Share

Bab 57

Author: Blue Moon
last update publish date: 2026-03-30 12:31:56

Ketika Randy sedang sibuk bekerja di ruangannya, ada panggilan telepon masuk dari Regina.

Dia pun segera mengangkatnya. “Ya, ada apa, Bu?”

“Kau sedang sibuk?”

“Ya, seperti biasa.”

“Hmm, oke. Ibu tidak akan bicara panjang lebar. Hanya ingin menginformasikan, kau harus pergi ke Hong Kong lagi minggu depan. Ada beberapa client baru yang direkomendasikan pada kita.”

Randy sempat bungkam sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjawab. “Tidak mau.”

“Apa katamu?” Regina seolah tak mempercayai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 57

    Ketika Randy sedang sibuk bekerja di ruangannya, ada panggilan telepon masuk dari Regina.Dia pun segera mengangkatnya. “Ya, ada apa, Bu?”“Kau sedang sibuk?”“Ya, seperti biasa.”“Hmm, oke. Ibu tidak akan bicara panjang lebar. Hanya ingin menginformasikan, kau harus pergi ke Hong Kong lagi minggu depan. Ada beberapa client baru yang direkomendasikan pada kita.”Randy sempat bungkam sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjawab. “Tidak mau.”“Apa katamu?” Regina seolah tak mempercayai pendengarannya.“Aku tidak mau, Bu. Ibu cari saja orang lain untuk pergi ke sana.”“Kau ini kenapa, Randy? Selama ini kau tidak pernah menolak pekerjaan.” Regina terdengar tidak senang.“Ya, karena aku tidak pernah menolak, Ibu jadi seenaknya kan? Dipikir-pikir lagi, memang seharusnya aku tidak melakukan semua perintah Ibu secara gratis. Ada harga yang harus Ibu bayar jika ingin menugaskan aku.”“Hah! Sekarang kau mulai perhitungan dengan Ibu?!” Nada suara Regina mulai meninggi.“Bukan perhitung

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 56

    Vina terduduk lesu di kamarnya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa hidupnya akan berubah sedrastis ini.Dia sudah terbiasa hidup nyaman selama bertahun-tahun. Selama ini pekerjaannya menjanjikan. Asetnya perlahan bertumbuh. Dia bisa membeli barang apapun yang dia inginkan, pergi makan di restoran manapun, berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dia suka. Dulu membelanjakan uang seperti itu sama sekali bukan masalah baginya. Dia bisa sepenuhnya menikmati hidup.Lalu dia menjadi lengah.Belum terlalu lama semenjak dia resign, tapi kenyataan pahit telah menghantamnya.Vina tidak memperhitungkan bahwa dia memiliki banyak tanggungan. Dia harus membayar cicilan rumahnya, cicilan mobilnya, utang di beberapa kartu kredit yang dipakainya untuk gaya hidup, lalu biaya berobat ibunya yang sama sekali tidak murah.Berlanjut lagi, bagaikan efek bola salju, berbagai utang yang tertunggak itu pun bunga berbunga, dan semakin lama nominalnya semakin besar.Dia mulai merasa tertekan. Tak pernah terbayangka

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 55

    Usai acara, Vicky menghampiri Regina ke kamarnya. Dia memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih persuasif. Vicky tipe orang yang lebih suka membujuk secara halus, bukan mendebat lantang seperti kakaknya.“Ibu, apa Ibu lelah hari ini?” tanyanya pelan.“Yah, lumayan,” jawab Regina. “Terutama karena ulah kakakmu itu. Bukan hanya lelah, tapi Ibu jadi sakit kepala juga.”“Sini, Bu... Biar kupijat pundak Ibu, supaya ototnya tidak terlalu tegang.” Vicky menawarkan.“Astaga, kau memang anak yang benar-benar baik ya. Kau selalu memperhatikan Ibu…”Tentu saja Regina tak menolaknya. Terkadang memang putranya memanjakannya seperti ini.Pijatan itu perlahan-lahan membuat Regina rileks. Ototnya mulai melemas. Suasana hatinya mulai membaik. Dia menutup mata dan menikmati sekian menit itu berlalu.“Ibu…”“Ya, kenapa?”“Ibu kan tahu, kak Randy memang orang yang keras. Kalau Ibu terus menerus bersitegang dengannya, tak akan ada habisnya, Bu. Itu hanya membuat Ibu lelah saja,” ucap Vicky dengan nada

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 54

    Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepakatan dengan keluarganya. Situasinya tak akan menguntungkan bagi Sarah.Randy ingin memberi jeda waktu yang lebih lama… Sampai ibunya itu melunak dan mau berusaha menerima Sarah dengan lapang dada, barulah dia akan mempertemukan mereka lagi.“Aku sendiri saja malas untuk pergi ke sana, Sarah. Bahkan aku sempat berpikir untuk mangkir. Kenapa justru kamu yang bersemangat?” oceh Randy.“Ini ulang tahun ibumu, lho. Kau harus ikut merayakannya kan?”“Ya, aku memang terpaksa harus pergi. Tapi kau kan lebih baik tenang-tenang saja di rumah, daripada harus menghadapi perilaku ibuku yang tak masuk akal.”“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya, dan juga memberi hadiah yang sudah k

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 53

    Setelah selesai menonton, mereka bertiga pergi untuk makan di sebuah restoran bernuansa alam, dengan panorama yang asri dan suasana yang cukup sejuk.Mereka duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke danau yang luas. Danau itu terisi dengan berbagai jenis ikan yang berlompatan kesana kemari dengan lincah. Sarah terpesona akan pemandangan di hadapannya.Sesekali Vicky mengajak Sarah mengobrol dan bercanda, namun tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vicky juga sadar bahwa kakaknya selalu mengawasi mereka. Jika dia mendekat hingga kurang dari satu meter, pasti akan ada omelan. Vicky tak mau mencari masalah dengan kakaknya. Dia ingin menikmati pengalaman langka yang menyenangkan ini sebaik-baiknya.Sedangkan Randy masih melanjutkan aksi tutup mulutnya. Dia hanya duduk diam sambil memperhatikan istrinya. Terkadang dia menggertakkan gigi karena geram melihat keakraban mereka berdua.‘Kenapa mereka jadi sedekat ini, sih? Memang apa bagusnya Vicky sampai Sarah mau saja me

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 52

    Hari Sabtu siang. Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar. Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu. “Kau mau pergi, Sayang?” “Iya. Aku mau pergi nonton. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Sarah dengan tatapan menggoda. “Tidak. Untuk apa aku ikut,” tolaknya cepat. “Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu…” “Siapa bilang aku pergi dengan teman-temanku?” Randy mulai kelihatan bingung. “Bukan dengan Susan dan Dimas? Lalu dengan siapa?” “Aku pergi dengan adikmu.” Seketika itu juga ekspresi wajah Randy berubah drastis. Dia pun mengomel, “Astaga! Yang benar saja, Sarah?! Kau mau pergi nonton dengan anak itu? Lalu, apa-apaan dandananmu ini? Haruskah kau berdandan kalau hanya untuk bertemu dengannya? Ganti juga gaunmu. Jangan yang memperlihatkan bahu seperti itu. Sekarang kau percaya sekali padanya, ya?” “Makanya aku mengajakmu kan… A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status