เข้าสู่ระบบNadine, terpaksa menerima nasib buruk terjadi dalam hidupnya. Satu kejadian panas, membuat dunianya berubah. Sang tunangan memutuskannya begitu saja tanpa mendengar penjelasan Nadine. Lebih tragis lagi dia harus menikah dengan pria yang terlibat one night stand dengannya. Pria dekil dengan label pengangguran melekat pada diri lelaki tersebut. Rafael, pria yang mau menikahi Nadine, tampilan pria itu memang akan membuat tiap orang mencibir dan menghina padanya. Tak ada yang tahu, kalau Rafael punya identitas lain, yang akan membuat orang lain tercengang, termasuk Nadine. "Siapa kamu sebenarnya?" "Aku? Aku hanya orang biasa. Bukan siapa-siapa." Bagaimana keduanya menjalani biduk rumah tangga di tengah konflik yang datang silih berganti? Ditambah ancaman datang banyak sisi, termasuk mantan tunangan Nadine.
ดูเพิ่มเติมClarabel Grachiela, gadis cantik berwajah imut itu menggamit mesra tangan suaminya, Naresh Mahendra, menuruni panggung pernikahan megah bertaburan banyak bunga dan lampu kristal.
Tak selayaknya pengantin yang sumringah, lelaki itu hanya menampilkan raut murungnya saja. Sedangkan Clara, wanita cantik itu berusaha menampilkan senyum walaupun hatinya juga hancur.***Layaknya pasangan pengantin pada umumnya, Naresh mengajak Clara ke sebuh hotel untuk beristirahat malam ini. Tentu Clara menyetujuinya, ia berjanji akan berbakti pada suaminya walaupun belum ada cinta di antara mereka."Kamu mandi dulu, setelah ini mau ada yang ingin aku bicarakan.""Iya, Mas."Clara melepas gaun pernikahannya dengan susah, gaun besar yang membalut tubuhnya itu sangatlah berat. Manik indahnya beberapa kali melirik kepada Naresh, namun jangankan membantu. Melihatnya saja tidak.Laki-laki itu masih asyik dengan ponselnya, senyumnya mengulas lebar saat menatap benda pipih itu. Menghiraukan Clara yang sudah berdiri di sana selama lima menit dengan jubah mandi."Mas, aku sudah selesai," ujarnya lirih."Oh," jawabnya sembari menaruh ponsel. Naresh bangkit menuju sebuah meja kecil di samping tempat tidur, tangannya mengulur pada laci mengambil sebuah map berwarna merah yang ada di sana."Ini, kamu baca!"Jemari lentik Clara mulai membukanya, sekejap kemudian keningnya mengkerut."Perjanjian pernikahan?" gumamnya."Kita menikah karena perjodohan, kamu nggak ada niatan buat menikah selamanya 'kan?"Clara terhenyak. Tentu ia berniat menikah selamanya, kenapa hal ini patut di pertanyakan?"Aku nggak mencintai kamu, Cla. Malam ini kita memang menikah, tapi aku nggak menganggap kamu sebagai istri. Aku nggak akan nyentuh kamu!"Hening! Clara tidak menjawab, gadis itu masih berusaha memahami ucapan suaminya."Jangan pernah gantungkan harapanmu dalam pernikahan ini, Cla! Karena pernikahan ini akan selesai saat Mama memberikan warisannya padaku, dan kamu akan mendapatkan bagian separuh," lanjutnya lagi.Clara semakin terkejut, ia berusaha sekuat mungkin menahan air mata yang hampir luruh dari pelupuk netranya. Kata-kata yang di lontarkan Naresh sangat sakit."Kamu nggak perlu lakuin kewajiban sebagai istri, kamu nggak usah layanin aku layaknya istri. Kamu nggak usah masak, nggak usah cuci bajuku, bahkan kamu nggak usah kerjain pekerjaan rumah. Mudah 'kan?"Clara masih tidak menjawab. Beberapa kali ia menguatkan batinnya. Jika bukan karena permintaan mendiang orang tuanya, mustahil dia mau menerima perjodohan ini."Terus, nanti kita akan pindah rumah. Aku nggak mau kita satu rumah sama Mama, dan kamu ngadu kalo aku nggak nyentuh kamu!"Clara mengalihkan pandangannya dari kertas di depannya. Gadis cantik pemilik iris coklat itu berusaha mengatur deru nafasnya agar tidak ketahuan menahan sesak."Pernikahan ini hanya akan bertahan sampai satu tahun, setelahnya kita akan bercerai. Selain aku nggak mencinta kamu, aku juga mempunyai kekasih asal kamu tahu. Aku ada yang menunggu di sana, Cla, tapi Mama malah memaksaku dalam perjodohan konyol ini!""Kenapa nggak kamu ceraikan aku sekarang?"Naresh menoleh, memandang pada wajah ia yang benci itu. Badannya setengah menunduk, memperhatikan setiap detail wajah yang tidak pernah ia inginkan."Kalau aku menceraikanmu sekarang, Mama nggak akan kasih warisannya buat aku!"Jahat. Yeah, itulah kata pertama yang Clara gambarkan untuk Naresh. Laki-laki yang hanya memainkan pernikahan untuk tujuannya sendiri."Cepat kamu tanda tangani surat itu. Setelahnya aku akan keluar, aku nggak akan tidur di sini."Clara meraih bolpion yang tergeletak di atas meja, tangannya mengulur meraihnya dan segara membubuhkan sebuah tanda tangan di atas materai. Sejenak ia menatap Naresh, laki-laki itu kembali asyik dengan ponselnya. Tanpa peduli dengan perasaannya yang hancur."Sudah?"Clara hanya mengangguk."Satu lagi. Kalau kamu sampai buka mulut tentang ini, sepeserpun harta nggak akan kamu terima setelah perceraian!""Aku bahkan nggak berharap hartamu," jawabnya lirih.Naresh tegelak, "iya kah? Wanita murahan sepertimu nggak berharap harta?! Bukannya orang tuamu yang menjualmu kepada Mama?!"Clara tertegun. Menjual? Menjual bagaimana maksudnya? Bukankah Ibu Mertuanya sendiri yang meminang dirinya? Sungguh, Clara sangat muak atas apa yang di tuduhkan Naresh."Aku keluar sekarang. Lakukanlah apa pun yang mau kamu lakukan, dan beristirahatlah karena besok kita akan pindah rumah."Naresh melenggang pergi setelah mengatakan hal demikian, menyisakan Clara yang masih menatapnya dengan nanar. Naresh meninggalkanya di malam pertama mereka.Malam pertama yang harusnya penuh belai nikmat kasih sayang dan desahan manja, malah menjadi malam pertama terburuk bagi Clara. Ia menerima kalimat kasar dan penghinaan dari mulut suaminya sendiri."Mama, demi apapun ini rasanya sangat sakit. Aku nggak nyangka akan nikah sama dia, apa Mama bisa lihat sakitnya aku dari atas sana? Kalo bisa, aku pengen ikut pergi sama Mama, aku nggak sanggup," lirihnya di sela-sela isak tangis.Kecelakaan yang merenggut nyawa Mamanya beberapa bulan yang lalu belum mampu Clara lupakan begitu saja. Ingatan kepedihan yang selalu membayanginya setiap malam, di tambah sekarang ia harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari suaminya semakin menambah sempurna penderitaannya.Gadis cantik itu harus menanggungnya seorang diri, tidak ada tempatnya untuk berkeluh kesah selain sang Maha Pencipta. Sementara di luar kamar tanpa Clara sadari, Naresh masih berdiri di sana dan mendengarkan semua yang ia ucapkan. Laki-laki itu menautkan alisnya seolah bingung."Kenapa dia malah sedih? Bukannya merasa senang dia akan mendapatkan bagian harta?" gumamnya bingung."Sah?" "Sah!" Ucapan syukur terdengar melaung di ruang luas kediaman Rafael yang kini disulap jadi sebuah tempat berhias penuh bunga. Area di mana Rionald akhirnya bisa menikahi Dewi kembali. Pria itu tak bisa menahan haru kala melihat Dewi muncul diantar Paramita. "Ingat, Bang. Jangan sia-siakan kesempatan kedua yang sudah diberikan. Jangan sampai kamu sakiti dia lagi. Malu sama cucu yang sudah seabrek dan masih mau nambah lagi." Paramita memperingatkan Rionald yang langsung mengangguk. Diraihnya tangan Dewi, dipandanginya paras perempuan yang kini kembali jadi istrinya. Dalam pandangan Rionald, wajah Dewi masih sama cantiknya seperti tiga puluh tahun lalu. "Ingatkan aku jika aku berbuat salah, pukul kalau perlu." Rionald sungguh ingin memperbaiki semua. Dia hanya ingin menghabiskan sisa hidup bersama Dewi sambil merawat cucu kandung mereka yang lima bulan lagi akan lahir. Dewi mengangguk, dia sangat terharu juga tersentuh, setelah melihat kesungguhan Rionald yang ingin ber
"Cedric Laurent De Angelo dan Celine Laura De Angelo. Intinya mereka adalah sumber kebahagiaan, bukankah surga itu tempat di mana semua orang merasa bahagia. Nama mereka juga bermakna pemenang. Walau perjalanan mereka sejujurnya baru saja dimulai." Nadine tak bisa berhenti tersenyum, menatap dua buah hatinya yang sedang tidur pulas, setelah tadi menjerit karena lapar. Seperti kata Rafael, ASI Nadine memang keluar lebih awal, hingga perempuan itu tak kesusahan pasal ASI. Anugerah lain yang tidak semua perempuan dapatkan. Sita contohnya, ASI-nya baru keluar di hari keempat, dan mulai lancar setelah satu minggu. Nadine sendiri langsung bisa duduk dan berjalan ke kamar mandi, persalinan normal memang lebih cepat pulih. Terlebih perempuan itu melahirkan tanpa jahitan sama sekali. Yang Nadine rasakan tinggal rasa perut yang masih tidak nyaman dan kesulitan jika akan ke kamar mandi. Langkahnya juga masih pelan, belum secepat keadaan normal. Karenanya dia masih memakai kursi roda jika
"Bayinya tidak menangis," gumam seorang staf tanpa sadar. Dirinya baru menyadari kesalahannya saat sang rekan menyenggol lengannya, dan reflek menutup mulutnya.Sementara Reva serta sang dokter langsung memeriksa, dan wajah keduanya seketika berubah pucat berbalut panik. Leher bayi laki-laki Nadine terlilit tali pusat. Bagaimana bisa, padahal USG terakhir tidak menunjukkan hal tersebut.Pertolongan lekas dilakukan . Tali pusat dipotong dengan oksigen segera diberikan. Namun bayi mungil itu tak jua memberi respon, sedangkan saudarinya terus menjerit melengking.Suaranya terdengar sampai ke ruang tunggu di mana hampir semua anggota keluarga De Angelo plus Hermawan dan Heni ada di sana."Pak, kenapa cuma satu yang menangis?" Heni bertanya dengan kecemasan level tinggi pada sang suami. "Berdoa ya, Bu. Semua mohon doanya. Semoga Nadine dan bayinya diberi keselamatan."Semua orang lantas menundukkan, berdoa dalam hati masing-masing. Bahkan David, orang yang tak kenal kata doa ikut trenyuh
"La? Malah sudah pecah. Bukaan baru empat.""Kita masih bisa tunggu, Dok." Reva mengangguk paham, sebagai dokter dia tahu kalau mereka punya waktu dua puluh empat jam setelah ketuban pecah untuk melahirkan bayi, tanpa ada efek samping yang membahayakan bayinya.Meski kehamilan Nadine lemah di awal tapi semakin ke sini, kandungan Nadine menunjukkan kekuatannya. Hingga tidak ada masalah jika mereka harus menunggu lagi, tanpa perlu tindakan sesar."Sabar ya, aku tahu rasanya sakit. Tapi percaya deh, yang sedang kamu perjuangkan melalui rasa sakit ini adalah hal yang tak ternilai harganya."Nadine mengangguk mendengar ucapan Reva. Selang oksigen dan infus sudah terpasang, sebab tadi Nadine mengeluh sesak. Saat itulah ponsel Reva berdering. Perempuan itu melihat siapa penelponnya. Hingga dia menjawabnya di situ, tanpa berpindah tempat."Kenapa, Re?" Tanya Rafael dari ujung sana."Abang cepet ke rumah dah, anakmu tidak sabar ingin segera melihat dunia," balas Reva bersamaan dengan Nadine
"Aku tidak mau tahu!" Kalimat itu diiringi desisan penuh peringatan. Paras Rafael tampak menegang dengan ekspresi serius kentara di sana. Namun raut wajah itu berubah secepat detik bergulir, kala suara Nadine terdengar memanggil.Lelaki itu mencabut ear phone yang menempel di telinga, memasukkannya
Nadine hanya bisa bengong sepanjang sisa hari. Dia sama sekali tak bisa fokus. Otaknya dipenuhi oleh adegan saat Eva mendesah nikmat sembari membuka lebar dua kakinya di atas meja, sementara seorang pria tengah menghentaknya."Dasar brengsek!" Baru kemarin dia menikah, dan kini dia dihadapkan pada
Bertempat di sebuah ruangan privat di satu restoran. Beberapa orang tengah bertemu, pembicaraan serius sepertinya sedang terjadi."Pastikan semua aman, aku ingin semua berjalan lancar macam biasa." Seorang pria bertitah dengan lelaki lain membungkuk mengiyakan perintah atasannya."Dia pandai sekali
SAH!"Setelah ijab kabul selesai dilakukan, suasana haru menyelimuti ruang tamu sederhana yang dihiasi bunga-bunga segar.Akad nikah diadakan di rumah mempelai wanita dengan nuansa sederhana penuh kepedihan. Hanya dihadiri keluarga dekat, dan beberapa teman Nadine. Senyum terpaksa menghiasi wajah-












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม