MasukVinda adalah seorang wanita yang harus merasakan kepahitan diceraikan sang suami dengan alasan dirinya bukan wanita karier. Dia diceraikan setelah memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Tak ada pilihan lain, dia harus berjuang untuk ketiga anaknya yang tak memperoleh nafkah dari ayahnya yang langsung menikah lagi dengan wanita selingkuhannya. Di saat Vinda sudah mulai merasakan kebahagiaan dengan ketiga anaknya, muncul kembali keluarga mantan suami yang menginginkan salah satu anaknya karena ternyata istri baru mantan suaminya tidak bisa memberikan anak. Beruntung dia tak berjuang sendirian saat mempertahankan anaknya. Dia bertemu dengan laki-laki yang sangat pengertian dan menyayangi anak-anaknya yang bernama Rafli. Ternyata ujian tak berhenti disitu, wanita dari masa lalu suaminya mulai mengusik kehidupan bahagia Vinda dan Rafli. Bagaimana Vinda dan Rafli melewati semua ujian dalam kehidupan rumah tangga mereka? Baca selengkapnya kisah Diceraikan Karena Bukan Wanita Karier ini.
Lihat lebih banyakSuara pintu terbuka, Juan dan Pearl masuk kembali ke ruang tamu rumah pria itu.
Namun, tiba-tiba saja, adik dari sang kekasih menghampirinya. "Pearl maafkan aku kalau kau kekasih kakakku, karena dia tidak pernah menceritakan apapun tentang kau!"
Pearl tersentak, tetapi tak lama.Seketika, gadis cantik itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Peige. Aku harap kau cepat sembuh!" ujar Pearl. "Dan aku harap ada pendonor yang ikhlas mendonorkan ginjalnya padamu, Peige," sambungnya mengelus-elus pundak Peige.
Toh, wajar jika adik dari kekasihnya itu bersikap ketus karena perkenalan mereka belum benar.
Lagipula, Juan juga sudah memberi tahu keadaan gadis itu yang sebenarnya menyedihkan.
"Entahlah, Pearl. Aku sudah putus asa dengan penyakit ini. Sudah puluhan orang yang hendak mendonorkan ginjalnya, tetapi tidak ada satupun yang cocok padaku." Peige tampak sedih membuat Pearl kian merasa kasihan pada adik dari Juan itu. "Rasanya aku ingin mati saja, biar tidak lagi merasakan penyakit yang selalu menyiksaku." Dia mengambil pisau di meja di sampingnya. Lalu meletakan pisau di pergelangan tangannya, menekan hingga darah keluar dari goresan pisau yang tajam.Deg!
"Peige!!" Suara lantang berteriak terdengar menggema dari Juan dan wanita tua itu. Pearl pun ikut tersentak kaget melihat apa yang dilakukan Peige. "Apa yang kamu lakukan, Nak? Taruh pisau itu kembali di meja!" pinta wanita itu ketakutan. Ini di luar rencana dia dan Juan. "Gak ... Mungkin benar ini jalan satu-satunya agar aku tidak lagi merasakan penyakit ini terus menerus," kata Peige lirih. Pearl semakin merasa kasihan pada Peige, dia pernah di posisi Peige. Namun bukan tentang penyakit, tetapi tentang kemiskinan. Pearl pernah dirawat oleh kedua orang tua angkat yang serba kesusahan. "Gila ... apa kamu sudah gila, Peige! Letakan pisau itu sekarang juga. Kau tau kan aku dan Ibu sudah bersusah payah mencari pendonor agar kau bisa hidup lebih lama!" bentak Juan penuh emosi. Pearl hanya ketakutan pelihat aksi Peige yang terlalu frontal itu. "Sampai kapan, Kak? Sampai aku pelan-pelan mati digerogoti penyakit ini?" balas Peige seperti orang yang sudah tidak ada harapan hidup lagi. "Aku sudah capek, Kak! Aku sudah capek dengan penyakit ini, cuci darah, minum obat, muntah dan tidak pernah bisa menikmati makanan enak yang aku sukai. Jadi, bukankah lebih baik aku mati saja, Kak!" "Tidak sayang, Ibu mohon jangan menyerah. Kamu harus berjuang, Ibu dan kakakmu akan usahakan agar bisa menemukan pendonor ginjal untukmu yang cocok!" pinta wanita itu. "Ayolah sayang, Ibu tau kamu anak kuat. Ibu mohon bertahanlah sebentar lagi dan letakan pisau itu, demi Ibu dan kakakmu!" "Iya, Peige. Percayalah pada Ibu dan kakakmu ini, kami juga sedang berjuang mendapatkan mendonornya." Juan mendekati Peige pelan-pelan. "Jadi, kakak mohon sama kamu, letakan pisau itu. Aku ingin kamu segera berkumpul lagi di rumah!" sambungnya sudah memegang pisau itu. Lalu membuang jauh-jauh pisau itu dan memeluk Peige. "Maafkan aku, Kak. Maafkan aku sudah bertindak bodoh, aku hanya gak tahan menahan rasa sakit penyakit ini di tubuhku!" katanya sesegukan di pelukan Juan. "Iya, Kakak tau itu. Maaf, kakak belum bisa menemukan pendonor itu." Juan berusaha menenangkan batin Peige yang putus asa dengan penyakit yang sudah dia rasakan selama 3 tahun lamanya, dan selama itu juga perjuangannya seolah sia-sia buatnya. Tiap hari dia menunggu dan menunggu kabar baik dari kakak juga Ibunya serta dari rumah sakit untuknya, namun setiap hasil hanya bernilai nihil. "Juan ... coba kamu tanyakan dokter Harry. Siapa tau dia sudah menemukan pendonor lainnya untuk kita pilih untuk Peige," usul wanita itu. Juan mengangguk. Laki-laki itu melepaskan pelukannya pada Peige, "Sayang, aku ke ruangan dokter dulu!" "Tunggu sebentar, Juan." Henti Pearl menahan langkah kaki kekasihnya. "Kalian bisa mencoba memeriksa ginjal dan tipe darahku, siapa tau ginjal dan darahku cocok untuk Peige!" sambung Pearl. Pikirannya saat ini begitu kosong, batinnya sangat iba melihat kejadian tadi. Dia tidak bisa tidak menolak kala pikiran dan batinnya ingin menolong atau sekedar mencoba menjalani tes kecocokan darah dan ginjalnya untuk calon adik iparnya. "Maksud kamu, Pearl?" Kepura-puraan Juan terlihat. Padahal di lubuk hatinya, dia amat menyukai dan sudah menunggu kata-kata itu dari bibir perempuan lugu yang sedang dijebak olehnya. "Tes aku juga, siapa tau ginjal dan darahku cocok untuk Peige," jelas Pearl. Dia berharap bisa menolong gadis yang dianggap malang di hadapannya kini. "Aku tidak mau melihat calon adik iparku kesakitan tiap hari, apalagi aku ingin Peige bisa menghadiri pernikahan kita nanti. Berkumpul sebagai satu keluarga," lanjutnya sambil melangkah ke arah Peige. Digenggam erat tangannya. "T-tapi bagaimana dengan kamu nantinya, Pearl? Kamu akan hidup dengan satu ginjal, apa kamu bisa tahan, Pearl?" tanya Juan, dia sengaja seolah khawatir dengan keadaan pearl nantinya. Namun, hatinya sangat bahagia adiknya bisa hidup dari perempuan yang di mata dia terlihat sangat bodoh. Begitu dengan batin wanita tua dan Peige, merekalah yang paling bahagia mendengar ucapan Pearl yang sudah masuk dalam kejabakan Juan terlalu dalam. "Iya Pearl, itu pasti akan sangat menderita!" Wanita tua itu ikut nimbrung dengan pembicaraan keduanya. "Aku gak apa-apa, aku pasti bisa menahannya." Juan dan wanita itu saling memandang, awalnya berpura-pura bingung. Lambat laun wajah iblis mereka terlihat semakin jelas dengan senyuman licik yang menghiasi wajah mereka itu. "Kak Pearl ... terima kasih, terima kasih banyak kakak mau mendonorkan ginjalnya untuk aku. Aku pasti tidak akan bisa membalas semua kebaikan kakak padaku ini!!" Isaknya bersandiwara. Pearl semakin iba pada gadis melang namun sangat licik seperti kakak dan ibunya. "Tidak apa-apa Peige. Semoga ginjal dan darahku cocok untuk bisa didonorkan padamu," ujar Pearl. "Oiya, Juan, kapan aku bisa dicek?" "Sekarang pun bisa, tapi kalau kamu gak bisa sekarang gak---" "Ayo kita lakukan pemeriksaan sekarang, Juan!" ajak Pearl tanpa berpikir panjang. "Kita gak boleh menunggu lama-lama demi kesembuhan adikmu." Juan mengangguk, baginya ini jalan terang menuju kesembuhan adik satu-satunya itu. Pearl dan Juan keluar. Ibu Juan dan Peige tertawa, bersorak gembira akan mendapatkan ginjal dari Pearl secara gratis. "Ini menakjubkan, akting benar-benar luar biasa, sayang. Kita berhasil mengelabui perempuan bodoh itu dengan mudah," kata wanita tua itu kesenangan. "Iya Bu, aku tidak menyangka dia akan sebodoh ini!" ujar Peige. Mereka lalu berpelukan membayangkan betapa mudahnya menghancurkan Pearl! Wanita bodoh yang menjadi kekasih Juan! *****PERNIKAHAN Pernikahan yang cukup sederhana itu digelar di halaman belakang rumah Soraya yang megah. Tak ada pesta seperti kebanyakan orang dari kalangan atas, kali ini yang terlihat justru kesakralan yang tidak dapat disangkal oleh siapapun. Soraya mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan penutup kepala yang terlihat cantik menutupi rambutnya. Wanita itu tersenyum hangat pada kerabat yang datang menemuinya untuk memberi selamat.Tak ada keangkuhan sama sekali dari wajahnya. Wanita itu seolah terlahir sebagai sosok yang baru dalam kehidupannya. Sang Ibu, berkali-kali menyusut air mata yang mengalir tanpa henti di pipi. Dia tak menyangka anaknya akan menemukan tambatan hati dengan cara yang tak terduga sebelumnya.Laki-laki yang kini duduk sambil menggenggam tangannya itu pun terlihat bahagia. Salman, laki-laki yang merupakan teman sekolah anaknya saat duduk di bangku SMA itu ternyata diam-diam menyimpan perasaan khusus pada Soraya. Dokter yang pernah merawat luka-luka Soraya sa
SALMAN "Apakah aku menganggu?" "Langsung saja. Kau membuntutiku? Bagaimana bisa kau tahu aku di sini sedangkan aku tak memberitahu siapapun." Kuberanikan membalas tatapannya. Aku ingin mendengar jawaban darinya. Kota ini luas. Amat luas. Itulah yang membuatku yakin bahwa pertemuan kami kali ini bukanlah sebuah kebetulan. Amat sangat dipaksakan jika aku percaya seandainya Salman beralasan bahwa kedatangannya ke kafe ini hanya sebuah kebetulan semata. "Aku tidak suka dibuntuti seperti ini. Jangan beralasan bahwa kedatanganmu kemari hanya sebuah kebetulan. Aku tidak sebodoh itu ,dokter Salman." Sengaja kutekan kata 'dokter Salman' di akhir kalimatku. Kami memang berteman sudah cukup lama. Meski selepas Sekolah menengah atas aku tak pernah tahu lagi bagaimana kabarnya. Pertemuan kami diawali kembali sejak dia sudah bertugas sebagai seorang dokter di rumah sakit yang kudatangi. Sejak itulah aku seringkali bertemu dengannya. "Kenapa tak balas pesan dariku? Kau hanya membacanya tanpa be
MENEPI Perceraian Ayah dan Ibu membuat kabar mengejutkan semua orang. Siapa yang tak mengenal ayah, dia anggota dewan yang cukup disegani di kota ini. Bahkan dia sudah bersiap mencalonkan di bursa pemilihan kepala daerah tahun besok. Berita tersebut mewarnai pemberitaan lokal kota ini. Aku tak ambil pusing lagi. Penghianatan Ayah sudah tak bisa dimaafkan. Bagaimana dia setelah ini, aku berusaha tak peduli. Itu urusannya bersama Linda. Wanita yang dia gadang-gadang sebagai wanita idaman yang sesuai dengan impiannya. Aku hanya berkewajiban menjaga Ibu agar kejiwaannya tidak terguncang akibat perceraian ini. Sementara hidupku, aku sudah mulai menerima kenyataan bahwa sekolahku sungguh berbeda dengan sekolahku sebelumnya. Aku terbiasa melihat anak-anak berlarian saat guru sudah ada di dalam ruangan.Aku mulai berdamai dan bertekad memperbaiki hidupku. Aku belajar dari kesalahan-kesalahanku. Aku tak ingin mengulangi semua itu. Sekali waktu aku masih mendengar bagaimana kabar orang-ora
“Apapun itu, Soraya. Aku tetap mendukungmu untuk meminta kedua orangtuamu berpisah. Mereka tak akan menjadi keluarga yang utuh, terlebih ayahmu amat menyayangi wanita itu. Ada anak pula di antara mereka. Aku hanya kasihan pada ibumu jika terus-menerus bertahan dalam pernikahan yang sudah tak sejalan.” Akhirnya Kiran mengurai pendapatnya yang sama denganku. Wanita itu menatapku lekat-lekat. “Dukunglah ibumu, Soraya. Kau memang gagal menjadi wanita dan istri yang baik, tetapi aku yakin kau tak akan pernah gagal menjadi anak yang baik untuk kedua orangtuamu.” Hatiku bergetar mendengar kalimat bijak Kiran. Benar, aku memang sudah gagal menjadi seorang wanita. Aku gagal menjaga dan mempertahankan harga diri. Saat menjadi istri Mas Galih pun aku jauh dari kata sempurna. Aku pun mendapatkannya dengan cara yang amat hina. Bodohnya lagi, aku pun mengulangi hal yang sama terhadap Mas Arya dan Mbak Cintya. Aku berusaha menghancurkan rumah tangga mereka meski awalnya aku tak berniat sampai ke
Bab 8Diceraikan Karena Bukan wanita Karir ( 7 ) Bertemu Mantan Saat ini aku sudah tidak mau sibuk memikirkan hak atas penjualan rumah itu. Bahkan Mas Galih pun tidak bisa menunaikan keputusan pengadilan mengenai nafkah tiga juta untuk ketiga anaknya. Entah memang dilarang oleh Soraya, atau meman
Diceraikan Karena Bukan Wanita Karier BAB 7Kuputuskan untuk mengabaikan pesan darinya. Tak ada waktu untukku mengurusi keluarga itu lagi. Kutata paper box di depanku ke dalam box plastik besar agar mudah membawanya menggunakan motorku. Aku juga memastikan semuanya aman agar bungkus maupun isi mak
Bab 6Diceraikan Karena Bukan Wanita Karir ( 6 )Memulai Perjuangan Rencanaku mendapat restu dari ibu. Tanpa banyak tanya Ibu langsung menyanggupi untuk meminjamiku modal. Aku benar-benar berniat meminjam, akan kukembalikan setelah usahaku memperoleh keuntungan. Tadinya dia bersikeras untuk member
Langkah Baru VindaUsahaku untuk berdamai dengan keadaan bukan tanpa halangan. Sering sekali aku merasa putus asa dan kembali menyalahkan keadaan. Berkali-kali pula kusalahkan diri sendiri yang terlalu bodoh tidak mempersiapkan kemungkinan terburuk dalam berumah tangga. Tak jarang aku merutuki dir


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak