LOGINLampu lalu lintas di perempatan kawasan Senopati berubah menjadi merah menyala, memaksa deretan kendaraan di depannya untuk berhenti.
Di dalam mobil sebuah Mini Cooper S John Cooper Works berwarna British Racing Green yang elegan, suasana terasa sangat hening. Musik jazz klasik mengalun pelan dari speaker Harman Kardon. Anggara Adiraja, sang pengemudi, bersandar santai di jok kulit alcantara. Jari-jarinya yang panjang mengetuk kemudi berlapis kulit itu, sementara sepasang mata elangnya menatap datar ke arah deretan lampu rem mobil di depannya. Tiba-tiba, dering telepon memecah keheningan mobil. Nama "Sena" berkedip di layar monitor dashboard yang langsung terhubung dengan koneksi Bluetooth. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Angga menekan tombol accept di kemudi mobil. "Halo, Angga? Kamu di mana? Nggak jadi jemput aku, ya?" Suara seorang perempuan terdengar mengalun dari speaker mobil. Nadanya sedikit cemas namun lembut. Angga menarik tuas rem parkir otomatis, lalu melirik sekilas ke arah jam tangan Richard Mille di pergelangan tangannya. "Aku baru saja keluar dari rumah," jawab Angga dengan suara baritonnya yang tenang. "Jalanan sedikit tersendat di area Sudirman. Sekitar sepuluh menit lagi aku sampai di rumahmu." Helaan napas lega terdengar samar dari ujung telepon. "Syukurlah. Aku kira kamu lupa atau tidak masuk kuliah hari ini. Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Beb." "Hmm. Iya." Hanya dua kata singkat yang keluar dari bibir Angga sebelum pemuda itu memutus panggilan tanpa repot-repot menunggu balasan. Layar monitor kembali menampilkan beranda Apple CarPlay, dan Angga kembali terdiam dalam keheningannya sendiri. Tidak ada senyum yang terukir, tidak ada debar jantung yang berdetak lebih cepat. Panggilan telepon dari kekasihnya barusan terasa tak lebih dari sekedar laporan perjalanan yang harus ia kabari lima menit sekali. Arsena Janzen. Di Fakultas Hukum Universitas Erlangga, nama itu bukanlah nama sembarangan. Sena adalah mahasiswi semester lima, satu tahun di atas Angga, yang menyandang status sebagai salah satu primadona kampus. Gadis itu cantik, berdarah campuran Jawa-Belanda, modis, berasal dari keluarga pengusaha yang disegani, dan memiliki pergaulan kelas atas. Namun, yang membuat nama Sena menjadi legenda di angkatannya bukanlah sekedar kecantikannya, melainkan keberaniannya. Sena adalah gadis pertama, dan satu-satunya, yang berhasil mendapatkan jawaban 'iya' dari mulut seorang Anggara Adiraja. Enam bulan yang lalu, di sebuah kafe dekat kampus, Sena secara terang-terangan mengambil langkah yang tidak berani dilakukan oleh gadis mana pun. Ia menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Angga yang saat itu baru menginjak semester dua. Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya Sena saat Angga, dengan sikap sedingin es dan tatapan yang tak bisa dibaca, menganggukkan kepala dan menjawab dengan satu kata yang mengubah status mereka: "Boleh." Bagi Sena, momen itu adalah sebuah kemenangan. Ia sama sekali tidak peduli dengan cibiran orang, ketidaksopanan, atau etika kuno yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus menahan diri dan menunggu laki-laki untuk menyatakan cinta lebih dulu. Persetan dengan harga diri. Untuk laki-laki sesempurna, setampan, dan sekaya Anggara Adiraja, Sena tahu ia tidak bisa bermain-main dengan waktu. Jika ia menunggu Angga yang memulai, itu sama saja dengan menunggu hujan salju turun di Jakarta. Terlebih lagi, puluhan bahkan ratusan mahasiswi di luar sana mengantre, mengincar sosok sang putra mahkota keluarga kondang, Adiraja. Namun sebaliknya. Bagi Angga, keputusannya menerima Sena bukanlah karena ia jatuh cinta pada pandangan pertama, apalagi terbuai oleh kecantikan gadis itu. Alasan Angga jauh lebih rasional, penuh perhitungan, dan bisa dibilang sangat dingin. Sebagai putra dari Sadewa Adiraja, Angga tumbuh dengan melihat standar 'bucin' tingkat dewa yang selalu dipertontonkan ayahnya kepada ibunya. Angga sering kali merasa geli melihat bagaimana pria berhati baja seperti ayahnya bisa bertekuk lutut, merengek, dan nyaris kehilangan kewarasan hanya karena ibunya ngambek. Angga telah bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menjadi budak cinta seperti Ayahnya. Angga ingin hidup yang rasional. Ia memilih Sena murni karena tuntutan logikanya. Sena cantik, memiliki status sosial yang setara, dan yang paling penting, memiliki gadis populer itu di sisinya sukses membuat mahasiswi-mahasiswi lain berhenti mengganggunya. Sena adalah 'pelindung' yang sempurna agar Angga bisa fokus kuliah tanpa harus digoda setiap kali ia melangkah ke kantin atau taman fakultas. Apakah Angga mencintai Sena? Tentu tidak. Angga bahkan ragu apakah ia memiliki kelenjar hormon yang bisa memproduksi perasaan semacam itu. Karena Sena adalah kekasih pertamanya sejak ia menginjak usia remaja. Lampu berubah hijau. Mini Cooper itu melesat membelah jalanan, berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan mewah di kawasan Kemang. Angga menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gerbang hitam menjulang. Tak butuh waktu lama, seorang gadis cantik dengan mini dress putih berbahan tweed ala Chanel dan heels elegan keluar dari gerbang. Wajah Sena berbinar cerah. Ia membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil, membawa serta aroma parfum Baccarat yang langsung memenuhi isi mobil. "Hai," sapa Sena dengan senyum sumringah. Ia mencondongkan tubuhnya, bermaksud memberikan kecupan di pipi Angga seperti pasangan pada umumnya. Namun, seolah memiliki radar anti-romantis, Angga justru menoleh ke arah kaca spion luar tepat di detik Sena mendekat, membuat bibir gadis itu hanya mendarat kikuk di udara, nyaris menyerempet ujung telinga Angga. "Udah siap? Sabuk pengamannya dipakai," ucap Angga datar, mengabaikan kecanggungan Sena dan langsung memindahkan tuas persneling. Sena menelan kekecewaannya dan menarik sabuk pengaman dengan senyum yang dipaksakan. "Udah kok. By the way, makasih ya udah mau jemput aku ke kampus." "Hmm. Nggak masalah," jawab Angga acuh tak acuh. Matanya tetap fokus ke jalanan. Sepanjang sisa perjalanan, Mini Cooper itu dipenuhi oleh ocehan Sena. Gadis itu menceritakan tentang liburan keluarganya ke Eropa bulan lalu, tentang tas Hermes terbaru yang dibelikan papanya, hingga gosip seputar mahasiswi baru di fakultas mereka. Angga mendengarkan dengan setengah telinga. Ia merespons dengan gumaman "Oh", "Ya", atau anggukan kecil yang sudah cukup untuk membuat Sena merasa diperhatikan. Padahal, di dalam kepala Angga, pemuda itu sedang sibuk merumuskan argumentasi hukum untuk tugas Peradilan Semu siang nanti. Otaknya memutar pasal-pasal KUHP, sama sekali tidak sinkron dengan obrolan tas branded kekasihnya. Setengah jam kemudian, mobil mereka tiba di gerbang utama Universitas Erlangga. Mobil Mini Cooper itu meluncur mulus melewati gerbang utama Universitas Erlangga. Petugas keamanan yang berjaga di pos depan bahkan refleks memberikan senyum hormat saat mengenali pelat nomor kendaraan yang tidak asing di lingkungan Universitas. Sebagai putra sulung dari legenda hidup fakultas hukum, Sadewa Adiraja, membuat Angga sangat di hormati. Kemenangan atas lahan Universitas Erlangga yang di menangkan Dewa di persidangan dua puluh tahun yang lalu, terus mengalir dari generasi ke generasi. Walaupun sang ayah kini sudah tidak lagi mengajar sejak kematian Prof. Subroto, Rektor paling di hormati sepanjang masa kepemimpinan nya sekaligus orang yang menjadi panutan Sadewa Adiraja. Angga memutar kemudinya dengan satu tangan, mengarahkan mobilnya menuju area parkir Fakultas Hukum yang terletak tepat di bawah bayangan pohon-pohon rindang bersebelahan dengan parkir khusus dosen. Begitu mesin mobil dimatikan, suasana di pelataran parkir yang tadinya dipenuhi obrolan mahasiswa perlahan mulai tersita perhatiannya. Bagi mahasiswa Fakultas Hukum Erlangga, kedatangan Anggara Adiraja selalu menjadi tontonan. Apalagi sejak laki-laki tampan itu resmi berpacaran dengan kakak tingkat nya. Sena yang sangat menyadari tatapan iri dari puluhan pasang mata mahasiswi di sekeliling mereka, segera membuka pintu mobil dengan gerakan anggun. Gadis berdarah campuran itu melangkah keluar, mengibaskan rambut ikalnya yang wangi, lalu menunggu Angga di samping mobil sambil tersenyum manis. Angga keluar dari balik kemudi. Ia mengenakan kemeja hitam berbahan katun yang membalut bahu lebarnya dengan sempurna, celana bahan berwarna abu-abu gelap, dan sepatu loafers Prada yang mengkilap. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyembunyikan tatapan matanya yang selalu terlihat bosan. Tanpa membuang waktu, Sena langsung melingkarkan tangannya ke lengan Angga, menggandeng pemuda itu dengan sangat erat seolah ingin mengumumkan pada dunia bahwa pangeran es ini adalah miliknya. "Seperti biasa. Anak-anak cewek langsung ngeliatin kita," bisik Sena dengan nada pelan saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor utama fakultas. Angga tidak merespons. Pandangannya lurus ke depan. Baginya, tatapan memuja, iri, atau penasaran dari orang-orang di sekitarnya sama tidak pentingnya dengan debu yang menempel di sol sepatunya. Rutinitas pagi ini hanyalah bagian dari hidup yang harus ia jalani agar kehidupannya di kampus tetap tenang dan bebas dari gangguan mahasiswi-mahasiswi caper. Mereka melangkah melewati lobi fakultas yang berlapis marmer, menuju lorong sayap kanan tempat ruang kelas Angga dan Sena berada. Lorong itu cukup ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang atau sekedar duduk membaca buku tebal di bangku panjang. Sena masih terus mengoceh, menceritakan tentang jadwal hangout-nya nanti sore, sambil sesekali melambaikan tangan pada teman-temannya yang berpapasan. Karena terlalu sibuk menyapa ke kanan dan kiri, Sena sama sekali tidak memperhatikan jalan di depannya. Tepat saat mereka berbelok di persimpangan lorong dekat perpustakaan, dari arah berlawanan, seorang mahasiswi yang berjalan terburu-buru sambil membawa tumpukan buku yang menjulang tinggi muncul. Tabrakan kecil pun tak terelakkan. Bruk! "Aduh!" jerit Sena kaget, mundur selangkah hingga punggungnya membentur dada Angga. Tumpukan buku tebal yang dibawa mahasiswi itu jatuh berserakan di atas lantai marmer. Salah satu buku tebal bersampul keras itu tanpa sengaja melayang jatuh di atas sepatu heels putih milik Sena. Wajah cantik Sena langsung berubah merah padam menahan sakit di kakinya. Emosi gadis itu tersulut dalam hitungan detik. "Kalau jalan pakai mata!" bentak Sena dengan suara melengking yang langsung menggema di sepanjang lorong, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh. Di depan mereka, mahasiswi yang ditabrak Sena itu sama sekali tidak membalas. Ia tidak meringis, tidak juga menunjukkan ekspresi ketakutan. Gadis itu hanya berjongkok dalam diam, memunguti satu per satu buku hukum ketenagakerjaan dan jurnal-jurnalnya yang berserakan dengan gerakan cepat. Penampilannya sangat sederhana, ia hanya mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, celana jeans bermerk, dan sepasang sneakers putih keluaran terbaru. Rambut hitam kelamnya diikat satu, dan wajah polos natural tanpa sentuhan make up tebal seperti Sena. Merasa diabaikan, amarah Sena semakin memuncak. "Heh! Gue lagi ngomong sama lo ya! Lo tuli?!" Gadis itu mengambil buku terakhirnya. Ia berdiri perlahan, merapikan tumpukan buku tebal itu di pelukannya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Sena. Angga, yang sejak tadi hanya diam mengamati dengan wajah datar karena merasa malas ikut campur urusan remeh perempuan, mendadak merasakan ada sesuatu yang aneh. Gadis di depannya ini memiliki mata yang sangat jernih. Begitu tenang. Begitu datar. Sama sekali tidak ada emosi, amarah, atau rasa takut. "Maaf," ucap gadis itu akhirnya. Suaranya terdengar sangat kaku, persis seperti robot yang sedang membaca sistem penggeraknya. "Tapi berdasarkan hukum fisika tentang arah gerak, kamu yang berbelok ke kiri dengan kecepatan tinggi, tanpa melihat ke depan karena sedang menoleh ke arah jam tiga." Sena terbelalak, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. "L-lo bilang apa barusan?!" Gadis itu membetulkan letak kacamatanya dengan telunjuk, lalu melanjutkan kalimatnya tanpa sedikit pun terpengaruh oleh mata Sena yang melebar marah. "Secara logika, kelalaianmu dalam insiden tabrakan ini berada di angka delapan puluh persen. Sedangkan aku sudah berjalan di lajur kiri yang semestinya," jelas gadis itu dengan nada rasional. Sena ternganga kehabisan kata-kata. Selama tiga tahun kuliah di Erlangga, tidak ada satu pun junior yang berani melawannya, apalagi merendahkannya dengan analisis logika di tengah lorong seperti ini. "K-kurang ajar! Lo pikir lo siapa, hah?!" desis Sena, mengangkat tangannya untuk mendorong bahu gadis itu. Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya. Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir. Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan. "Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva." Ziva terdiam kaku. Jant
Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa







