تسجيل الدخولMalam semakin larut. Shift malam para tenaga medis di rumah sakit telah dimulai.Saifanny dan Marcus duduk berhadapan di kafetaria rumah sakit yang sepi dengan secangkir kopi panas di hadapan masing-masing. Mereka meninggalkan Mabelle yang sedang terlelap didampingi Erin di dalam ruang rawat VIP.Saifanny menyesap kopinya perlahan, membiarkan rasa pahit cairan hitam itu menembus tenggorokannya.Otaknya berputar cepat memproses kronologi yang janggal. Jika Ririn adalah pelaku tunggal penculikan Mabelle, apakah ada kemungkinan wanita itu juga yang menyekap Bima?Logika Saifanny merangkai fakta bahwa Ririn tak ditemukan di apartemen maupun di penjuru J-City—seolah-olah wanita itu sengaja melarikan diri karena tahu polisi mulai melacak jejaknya.Melihat Saifanny yang terdiam membisu dengan tatapan menerawang, Marcus perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh lembut bahu wanita itu."Saifanny... Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Marcus dengan suara
Malam di vila pesisir pantai merayap dalam balutan roman buatan. Suara deburan ombak bersahut-sahutan di balik dinding kaca, berpadu dengan penataan kamar luas yang telah disulap bagaikan sudut restoran bintang lima.Sebuah meja bundar tertata rapi tepat di samping jendela tinggi yang memamerkan pemandangan lautan malam yang kelam.Di tengah meja, sebatang lilin menyala redup, memancarkan pendar remang-remang yang mengesankan suasana romantis—setidaknya, itulah ilusi yang diyakini oleh pikiran Ririn.Ririn dan Bima duduk berhadapan. Keduanya dibalut pakaian rapi, menciptakan kontras visual yang menyatu dengan konsep makan malam mewah tersebut.Namun, di balik penampilannya yang rapi, sebuah rantai besi tebal melilit pergelangan kaki kiri Bima, menambat kebebasannya pada pilar ranjang di belakangnya.Ririn menyunggingkan senyuman cerah, menatap Bima sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.Sementara Bima mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap kegelapan laut dengan sorot
Sore menjelang malam di rumah sakit tempat Mabelle diperiksa berjalan dengan atmosfer kaku.Saifanny duduk menyendiri di atas kursi tunggu koridor luar dengan ponsel genggam di genggamannya.Ia secara sadar memilih menjaga jarak, tak mau mendekati Mabelle lagi demi menghindari risiko jika anak itu kembali menempel erat padanya.Saifanny sebenarnya tak keberatan anak itu menyalurkan ketakutannya, tetapi menurut pertimbangannya, kebiasaan menggelayut itu terasa terlalu berlebihan untuk seorang anak berusia 10 tahun pada sosok yang bahkan bukan ibu kandungnya.Derap langkah pelan menandai kembalinya Marcus yang sebelumnya meminta izin keluar. Pria itu datang membawa sebuah amplop cokelat tebal di tangannya.Saifanny menoleh, menatap benda di tangan pria itu dengan binar ingin tahu."Apa itu, Marcus?" Tanya Saifanny penasaran.Marcus mendudukkan dirinya di samping Saifanny, merancang gestur tubuh yang menyembunyikan duka mendalam."Ini hasil penyelidikank
Sore hari yang cerah di villa pantai yang luas. Samar-terdengar suara angin yang berhembus pelan.Ririn kembali mengoceh banyak hal pada Bima sambil menyuapi pria itu.Kini, Bima tidak terikat dengan tali yang membentangkan tangannya. Hanya tangan kanannya yang di borgol ke pilar ranjang kayu jati itu.Bima terus menghadapi suasana hati Ririn yang sering berubah tak menentu, kadang wanita itu bersikap manis, kejam bahkan menyedihkan, Bima merasa batinnya tersiksa dan nerasa stress menghadapinya. Satu-satunya hal yang bisa membuat dia tetap waras adalah terus menyebut nama Tuhan di dalam hatinya.Bima mengunyah makanan di mulutnya perlahan, bersyukur karena wanita di hadapannya kini kembali stabil dan tak menampar wajaknya lagi.Karena dirasa Ririn sudah cukup stabil, Bima berniat mengajukan permintaan padanya."Ririn, boleh aku minta sesuatu?" Tanya Bima dengan suara pelan penuh kehatia-hatian.Ririn mengangguk pelan, meletakkan mangkuk dipangkuannya perlahan."Aku ingin sembahyang"
Siang itu, Mabelle langsung menjalani serangkaian pemeriksaan medis di rumah sakit terdekat.Begitu proses pemeriksaan selesai, jemari mungil anak itu seketika merangkul erat pergelangan tangan Saifanny—seolah menolak melepaskannya walau hanya untuk satu detik.Saifanny yang menyaksikan tindakan itu diliputi iba yang teramat sangat. Batinnya meyakini bahwa Mabelle sedang mengalami guncangan trauma hebat.Membayangkan seorang anak kecil dikurung dan diculik oleh sosok yang ia kenal sejak lama adalah bentuk pengkhianatan paling kejam bagi mentalnya yang belum matang."Mabelle... Papa di sini, Sayang. Kamu bisa lepasin Tante Saifanny. Dia tidak akan ke mana-mana," kata Marcus lembut, menatap putrinya dengan raut wajah penuh kehangatan seorang ayah.Namun Mabelle menggelengkan kepalanya dengan keras, ekspresi ketakutan tercetak jelas di parasnya."Gak mau! Mama jangan pergi!" Teriak Mabelle melengking, kembali menyematkan panggilan 'Mama' untuk Saifanny.Seme
Siang yang terik terasa menyengat bagi Saifanny. Ia terduduk di salah satu kursi kayu taman kota setelah membagikan lembaran terakhir selebaran informasi hilangnya Mabelle.Batinnya telah menggariskan keputusan mutlak: hari ini adalah hari terakhirnya membantu Marcus, apa pun yang akan terjadi setelahnya.Saifanny merogoh ponsel genggam dari saku mantelnya. Jemarinya terus mengetik dan mengirimkan rentetan pesan pada Sania serta Adrian.Namun, tidak satu pun dari pesan-pesan itu berbalas. Mereka memilih membisu total, seolah menegaskan pesan tersirat bahwa tidak akan ada komunikasi sampai Saifanny memutar langkah dan menampakkan diri secara langsung di hadapan mereka.Rasa panas yang membakar kulit berpadu dengan keheningan itu, menyulut kekesalan yang kian memuncak di dada Saifanny.Ada dorongan emosi untuk membanting ponsel di tangannya, tetapi nalurinya dengan cepat meredam gejolak itu, memaksa dirinya tetap tenang.Marcus mendadak mengambil tempat duduk tepat di samping Saifanny,
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri







