เข้าสู่ระบบPagi datang tanpa suara. Tidak ada denting alat makan, tidak ada gumaman kecil Aruna yang biasanya muncul lebih dulu di dapur. Apartemen itu terasa lebih sunyi dari biasanya, terasa begitu kosong.Sagara terbangun lebih awal, kebiasaan lama yang sulit dihilangkan saat pikirannya penuh. Ia duduk di tepi sofa, semalaman pria itu memutuskan untuk tidur di sofa karena terlalu lama berbicara dengan teman lama.Ia berdiri, melangkah ke ruang makan. Di sana, Aruna sudah siap dengan rambutnya yang diikat rapi, blazer hitam tergantung di lengan, tas kerja sudah menyilang di bahu. Wajahnya datar untuk seseorang yang biasanya menyapanya dengan senyum kecil meski mengantuk.“Kamu mau sarapan?” tanya Sagara, berusaha menahan nada yang terlalu hati-hati.Aruna menggeleng. “Nanti aja.”“Nanti di kantor? Setidaknya minum dulu,” Ia mendekat.“Enggak. Aku berangkat,” jawab Aruna singkat, lalu meraih kunci mobil dari meja.Sagara mengernyit. “Saya antar.”Aruna berhenti sepersekian detik, lalu menggelen
“Rania,” lirih Aruna sambil menatap wajah Sagara.Pria itu terdiam cukup lama untuk membuat dada Aruna terasa mengempis oleh dugaan yang tak ingin ia akui, tapi juga tak bisa ia abaikan.“Rania siapa?” tanya Budi, hati-hati.Aruna menarik napas, menimbang kata-kata. Kepalanya bekerja cepat, menyusun potongan-potongan yang selama ini mereka hadapi, tentang Rania yang datang untuk menemui Sagara dan berpelukan.Tentang bagaimana perempuan itu berani datang pada malam hari ke rumah mantan kekasihnya.“Mantan Sagara. Perempuan yang paling dekat dengan Sagara saat di Swiss,” jawab Aruna akhirnya, pelan tapi jelas.Budi mengangguk kecil, lalu melirik Sagara dan mencoba memahami kejadian yang mungkin saja bisa memantik emosi dan dendam yang membuat teror begitu mengerikan.“Ada konflik yang belum selesai?”Sagara menggeleng cepat. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Kami berpisah baik-baik.”Begitu menurut Sagara dan diyakininya, tapi mungkin saja itu berbeda bagi si perempuan yang tidak pernah diket
"Aku nggak mau ini.""Aaaaaaaaaaaa.""Aku juga mau ini!"Perebutan makanan di meja makan sore itu berlangsung riuh seperti pasar malam kecil. Anak-anak kecil berebut sate maranggi terakhir, sepupu remaja saling lempar kue bolu sambil tertawa.“Kamu kenapa ganti baju, Sayang?” tanya Mama Sagara.Dress biru mudanya sudah diganti dengan kaos longgar milik Tante Rina kaos oversize berwarna abu-abu pudar dengan tulisan “Bandung Punya Cerita” yang sudah agak luntur. Celana pendek olahraga pinjaman juga terasa lebih nyaman dibanding dress yang tadi basah oleh keringat dan cairan orgasmenya sendiri.Mama Sagara yang sedang membagikan es teh menoleh ke Aruna, alisnya terangkat ringan. Aruna tersenyum kaku, berusaha terlihat polos.“Kusut, Tan. Soalnya aku kalau tidur ribut banget. Tadi bangun langsung ganti yang nyaman aja hehe,” jawabnya sambil tertawa kecil, berharap terdengar meyakinkan. “Mama Sagara mengangguk, tapi matanya masih menyelidik sebentar sebelum tersenyum lagi.“Ya sudah, yang
“Ayo, sayang,” bisiknya di telinga Aruna, suaranya rendah dan penuh maksud.Sagara menarik tangan Aruna pelan membawanya menjauh dari keramaian ruang keluarga yang masih ramai dengan tawa dan obrolan saudara-saudara.Aruna mengikuti tanpa protes, meski jantungnya sudah berdegup kencang lagi. Mereka naik tangga, melewati koridor sempit, dan masuk ke kamar Sagara, karena kamar yang ditempati Aruna sudah lebih dulu diisi dengan sepupu lain yang istirahat.“Tidak saya kunci,” ucap Sagara yang membuat Aruna mengernyit.Sagara membawa Aruna berdiri tepat di depan cermin berdiri sambil memeluk Aruna dari belakang, dagunya bersandar di bahu perempuan itu. Mereka berdua masih berpakaian lengkap dengan Aruna memakai dress biru yang lengannya hanya seutas tali dan Sagara dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans.“Lihat kita,” bisik Sagara, suaranya serak di telinga Aruna.Aruna menatap bayangan mereka di cermin. Wajahnya sudah memerah, mata Sagara gelap dan penuh hasrat, tangannya yang besar
"Semalam kamu tidur di mana, Sa?" tanya Mamanya Sagara pada anaknya.Pagi ini meja makan yang biasanya hanya diisi oleh Om Bram, Tante Rina dan anak-anaknya mendadak sangat ramai karena kedatangan keluarga yang sudah lama pergi, termasuk Aruna.Mama Sagara menanyakan itu karena saat pagi tadi ke kamar Sagara, anaknya itu tidak ada dan membuat Mamanya kebingungan. Padahal, Sagara dan Aruna tidur sekamar dengan berbagi desah dan keringat. Tidak ada yang tahu dan Mama Sagara kembali membuat Aruna menegang."Kamu tadi malem kenapa, Nak? kok kayak susah nafas gitu? kamu sakit? atau kamu punya asma, Sayang. Setahu Tante kamu nggak pernah punya penyakit begitu."Aruna merasa seluruh darah di tubuhnya langsung naik ke wajah. Sendok di tangannya hampir jatuh ke piring, tapi ia berhasil menahannya dengan jari yang gemetar.Semua mata di meja makan, termasuk Mama Sagara, Papa Sagara yang sedang membaca koran sambil sesekali melirik, dan Sagara sendiri yang duduk di seberangnya dengan ekspresi te
Aruna membeku sejenak, matanya terbuka lebar, napasnya tersengal. Pinggulnya masih bergoyang pelan karena tubuhnya belum bisa berhenti, tapi pikirannya langsung panik. Sagara juga berhenti sejenak, tapi malah kembali menyentuh klitorisnya dengan gerakan lambat yang menyiksa, seolah-olah tidak peduli ada orang di luar."Aruna? Kamu di dalam, Nak?" Suara Mama Sagara terdengar dari balik pintu, lembut tapi jelas. Beruntung tadi Sagara sempat mengunci pintunya. Aruna menelan ludah, mencoba menenangkan napasnya yang masih tersengal. Pinggulnya masih bergerak pelan tanpa sadar, menggesek vaginanya ke lidah Sagara yang tak berhenti menjilat. "I-iya, Tan... aku di dalam," jawabnya, suaranya berusaha terdengar normal.Sagara menggeram pelan lagi, suaranya teredam di antara paha Aruna. "Grrrh... teruskan..." bisiknya, lalu lidahnya menyusup lebih dalam ke dalam lipatannya lebih dalam hingga membuat Aruna tersentak dan menahan jeritan kecil di tenggorokan.Mama Sagara melanjutkan, "Tante cum







