ログインAntonio terpaku sejenak menatap wajah Aleta. Manik mata hitamnya membaca setiap senti perubahan ekspresi wanita di hadapannya—bibir yang sedikit mengerucut, tatapan mata yang menuntut sebuah jawaban, serta keraguan samar yang terbersit di balik kelopak matanya yang indah. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu dan melewati berbagai badai kehidupan bersama, Antonio melihat Aleta menunjukkan rasa cemburu yang begitu nyata, jujur, dan polos.Alih-alih merasa terganggu, terdesak, atau terbebani oleh pertanyaan menuntut itu, sudut bibir Antonio justru perlahan-lahan terangkat. Sebuah senyuman tipis yang amat tampan, hangat, dan sarat akan rasa puas terukir di wajah tegas sang penguasa tanah. Ada gejolak kebahagiaan yang meluap hebat di dalam dadanya—sebuah perasaan yang jauh lebih memuaskan daripada kemenangan bisnis atau penaklukan musuh mana pun di dunia hitam.Bagi Antonio, kecemburuan Aleta adalah bukti sahih yang paling dinanti. Hal itu menegaskan bahwa wanita di pelukannya kini t
Kehadiran Antonio yang tiba-tiba membuat suhu udara di dalam aula seketika merosot dingin. Pria mafia itu berdiri menjulang di depan Aleta, memotong jarak antara wanitanya dengan dua tamu tak diundang tersebut. Pandangan mata hitamnya yang tajam mengunci Helena dan Giselle dengan binar ancaman yang begitu pekat, seolah siap meremukkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan Aleta.Helena, yang sangat mengenali tabiat putra tunggalnya saat batas kesabarannya hampir habis, dengan cepat memegang lengan Giselle. Sebelum Antonio sempat mengeluarkan titah pengusiran yang dingin dan mempermalukan mereka di hadapan para pekerja, Helena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa tak puas."Kami hanya berkunjung sebentar untuk melihat sejauh mana kesiapan acara besarmu, Antonio," ujar Helena datar, menetralkan suaranya agar tetap terdengar berwibawa di tengah gertakan atmosfer yang mematikan. "Ayo, Giselle. Kita tidak perlu mengganggu kesibukan calon pengantin ini lebih lama lagi."Gis
Persiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari sudah mencapai sembilan puluh persen. Kesibukan di kediaman Antonio berada di puncaknya. Setiap sudut aula utama didekorasi dengan rangkaian bunga mawar putih langka dan sentuhan gandum keemasan—sebuah konsep elegan yang dirancang penuh ketelitian oleh Aleta sendiri.Pagi itu, Aleta sedang berdiri di tengah aula, mengawasi para penata bunga yang merangkai hiasan di pilar-pilar marmer. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kedamaian dan kebahagiaan seorang calon pengantin yang siap menyongsong hidup baru.Namun, ketenangan itu seketika terusik saat pintu jati raksasa di serambi depan terbuka lebar.Langkah kaki bersepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer. Helena melangkah masuk dengan gaun keanggotaan aristokrat berwarna biru dongker yang dingin, memancarkan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda yang amat memukau—Giselle.Giselle mengenakan terusan vanila berbahan sutra mahal, r
Suara pecahnya porselen mahal memecah keheningan rumah klasik Eropa milik Helena. Helena berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menatap pintu jati yang baru saja tertutup rapat oleh kepergian Antonio dan Aleta. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian gemetar hebat akibat penghinaan yang baru saja dilayangkan oleh putra tunggalnya sendiri."Kurang ajar... Benar-benar anak tidak tahu diri!" desis Helena, suaranya bergetar penuh kemurkaan.Bagi Helena, restu keluarga adalah syarat mutlak, sebuah simbol kendali yang selama ini selalu ia pegang. Ia tidak akan pernah membiarkan Antonio—anak yang seharusnya menjadi kunci kejayaan dan kekuasaan trah keluarga mereka—menikahi seorang wanita tanpa silsilah, tanpa latar belakang, dan tanpa nilai tawar di dunia kelas atas.Lebih dari itu, Helena telah menyusun rencana besar yang telah ia rancang sejak bertahun-tahun lalu. Sebuah rencana perjodohan yang tidak boleh gagal.Helena melangkah ce
Hari pernikahan yang kian mendekat membawa atmosfer baru di kediaman Antonio. Kesibukan persiapan terasa di mana-mana, namun di balik kesempurnaan itu, ada satu tanggung jawab yang membuat rahang Antonio mengeras setiap kali mengingatnya. Mau tidak mau, ia harus membawa Aleta menemui ibunya—satu-satunya anggota keluarga kandung Antonio yang masih hidup di dunia ini.Seumur hidupnya berada di dekat Antonio, Aleta sama sekali tidak pernah mendengar pria itu menyinggung soal keluarga. Rasa penasaran itu akhirnya memuncak saat Antonio memintanya bersiap untuk berkunjung."Antonio..." panggil Aleta pelan, melangkah mendekati meja kerja pria itu. "Sebenarnya... seperti apa keluargamu? Kenapa selama ini kamu tidak pernah menceritakan ibumu padaku?"Antonio yang sedang menyesap wiski tanpa es mendadak membeku. Pandangannya yang menatap keluar jendela seketika mengelam. Sebuah peristiwa pahit di masa lalunya—ketika sang ibu, Helena, memprioritaskan ambisi, harta, dan nama baik keluarga di atas
Angin siang berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut Aleta saat ia berdiri di tepi halaman panti asuhan yang sedang dibangun. Gelak tawa anak-anak yang berlarian mengejar bola plastik bergaung riang, memecah keheningan lokasi konstruksi. Di sampingnya, Antonio berdiri tegap, sebelah tangannya berada di dalam saku celana bahan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Aleta yang terasa dingin.Aleta memperhatikan sesosok anak perempuan kecil yang sedang dipeluk hangat oleh salah satu pengurus panti. Binar kebahagiaan di mata anak itu memicu kerinduan samar yang selama bertahun-tahun selalu ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya."Kamu memikirkan sesuatu?" suara berat Antonio memecah lamunan Aleta, lembut dan sarat akan perhatian.Aleta menoleh, tersenyum tipis seraya menghela napas panjang. Matanya kembali menatap anak-anak yang sedang bermain sebelum akhirnya tertunduk menatap tanah."Aku cuma... mendadak teringat pada orang tuaku, Antonio," bisik Aleta pelan, suaranya
"Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah
"Mana uangnya?"Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur.""Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidup
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya
Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi s







