แชร์

127. Kebenaran #2

ผู้เขียน: Dinis Selmara
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-09 23:59:02
Jay benar-benar tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tatapannya gelap, tajam menusuk istrinya. Jika kali ini Riani memang ikut dalam peristiwa itu, apa pun itu dia tidak akan mengampuni.

Mata Abra memanas. Wajah Riani seolah sudah menjelaskan semuanya tanpa kata–sarat takut di matanya dan bibir yang gemetar. Rahang Abra mengeras, ada genangan di pelupuk matanya, dan tangannya sudah mengepal sempurna. Riani makin ciut melihat ekspresi putra sulungnya itu. Belum lagi tatapan suaminya
Dinis Selmara

peluk serayu :(

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (25)
goodnovel comment avatar
Maulidiyah
part tersedihnya Abra ............... peluk Serayu
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
hadechh c Riani emang wanita gak berperasaan . bisa-bisanya dia merasa gak bersalah .Abra emak mu emang harus masuk penjara dulu biar tau rasa .
goodnovel comment avatar
Sri Indah
dasar pembunuh. Riani telah menjadi jagal janin Serayu. Terbukti sudah kan dugaanku. Hukuman dan karma apa yang pantas untuk manusia dengan hati sebiadab itu ?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   365. Pulang

    “Benar kata kamu. Seharusnya kita langsung pulang,” gumam Abra sembari memeluk Serayu yang tengah memejamkan mata setelahi menangisi putra mereka. “Tadi sudah janji ‘kan untuk nggak saling menyalahkan diri sendiri?” balas Serayu lirih dalam pelukan Abra. “Maafkan saya, Sayang.” Abra mengecup puncak kepala istrinya. Entah sudah berapa kali kata maaf itu terucap. Serayu mengeratkan pelukannya, berusaha menyalurkan kehangatan yang dapat memenangkan hati Abra yang tengah hancur. Bagaimana tidak, Abra pernah dihadapkan dengan perjuangan untuk menyelamatkan putra mereka ketika Serayu menjalani persalinan. Kini, Abra harus dihadapkan dengan ketakutan yang sama, ketika Satria terbaring tak berdaya di rumah sakit. Satria saat ini dirawat di PICU. Kondisinya masih kritis dan membutuhkan pemantauan intensif serta dukungan pernapasan setelah jatuh hingga tak sadarkan diri. Bermula dari malam yang awalnya hangat di kediaman Jay Wijaya. Satria menikmati camilan di meja makan yang disiapkan Ria

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   364. Memanjakan Istri

    Makan malam berlangsung dalam suasana hangat, diselingi percakapan ringan dan pembahasan mengenai pemeriksaan lanjutan Abra. Meski kondisi Abra menunjukkan perkembangan yang baik, masih ada beberapa hal yang perlu dipastikan sebelum ia benar-benar diperbolehkan meninggalkan Malaysia. Kepala dokter yang setia menemani Abra dijadwalkan kembali ke Bandung besok. Sementara itu, Abra, Serayu, dan Aksa masih harus tinggal di Malaysia hingga pemeriksaan terakhir selesai dilakukan dan dokter yang menangani Abra memberikan izin untuknya kembali ke Indonesia. “Kalau begini saya tenang tinggalin Abra,” kata kepala dokter, menoleh ke arah Serayu yang duduk di samping suaminya. Serayu tersenyum tersipu seraya mengangguk sopan. Tangan kiri Abra terulur mengusap punggung kesayangannya, tatapannya jatuh pada wajah cantik di sampingnya seraya tersenyum tipis. “Pasiennya aman di tangan saya, Dok,” ujar Serayu mencairkan suasana. Terdengar gelak tawar yang menghangatkan suasana. Abra gemas sendiri

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   363. Dunia Milik Berdua

    Predikat pasien ternakal jatuh kepada dr. Abra. Bagaimana tidak? Seorang dokter yang seharusnya menjadi pasien penurut malah ngide, memaksa istrinya tidur di ranjang pasien tepat di sampingnya. Dengan tangan kanan yang terpasang penyangga dan tangan kiri malang melintang masih terinfus pun Abra masih menyempatkan lengannya menjadi bantalan untuk kepala kesayangannya. “Ini kalau ketahuan perawat atau dokter sekalian deh, bisa-bisa saya diusir,” gumam Serayu. Meski melayangkan protes, tangannya tetap memeluk tubuh suaminya. “Siapa yang berani usir istri dokter Abra, hm?” “Ini rumah sakit orang, ya. Kamu nggak berkuasa di sini,” tekan Serayu mengingatkan. “Hanya tidur bersama istri untuk melepas rindu saja masa tidak boleh?” Mereka bercakap tanpa saling menatap satu sama lain hingga Serayu mendongak dan hanya bisa menggeleng saja. Abra pun menunduk, menatap binar mata istrinya yang sangat ia rindukan. Lalu pandangan Abra jatuh pada bibir kesayangannya. Serayu menyadari arah pand

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   362. Suami Manja

    Apa-apaan itu tadi? Serayu menggeleng saat melihat brankar yang membawa Abra didorong masuk lebih jatuh ke ruangan lain. Ia yakin ruangan itu adalah ruangan persiapan operasi. Sempat-sempatnya menggoda, pikir Serayu. Begitu keluar dari ruangan tersebut, Serayu langsung disambut oleh Aksa yang setia menunggu. “Yang lain menunggu di ruang dokter. Ibu mau istirahat saja di ruang perawatan Bapak?” tawar Aksa. Serayu cepat menggeleng. “Saya mau ke kafetaria, lalu mau nunggu di sini lagi saja,” jawab Serayu. Aksa pun mengangguk paham. Sementara Abra berjuang di dalam ruang operasi, Serayu dan Aksa menunggu di luar sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Tak banyak percakapan di antara mereka karena Serayu lebih banyak berdoa dalam diam. Ia sangat berharap yang terbaik atas keberhasilan operasi suaminya ini. Hingga akhirnya, saat dinanti pun tiba. “Keluarga dr. Abra?” Serayu cepat berdiri begitu mendengar panggilan itu. Tak lama kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa operasi tela

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   361. Kejutan Untuk Suami

    “Sudah di Bandara, ya?” Suara Riani bertanya, meski kini layar ponsel Serayu dipenuhi wajah Satria. “Sudah, Ma. Ini lagi di ruang tunggu,” jawab Serayu. “Yakin Abra nggak tahu kedatangan kamu? Nggak cepu tuh si Aksa? Dia kan tangan kanan Abra banget.” Serayu terkekeh kecil. “Serayu percaya sih sama Mas Aksa, Ma.” Riani mengangguk saja. Saat ini, Serayu memang sedang bersiap menyusul Abra ke Malaysia. Keberangkatannya sengaja ia rahasiakan sejak jauh-jauh hari. Semua orang tahu rencananya, kecuali Abra. Ia hanya ingin memberikan kejutan pada suaminya. “Serayu masuk pesawat ya, Ma,” pamit Serayu. “Hati-hati, ya. Kabari Mama kalau kamu sudah sampai.” “Iya, Ma. Serayu langsung ke rumah sakit nanti di jemput Mas Aksa.” Panggilan itu pun terputus, dan Serayu sudah berjalan menuju pesawat. Ini adalah penerbangan pertamanya ke luar negeri tanpa ditemani suami. Jujur saja, ada sedikit rasa deg-degan, tapi juga antusias karena beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Abra. Se

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   360. Dikenal

    “Saya, Dok?” Darma mengangguk kecil, memastikan bahwa perempuan di hadapannya memang orang yang ia maksud. “Saya ingat sekarang. Istri Dokter Abra,” ujar Darma akhirnya. Serayu tersenyum. “Oh, iya. Benar, saya, Dok.” “Maaf baru menyapa. Tadi sempat ragu.” Darma mengulurkan tangannya lebih dulu. “Senang bertemu dengan Anda.” Serayu sempat sungkan, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu. Bagaimanapun, di lingkungan profesi mereka, Darma lebih senior darinya. “Nggak apa-apa, Dok.” Pertemuan yang awalnya hanya sekilas itu ternyata berlanjut menjadi percakapan yang cukup panjang. Darma lebih banyak bercerita. Ia bahkan sempat menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan saat internship dan mendapat kesempatan dimentori langsung oleh Abra. Sementara Serayu lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan singkat, lebih sering lagi hanya tersenyum mendengar cerita Darma tentang suaminya. “Saya banyak dapat ilmu dari dr. Abra,” ujar Darma sambil terkekeh.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status