LOGINHero Louis seorang pilot muda terpaksa menikahi Lusie Agatga gadis 18 tahun yang masih duduk di bangku sekolah. Lusie berusaha menjadi seorang istri yang sempurna di mata keluarga. Dia sangat memperlakukan Anea Louis anak Hero dengan baik. Namun, di mata Hero, Lusie hanyalah gadis manja yang merepotkan kesibukannya. Kadangkala Hero bahkan mengacuhkan Lusie dan memilih bersenang-senang dengan teman-temannya. Suatu hari Lusie koma akibat tumor otak yang ia derita dan membuat kehidupan Hero berubah drastis. Lusie menjadi pribadi yang lain usai koma. Ia bahkan tidak mau lagi mengurus Anea dan kegiatan rumah tangga lainnya. Perubahan itu menjadi titik balik kehidupan Hero untuk memperjuangkan cinta Lusie yang hilang.
View MoreChapitre Un : Indigne de mon amour
Point de vue de Liora Je fixai mon reflet et souris. Cette nuit était censée m'appartenir. Ma robe argentée scintillait sous la lueur des bougies, et dans mon esprit, je le voyais déjà, le moment où Kaelen m'appellerait, le moment où je me tiendrais enfin à ses côtés sous le nom de Luna. Il me l'avait promis. Pendant des années, je l'avais cru. « Liora », murmura Myra en me serrant les mains, « tu es rayonnante. Tout le monde va t'envier. » Je ris, feignant le calme. « Après ce soir, je serai Luna. Ils n'auront pas le choix. » Je m'étais comportée fièrement ces derniers mois, parlant déjà comme si ce titre m'appartenait. Après tout, Kaelen et moi étions ensemble avant qu'il ne devienne Alpha. J'étais son premier choix. J'en étais certaine. En entrant dans le hall, je gardai la tête haute. Tous les regards me suivaient. Qu'ils regardent. Qu'ils voient la future Luna de l'Alpha. Les tambours tonnaient, résonnant dans ma poitrine. Mon cœur bondit lorsque Kaelen apparut dans sa cape d'Alpha, grand et imposant. Myra se pencha. « Ça y est. » Je retins mon souffle. Sa voix emplit la salle. « Ce soir, j'annonce celle qui incarnera Luna. » Chaque muscle de mon corps se tendit. Mon sourire était prêt. J'étais prête. Mais soudain, sa main se tendit. Pas vers moi. Vers Sélène. Ses cheveux blonds brillaient sous les torches tandis qu'elle s'avançait, tremblante d'une fausse humilité. Mon sang se glaça. « Voici la femme digne d'être ma Luna », déclara Kaelen. « À partir de ce jour, Sélène est à mes côtés. » La salle haleta. La main de Myra glissa de la mienne. « Non… » Le mot me quitta avant que je puisse le retenir. « Kaelen, tu me l'avais promis. » Des murmures s'élevèrent aussitôt. « Elle s'est vantée pendant des mois. » « Pas elle ? Alors qui est-elle maintenant ? » « Quelle pitié. » J'avais du mal à respirer. « Tu ne peux pas être sincère. » Son regard me transperça comme une lame. « Tu n'en es pas digne, Liora. Tu ne seras jamais ma Luna. » Ces mots me brisèrent. Des années d'amour, de loyauté… envolées. Mes genoux vacillèrent. Sélène s'accrocha à lui. Il ne me jeta même plus un regard. Des rires fusèrent dans la foule. « Liora, allons-y », murmura Myra en me tirant par le bras. Mais je ne pouvais pas bouger. L'orgueil me maintenait debout, même si mon cœur se brisait. Les larmes me brûlaient les yeux, mais je relevai le menton. « D'accord », murmurai-je. Ma voix tremblait, mais je m'efforçai de la contenir. « Si je ne te suffis pas, alors je choisirai par moi-même. » Kaelen ricana. « Et qui voudrait de toi maintenant ? » Ses mots me transpercèrent profondément, mais mon regard se fixa sur une silhouette dans l'ombre. Un homme que je ne connaissais pas. Ses yeux sombres et son regard immobile. Il me fixait avec une intensité qui me glaça le souffle. Le désespoir portait ma voix. « Lui. Je le choisis comme compagnon. » Le silence retomba dans la salle. Halètements. Chuchotements. Incrédulité. L'étranger se leva lentement, imposant et large, son expression était indéchiffrable. Puis, avec un léger sourire, il parla. « Si elle me choisit… alors qu'il en soit ainsi. » Avant que je ne m'en rende compte, ce fut le chaos, tout le monde commença à murmurer. Le visage de Kaelen s'assombrit. Le sourire de Sélène s'estompa. Myra me fixa avec horreur. « Liora », murmura-t-elle, « qu'as-tu fait ? » Mais je ne pus répondre. Ma poitrine était trop lourde. Mes larmes finirent par couler tandis que je me détournais d'eux.Perban putih melilit tangan kanan Lusie. Ia membiarkan perawat perempuan yang nampak masih muda itu mengurus luka. Tangannya terlihat cekatan dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengganti.“Bukankah tadi itu kapten Hero?” Perawat itu membuka suara. Ia menyiapkan beberapa pil. Menyerahkan kepada Lusie dengan segelas air. “Sudah sangat lama aku tidak melihat artikel dan iklan tentangnya.”“Ya, dia suamiku.”Perawat dengan rambut yang digelung itu terdiam sejenak. Kemudian mengambil kembali gelas dan piring kecil tempat pil. Lusie baru saja menelan tiga buah pil itu dengan cepat.“Saya sangat iri, Anda beruntung bisa menikahi suami romantis seperti kapten. Selain itu, ia juga bertanggung jawab dan sangat setia. Saya menyaksikan sendiri, jika tiga hari selama Anda tertidur, kapten Hero terjaga di samping Anda.”“Apa dia … tidak tidur sampai sekarang ini?”“Soal itu, saya
Tiga hari sudah terlewati. Hero menunggu dengan cemas di samping ranjang besar. Menempatkan Lusie di ruang VIP agar perempuan itu mendapatkan perawatan yang lebih baik. Ia embiarkan Lerry dan beberapa perawat yang mendampingi memeriksa keadaan Lusie. Tadinya rumah sakit sangat riuh karena teriakan Hero. Ia memanggil Lerry di sepanjang lorong dengan suara kencang hingga membuat pasien disana tidak nyaman.Lerry melepas stetoskop. Ia membiarkannya menggantung di leher. Hero sudah menantikan jawaban baik. Ia juga dapat melihat mata Lusie yang sudah terbuka. Meskipun belum ada suara, tetapi itu lebih baik daripada melihatnya terpejam seperti mayat.“Lullaby sudah pergi?”Lerry menghelas napas. “Jika bukan suami dari Lusie, kau mungkin sudah kuusir dari sini. Seharusnya kau menanyakan keadaan istrimu terlebih dahulu.”“Lalu bagaimana? Bukankah dia baik-baik saja?”“Lebih rumit dari yang ku kira. Temui aku setela
Hero duduk di kursi tunggu. Sudah dua jam berlalu semenjak Lusie dibawa ke rumah sakit. Ia sempat membuat Lerry syok. Namun tak berlangsung lama karena Lerry harus segera menanganinya. Kesadaran Lullaby hilang usai ia memberikan pertanyaan terakhir yang belum sempat Hero jawab.Seharusnya Hero senang akan hal ini. Bukankah ini yang ia harapkan? Menghilangkan perempuan itu dari hadapannya? Lullaby adalah alasan ia terjebak di pernikahan tanpa cinta ini. Sementara Lusie hanyalah wanita biasa yang tak sejajar dengan usia dan karirnya. Bagaimana bisa ada rasa untuk mempertahankan mereka?“Hero.”“Lerry?”Dokter muda itu duduk di sebelah Hero. Ia datang bersama para perawat yang sudah berlalu.“Lusie baik-baik saja, bukan?!”Lerry mengangguk. “Masa kritisnya sudah terlewat. Itu juga berkat kau yang membawanya tepat waktu.”“Kapan ia akan sadar?”“Mungkin esok pa
Bagi Hero Lusie mungkin sudah menjadi seseorang yang tak sengaja mengambil bagian dari hidupnya. Awalnya ia mengira gadis 18 tahun yang saat itu mengidolakannya akan menjadi perempuan yang akan sudi untuk memenuhi kenginan dari ayahnya. Sehingga Hero hanya menjalani hubungan tersebut tanpa arti yang berarti.Hingga ada hal yang sulit ia mengerti dengan berbagai alasan yang terangkai dalam kepala. Untuk apa ia menarik Lusie dari kerangkang lelaki lain yang ingin memberi sepilin perhatian dari mereka? Tanpa sadar Hero bahkan menjauhi Lusie untuk sebuah ketidakpastian yang ia miliki.Perasaan bingung mengendap dalam hati. Ia menepuk kepala berulang kali dan menatap dirinya dalam pantulan cermin. Mata biru itu menatap tajam dengan bulu mata lentik yang kontras dengan alis tebalnya. Lagi-lagi bayangan itu menghampiri dirinya. Seperti sebuah sapaan yang tak pernah bosan untuk datang.“Kamu tidak makan?”“Hero?”Hero melangkah masu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews