Se connecter
Matahari pagi baru saja merangkak naik, mengintip dari balik celah gorden raksasa di ruang makan Griya Zadewa. Aroma biji kopi yang baru diseduh berpadu dengan wangi roti panggang dan omelet keju, menciptakan suasana pagi yang seharusnya tenang dan damai bagi keluarga elit itu.
Seharusnya! Namun, ketenangan di kediaman Sadewa Adiraja dan Yang Mulia Hakim Natasha Zealina itu resmi berakhir tepat pukul setengah tujuh pagi, ketika sebuah jeritan melengking dari lantai dua sukses membuat lampu gantung kristal di atas meja makan nyaris bergetar. "IBRANNNN! KEMBALIIN NGGAK?!" Di ruang makan, Dewa yang kini usianya telah menyentuh pertengahan empat puluhan, meski ketampanan dan tatapan tajamnya tak luntur sedikit pun, hampir saja tersedak kopi hitamnya. Ia segera meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan gerakan waspada, insting kebapakannya langsung menyala. Di seberang meja, Zea yang kini mengenakan hijab dan menutup auratnya terlihat sangat anggun dalam balutan kemeja kerja sutra berwarna emerald, hanya bisa menghela napas panjang sambil terus mengoleskan mentega ke atas roti panggang. Menjadi ibu dari tiga anak yang sedang tumbuh dewasa membuat Zea sudah sangat kebal dengan keributan pagi hari. Sementara itu, di kursi ujung, Anggara, putra sulung yang kini berusia sembilan belas tahun, hanya memutar bola mata malas tanpa mengalihkan pandangan dari layar iPad-nya. Pemuda jangkung berwajah sangat mirip dengan Dewa itu tengah sibuk meninjau jurnal putusan Mahkamah Agung untuk bahan kuliahnya. Ia kini berada di semester tiga Fakultas Hukum Universitas Erlangga, tempat ibunya dulu menimba ilmu, meneruskan jejak legendaris ayah dan ibunya di dunia hukum. "Mulai deh, konser pagi hari," gumam Angga, menyesap Americano es miliknya dengan wajah datar yang sangat menjiplak sang ayah. Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki mungil yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ziva, anak kedua sekaligus harta karun paling berharga milik Dewa, melangkah masuk ke ruang makan dengan bibir mengerucut sempurna dan wajah merah padam. Gadis berusia delapan belas tahun itu tampak sangat memukau. Ia mengenakan dress selutut berwarna peach pastel yang sangat pas di tubuh rampingnya, rambut hitam panjangnya di-blow ombak dengan sempurna, dan wajah cantiknya yang merupakan copy-paste dari Natasha Zealina sudah dirias tipis yang segar. Hanya satu yang kurang, bibirnya masih terlihat pucat. Ziva langsung berlari menghampiri ayahnya. Tanpa mempedulikan usianya yang sudah beranjak dewasa, gadis remaja itu menubruk lengan kekar Dewa dan memeluknya erat, menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah dengan gaya manja yang tak pernah berubah sejak ia masih balita. "Papaaa! Liat tuh, Ibran jahil lagi!" adu Ziva dengan suara merengek. Matanya yang bulat berkaca-kaca, menatap Dewa seolah ia baru saja menjadi korban ketidakadilan paling kejam di dunia. Dewa langsung meletakkan tablet beritanya, merangkul bahu putri kesayangannya dengan ekspresi khawatir tingkat tinggi. "Kenapa, Sayang? Siapa yang berani bikin Tuan Putri Papa menangis pagi-pagi begini? Ibran nakalin kamu lagi?" tanya Dewa, suaranya melembut luar biasa, sangat berbeda dengan nada suaranya saat mencecar saksi di ruang sidang. "Ibran nyembunyiin lipstik Dior aku, Pa! Padahal itu shade kesukaan Ziva! Hari ini kan Ziva mau brunch perpisahan sama temen-temen SMA Ziva di Jakarta sebelum berangkat ke Jogja lusa! Kalau nggak pakai lipstik itu, riasan Ziva nggak matching sama baju ini!" rutuk Ziva, menunjuk-nunjuk ke arah pintu dapur dengan kesal. Tepat saat nama itu disebut, seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi atletis muncul dari arah dapur sambil bersiul pelan, tanpa dosa. Jibran Adiraja, atau yang akrab dipanggil Ibran, berjalan santai dengan kedua tangan di dalam saku celana seragam abu-abunya. Remaja berusia enam belas tahun yang kini duduk di bangku kelas sebelas SMA itu adalah anak bungsu yang mewarisi sifat jahil Dewa waktu kecil, menurut cerita dari Mama Lenny dan Papa Baskara. Ibran menarik kursi di sebelah Angga dan duduk dengan senyum miring yang menyebalkan. "Lebay banget sih, Kak. Lagian mau brunch perpisahan atau mau fashion show? Temen-temen cewek Kakak juga ujung-ujungnya cuma sibuk update media sosial nggak bakal merhatiin warna lipstik Kakak." "Tuh kan, Pa! Dia ngaku!" Ziva semakin mengeratkan pelukannya di lengan Dewa. "Papa, hukum Ibran! Sita PS5-nya sebulan!" Dewa menegakkan punggungnya. Ia menatap putra bungsunya dengan tatapan tajam yang biasa membuat lawan bicaranya berkeringat dingin. Namun tentu saja, di mata Ibran, tatapan itu tidak ada harganya sama sekali jika menyangkut kakaknya. "Ibran. Kamu tahu kan pasal tentang pencurian dan penyembunyian barang milik orang lain?" Dewa mulai menggunakan nada interogasinya. "Kembalikan lipstik kakakmu dalam hitungan ketiga, atau Papa blokir kartu kreditmu dan Papa akan sita kunci motormu pagi ini juga." "Papa!" potong Zea cepat. Sang Hakim itu menatap suaminya dengan dahi berkerut tajam. "Jangan memanjakan Ziva dengan ancaman berlebihan begitu. Dan Ziva..." Zea beralih menatap putri cantiknya, "Lipstik di laci meja riasmu itu ada lebih dari lima puluh biji dari berbagai merek. Kenapa kamu harus meributkan satu warna? Pakai saja yang lain." Ziva merengut. "Nggak bisa dong, Ma! Warnanya beda! Yang itu Rosewood, kalau yang lain jatuhnya Coral! Nanti tone wajah Ziva jadi kusam!" "Benar kata Ziva, Ma," Dewa langsung menimpali dengan anggukan serius, seolah perdebatan tentang shade lipstik ini adalah masalah konstitusi negara yang sangat genting. "Setiap warna punya nilai estetika yang berbeda. Kamu tidak bisa menyamaratakan semua warna merah muda, Sayang." Dan kalau sudah begitu, Zea hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya yang tingkat kebucinannya pada sang putri melebihi kebucinannya pada sang istri. Angga yang sejak tadi menyimak perdebatan konyol itu akhirnya mendengus geli. Ia mengalihkan pandangannya dari jurnal hukum acara pidana di layar iPad, lalu menatap adik bungsunya. "Balikin, Bran. Nanti dia nangis, gue juga yang kena hukuman Papa." Ibran tertawa renyah. Merasa sudah puas menjahili kakak perempuannya sebelum ia berangkat sekolah, remaja kelas sebelas itu akhirnya mengeluarkan sebuah tube lipstik elegan berwarna perak dari dalam saku kemeja OSIS-nya. Ia melemparkannya ke seberang meja. Dengan sigap, Ziva menangkap benda itu. Matanya langsung berbinar cerah. "Awas ya kamu, Bran! Aku sumpahin nanti kalau kamu pacaran, pacar kamu dandannya lima jam!" ancam Ziva galak, buru-buru mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan mulai mengoleskan lipstik itu ke bibirnya. Dewa menatap putrinya yang sedang merias bibir dengan pandangan penuh cinta, namun di balik itu, ada awan mendung kesedihan yang menggelayut di hatinya. Dua hari lagi. Hanya tinggal dua hari sebelum putri kecilnya yang sangat ia manjakan ini akan meninggalkannya. Beberapa minggu yang lalu, Ziva berhasil membuat seluruh keluarga menangis haru saat pengumuman Seleksi Nasional Masuk PTN keluar. Memiliki minat yang jauh berbeda dari kakak dan orang tuanya, Ziva diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, salah satu fakultas kesehatan paling bergengsi dan sulit ditembus di Indonesia. Keputusan itu sudah bulat. Selama menempuh pendidikan dokter di sana, Ziva akan tinggal bersama Kakek Hasan di pendopo Ndalem Sastrowardoyo, menemani masa tua pria bijaksana itu yang lumayan di sibukkan dengan perusahaan milik keluarga Sastrowardoyo yang diwariskan Oma Garnis untuk ia kelola. Bagi Hasan, kedatangan cucu perempuannya adalah anugerah terindah. Namun bagi Sadewa Adiraja? Itu adalah kiamat kecil. Sang pengacara nomor satu di ibukota itu diam-diam sering melamun di ruang kerjanya, membayangkan putri cantiknya harus jauh dari jangkauan matanya. "Ziva," panggil Dewa dengan suara yang tiba-tiba memberat. Tangannya terulur merapikan anak rambut Ziva yang jatuh di pelipis. "Kamu yakin tidak mau Papa sewa asisten untuk menjagamu selama di sana?" Zea sontak memijat pelipisnya, pusing menghadapi kebucinan suaminya. "Kak Dewa... kita sudah bahas ini ribuan kali. Ziva mau belajar hidup mandiri merantau. Papaku sudah terbiasa menjagaku sejak kecil! Jadi Kak Dewa jangan khawatir. Di sana juga ada Mbok Nah dan Adi." "Ziva aman, Papa sayang," ucap Ziva lembut, menyentuh rahang ayahnya yang mulai ditumbuhi sedikit rambut halus. Gadis itu tersenyum manis, memamerkan bibirnya yang kini sudah merona sempurna. "Kan Kakek Hasan jago silat. Lagian Ziva mau fokus kuliah kedokteran, praktikum tiap hari, jaga bangsal, nggak sempat main-main atau macem-macem." Dewa menghela napas berat, matanya menatap semua bagian wajah cantik putrinya lekat-lekat. "Di Jogja nanti, kalau ada cowok yang berani menjahili kamu seperti Ibran, atau ada kakak tingkat kedokteran yang berani mengerjaimu saat ospek... jangan diam saja. Telepon Papa hari itu juga. Papa akan suruh Om Dika terbang ke Jogja untuk mengajukan surat tuntutan pada keluarga mereka." Ibran terbatuk mendengarnya, sementara Angga hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Papa posesif banget sih," kikik Ziva geli. Gadis itu kemudian bangkit dari kursi, mendaratkan kecupan panjang di pipi Dewa, lalu beralih mengecup pipi Zea. "Ziva berangkat dulu ya, Ma, Pa! Dah, Kak Ice Man! Dah, adik bungsu yang nyebelin! Belajar yang bener di sekolah!" "Jangan sore-sore pulangnya, Ziva." Perintah Zea sambil menggigit roti panggangnya. "Siap, Ma!" Ziva melenggang pergi dengan langkah ringan dan senyum cerah, meninggalkan aroma parfum floral yang manis di udara. Dewa menatap kepergian punggung putrinya hingga menghilang di balik pintu utama. Laki-laki tangguh itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan bahu merosot, tampak sangat merana. Zea menatap suaminya dengan senyum kecil yang penuh pengertian. Ia meletakkan pisau rotinya, lalu menggenggam tangan kanan Dewa di atas meja, memberikan usapan lembut. "Anak perempuanmu sudah besar, Kak," bisik Zea menenangkan. "Dia akan baik-baik saja di Jogja." Dewa menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata sayu. "Aku tidak siap, Ze. Bagaimana kalau nanti di kampus ada mahasiswa kedokteran atau laki-laki asing yang berhasil merebut hatinya? Bagaimana kalau dia lebih sering tersenyum pada laki-laki itu daripada kepadaku? Ingat waktu pertama kali Ziva pacaran dengan Farhan? dia bahkan lupa menciumku saat berangkat sekolah." Angga, mahasiswa semester tiga hukum itu, mematikan layar iPad-nya dan mendengus pelan. Ia menatap ayahnya dengan seringai tipis. "Maka bersiaplah, Pa," ujar Angga telak. "Karena hukum alamnya, anak perempuan yang paling dijaga ketat oleh ayahnya, biasanya akan jatuh cinta pada laki-laki yang paling tidak disangka-sangka, yang bahkan bisa mengalahkan ketampanan Papa." Kata-kata pemuda sembilan belas tahun itu mengudara di ruang makan, seolah menjadi sebuah ramalan masa depan yang akan segera menguji batas kesabaran, dan keangkuhan seorang Sadewa Adiraja.Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa
Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal







