LOGINMalam yang pekat memenuhi langit J-city yang di terangi lampu. Keheningan di sekitar penthouse Adrian menyeluruh ke sudut ruang.Namun tidak dengan kamar Adrian yang di dominasi warna abu-abu muda itu. Suara deru nafas yang memburu mulai terdengar ke setiap sudut ruangan."Haa... Haa..." Desah Saifanny di tengah ciuman basah mereka.Diatas kasur empuk, Adrian memeluk pinggang ramping Saifanny, menariknya untuk mendekatkan diri dan memperdalam ciuman mereka.Lidah Adrian menyusup, menelusuri dinding mulut Saifanny, dan menjilat basah menarikan lidahnya dengan lidah wanita itu."Ugh..." Desah Adrian tertahan di sela ciuman liar tersebut.Tangan Saifanny beralih dari lengan Adrian ke wajah tampan pria itu, mengelus lembut pipinya yang terasa sedikit kasar, belum bercukur.Dengan perlahan, Saifanny mendorong pelan wajah Adrian, melepaskan ciuman mereka. Saifanny lalu mendorong tubuh kekar itu, kini Adrian terlentang pasrah diatas kasur empuk.Saifanny perlahan menaiki tubuh Adrian, dan me
Marcus meletakkan sendok miliknya perlahan di atas piring. Momen makan siang kali ini terasa begitu mencekik dan merenggut napasnya.Kehadiran Tyas di hadapannya bagaikan duri tajam yang menancap pekat di dalam daging—terasa menyiksa dan sangat sulit untuk disingkirkan.Namun, meski batinnya bergejolak hebat, Marcus menolak untuk keluar dari tempat itu tanpa mengantongi informasi bernilai dari sang lawan."Kenapa kau bertemu dengan Pak Adrian? Apa kalian memiliki hubungan?" Tanya Marcus dingin, menusuk tanpa basa-basi."Itu bukan urusanmu," jawab Tyas, tak kalah dingin dan datar.Marcus mengepalkan tangannya geram di balik taplak meja, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya."Memang bukan urusanku. Tapi jika kau butuh pendapatku, maka aku akan bilang kalau kalian berdua memang cocok," ucap Marcus seraya menyunggingkan senyum miring yang provokatif.Di dalam kalkulasi batin Marcus, jika Tyas benar-benar menjalin hubungan asmara dengan Adrian, maka jalan baginya untuk bersat
Hidangan penutup berupa es krim dan puding lembut yang dihiasi saus manis disajikan di atas meja. Seketika itu pula, perhatian semua orang teralih pada piring-piring manis yang kini memanjakan mata di hadapan mereka. "Bu Saifanny, sepertinya kita punya banyak kesamaan, ya. Saya harap kita bisa bertemu lagi setelah makan siang ini," kata Tyas dengan senyum ramah yang amat terukur. "Tidak perlu formal begitu. Sepertinya usia kita berdekatan, Tyas" Ucap Saifanny santai, berusaha meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Namun, tanpa diketahui oleh siapa pun di atas meja, kaki Saifanny di bawah sana bergerak nakal. Ujung jemari kakinya yang dibalut sepatu berhak tinggi menggesek pelan betis hingga kaki Adrian secara intuitif. Adrian yang merasakan gesekan tersebut berusaha keras mempertahankan ekspresi datarnya di hadapan Tyas dan Marcus. Ia paham betul, Saifanny sedang melancarkan provokasi manis untuk menggodanya yang tampak kaku dan jenuh di tengah makan siang penuh i
Siang yang cerah menaungi kemegahan pusat perbelanjaan J-City. Di antara lalu-lalang pengunjung, Saifanny, Mabelle, dan Marcus berjalan bersisihan dengan tempo langkah sedang.Mabelle berjalan dengan jemari mungilnya yang menggenggam erat tangan Saifanny, menyunggingkan senyum manis yang menghiasi bibirnya—seolah-olah trauma dan ketakutan yang mencengkeram anak itu kemarin malam tidak pernah terjadi.Meski cuaca di luar begitu terang, batin Saifanny justru diliputi gulana dan kecemasan. Saat ia tiba di sekolah dasar tadi untuk menjemput, Syahdan sudah tidak ada di sana.Padahal, di dalam hatinya, Saifanny sangat berharap Syahdan bisa ikut makan siang dan bermain bersama Mabelle."Aku dengar ada restoran baru di mall ini. Makanya aku mengajak kalian ke sini," ucap Marcus seraya menyunggingkan senyum manis, menatap Saifanny dan Mabelle secara bergantian.Saifanny mengangguk pelan. Ia memang sudah lama tidak menikmati makan di luar, sebab fokus pikirannya belakangan ini terserap habis un
Waktu menunjukkan pukul 12.15 malam. Suasana di dalam ruang tengah itu terasa begitu pekat dan mencekam.Bima dan Ghina duduk bersisihan di atas sofa, sementara Yudi terlihat tertidur lelap di sofa tunggal dengan kepala terkulai menyandar ke atas.Ketegangan yang mengendap di udara membuat napas terasa berat, lantaran hingga detik ini Saifanny belum juga memberi mereka kabar dari dalam rumah Marcus.Ting!Ponsel di atas meja mendadak berbunyi nyaring. Papan notifikasi obrolan grup seketika menyala terang.Bima dan Ghina secara refleks meraih ponsel mereka masing-masing dengan dada yang mendadak bergemuruh hebat."Ririn memang ada di rumah ini. Dia bersembunyi di ruang kerja Marcus," ketik Saifanny di ruang obrolan grup.Bima dan Ghina saling berpandangan seketika. Sebuah helaan napas lega yang membuncah tak mampu ditutupi lagi; perburuan panjang dan melelahkan yang menyita energi mereka akhirnya membuahkan titik terang yang solid.Tanpa membuang waktu, Bima segera mencari kontak
Malam yang hening menyelimuti kamar tidur Mabelle. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan hanya pendar samar yang menembus celah gorden. Di atas ranjang empuk, deru napas teratur dan dengkuran halus gadis kecil itu terdengar menentramkan. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Saifanny. Wanita yang terbaring di samping Mabelle itu kembali membuka kedua matanya lebar-lebar. Kegelapan kamar seolah menegaskan misi utamanya malam ini: ia harus menemukan bukti fisik keberadaan Ririn di bawah atap rumah ini. Saifanny perlahan mengulurkan tangannya ke atas meja nakas, meraba dan memegang ponsel pintar miliknya. Begitu layar ponsel menyala, pendar cahayanya menerangi sepasang mata Saifanny yang dipenuhi ketegangan. Beberapa rentetan pesan singkat dan panggilan tak terjawab tampak memenuhi papan notifikasi. Saifanny membuka kunci layar. Di sana tertera rentetan pesan dan panggilan tak dijawab dari Adrian. Lalu tepat di bawahnya, ada jendela obrolan grup dari Bima dan G
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri







