LOGINPrimrose Harvey dianggap tak lebih dari perawan tua yang aneh dan diperlakukan dengan buruk oleh keluarganya sendiri. Suatu malam yang tidak dia duga, Primrose diusir keluar dari rumah setelah saudara tirinya yang licik mengatakan sebuah kebohongan. Saat di ambang keputusasaan, seorang pria datang menjemputnya dan mengatakan bahwa dia akan membawa Primrose pergi karena pria itu akan menikahinya sebagai syarat lunasnya utang yang ditanggung oleh ayahnya. Arley Miller, pria yang terkenal dengan reputasi buruknya di seluruh Seattle, tuan muda kaya raya yang jarang bicara, tak pandai mengutarakan kata, dan rumor menyebut dia adalah seorang psikopat. Namun, saat Primrose menjalani hidup dengannya, lambat laun dia bisa melihat sisi lain seorang Arley. Seperti apa jati diri Arley sebenarnya? Apakah pernikahan penebus utang yang mereka lakukan akan mendatangkan kebahagiaan di masa depan, ataukah justru menyingkap tabir kelam yang membuat mereka memutuskan sebuah perpisahan?
View More“ตาจักษ์ แม่อยากจะอุปการะหนูตะวัน” เสียงจากสตรี สูงวัย ผมสีดอกเลาเอ่ยปากบอกความต้องการของตนเองกับลูกชาย วัยเลยกลางคน ที่ใคร ๆ ต่างเรียกว่าพ่อเลี้ยง จักษ์ เจ้าของไร่แสนศิริสุขที่ตอนนี้กำลังนั่งอ่านข่าวสารบ้านเมืองผ่านไอแพดอยู่ตรงโต๊ะอาหาร
พ่อเลี้ยงจักษ์ลดไอแพดในมือลง พร้อมกับมองหน้ามารดาวัย เจ็ดสิบกว่า ๆ ของตนด้วยรอยยิ้มพร้อมกับตอบออกไป
“แล้วแต่คุณแม่เลยครับ ผมเองก็ว่าจะคุยเรื่องนี้อยู่พอดี ผมก็มีความต้องการตรงกับคุณแม่ที่อยากจะอุปการะเด็กคนนั้นเหมือนกัน มีใครเห็นแย้งอะไรไหม” จักษ์หันไปถามผู้เป็นภรรยาและลูกชายที่นั่งร่วมโต๊ะอยู่ด้วย
ภัสดาส่งยิ้มให้สามีเป็นเชิงว่าไม่ขัดข้องแต่อย่างใด ส่วนบุตรชายนั้นเอาแต่นั่งหน้านิ่วคิ้วขมวดอย่างคนใช้ความคิด
“คีย์ มีความคิดเห็นยังไงบ้าง มีอะไรไม่เห็นด้วยหรือเปล่า” ผู้เป็นบิดาเอ่ยถามออกมาอีกรอบเมื่อเห็นว่าบุตรชายนั้นยังเอาแต่นั่งนิ่ง
ชายหนุ่มเจ้าของนามว่า คีรินทร์ เงยหน้าขึ้นพร้อมกับหันไปมองบิดาที่ยังนั่งรอเอาคำตอบอยู่
“ถ้าผมบอกว่าไม่เห็นด้วยคุณพ่อกับคุณย่าจะเปลี่ยนความคิด ไหมครับ”
“...” พ่อเลี้ยงจักษ์มองหน้าบุตรชายราวกับจะค้นหาคำตอบของ อีกฝ่าย
“เราจะอุปการะเด็กคนนั้นในฐานะอะไรล่ะครับ ผมต้องเสียผลประโยชน์อะไรบ้างหรือเปล่า” ชายหนุ่มตอบบิดาด้วยเสียงเรียบนิ่ง ทว่าแฝงไปด้วยความเย็นชา
“ย่าจะอุปการะหนูตะวันในฐานะว่าที่คู่หมั้นของคีย์ ถ้าหนูตะวันเรียนจบแล้วคีย์ยังไม่แต่งงาน ย่าจะให้คีย์แต่งกับหนูตะวัน” เสียงแหบพร่าของสตรีสูงวัยเป็นผู้ตอบคำถามแทน
“ไม่เอาครับย่า! เด็กคนนั้นเพิ่งจะอายุสิบห้าเอง ผมไม่ใช่โรคจิต ชอบเด็กนะครับ” ผู้เป็นหลานชายท้วงขึ้นเสียงดังด้วยความตกใจพลาง ทำสีหน้าฝืดเฝื่อน
“ย่าก็ไม่ได้จะให้เราแต่งกันตอนนี้เสียหน่อย อีกตั้งหลายปีกว่า หนูตะวันจะเรียนจบ”
“อีกกี่ปีผมก็ไม่เอาครับ”
“แน่ใจนะ ถ้าหนูตะวันโตมาแล้วสวยอย่ามาเปลี่ยนใจทีหลังล่ะ”
ผู้เป็นย่าเอ่ยเย้า
“ไม่มีทางเปลี่ยนใจแน่นอนครับ” ผู้เป็นหลานยังคงยืนยันเสียง หนักแน่น
“เอาเป็นว่าย่าจะให้เวลาคีย์จนกว่าหนูตะวันจะเรียนจบก็แล้วกัน ถ้าคีย์มีคนที่ถูกใจคบหาจนถึงขั้นแต่งงานย่าก็ไม่ห้าม แต่ถ้าถึงตอนนั้นคีย์ยังไม่มีใคร ย่าจะให้แต่งกับหนูตะวัน” ผู้เป็นย่าเองก็ยังยืนยันคำพูดของตนเองอย่างหนักแน่นเช่นกัน
“เอาเป็นว่าตกลงตามนี้นะครับคุณแม่” จักษ์คล้อยตามมารดาที่จะให้เด็กผู้หญิงคนนั้นเข้ามาอยู่ที่บ้านในฐานะว่าที่คู่หมั้นของบุตรชายตน เพราะลึก ๆ แล้วเขาก็รู้สึกผิดกับครอบครัวของฝ่ายนั้นอยู่เหมือนกัน
“พ่อครับ!” ผู้เป็นบุตรชายหันไปโวยวายบิดาเมื่อเห็นว่าท่านเออออตามผู้เป็นย่า
“สรุปว่าคีย์ไม่เห็นด้วยเรื่องที่จะให้หนูตะวันเข้ามาอยู่ร่วมบ้านกับเราอย่างนั้นสิ” จักษ์ถามลูกชายเสียงจริงจังอีกรอบ
คีรินทร์ตั้งท่าจะตอบออกไปว่าใช่ แต่เมื่อเห็นสายตาแน่วแน่ของ ผู้เป็นย่าแล้วก็รู้ว่าคงจะขัดไม่ได้ จึงต้องจำยอมเอ่ยตอบออกไป “ผมจะไปขัดข้องอะไรได้ล่ะครับ เพราะต่อให้ผมไม่เห็นด้วย คุณพ่อกับคุณย่าก็คงยืนยันจะอุปการะเด็กคนนั้นอยู่ดี ถ้างั้นก็แล้วแต่คุณพ่อกับคุณย่าจะจัดการตามสมควรเลยครับ”
หญิงสูงวัยยิ้มออกมาอย่างพอใจ คีรินทร์จึงเอ่ยขึ้นต่ออีก “ขอแค่อย่างเดียว ระหว่างที่เด็กนั่นเข้ามาอยู่ที่นี่ อย่าให้มายุ่งวุ่นวายกับผมก็พอ”
จักษ์ได้แต่พยักหน้าตอบลูกชายเพราะรู้ดีว่าคีรินทร์เองก็รั้นไม่เบา ถ้าได้ต่อต้านอะไรขึ้นมาก็หัวชนฝาสุด ๆ เหมือนกัน
เมื่อเห็นผู้เป็นบิดาพยักหน้าตอบรับจึงหันมาสนใจกับอาหารตรงหน้าต่อ แต่ความคิดยังประหวัดไปถึงเด็กสาวผู้เป็นหัวข้อสนทนาก่อนหน้านี้ที่มีนามว่า ‘ตะวัน ศิริกร’
เมื่อคืนที่ผ่านมาตนและครอบครัวไปฟังพระสวดอภิธรรมศพยายของเด็กสาวคนนั้น ที่อีกอำเภอหนึ่งไม่ไกลเท่าไร ภาพที่เห็นเจ้าหล่อนนั่งร้องไห้ปิ่มจะขาดใจอยู่หน้าโลงศพ เรียกให้แขกเหรื่อในงานต่างรู้สึกหดหู่ไปด้วยไม่ได้ และเขาก็คงจะเป็นเหมือนคนอื่น ๆ ที่คิดว่าชีวิตของเด็กคนนั้นช่างน่าสงสารเสียกระไร ถ้าเพียงแต่เขาจะไม่ได้ยินบางประโยคหลุดออกมาจากปากของเจ้าหล่อนเสียก่อน ในขณะที่กำลังจะเดินไปเข้าห้องน้ำ เขาอยากจะบอกผู้เป็นย่ากับบิดาเหลือเกินว่าเด็กนั่นไม่ได้ไร้เดียงสาแสนซื่ออย่างที่เห็น
|| 29 Mei, tahun 2XXX Tahun berganti, tetapi aku merasa langkah kakiku berhenti pada masa di mana aku bisa melihatmu mengatakan bahwa kau akan ada di sisiku, dalam keadaan suka maupun duka, dalam sedih ataupun sengsara. Hari yang menjadi sebuah titik awal, bahwa aku akan mendapatkan hidupku yang baru, dan itu bersama denganmu. Arley Miller, untuk semua yang telah kau lakukan, terima kasih. Tidak ada kata yang lebih baik daripada itu untuk aku sampaikan padamu. Kedatanganmu adalah sebuah hadiah, untukku yang berpikir bahwa aku tidak akan lagi menemukan kata ‘bahagia’ dalam perjalananku menghabiskan sisa usia. Dalam hidupku yang hampir dipenuhi dengan jalan sendu, aku mendapatkanmu. Seorang pria yang menganggapku ada. Kamu yang merengkuhku saat dunia lepas dari genggamanku. Pria yang bersumpah dengan apapun yang dimilikinya untuk membuatku percaya bahwa masih ada dunia yang baik yang tidak menganggapku hanya sebagai bayangan dan kesia-siaan. Pada akhirnya, waktu menggerakkan ak
*** Ada undangan dari Jayden dan juga Lucia. Sebuah undangan makan malam yang digelar di rumahnya secara sederhana. Tidak akan menolak, mengingat mereka adalah sahabat baik, Arley dan Prims datang. Tetapi sebelum sampai di sana, mereka lebih dulu ingin membawakan hadiah. Prims bilang itu adalah buket bunga yang besar atau jika bisa bunga hidup yang bisa diletakkan di dalam rumah dan tidak perlu memrlukan banyak perawatan. Kaktus misalnya. Arley menyarankan kue yang manis, karena Jayden itu tipe gigi manis, ia bilang. Yah ... sebelas dua belas dengan Prims lah kira-kira ... gemar makanan yang manis. Mereka keluar dari Acacia Florist, toko bunga yang mereka lewati selama perjalanan. Bunga yang mereka bicarakan itu telah ada di tangan mereka sekarang. Dengan hati yang gembira Prims dan Arley menuju tempat selanjutnya, di toko kue sembari menggendong si kembar yang tadinya duduk anteng di baby car seat di bagian belakang mobil. Memasuki toko kue, Rhys dan Rose terlihat sangat sena
*** Seperti janji yang pernah ia katakan selepas Prims meninggalkan ruang kunjung tahanan beberapa saat yang lalu saat ia menjenguk ayahnya, Prims bilang ia akan datang ke tempat ini untuk mengabarkan perihal keadilan yang pada akhirnya telah ia terima. Sebuah pemakaman. Lokasi di mana Jasmine Harrick disemayamkan. Nisan salibnya menyambut kedatangan Prims yang menyaunkan kakinya lengkap dengan kedua tangannya yang mendekap buket bunga berukuran besar. Ia sendirian, ia sudah meminta izin pada Arley yang mengiyakannya untuk pergi di hari Minggu pagi ini. Saat anak-anaknya masih tertidur, Prims bergegas dengan diantar oleh Will. Ia tersenyum saat menjumpai foto Jasmine yang juga sama tersenyumnya. “Apa kabar, Mama?” ucapnya sembari meletakkan buket bunga itu di dekat fotonya. “Aku datang sendirian hari ini, Mama.” Prims duduk bersimpuh di sampingnya, mengusap nisan Jasmine yang bersih dan terawat karena memang selain ini di area yang bersih dan bagus, Arley meminta orangnya un
*** Langkah kaki Prims terdengar berirama mengetuk, ia berjalan keluar dari mobil yang dikemudikan oleh Will, sopir milik Arley untuk tiba di tempat ini. Sebuah tempat yang barangkali Prims sama sekali tidak ingin menginjakkan kakinya meski hanya sebentar, pun tidak ingin ia datangi karena luka menganga masih terasa perih. Menyayat, menusuknya. Tak ada terbesit pikiran untuknya datang ke sini, sama sekali. Tetapi sepertinya takdir selalu memiliki rencana lain sehingga mau tak mau ia harus menguatkan diri untuk menghadapinya. Sebuah pesan dari kepolisian Seattle mengatakan bahwa ayahnya Prims, Aston Harvey sedang sakit dan ingin bertemu dengan anak perempuannya. Prims berpikir kenapa ayahnya itu tidak meminta Alice yang mendatangi atau menjenguknya? Kenapa malah dirinya yang sudah bertahun-tahun lamanya ini ia sia-siakan? Dalam kebencian yang masih kental itu, Prims menolak untuk datang. Namun, Arley mengatakan padanya dengan lembut, 'Datanglah, Sayangku ... siapa tahu sekarang
"Apa?" tanya Prims memperjelas, memandang Arley yang meletakkan buket bunga di kursi penumpang yang ada di belakang."Kamu," jawab Arley lebih dulu. "Apa yang kamu lihat, Sayangku?"'Ada apa dengan 'sayangku'-nya itu?' tanggap Prims dalam hati. 'Apa dia punya keinginan tersembunyi?' batinnya penuh tan
Ben lah yang membentur nisan salib berukuran tinggi itu. Dia mengaduh kesakitan karena memang lelaki itu seperti melayang akibat tendangan kaki seorang pria yang datang dari antah berantah dan menggagalkan rencana mereka untuk membuat Prims ternodai. Sedang Cal yang tadinya berada di dekatnya tiba-t
Prims terjebak dalam situasi yang tak menguntungkannya sebab dia sedang berada di tempat yang asing bersama dengan pria tak dikenal. Dia mencoba melepaskan diri tetapi rasanya tidak berhasil. Barulah saat mereka tiba di dekat gang tak berpenghuni yang dekat dengan pemakaman dia dilepaskan. Telapak t
Prims terhening untuk mencerna kalimat Katie. ‘Sebegitu tidak sukanya kah beliau padaku?’ gumamnya dalam hati.Sejak awal, Prims tahu ibu mertuanya memang tidak menyukainya. Wanita itu lebih suka jika Alice yang bersanding dengan Arley.Namun, tetap saja, rasanya menyakitkan. Prims menahan diri aga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore