เข้าสู่ระบบBeberapa waktu telah berlalu sejak Zhang Xin dan Zhuang Ling kembali ke kediaman mereka. Setelah melalui berbagai penderitaan dan ancaman, akhirnya mereka dapat menikmati kehidupan yang tenang tanpa harus mengkhawatirkan Jenderal Huang lagi.Pagi itu, Zhang Xin sedang duduk bersama Zhuang Ling di ruang makan. Mereka menikmati hidangan yang telah disiapkan para pelayan.Namun, tiba-tiba Zhuang Ling meletakkan sumpitnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia menutup mulutnya dengan tangan, kemudian merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam perutnya."Zhang Xin... aku merasa mual."Zhang Xin segera menoleh kepadanya."Ada apa, Zhuang Ling? Apakah kau tidak enak badan?"Zhuang Ling menggeleng pelan. Namun, rasa mual yang dirasakannya semakin kuat. Ia mencoba berdiri dari tempat duduknya, tetapi tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang."Zhang Xin..."Belum sempat Zhang Xin mendekat, tubuh Zhuang Ling mendadak kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan."Zhuang Ling!"Zhang Xin langsung men
Setelah kematian Jenderal Huang, keadaan di dalam istana perlahan mulai terkendali. Para prajurit yang sebelumnya terlibat dalam pemberontakan telah menyerahkan senjata mereka. Para pengawal kerajaan juga mulai membersihkan aula istana dan membawa tubuh Jenderal Huang keluar dari tempat tersebut.Kaisar Zhang Ziyi kemudian memerintahkan para pejabat kerajaan untuk segera mengurus sisa-sisa pemberontakan. Ia tidak ingin kekacauan yang terjadi hari ini terus berlanjut dan mengganggu kehidupan rakyat.Sementara itu, Zhang Xin berdiri di hadapan sang kaisar."Yang Mulia, pemberontakan telah berhasil dihentikan. Pasukan Jenderal Huang sudah menyerah dan keadaan kota mulai aman. Saya akan segera memerintahkan pasukan untuk menjaga keamanan istana dan wilayah sekitarnya."Zhang Ziyi mengangguk."Baiklah. Zhang Xin, jasamu kepada kerajaan sangat besar. Jika bukan karena dirimu, mungkin hari ini aku sudah kehilangan nyawaku.""Yang Mulia terlalu memuji. Saya hanya melakukan apa yang menjadi ta
Jendral Huang masih mengunci tubuh Zhang Ziyi dengan erat. Pedangnya menempel di leher sang kaisar, sementara matanya terus mengawasi keadaan di sekelilingnya. Ia tahu bahwa para pengawal istana maupun pasukan Zhang Xin tidak akan berani menyerang selama Zhang Ziyi masih berada dalam genggamannya. Zhang Ziyi yang tidak dapat bergerak leluasa terus mencari celah untuk melepaskan diri. Ia kemudian mencoba mengalihkan perhatian Jendral Huang dengan berbicara kepadanya. "Huang, jika kau melepaskan aku, aku akan memberikan mahkota kerajaan ini kepadamu. Kau bisa mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan. Tetapi jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah bisa keluar dari istana ini karena pasukan Zhang Xin sudah mengepung tempat ini." Mendengar perkataan itu, Jendral Huang tidak bergeming. Ia justru semakin marah dan membentak, "Diam! Kau kaisar bodoh! Seharusnya akulah yang duduk di atas takhta itu, bukan kau!" Dalam kemarahannya, perhatian Jendral Huang teralihkan dan tekanannya te
Ketika para pengawal istana bergerak menyerang, Jendral Huang segera mencabut pedangnya."Sreeeng!"Beberapa pengawal langsung menyerbu dari berbagai arah.Jendral Huang dengan tenang menangkis setiap serangan yang datang.Trang! Trang! Trang!Suara benturan pedang bergema memenuhi aula istana.Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.Meski para pengawal merupakan prajurit pilihan kerajaan yang memiliki ilmu bela diri tinggi, Jendral Huang tetap mampu mengimbangi mereka.Namun...Jumlah lawannya terlalu banyak.Sedikit demi sedikit Jendral Huang mulai terdesak.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Tiba-tiba...Matanya tertuju kepada Kaisar Zhang Ziyi yang masih berdiri memperhatikan jalannya pertarungan.Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu...""Jangan salahkan aku!"Dengan gerakan yang sangat cepat, Jendral Huang
Wajah Kaisar Zhang Ziyi seketika memucat. Kini ia semakin yakin bahwa Jendral Huang benar-benar telah merencanakan kudeta terhadapnya. Tanpa membuang waktu, ia segera memerintahkan para pengawal istana. "Segera panggil seluruh pasukan kerajaan yang masih setia kepadaku!" "Perketat penjagaan di setiap pintu istana!" "Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak sebelum berlari melaksanakan perintah. Setelah itu, Zhang Ziyi bergegas menemui Zhuang Ling di halaman istana. Meski berusaha tetap tenang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan. "Nyonya Zhuang Ling..." "Keadaan semakin genting." "Jendral Huang telah membawa pasukannya menuju istana." Mendengar kabar itu, wajah Zhuang Ling langsung berubah pucat. "B... bagaimana dengan suamiku, Yang Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar. Zhang Ziyi menarik napas panjang. "Jangan khawatir." "Hari ini juga aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarmu menemui Kaisar Zhang Xin." "Kau harus segera m
Setelah menerima surat dari Zhuang Ling, Zhang Xin akhirnya memutuskan memasuki Kota Nangking bersama utusan Kaisar Zhang Ziyi. Berbeda dengan yang ia bayangkan, penjagaan di gerbang kota tidak terlalu ketat. Para prajurit yang berjaga segera membuka jalan setelah melihat utusan kerajaan membawa surat perintah dari Kaisar Zhang Ziyi. Rombongan mereka pun perlahan memasuki Kota Nangking. Tak jauh dari gerbang utama, Zhang Xin melihat seorang pria telah menunggu di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya sederhana, sama sekali tidak menunjukkan kemewahan seorang kaisar. Namun begitu rombongan berhenti, pria itu melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. "Salam hormat, Kaisar Zhang Xin. Aku adalah Zhang Ziyi." Zhang Xin turun dari kudanya lalu membalas penghormatan itu. "Kaisar Zhang Ziyi." Keduanya saling menatap beberapa saat. Dari sorot mata Zhang Xin, ia dapat melihat wajah Zhang Ziyi tampak pucat. Senyum yang menghiasi bibirnya pun seolah menye
Pintu benar-benar terbuka. Cahaya dari luar menyelinap masuk, memotong kegelapan kamar seperti bilah tipis. Zhang Xin tidak menurunkan pedangnya. Tangannya tetap siaga, matanya tajam mengunci setiap gerakan di ambang pintu. Liu berdiri diam di sisi lain. Napasnya pelan, tapi seluruh tubuhny
“Hei! Bangun!” Teriakan prajurit menggema di dalam sel. Air dingin disiramkan ke wajah Zhuang Ling. Seketika tubuhnya tersentak, wajahnya basah kuyup. Zhuang Ling membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa nyeri di setiap bagian, akibat siksaan semalam. Pandangan matanya masih kabur. Samar-
Zhuang Ling melangkah keluar dari kamarnya disertai beberapa pelayannya yang setia, Quang Ling, Shen Ming, dan Zhuang Liu ikut menemaninya. Mereka membawa sebuah peti kayu yang berisi perhiasan serta barang berharga pemberian Jenderal Huang selama ia menjadi istrinya. Langkah mereka terdengar t
Jenderal Huang terkejut sejenak ketika istrinya, Zhuang Ling, ingin bercerai. “Cerai?!… kau mau cerai denganku… gara-gara aku bersama Lie Ming?” seru Jenderal Huang kaget. “Zhuang Ling… jika kau ingin cerai, aku tak keberatan. Tapi… jangan harap kau mendapat apa pun dariku!” ancam Jenderal Huan






