ログインHidup Prita berubah drastis setelah dia menerima perjodohan yang dilakukan Keluarga Besar Prawiro Hartadi. Banyak hal diluar nalar yang dialami Prita sejak awal perkenalan. Akankah perjodohan itu membawa bahagia ataukah berujung malapetaka.
もっと見る"Rencana apa Bunda? Kalau itu akhirnya akan membahayakan Ayah dan Bunda, Prita tidak mau melakukannya!" "Meski Ayah dan Bunda selama ini selalu patuh dan tunduk pada kemauan Kakek Damar, toh, pada kenyataannya kalian tetap terus saja mendapat masalah dari Keluarga Besar Prawiro Hartadi! Mulai dari Amanda, Hendri, Tissa bahkan Kakek Damar sendiri seolah tak puas hati kalau belum membuat hidupmu tersiksa!" sanggah Marsya."Kami ini sudah tua, Nak! Mungkin saja sebentar lagi sang malaikat maut menyapa. Apakah salah, Ayah dan Bunda ingin mengganti waktu kebersamaan kita yang telah dirampas oleh keegoisan Kakek Damar. Puluhan tahun kita terpisah, selama itu pula Bunda merasa tak utuh menjadi seorang Ibu dan Nenek.Bunda ingin, sebentar... saja! Di Akhir usia ini merasakan kebersamaan dengan kalian, merasakan berperan jadi sosok Ibu dan Nenek yang sebenarnya!" Bulir air mata kembali mengalir membasahi pipi Marsya. Dirinya kembali merasa putus asa saat Prita menolak keinginannya."Tapi Bund
"Ya.. Allah!" lirih Prita dengan kedua tangan menutup mulutnya. Benarkah ini, batin Prita meyakinkan dirinya.Berjuta rasa berkecamuk didalam hati Prita, bayangkan bagaimana rasanya harus terpisah puluhan tahun dengan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.Prita sampai mencubit keras tangannya, karena tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. "Bun.. Bunda!"Bulir demi bulir air mata menetes tak tertahan, Prita membuka pintu lebar-lebar kemudian bersimpuh di depan kursi roda yang diatasnya duduk seorang Wanita usia senja dengan paras cantik mirip dengannya. Berulang Kali diciumnya tangan serta pipi wanita itu sebelum akhirnya memeluk penuh rasa mengharu biru.Di Belakang kursi roda, tampak seorang Pria paruh baya yang dengan setia menunggu sambil memegang kursi roda. Prita sempat bertanya didalam hati, dimana Yoga? Kenapa tak turut serta kesini bersama Bunda?.Dihadapan Prita sekarang adalah sosok Wanita yang selama ini sangat dirindukan.
"Kenapa, Nak? Siapa yang menelpon?" tanya Prita lirih setelah menggeser posisi tubuhnya agar nyaman berbaring."Hmm.. I.. Ini. Anu, Bu," gagap Anggita semakin salah tingkah."Dijawab saja telponnya, siapa tau penting." Prita tak berkedip memperhatikan sikap Anggita yang sedikit aneh."Anggita boleh jawab telpon ini?" tanya Anggita meminta izin pada Prita."Iya, jawab saja," sahut Prita mengizinkan Putrinya itu."Tapi, Bu...," Anggita benar-benar merasa serba salah, dia sedang mempertimbangkan apakah orang yang menelpon ke ponsel Ibunya ini berniat baik atau tidak."Apa Ibu saja yang menjawabnya?" ucap Prita yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.Karena dibiarkan terlalu lama, akhirnya panggilan masuk itu terhenti dengan sendirinya. Anggita menghela nafas panjang, dia berharap orang itu tak lagi menelpon Prita."Tuh, keburu mati teleponnya. Ada apa, sih? Ibu perhatikan, tingkahmu aneh banget! Sini, duduk dekat Ibu!" pinta Prita, tangan kanannya menepuk-nepuk bagian tepi brank
"Tolong! Tolong saya, Mas atau Mbak yang ada di ruang UGD!" jerit Anggita dengan suara yang cukup memekakkan telinga."Anggita! Apa-apaan kamu, bisa budek telinga Nenek! Bikin malu aja!" bentak Tante Amanda mengucek-ngucek telinganya sambil celingukan memperhatikan keadaan dibalik kaca jendela mobil. Rasa malunya lebih besar dibandingkan rasa empatinya pada Prita dan Anggita."Sengaja! Abisnya dua manusia yang seharusnya menolong, malah kayak orang hilang ingatan lagi ada dimana sekarang! Lebih baik Anggita teriak memanggil bantuan. Kalian berdua itu ngapain dari tadi, Anggita perhatikan cengangas cengenges nggak jelas? Bukannya membantu Ibu yang jadi korban Nenek, malah asyik main ponsel!" ketus Anggita hingga terdengar deru nafasnya yang memburu.Tante Amanda dan Johan tak menyangkal apa yang dikatakan Anggita barusan, mereka memang sedang sibuk saling mengirim pesan karena kalau bicara langsung akan ketahuan Anggita."Kenapa diam? Sudah tua bangka bukannya insyaf malah makin nggak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.