แชร์

Bab 92

ผู้เขียน: Kak Wina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-26 22:15:32

​Reyhan menghentikan jemarinya yang sedang memegang pena. Matanya menyipit tipis, membaca dengan cepat permainan Pak Danu yang sengaja menempatkan Maudy tepat di ring satu posisinya, sebuah langkah infiltrasi untuk mengawasi dan menjatuhkan Reyhan dari dalam.

​Namun, alih-alih panik atau menolak, Reyhan justru terkekeh rendah, mempererat perangkaian jebakannya sendiri.

​"Oh ya? Pak Danu cepat juga ya ambil keputusan. Tapi baguslah kalau gitu... Jadi aku nggak perlu canggung lagi harus kerja bar
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 106

    Suasana santai yang sempat terbangun di ruangan itu mendadak buyar dalam hitungan detik.​Bzzzt... Bzzzt...​Ponsel di atas meja kerja Reyhan kembali bergetar keras. Sebuah notifikasi pesan masuk dari seorang rekan kepercayaannya. Reyhan melirik layar ponsel itu sekilas, dan seketika itu juga napasnya tercekat.​Matanya menatap tajam sebuah foto kiriman yang menampilkan istrinya tengah duduk seorang diri di kursi tunggu sebuah klinik spesialis kebidanan dan kandungan.​Wajah Reyhan yang tadinya tenang mendadak menggelap. Rahangnya mengeras dengan hebat. Tanpa sadar, cengkeraman tangannya pada bodi ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seakan ingin meremukkan benda pipih tersebut menjadi serpihan.​Maudy yang duduk tepat di hadapannya langsung menangkap perubahan drastis pada gestur tubuh atasannya. Dia menyipitkan mata penasaran.​"Rey... Ada apa? Kok mukanya tegang begitu?" tanya Maudy hati-hati, menghentikan aktivitas makannya.​Reyhan buru-buru menarik napas dalam-da

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 105

    ​Maudy merasa dirinya kini memegang kendali penuh. Dia mengira Reyhan sedang berbohong untuk menutupi kelemahan proyek tersebut, padahal dia sama sekali tidak tahu bahwa dokumen yang dia curi dan laporkan ke Pak Danu adalah data fiktif rancangan Reyhan sendiri.​"Wah, bagus deh kalau lancar. Biar kamu nggak terlalu stres ngurusin perusahaan mertua kamu itu, kan?" ujar Maudy dengan suara manis yang sarat kepalsuan.​Reyhan kembali melirik Maudy. Di balik sorot matanya yang tenang, sebuah senyuman miring yang sangat dingin melintas sesaat.‘​Nikmati kebodohan dan halusinasi kamu itu lebih lama lagi, Maudy. Sebentar lagi, sandiwara ini bakal segera mencapai puncaknya,’ batin Reyhan dingin.Suasana di dalam ruangan mendadak terasa sedikit lengang ketika sisa-sisa makan siang mulai dibereskan. Reyhan kembali duduk di balik meja kerjanya, fokus pada beberapa berkas perusahaan di hadapannya.​Bzzzt... Bzzzt...​Ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Reyhan melirik layar yang men

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 104

    Suasana di dalam ruang kerja Reyhan mendadak terasa senyap setelah kepergian Nadia. Jarum jam dinding baru saja menunjuk pukul dua belas siang, menandakan waktu istirahat kantor telah tiba.​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk terlalu keras. Erika melangkah masuk dengan senyuman ramah, membawa tas kecil di tangannya. Dia sengaja datang untuk mengajak mantan kekasihnya itu keluar sejenak dari ketegangan kantor.​"Rey, makan siang bareng yuk di warung depan," ajak Erika riang, berusaha mencairkan suasana.​Belum sempat Reyhan membuka mulut untuk merespons, pintu di sisi ruangan kembali terbuka lebar. Maudy melangkah masuk dengan senyum penuh percaya diri, menenting sebuah tas jinjing berisi beberapa kotak bekal makan siang berukuran besar.​"Nggak usah cari makan di luar, Rey," sela Maudy cepat, memotong percakapan Erika dengan nada manja yang sengaja dilebih-lebihkan. Dia berjalan anggun mendekati meja kerja Reyhan dan menata kotak-kotak bekal tersebut di atas meja. "Aku b

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 103

    Nadia sudah tidak tahan lagi berada di satu ruangan bersama wanita itu. Tanpa memedulikan pandangan mengejek dari Maudy, Nadia maju beberapa langkah dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Reyhan erat-erat. Jemarinya yang dingin gemetar menahan gejolak emosi.​"Ikut aku, Rey," desis Nadia setengah berbisik, matanya menatap Reyhan dengan nada memohon sekaligus menuntut.​Reyhan menatap tangannya yang dicengkeram Nadia, lalu melirik Maudy sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia membiarkan Nadia menariknya keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor eksekutif menuju area tangga darurat yang sepi dan kedap suara.​Begitu pintu besi tangga darurat tertutup rapat di belakang mereka, Nadia langsung melepaskan cengkeramannya. Dia berbalik membelakangi pintu, menatap Reyhan dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca.​"Rey... tolong jelasin sama aku, kenapa Maudy bisa sama kamu di sini? Di kantor ini?!" cecar Nadia dengan suara bergetar hebat. Napasnya memburu, dadanya terasa

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 102

    Darah Nadia mendidih seketika. Rasa lelah akibat kehamilannya, kecemasan karena ancaman Valerie di rumah, dan kecurigaan yang menumpuk kini melebur menjadi satu amarah yang tak tertahankan. Tanpa memikirkan etika atau ketukan pintu lagi, tangan Nadia langsung mendorong daun pintu kayu itu dengan kasar hingga terbuka lebar.​Brak!​Suara benturan pintu yang keras memecah keheningan ruangan.​Reyhan dan Maudy yang berdiri tidak jauh dari meja kerja sontak menoleh kaget ke arah sumber suara.​Nadia berdiri di ambang pintu dengan dada naik-turun menahan napas, matanya membelalak tajam siap menghakimi wanita yang bersandar genit di dekat meja suaminya. Namun, belum sempat kata-kata makian meluncur dari bibir Nadia, pandangannya terkunci pada sosok wanita berpenampilan modis tersebut.​Nadia tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.​Wanita itu... Maudy. Kakak tirinya sendiri!​"Maudy?! Kamu... apa yang kamu lakukan di ruang kerja suami aku?!" pekik Nadia tertahan, suaranya bergetar heb

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 101

    ​Mendengar pertanyaan itu, tenggorokan Maudy mendadak terasa kering. Dia menelan ludahnya susah payah, berusaha mati-matian menjaga agar wajahnya tidak pucat.‘​Dia sadar mapnya hilang?!’ batin Maudy panik, namun otaknya langsung berputar cepat mencari alibi untuk menutupi jejaknya.Maudy merasakan dingin merayap di ujung jemarinya. Otaknya berputar seribu keliling, mencoba mencari jawaban paling masuk akal agar tidak terlihat sebagai pelaku di mata Reyhan.​Dengan cepat, Maudy memaksakan seulas senyum kaku, lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk menunjukkan ekspresi polos.​"Map merah?" ulangi Maudy pura-pura bingung, sengaja mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Wah, aku nggak tahu, Rey. Waktu aku masuk tadi pagi buat bersih-bersih meja dan nyiapin jadwal, sama sekali nggak ada map merah di situ."​Reyhan menyipitkan matanya tipis-tipis, menatap tajam ke arah Maudy seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran wanita itu. Tatapan tajam tersebut sukses membuat punggung Maudy basah oleh ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status