Se connecterRichelle Aurelia Chanez, gadis berusia 19 tahun itu harus menyaksikan tunangannya berselingkuh tepat disaat hari ulang tahunnya. Setelah kejadian itu hal tak terduga terjadi padanya. Niat hati menghilangkan sakit hatinya dengan bersenang-senang disalah satu club malam, malah berujung melewati malam panas bersama seorang CEO yang memiliki sifat dingin. Suatu hari ia dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya, begitu juga dengan pria yang menghabiskan malam panas bersamanya. Demi menghindari perjodohan itu keduanya membuat perjanjian dengan pernikahan kontrak. Namun siapa sangka, ternyata yang ingin dijodohkan itu adalah mereka sendiri. bagaimana kehidupan Richelle setelah menikah dengan pria yang tidak dia kenal? apakah dia bahagia? apakah akan ada benih cinta antara mereka? yuk langsung ke chapter.
Voir plus"Amelia, this is the DNA test result. You are not Mr. Milton's biological daughter. Mr. Milton has found his real daughter and wants you to stop contacting them."
Amelia arrived at her fiancé's house. It felt like a dream. She wasn't Jackson's daughter? She'd always wondered why Jackson let her take the Cromwell name. Now she knew—Jackson had known all along that she wasn't his daughter. She mustered the courage to text her fiance, Maynard Simmons, "Coming home for dinner tonight?" The wait felt endless. He hated being disturbed at work, and she worried he'd ignore her like he used to. But a second later, her phone lit up with his cold reply, "Yeah, we need to talk." Relieved, Amelia hurried to buy groceries and whipped up several of her best dishes. She placed the DNA test on the table, then thought better of it and flipped it over. As evening fell, a black luxury car pulled into the yard. Maynard got out, his suit jacket casually draped over his arm. His tall frame and sharp features made him look like a model off the runway. "Maynard, you're home!" Amelia jogged over, reaching for his jacket, but he handed her a document instead. Her eyes widened in surprise. "Take a look. If you have any demands, go ahead." She glanced down at the first page, where the title "Breakup Agreement" stared back at her. The stark white paper hurt her eyes. Maynard tugged at his tie, looking tired from work. He glanced at his fiancee, with her round, baby-faced features that made her look pretty cute. He didn't love her. He'd only proposed because his grandma adored her. Amelia kept his grandma company, strolled with her in Central Park, baked cupcakes, and watched old movies together. Life had become more colorful for his grandma, and her health improved. Their engagement was just a deal. Staying together would only waste Amelia's youth. Better to end it. "Are you breaking up with me because of my identity?" Amelia asked, her voice trembling. Had Maynard already found out she wasn't a Milton by blood? "Identity?" He frowned. "What are you talking about?" "Never mind. I was just wondering, would you still break up if we had a kid?" "Yes," he said coldly, his eyes flicking to her stomach. "Are you pregnant?" She shook her head. Maynard let out a sigh of relief. He didn't want to bring a child into an unhappy relationship—like his parents had done. Amelia watched his retreating back, swallowing back tears. She hadn't told him about the DNA test. His words felt like a gentle knife stabbing her heart. She glanced at the dinner she'd prepared, now cold, and dumped it all in the trash. Growing up, her parents never loved her. They sent her to live with her aunt, Rosemary, who was kind to her. All Amelia ever wanted was a family of her own. She'd been Maynard's fiancee for three years, even though she knew he didn't love her. But you can't warm a cold stone, no matter how hard you try. Without even reading the breakup agreement, she signed her name at the bottom. That night, she moved to the study. She couldn't go back to the Miltons, and Maynard hadn't kicked her out yet. For now, this was her home. The next morning, Amelia got a call from Maynard's mom, Felicia. "Amelia, have the maid clean up the guest room on the second floor. We're expecting guests for a few days. Make sure they're well taken care of." Before Amelia could ask who, Felicia hung up. By the time she went downstairs, Maynard had already left for work. In the afternoon, a young woman dressed head-to-toe in designer clothes walked into the hall. Amelia's eyes widened. Was this the guest Felicia mentioned? She was stunning. Amelia's mind flashed with bitterness. In the past, she would've been jealous. But she was already broken up with Maynard. Any woman living here was none of her business. "Hi," Amelia began, but the woman ignored her, walked around the hall, and then turned to the butler, Adrian. "The curtains are ugly, and I hate the sofa. Change everything in the bedroom to my favorite brands." "Who are you?" Amelia asked. "Let me introduce myself. I'm Misty Erikson, the future lady of the house. Naturally, I get to decide the decor." "You're Misty?" A wave of bitterness washed over Amelia. No wonder Maynard broke up with her. Misty was back, and she was just a stand-in. "Looks like you've heard of me. Sign the breakup agreement. You've held this spot for three years. Time to move on." Amelia replied coolly, "So sentimental. Where were you when Maynard was in a car accident and in a coma?" Misty's face froze. "My brothers kept me locked up. I couldn't see Maynard. Anyway, if you want your family to stay safe, sign the agreement." She glanced at the breakup agreement on the coffee table, feeling triumphant. She'd waited three years for this day. "I've already signed it," Amelia said. "Good choice." Misty pulled out a check from her designer bag. "Here's a million dollars. Consider it compensation."Dua tahun Pagi di Taman Rumah Karel dan Richalle Pagi itu cerah. Rumput basah oleh embun.Aline yang kini berusia 1 tahun 3 bulan, berlari kecil di taman dengan sepatu mungil bergambar kelinci.“Amaaa! Tu yam na telbang!” teriak bocah perempuan dengan rambut di kuncir dua sambil menunjuk burung merpati yang lewat.Richalle yang duduk di bangku taman tertawa pelan. “Itu bukan ayam, sayang. Itu burung.”Aline mendekat sambil membawa bunga rumput. “Nih wat Mamaaa…”Tangannya yang mungil menyodorkan rumput liar yang jelas bukan bunga—tapi Richalle menerimanya seperti menerima karangan bunga paling mahal di dunia. “Terima kasih, princess mama.”Di dalam rumah, Karel sedang tiduran di karpet ruang tengah.Aline langsung naik ke punggungnya sambil tertawa.“Papah! Kuda! Jalan!”Karel tertawa, pura-pura jadi kuda. “Oke, baiklah nona kecil. Tapi jangan pakai sepatu ya! Ayah belum diasuransiin!”Aline menjambak rambut Karel pelan sambil tertawa.“Ngeeng ngeengg!”Richalle merekam dari jau
Beberapa Minggu Setelah Sidang KeluargaKehidupan Richalle dan Karel mulai stabil. Reputasi mereka perlahan membaik.Media mulai lupa. Investor kembali percaya.Keluarga mulai membuka hati.Tapi justru saat semuanya terasa tenang...Elira bergerak dari balik jeruji.~Elira berdiri di ruang kunjungan khusus.Di hadapannya duduk seorang pria berpakaian rapi, dengan lencana petugas, tapi mata penuh amarah tersembunyi.Adik tiri Elira.Elira membisikkan sesuatu.Pri itu menatapnya setelah mendengarkan rencana elira. “Apa kamu yakin ingin pakai cara ini?”Elira menegakkan tubuhnya, “Dia sudah merebut milikku. Sekarang aku hanya ingin dia tahu...bahwa apa yang sudah menjadi milikku tidak boleh dimiliki orang lain.” Ucapnya dengan penuh kebencian.~Hari itu, Richalle sedang sendirian. Karel ada di luar kota untuk urusan perusahaan.Bodyguard pribadi sempat diganti dengan alasan “perintah ayah Richalle”.Padahal, semua itu bagian dari skenario Elira.Richalle diculik secara halus. Tidak dis
Sebuah file tersebar ke media dan platform internal perusahaan Athisa Group dan Adistya Corp: “Pernikahan CEO Karel Adistya dan Richalle Athisa diduga hanyalah KONTRAK!” “Bukti dokumen didapat dari sumber anonim. Masyarakat kini bertanya: apakah pasangan ikonik itu hanyalah sandiwara?” Wartawan mulai memenuhi gerbang kantor. Saham Adistya Corp dan anak perusahaan mulai bergejolak. Investor bertanya. Elira tertawa pelan di balik jeruji penjara, saat melihat berita itu dari televisi kecil di sel isolasi. "Kartu terakhir sudah dimainkan. Lihat bagaimana dunia mereka runtuh sendiri..." Scene: Ruang Meeting Dewan Direksi Karel berdiri di depan jajaran direksi. Wajahnya tenang, tapi tegas. “Iya. Pernikahan kami berawal dari kontrak. Tapi tidak pernah sekalipun ada penipuan dalam urusan bisnis.” “Semua keputusan kami sebagai pasangan—baik di perusahaan maupun keluarga—dibuat secara profesional dan legal.” Salah satu direktur bertanya tajam: “Lalu bagaimana kami tah
Sudah tiga hari sejak Richalle dan Elira bertemu di taman. Dan sejak hari itu, Richalle mulai merasa... ada yang berubah. Pagi-pagi, asistennya mengantar buket bunga ke rumah. “Untuk Bu Richalle. Dari pengagum rahasia,” ucap sang kurir. Richalle mengernyit. Buket itu berisi mawar putih, bukan melati. Tak ada kartu nama. Hanya satu kertas kecil dengan tulisan tangan: "Seputih ini cintamu padanya? Atau sebutan ini hanya topeng?" Richalle mengabaikannya. Tapi hari-hari berikutnya... semakin banyak hal janggal terjadi. Di kantor, file proyek penting milik Richalle menghilang, lalu muncul lagi dengan data yang berubah. Seseorang menghubungi HR dan menyebar rumor bahwa Richalle menikah dengan Karel hanya demi warisan. Bahkan di rumah, Richalle merasa diawasi. Ponselnya pernah dalam keadaan terbuka padahal dia tak memakainya. --- Karel duduk di ruang kerja, membuka laporan dari perusahaannya. Tiba-tiba, ia menemukan sesuatu di email: “Laporkan istrimu ke kepolisian. Di
Pagi itu, matahari mengintip malu-malu dari balik tirai jendela. Udara terasa lebih hangat dari biasanya. Tapi tidak dengan hati Richalle. Ia duduk di meja makan, menatap sepiring roti panggang yang belum disentuh. Tangannya menggenggam cangkir cokelat panas yang mulai kehilangan hangatnya. Kare
Langit malam menangis pelan. Hujan turun rintik-rintik, menyentuh jendela dengan ritme yang tenang. Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk bersebelahan di sofa. Richalle dan Karel. Tidak ada TV menyala. Tidak ada musik. Hanya keheningan yang terasa berat—bukan karena tak n
Richalle duduk di meja makan, masih kikuk. Tangannya menggenggam gelas susu yang kini setengah kosong, sementara pandangannya sesekali mencuri-curi arah Karel yang tengah sibuk membereskan piring.Pria itu masih mengenakan celemek, senyumnya tenang, seolah pagi ini bukan apa-apa. Seolah semalam tak
Di sinilah Richalle sekarang, di sebuah kafe yang cukup menenangkan pikirannya. Richalle duduk terpaku, memandangi secangkir kopi yang mulai dingin. Namun, pikirannya sama sekali tak tenang. Bayangan Grecia yang menggandeng tangan Karel berulang kali melintas di depan matanya, seperti pengkhianata






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires