เข้าสู่ระบบDiajak nggaaaak?
“Frakturnya cukup kompleks. Di sini alatnya terbatas. Puskesmas nggak punya fasilitas untuk itu.” Serayu yang berdiri di sampingnya langsung ikut melihat hasil pemeriksaan. “Pasien ini akan saya rujuk ke Husada,” tambah Ezra. Serayu langsung paham. “Oke, Dok.” Ia segera mengambil map administrasi dan mendekati meja perawat. “Tolong bantu siapkan surat rujukan dan data pasiennya ya, Bu,” ujar Serayu sopan pada petugas puskesmas. “Nanti saya koordinasikan dengan IGD Husada.” “Baik, Dok.” Ezra masih berdiri di sisi pasien menjelaskan kondisi yang terjadi dengan bahasa sederhana agar keluarga pasien mengerti. “Jadi tulangnya tidak bisa ditangani maksimal di sini,” jelasnya sabar. “Makanya kami sarankan dirujuk supaya penanganannya lebih lengkap.” Keluarga pasien tampak mengangguk paham meski wajah mereka masih cemas. Sementara itu Serayu sudah sibuk menghubungi pihak rumah sakit. “Halo, IGD Husada?” katanya melalui sambungan telepon. “Saya dr. Serayu dari jejaring Puskesmas Suk
“Cuma tiga hari ‘kan?” tanya Abra entah sudah yang keberapa kalinya pagi itu. Serayu yang duduk di kursi penumpang asik memeluk lengan suaminya dari samping. Tangan satunya sibuk mengelus lengan besar itu pelan, seolah sedang menenangkan anak kecil yang rewel ditinggal. “Sudah seribu kali Mas tanya itu,” balasnya geli. Abra menoleh sekilas, melayangkan senyum tipis. Lalu ia mengecup puncak kepala istrinya lama. Hari ini lelaki itu benar-benar mengosongkan waktunya. Tidak ada jadwal operasi. Tidak tahu kalau dadakan. Semua meeting bahkan dipindahkan ke esok hari. Aksa yang kelabakan mengatur ulang jadwal direkturnya untuk hari ini. Perjalanan menuju puskesmas cukup panjang. Dan selama itu pula Serayu bebas bermanja ria sebelum benar-benar berpisah selama beberapa hari. “Rabu, Kamis, dan Jumat ‘kan?” tanya Abra lagi. “Maass…,” kekeh Serayu sambil mendongak manja. Abra kembali mencium sang istri, kali ini kening istrinya singkat. “Apa saya perlu daftar jadi relawan di
“Iya. Jadwal rotasi.” “Dokter siapa yang ditugaskan bersama kamu?” tanya Abra, menatap sang istri dalam-dalam. “Sama dr. Ezra.” Hening sesaat, lalu Abra menyemburkan tawa sinis. Tangannya yang tadi mengusap punggung Serayu perlahan berhenti bergerak. Serayu langsung mendongak sedikit, memperhatikan wajah suaminya. Dan benar saja, tatapan itu berubah datar sekali. “Mas…,” panggil Serayu hati-hati. “Berapa hari?” “Hanya beberapa hari minggu ini.” “Puskesmas mana?” Serayu menyebutkan namanya, yang letaknya jauh dari kota. Lalu ia buru-buru menambahkan, “di sana tim. Saya juga nggak sendirian.” “Saya tidak izinkan.” “Nggak minta persetujuan, Mas. Saya hanya memberitahu saja.” Serayu bangkit dari pangkuan Abra lalu merangkak ke tengah kasur. Ia segera masuk ke dalam selimut, memunggungi suaminya. Abra memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya ikut naik ke atas ranjang. Ia menyusul istrinya yang masih diam membelakanginya. “Saya antar kamu ke sana,” ujar A
“Kenapa nggak bilang pagi ini ada meeting sih?” ujar Serayu pada Abra yang baru selesai mengenakan kemejanya dan sedang mengancing bagian lengan. Serayu mendekat sambil membawa dasi suaminya. Padahal dari wajahnya jelas Abra sama sekali tidak terburu-buru. “It’s okay. Saya masih punya banyak waktu,” jawab Abra santai. “Maksudnya semalam kita bisa tidur cepat, nggak lembur. Jadi Mas nggak kelelahan pagi ini.” Abra menatap istrinya dengan sudut bibirnya yang sudah terangkat tipis. “Saya suka lembur,” katanya tenang. “Dan saya juga nggak lelah pagi ini. Tidur saya berkualitas semalam.” “Mas…,” ujar Serayu malu sekaligus kesal. Tangannya refleks memukul pelan dada bidang suaminya yang kini tertutup kemeja putih rapi. Jangan tanya kelanjutan tingkah nakal Serayu semalam. Yang jelas, malam itu jadi salah satu pengalaman paling menyenangkan untuk mereka berdua. Bahkan Abra terlihat sangat menikmati dan mau-mau lagi. “Sini, saya pakaiin dasinya,” kata Serayu. Abra menurut.
“Masih bete Mama mau ke dr. Ezra?” tanya Serayu pada Abra yang sedang fokus mengemudi.Keduanya sudah di jalan menuju rumah saat ini.“Dokter di rumah sakit saya yang terbaik,” jawab Abra datar.Serayu menahan senyum. Ia lalu meraih lengan suaminya, menariknya sedikit berniat mengecup pipi Abra. Namun lelaki itu justru menoleh di saat yang sama hingga bibir Serayu malah jatuh tepat di bibirnya.Hal itu membuat keduanya langsung tertawa geli. Ternyata gerakannya sudah terbaca.Layar mobil tiba-tiba menyala menampilkan nama Aksa. Melihat itu, Abra cepat mengalihkan sambungan ke earphone-nya.Serayu langsung membulatkan mata tak percaya.“Saya sudah di lampu merah. Oke, terima kasih,” ujar Abra singkat sebelum memutus sambungan.“Ih, takut banget percakapannya didengar?” dengus Serayu kesal.Abra melirik sekilas. “Aksa—”“Malesin banget,” potong Serayu. “Kembalikan ciuman saya tadi. Nggak ikhlas.”Abra menahan tawanya, melihat tingkah istrinya. “Kembalikan,” ulang Serayu sambil mengulurk
Sejak sore, ibu dan menantu itu sudah sibuk di dapur. Riani memang tidak banyak bergerak. Ia lebih banyak duduk, mengawasi, dan sesekali memberi arahan atau komentar pada orang-orang yang bekerja di sana. Dapur hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Serayu sempat terkejut ketika tahu Riani mengundang seorang chef. Semua bahan yang mereka beli tadi siang kini diolah menjadi sajian yang tampak begitu menggugah selera. Chef khusus menangani menu pembuka dan utama. Sementara ART fokus pada hidangan penutup. “Coba yang ini, Nona,” ujar chef sambil menyodorkan satu sendok kecil pada Serayu. Serayu mencicipi dengan mata berbinar. “Enak, Chef.” Riani tersenyum puas melihat reaksi itu. Ada kebanggaan tersendiri baginya. Serayu pun ikut membantu di beberapa bagian. Ia menemukan pengalaman baru yang menyenangkan hari itu. “Enak, kan, kalau sama Mama?” ucap Riani tiba-tiba. “Kamu di sini terus aja, deh.” Kalimat itu membuat senyum Serayu memudar. Ia menatap Riani sebentar,
Serayu melirik ke arah dirinya, lalu merapikan kimono satin yang ia kenakan memperbaiki penampilannya. “Kenapa, Mas? Saya nggak sempat bersiap,” katanya polos. “Sayang!” protes Abra. Wajahnya tampak tak terima, rahangnya mengeras. “Serius amat. Bercanda,” kekeh Serayu. Seketika ketegangan di waja
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Ha
Serayu sontak menegakkan punggungnya ketika melihat siapa yang baru masuk.“Do–dokter David?” suaranya langsung tercekat.David adalah salah satu dokter senior yang cukup sering berinteraksi dengan Abra. Dengan statusnya yang termasuk atasan Serayu, jelas perempuan itu merasa semakin terkejut dan t







