เข้าสู่ระบบReyhan tidak sedikit pun mundur. Ketika adegan panas di layar TV itu terus berlanjut diiringi bisikan halus dari Valerie, pria itu sadar betul ke mana arah permainan yang sedang dimainkan oleh adik sepupu istrinya tersebut."Kamu kangen sama aku ya, Val?" pukas Reyhan dengan suara berat dan serak yang begitu santai, seolah-olah membaca seluruh pikiran gadis di sampingnya.Valerie tersentak pelan. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu, tapi kehebohan di dadanya berganti menjadi keberanian luar biasa. Dia memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata Reyhan, menyunggingkan senyum manja yang sarat akan obsesi terselubung."Iya, Kak… Emangnya... Kakak nggak mau?" bisik Valerie halus, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfumnya menguar kuat.Reyhan terkekeh rendah, sebuah kekehan dingin yang penuh teka-teki. Tangan kirinya perlahan terangkat, mendarat di sandaran sofa di belakang bahu Valerie, seakan mengunci posisi gadis itu.Namun, alih-alih melanjutkan ak
Tante Mia tersenyum puas melihat keraguan yang berhasil dia tanamkan di kepala Reyhan. Dengan langkah anggun yang penuh kepura-puraan, wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, menyambar cangkir tehnya, lalu berbalik menuju kamar utama di lantai bawah."Tante tidur duluan ya, Rey. Jangan malam-malam tidurnya," pesan Tante Mia sebelum menghilang di balik pintu.Sepeninggal Tante Mia, keheningan kembali menguasai ruang tengah. Hanya pantulan cahaya biru dari layar televisi yang menerangi rahang tegak Reyhan. Jemarinya yang menggenggam remot, cengkramannya kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.‘Kalau sampai Nadia hamil dengan selingkuhannya itu... gue nggak akan pernah maafin dia, Gue akan pastikan dia dan pria itu hancur sampai tak tersisa,’ batin Reyhan berbisik dingin. Tatapannya menajam bagai sembilu.Tak lama kemudian, suara gesekan sandal rumah di anak tangga memecah lamunan Reyhan.Valerie melangkah turun dengan perlahan. Dia mengenakan baju tidur satin yang kasual,
Nadia berjalan memasuki kamar utama dengan senyuman yang jauh lebih tenang di wajahnya. Rasa lega membuncah di dadanya karena Reyhan bersikap begitu manis dan perhatian padanya malam ini.Sementara itu, Reyhan yang baru saja selesai melepaskan jas kerjanya berbalik menghadap Nadia. Di dalam kepalanya, Reyhan sama sekali belum mengetahui kebenaran tentang kehamilan istrinya, dia hanya mengira mual-mual Nadia semalam murni disebabkan oleh gangguan pencernaan atau kelelahan biasa, meski instingnya tetap mendeteksi ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu.Reyhan melangkah mendekati Nadia, menatap istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan perhatian seorang suami."Gimana, Nad? Kamu udah pergi ke dokter tadi siang?" tanya Reyhan dengan nada suara yang tenang dan lembut.Nadia sempat menahan napasnya sepersekian detik mendengar pertanyaan itu. Namun, karena dia merasa aman dan Valerie telah berjanji untuk menutup mulut, Nadia langsung memasang ekspresi meyakinkan, menyembunyikan kep
Reyhan menghentikan jemarinya yang sedang memegang pena. Matanya menyipit tipis, membaca dengan cepat permainan Pak Danu yang sengaja menempatkan Maudy tepat di ring satu posisinya, sebuah langkah infiltrasi untuk mengawasi dan menjatuhkan Reyhan dari dalam.Namun, alih-alih panik atau menolak, Reyhan justru terkekeh rendah, mempererat perangkaian jebakannya sendiri."Oh ya? Pak Danu cepat juga ya ambil keputusan. Tapi baguslah kalau gitu... Jadi aku nggak perlu canggung lagi harus kerja bareng orang baru, kan?" pukas Reyhan dengan alis terangkat, berpura-pura terkejut sekaligus antusias.Maudy tersenyum makin lebar, merasa rencananya untuk menyusup ke dalam hidup dan pekerjaan Reyhan berjalan tanpa hambatan sedikit pun."Pasti, Rey. Aku bakal bantu semua urusan kamu... luar dan dalam,” bisik Maudy halus, menundukkan tubuhnya sedikit di tepi meja Reyhan.’Bagus, Maudy... masuklah lebih dalam ke lingkaran gue. Lo sama Pak Danu pikir lo berdua yang lagi mengendalikan permainan ini
Valerie menarik napas dalam-dalam, lalu memasang ekspresi ragu-ragu, sengaja dibuat seolah-olah dia luluh oleh permohonan tersebut, padahal dia sedang memegang kendali atas rahasia terbesar Nadia.Valerie membungkuk perlahan, melepaskan cengkeraman tangan Nadia dari mantelnya dengan gerakan dingin."Yaudah, Mbak... bangun. Aku diam… Aku nggak akan ngomong apa-apa ke Kak Reyhan atau ke siapa pun hari ini,” ucap Valerie dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski tatapan matanya menyiratkan peringatan keras.Wajah Nadia seketika berbinar di tengah air matanya. Rasa lega yang luar biasa langsung menyeruak di dadanya, mengira dia telah berhasil menyelamatkan diri dari jurang kehancuran."Beneran, Val? Kamu janji?" tanya Nadia memastikan, buru-buru berdiri sambil menyeka pipinya."Iya, aku janji. Tapi ingat omongan Mbak sendiri. Jangan sampai aku berubah pikiran waktu lihat Mbak terus-terusan nutupin kebohongan ini dari Kak Reyhan,” balas Valerie tenang, menyilangkan tangannya
"Gila kamu, Ris!" pekik Nadia tak percaya, menampar pipi Aris dengan keras.Di balik tiang beton, Valerie membeku total. Tangannya menutup mulutnya erat-erat, matanya membelalak lebar menyatukan setiap kepingan puzzle yang baru saja terkuak di depan matanya.’Mbak Nadia... hamil anak laki-laki itu?! Dia selingkuh di belakang Kak Reyhan... Kasihan Kak Reyhan selama ini dikhianati!’ batin Valerie berguncang hebat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.Valerie dengan cepat merogoh ponselnya, mengarahkan kamera ke arah Nadia dan Aris yang masih berdebat emosional, lalu merekam momen krusial tersebut sebagai bukti yang tak tertembantahkan.Belum sempat Valerie menekan tombol rekam di layar ponselnya, ujung sepatunya tanpa sengaja menyenggol sebuah kaleng minuman kosong di balik tiang beton.Klang!Suara nyaring itu bergaung keras di area parkir basement yang sepi. Nadia dan Aris seketika menghentikan perdebatan emosional mereka dan menoleh serentak ke arah su