LOGINSiapa yang tidak akan jatuh cinta pada pria tampan, mapan, dewasa, baik, sabar, dan penyayang. Dea, jatuh cinta pada Arga yang merupakan pengantin pengganti di hari pernikahannya karena Rican menghilang tiba-tiba. Dea tidak menyangka, akan mencintai pria itu dalam waktu singkat sampai dia lupa mengenal karakternya yang sedikit misterius. Dea terluka, ketika tahu jika Arga kembali dengan kekasihnya. Dia terluka ketika Rican kembali lagi, dan dia kembali terluka saat tahu, Arga dan Rican membuat perjanjian atas dirinya. Mendapat luka bertubi-tubi, akhirnya Dea menyerah. Dia tidak memilih siapapun dari mereka dan memilih pergi dari kehidupan kedua pria itu, meski dia mencintai Arga. Akankah Dea mendapat kebahagiaannya? Apa dia berhasil lolos dari Arga? Atau ikhlaskah Arga menerima keputusan itu, setelah dia tahu dirinya sangat mencintai Deandra?
View More"Nona! Kau sangat cantik!" Seseorang menarik tangan Mary Aram, hingga membuat gadis itu hilang keseimbangan. Gadis itu pun terhuyung jatuh dalam pelukan pria yang menarik tangannya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, pria itu langsung memagut bibir Mary Aram. Gadis itu tersentak kebingungan berusaha melepaskan diri. Sayangnya pria itu dengan penuh percaya diri terus bergerak maju mengunci diri Mary Aram di antara pohon dan tubuhnya."Tuan lepaskan aku!" Mary Aram berontak memukul-mukul tubuh pria di hadapannya. Semakin gadis itu memberontak, semakin pula pria itu mendesak melekat pada tubuhnya."Tidak! Kau sangatlah cantik, napasmu sangat harum membuat diriku mabuk," bisik pria itu semakin penuh perasaan dengan pagutannya.Mary Aram mencakar wajah pria itu, cakaran ampuhnya cukup membuat pria itu tersentak dan melepaskan pagutannya."Keterlaluan kau!" Mary Aram sangat marah mencuci mulutnya dengan air mineral. Mukanya merah padam menahan amarah.Pria itu tersenyum nakal menghapus darah akibat cakaran Mary Aram, "Nona, kau tampak seperti kucing liar yang menggemaskan ketika sedang marah. Sangat menggoda!""Apakah orang tuamu tidak pernah mendidikmu untuk bersopan santun Tuan? Tidak berpendidikan!" Mary Aram mengguyur pria itu dengan air, kemudian gerak cepat tangannya memukulkan botol bekas air mineral pada wajah pria itu."Keterlaluan kau Mary Aram! Berani sekali kau menggoda teman priaku!" Seorang wanita berlari mendekat dan langsung menjambak rambut Mary Aram."Meina Aram! Hentikan!" Pria itu menghalangi teman wanitanya agar tidak melukai Mary Aram."Kakak, jika ia adalah teman priamu, ikat lehernya dengan rantai! Agar Pitbull satu ini tidak sembarangan menjilat wajah orang lain," Mary Aram menendang tungkai pria itu. Sambil menghentakkan kaki, Mary Aram segera berlalu.Masih sempat Mary Aram mendengar perdebatan pria tidak sopan itu dengan kakak sepupunya. Ingin rasanya Mary Aram menghajar pria itu, namun apa daya dirinya kalah kuat.["Adam Mizeaz! Kau tidak bisa seenaknya menggoda perempuan lain, terlebih lagi ia adalah adik sepupuku. Itu suatu penghinaan bagiku!" rupanya wanita itu sangat marah dan menegur pria tidak beretika itu.]["Aku bukan kekasihmu Meina Aram! Aku bebas bergaul dengan gadis manapun," pria itu terdengar sangat gusar.]Mendapati pria yang bernama Adam Mizeaz itu terus menatap dirinya, Mary Aram segera berlari melintasi taman kampus menuju ruang kuliahnya."Keterlaluan! Pria itu mengejar!" Mary Aram mempercepat larinya, ada sebersit rasa takut melintas di hati. "Apa maunya pria itu?"Mary Aram semakin panik, kain tenun yang dikenakannya menghambat laju lari. Saat menaiki anak tangga taman, gadis itu pun tersandung kakinya sendiri dan terjungkal menggelinding nyaris masuk ke kolam ikan. Dalam sekejap dunia menjadi sunyi dan gelap…Ketika terbangun, Mary Aram berada dalam pelukan seorang pria di ruangan yang asing. "Keterlaluan Kau Adam Mizeaz! Bagaimana jika tidak ada aku? Tentunya gadis ini sudah tenggelam ke dalam kolam ikan koi," suara itu dekat pada telinga Mary Aram, bahkan detak jantungnya pun terdengar jelas."Amar Mea, Aku hanya ingin berjalan bersamanya saja! Hari ini jadwalku mengajar di kelasnya. Gadis ini sangat cantik dan badung, aku tertarik padanya ketika menjadi pembimbing kelompok di kegiatan pekan penerimaan mahasiswa baru."Mary Aram menggeliat, sejenak terasa sakit pada sekujur tubuhnya. "Lepaskan aku, Aku harus mengikuti kuliah!""Kau tidak bisa mengikuti kuliah Nona! Ada cedera pada kepalamu, luka lecet serta lebam di kaki dan tanganmu juga cukup serius. Kau harus mendapat perawatan intensif," Adam Mizeaz mengobati luka-luka pada tangan dan kaki Mary Aram."Perawatan intensif?" Mary Aram berusaha bangkit, dirinya sangat tidak nyaman berada dalam pelukan pria asing "Bukankah aku baik-baik saja, tidak sekarat? Jangan coba-coba membodohiku!""Baiklah, aku Amar Mea Malawi. Jika kau tidak mengalami vertigo, aku akan mengantarmu pulang," dengan hati-hati Amar Mea Malawi memindahkan tubuh Mary Aram ke samping, lalu beringsut bangkit dari tempat tidur.Namun dalam sekejap dunia seakan berputar hebat, Mary Aram menekan kepalanya dengan kedua telapak tangan."Sebaiknya kau rawat inap, sebutkan nomor orang tuamu," Amar Mea Malawi mengeluarkan ponsel."Jangan! Jangan! Aku tidak ingin membuat ayahku cemas. Perjalanan dari Muara Mua kemari membutuhkan waktu empat jam," Mary Aram bersandar pada dinding, kepalanya sangat tidak nyaman. "Antarkan saja aku ke asrama mahasiswa.""Dalam kondisi seperti ini kau akan tinggal di asrama?" Amar Mea Malawi mengerutkan kening, "Kau tidak akan nyaman tinggal di kamar yang ramai dalam kondisi sakit.""Adam Mizeaz, aku akan membawa gadis ini tinggal di kediamanku. Di sana banyak pelayan yang bisa merawatnya," Amar Mea Malawi meninggalkan ruang perawatan. Amar Mea Malawi adalah pribadi yang tegas, keputusannya tidak dapat diganggu gugat.Namun Adam Mizeaz ragu-ragu, haruskah gadis di hadapannya ini tinggal di kediaman Mea Malawi?Pada akhirnya, Deandra harus benar-benar menikah dengan orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Bahkan, Dea baru tahu kalau Arga adalah saudara kandung Rican.Ucapan Arga benar, jika Dea tidak tahu banyak tentang Rican meski hubungan mereka sudah berjalan beberapa tahun.“Saya tahu kau tidak bahagia, tapi setidaknya jangan berkabung di hari pernikahanmu.”Teguran itu mengundang Dea untuk menatap Arga. Meski wajahnya terlihat begitu dingin dan kaku, tapi pria itu tetap menunjukkan senyum terbaik.“Apa kau bahagia?”“Tidak!” jawab Arga dengan cepat. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Dea sedikitpun, dan hanya fokus ke depan saja.“Aku juga tidak! Dan kuharap, pernikahan ini tidak berlangsung lama!”Tidak ada jawaban lagi dari Arga. Karena mereka berdua sama-sama tidak menginginkannya, pengantin baru itu tidak sekalipun menikmati acara pernikahan mereka. Tetapi, orang tua mereka terlihat sangat bahagia.“Ayo-ayo silahkan nikmati jamuannya! Terima kasih sudah datang!”Telinga Deandra terasa p
“Sudah lebih tenang?” tanya Arga, setelah dia menemani Deandra dalam waktu cukup lama.Gadis itu menganggukkan kepala, dia menyeka sisa air mata yang masih ada di wajahnya. Lalu menatap Arga yang sejak tadi berdiri di balik pilar, sedangkan Dea duduk di kursi.Arga menarik napasnya dengan pelan. Lalu dia mendekati Dea dan berdiri di hadapan gadis itu, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Menambah kesan karismatik yang benar-benar mengagumkan.“Jadi, bagaimana keputusanmu?” tanya pria itu lagi, menunggu jawaban.“Aku tetap tidak menginginkannya.”“Tapi kau tidak diberi pilihan!”“Aku tahu!” jawab Dea dengan pasrah, walau sebenarnya saat ini dia sangat terluka, “semua ini salahku, karena terlalu percaya padanya.”“Tidak perlu menyalahkan dirimu! Berdiri, dan mulai hidup baru!”Arga pergi begitu saja, sesaat setelah dia mengatakan hal yang ingin disampaikan. Meninggalkan Dea yang masih terdiam, dengan semua kerumitan di dalam kepalanya.“Jadi, pada akhirnya aku memang tidak ada pi
Orang tua Dea dan orang tua Arga terlihat sangat antusias membicarakan pernikahan mereka. Tapi tidak dengan Dea sendiri, juga Arga.Namun, sesekali pria itu tersenyum tipis dan menjawab ketika ditanya. Sedangkan Dea? Rasanya dia sangat muak dengan semua ini.“Aku mau bicara!” ucap Dea dengan tiba-tiba, sehingga obrolan antusias orang tua mereka terhenti.Semua pandangan tertuju pada Dea, yang mana gadis itu mulai terlihat serius. Sedangkan Arga menyadari ada yang tidak beres.“ada apa De?” tanya Arum, dan mereka semua menunggu jawaban dari gadis itu.“Tadi—”“Maaf semuanya, Dea ingin bicara dengan saya. Jadi, kami permisi sebentar untuk mencari tempat berdua.”Mendengar ucapan Arga, seketika mereka semua menjadi tenang. Dan Dea sendiri terlihat kebingungan, apalagi saat Arga meraih tangannya.“Ayo, kita bicara di sana.”“Ta-tapi….”Arga tidak memberi kesempatan untuk Dea berbicara. Dia menariknya, meski terkesan lembut tapi Dea sendiri sangat kesal.“Apa jangan-jangan Dea sudah tahu?”
“Minumlah sedikit, agar lebih menenangkan pikiranmu.”Arga menerima segelas wine yang diberikan oleh seorang temannya, Ken. Pria itu adalah sahabat sekaligus sekretarisnya.Kena tahu segala sesuatu tentang Arga, begitupun dengan Arga. Mereka sudah berteman cukup lama, sehingga tidak ada hal yang perlu ditutupi lagi.“Jadi, kau benar-benar akan menikah?”Arga tidak menjawab, ia memilih untuk menikmati minumannya meski saat ini isi kepala pria itu masih rumit.Pandangannya terus tertuju ke arah luar apartemen, menikmati keindahan city light di malam hari. Karena saat ini, dia sedang duduk santai di apartemen Ken.“Ga, mau sampai kapan?”Pertanyaan itu menarik perhatiannya. Dia meletakkan gelas wine di atas meja, lalu menatap ke arah Ken yang berdiri, sambil bersandar di kaca jendela.“Mau sampai kapan terus-terus mengalah? Kau tidak bisa menjadi penanggung jawab untuk semua kesalahan Rican, Ga! Kau juga perlu bahagia!”Masih tidak ada jawaban dari bibi Arga. Dia sibuk dengan pikirannya
Dea tidak paham, kenapa dia mengikuti Arga menuju taman belakang rumah. Padahal, ia sama sekali tidak menyukai pria itu.Isakan dari tangis Dea masih terdengar, dan itu benar-benar membuat Arga merasa terganggu. Dia berdecak kesal, lalu meraih sapu tangan yang ada dibalik saku celananya.“Jangan ce
Deandra, duduk termenung di atas kasurnya. Tatapan mata itu masih saja tetap kosong seperti tadi. Dia masih belum percaya apa yang sedang dia hadapi saat ini. Terasa seperti mimpi.Rican pergi bersama wanita lain, dan tiba-tiba keluarganya meminta pernikahan untuk tetap berjalan. Padahal baru kemar
Deandra berharap kejadian beberapa jam lalu hanyalah sebuah mimpi buruk. Ketika bangun, dia mendapati duduk di sampingnya dan tersenyum.Dia berharap saat bangun nanti, akan menemukan Rican duduk di samping kasur sambil mengusap puncak kepalanya. Meminta maaf seperti biasa dan mengecup keningnya.T
Deandra Kirana baru saja kembali dari Nige setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun terakhir. Sekarang dia pulang tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.Ini menjadi sebuah kejutan untuk mereka dan juga calon suami Dea. Rican yang sangat sempurna untuknya karena, selama 5 tahun terakhir dia adala






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.