang besar sedikit gemetar. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya memeluk, seolah-olah dengan kehangatan dan kekuatannya dia bisa menghapus semua ketakutan, semua kedinginan penjara bawah tanah, dan semua teror labirin cermin.Lysandra membeku sejenak, lalu merespons. Tangannya merangkul punggungnya yang luas, mencengkeram jubahnya yang kotor debu dan sesuatu yang lebih gelap. Di pelukannya, dia bisa merasakan ketegangan yang akhirnya mengendur, gemetar halus dari adrenalin yang surut, dan yang paling mengejutkan, dia merasakan kelembutan. Di sini, di tengah reruntuhan sihir yang hancur, Kaisar yang ditakuti itu terlihat seperti seorang pria biasa yang r
Mereka mulai menyusun rencana untuk memasuki hutan kecil yang dikutuk itu. Xylas mengendarai kuda bersama Lysandra. Sedangkan Roland dengan Frederick menggunakan kuda mereka masing-masing.Hutan itu bukan sekadar tempat yang gelap. Tempat itu adalah sebuah entitas yang menelan cahaya. Bahkan sinar matahari siang yang terang tampak redup dan terdistorsi saat melewati kanopi daun hitam-keabuan yang berputar-putar. Suara kuda mereka terdengar teredam, dan udara terasa basah serta diam.Terlalu sunyi.Tidak ada kicau burung, tidak ada desah serangga.Shadow, kuda Xylas yang hitam legam, mendengkus gelisah, mengais tanah dengan cakarnya. Xylas tidak memaksanya. Dia melompat turun, lalu dengan hati-hati membantu Lysandra turun. Sentuhannya di pinggangnya berlangsung lebih lama dari yang diperlukan, sebuah kontak terakhir yang penuh arti sebelum mereka masuk.“Tempat ini ... rasanya terkutuk,” gumam Frederick, mata birunya yang tajam menyapu pepohonan.“Karena memang dikutuk,” jawab Roland d
Lysandra duduk tegak, rasa lemahnya hilang digantikan oleh kewaspadaan yang tajam. “Ratu Utara mungkin menginginkan saya,” ucapnya, suaranya datar.Xylas menggenggam kain hingga kepalannya putih. “Tidak akan pernah terjadi selama aku masih berkuasa.”“Tapi itu masuk akal,” kata Lysandra, berdiri meski kakinya masih goyah. Xylas segera membantunya, tangannya yang kuat melingkari pinggangnya. “Dia kehilangan bonekanya. Dia kehilangan liontinnya atau dia berpikir dia kehilangannya. Dia membutuhkan komponen kunci untuk ritualnya, apa pun itu. Dan saya ... saya mungkin kesalahan yang dia butuhkan untuk dimanfaatkan.”“Tidak akan,” geram Xylas, suaranya penuh amarah. “Kau adalah milik Kerajaan Barat. Dan kau adalah milikku.”“Kumpulkan pasukan. Semua Pengawal Elit. Kita bergerak menuju reruntuhan kuil itu sebelum bulan baru,” katanya.“Yang Mulia, itu mungkin jebakan,” Frederick mengingatkan “Tentu saja itu jebakan,” sambar Xylas. “Tapi dia membuat satu kesalahan.”Xylas menatap Lysandra,
Xylas tidak beranjak sama sekali. Setelah menidurkan Lysandra di ranjangnya, dia tetap berlutut di sampingnya, tatapannya tak lepas dari wajah pucat Lysandra. Amarah yang membara seperti lahar di dalam dadanya, tapi di atas itu semua ada sebuah rasa lega yang begitu besar hingga terasa menyakitkan. Dia hampir kehilangan dia.Hampir saja.Tanpa kata-kata, tangannya yang masih gemetar naik untuk menyentuh pipi Lysandra. Sentuhannya sangat lembut, sebuah kontras yang mencolok dengan kekerasan yang baru saja dia berikan terhadap Inggrid. Ibu jarinya dengan hati-hati mengusap setitik lumpur di tulang pipinya, lalu berhenti di bibirnya yang kering dan pecah-pecah.“Lyra,” gumamnya, nama itu keluar seperti doa dan pengakuan bersamaan.Lalu, dia membungkuk.Bibirnya menyentuh lembut bibir Lysandra.Ciuman itu tidak seperti yang sebelumnya. Bukan klaim posesif, bukan ujian, bukan ledakan emosi yang bingung. C
Lysandra mencari keberadaan Ratu Utara, Clara, di kamar khusus tamu kerajaan. Saat langkahnya masuk ke area itu, suara seseorang membuatnya terkejut.“Kau pikir kau menang, Lyra?” kata suara itu.Lysandra menoleh. Namun, belum sempat dia mengetahui wajah pemilik suara itu, seseorang telah membekap mulut dan hidungnya dengan kain berisi obat penenang.Lysandra terkulai lemas seketika.“Cepat, bawa dia ke penjara bawah tanah!” seru orang itu.“Tamat sudah riwayatmu, Lyra!!” Inggrid, pemilik suara itu memerintahkan.Lyra hanya melihat remang-remang. Lalu, semuanya gelap.Kemudian, kesadaran yang samar-samar, berdenyut menyakitkan di pelipisnya. Bau tanah lembab, jamur, dan kotoran yang membusuk memenuhi hidung Lysandra sebelum dia bisa membuka matanya. Suara tetesan air yang lambat dan berirama bergema di kejauhan. Rantai dingin membelit pergelangan tangannya, mengikatnya ke dinding batu y






