تسجيل الدخولVinda adalah seorang wanita yang harus merasakan kepahitan diceraikan sang suami dengan alasan dirinya bukan wanita karier. Dia diceraikan setelah memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Tak ada pilihan lain, dia harus berjuang untuk ketiga anaknya yang tak memperoleh nafkah dari ayahnya yang langsung menikah lagi dengan wanita selingkuhannya. Di saat Vinda sudah mulai merasakan kebahagiaan dengan ketiga anaknya, muncul kembali keluarga mantan suami yang menginginkan salah satu anaknya karena ternyata istri baru mantan suaminya tidak bisa memberikan anak. Beruntung dia tak berjuang sendirian saat mempertahankan anaknya. Dia bertemu dengan laki-laki yang sangat pengertian dan menyayangi anak-anaknya yang bernama Rafli. Ternyata ujian tak berhenti disitu, wanita dari masa lalu suaminya mulai mengusik kehidupan bahagia Vinda dan Rafli. Bagaimana Vinda dan Rafli melewati semua ujian dalam kehidupan rumah tangga mereka? Baca selengkapnya kisah Diceraikan Karena Bukan Wanita Karier ini.
عرض المزيد[Millicent]
People always say, "Can you remember when the problem started?"
I'd like to say, "Yes, Sir. You see there was this one moment where everything went wrong..."
But I cannot. I don't even know who I am.
I was not born Millicent Walker. That name was gifted to me when I showed up in the village of Crimson, covered in bruises, burns, and blood. I have no parents, no family, and no memory of my life before the age of seven, or however old I am--nobody is quite sure. My strange gold hair and hazel eyes made it obvious to those who first met me on the dusty road from the East that I wasn't from anywhere near the town of Crimson, or anywhere else along the Emerald Shore where the locals were fair of skin and light of eye. To them I was different, and to people with small minds and smaller experiences, there is nothing scarier than different, except for maybe the unknown, and I was a living representation of both. I was, and remain, a mystery.
With no one to care for me and no one to guide me, I spent the few months of my remembered life roaming the streets, eating other people’s leftovers, and wearing the scraps of fabric I arrived in. Eventually, somebody was able to trick me into the orphanage with the promise of a meal and a warm dry place to sleep, and while you’d think that would be a better place to land, you’d be wrong. It was the beginning of my real torture. I couldn’t even speak when I arrived. Words made no sense, my tongue unable to make the shape of their sounds. Not that I needed to understand their words when their fists and feet could communicate quite clearly that I was unwanted, or that I needed to move faster, or that I was clumsy and stupid. I didn’t talk for two years, and in that time they made sure I knew my place.
Once I began talking, I picked up the language quickly. They were amazed at how quickly. It’s part of why most of the town didn’t trust me. How could I go from being completely mute to ridiculously articulate within months of speaking? Anyone who met me would never assume I didn’t speak a single word before the age of nine.
The rumors of my strangeness didn’t stop with the mystery of my speech. Shortly after I began to talk, the orphanage began to farm me out to local households. Nobody wanted me anywhere near them, afraid that my brown skin and strange eyes were a disease they could catch. So I was given the lowest possible jobs, the ones farthest away from anyone else. Occasionally there would be someone who would offer me kindness, but then something strange would happen like a sick cow or a broken ankle, and people, looking for any reason to blame someone other than themselves, would look at me and see trouble. It wasn’t long before anytime someone became ill or lost something, I was the one to blame if I was anywhere near the person when it happened. So I learned to keep out of sight, stick to the shadows, and look down at my feet lest anyone believe a sideways glance caused a plague.
So it shouldn't have been that big of a surprise to anyone that I ended up here. When the village asked the dragon for help to cure a blight, a blight that everyone just assumed I created by just existing, they offered me up as a sacrifice. They probably thought that they were getting the better end of the deal. The dragon cured the blight, at least for a little while, and in return he got me. He wanted a “young virgin maid of marriageable age,” and I was the only girl that the town was willing to spare. I guess they decided I’d do, or maybe they were just hoping he’d be done with me so quickly he’d never know what a bad deal he had made.
Lucky me. The town finally thought I was good enough for something.
And that is how I find myself chained to this cart at the bottom of a hill looking up at the great stone castle of the local dragon prince, a beast no one has seen up close, a monster of legend no one has seen in the flesh, the only person with several days journey that is seen as being more of a mystery than myself. Nobody has ever seen him leave or enter his castle, not even his servants. Servants arrive, and servants leave, but when they come into town none of them can tell us anything about the lord they serve. The only evidence, they say, that they even have a lord to serve are the remains of his food, which he prefers alive.
A dark shadow, a black silhouette framed by the orange light of the full moon as it sets behind the dragon's castle, flies closer. My last thoughts as he approaches are about why he wanted a virgin. Why do dragons always ask for virgins? Is it because they want to devour them or defile them?
Not that it matters, chained as I am, there is nowhere for me to hide and no way for me to run.
I guess I'm about to find out the truth about all those rumors. Too bad I probably won't live long enough to tell anyone.
PERNIKAHAN Pernikahan yang cukup sederhana itu digelar di halaman belakang rumah Soraya yang megah. Tak ada pesta seperti kebanyakan orang dari kalangan atas, kali ini yang terlihat justru kesakralan yang tidak dapat disangkal oleh siapapun. Soraya mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan penutup kepala yang terlihat cantik menutupi rambutnya. Wanita itu tersenyum hangat pada kerabat yang datang menemuinya untuk memberi selamat.Tak ada keangkuhan sama sekali dari wajahnya. Wanita itu seolah terlahir sebagai sosok yang baru dalam kehidupannya. Sang Ibu, berkali-kali menyusut air mata yang mengalir tanpa henti di pipi. Dia tak menyangka anaknya akan menemukan tambatan hati dengan cara yang tak terduga sebelumnya.Laki-laki yang kini duduk sambil menggenggam tangannya itu pun terlihat bahagia. Salman, laki-laki yang merupakan teman sekolah anaknya saat duduk di bangku SMA itu ternyata diam-diam menyimpan perasaan khusus pada Soraya. Dokter yang pernah merawat luka-luka Soraya sa
SALMAN "Apakah aku menganggu?" "Langsung saja. Kau membuntutiku? Bagaimana bisa kau tahu aku di sini sedangkan aku tak memberitahu siapapun." Kuberanikan membalas tatapannya. Aku ingin mendengar jawaban darinya. Kota ini luas. Amat luas. Itulah yang membuatku yakin bahwa pertemuan kami kali ini bukanlah sebuah kebetulan. Amat sangat dipaksakan jika aku percaya seandainya Salman beralasan bahwa kedatangannya ke kafe ini hanya sebuah kebetulan semata. "Aku tidak suka dibuntuti seperti ini. Jangan beralasan bahwa kedatanganmu kemari hanya sebuah kebetulan. Aku tidak sebodoh itu ,dokter Salman." Sengaja kutekan kata 'dokter Salman' di akhir kalimatku. Kami memang berteman sudah cukup lama. Meski selepas Sekolah menengah atas aku tak pernah tahu lagi bagaimana kabarnya. Pertemuan kami diawali kembali sejak dia sudah bertugas sebagai seorang dokter di rumah sakit yang kudatangi. Sejak itulah aku seringkali bertemu dengannya. "Kenapa tak balas pesan dariku? Kau hanya membacanya tanpa be
MENEPI Perceraian Ayah dan Ibu membuat kabar mengejutkan semua orang. Siapa yang tak mengenal ayah, dia anggota dewan yang cukup disegani di kota ini. Bahkan dia sudah bersiap mencalonkan di bursa pemilihan kepala daerah tahun besok. Berita tersebut mewarnai pemberitaan lokal kota ini. Aku tak ambil pusing lagi. Penghianatan Ayah sudah tak bisa dimaafkan. Bagaimana dia setelah ini, aku berusaha tak peduli. Itu urusannya bersama Linda. Wanita yang dia gadang-gadang sebagai wanita idaman yang sesuai dengan impiannya. Aku hanya berkewajiban menjaga Ibu agar kejiwaannya tidak terguncang akibat perceraian ini. Sementara hidupku, aku sudah mulai menerima kenyataan bahwa sekolahku sungguh berbeda dengan sekolahku sebelumnya. Aku terbiasa melihat anak-anak berlarian saat guru sudah ada di dalam ruangan.Aku mulai berdamai dan bertekad memperbaiki hidupku. Aku belajar dari kesalahan-kesalahanku. Aku tak ingin mengulangi semua itu. Sekali waktu aku masih mendengar bagaimana kabar orang-ora
“Apapun itu, Soraya. Aku tetap mendukungmu untuk meminta kedua orangtuamu berpisah. Mereka tak akan menjadi keluarga yang utuh, terlebih ayahmu amat menyayangi wanita itu. Ada anak pula di antara mereka. Aku hanya kasihan pada ibumu jika terus-menerus bertahan dalam pernikahan yang sudah tak sejalan.” Akhirnya Kiran mengurai pendapatnya yang sama denganku. Wanita itu menatapku lekat-lekat. “Dukunglah ibumu, Soraya. Kau memang gagal menjadi wanita dan istri yang baik, tetapi aku yakin kau tak akan pernah gagal menjadi anak yang baik untuk kedua orangtuamu.” Hatiku bergetar mendengar kalimat bijak Kiran. Benar, aku memang sudah gagal menjadi seorang wanita. Aku gagal menjaga dan mempertahankan harga diri. Saat menjadi istri Mas Galih pun aku jauh dari kata sempurna. Aku pun mendapatkannya dengan cara yang amat hina. Bodohnya lagi, aku pun mengulangi hal yang sama terhadap Mas Arya dan Mbak Cintya. Aku berusaha menghancurkan rumah tangga mereka meski awalnya aku tak berniat sampai ke
Penjualan RumahBohong sekali jika aku bisa langsung kuat dan tegar menghadapi perceraian ini. Kehilangan separuh jiwa tentu bukan perkara mudah. Apalagi satu-satunya kesalahanku hanya karena tak memiliki karir. Setidaknya itulah yang selama ini mereka dengung-dengungkan. Tentu saja ada alasan lain
Surat dari Pengadilan Empat bulan pasca kepulanganku ke rumah kedua orang tuaku aku menerima sebuah surat dari pengadilan. Bisa ditebak, isinya adalah surat cerai yang menjadi keinginan Mas Galih dan keluarganya. Kuremas surat bersampul coklat itu. Hatiku mendidih membayangkan betapa puasnya mant
FlashbackTolong, Mas. Jangan lakukan ini. Kumohon. Ingat anak kita masih kecil-kecil, tolong Mas! Dan Zoya kau lihat, dia anak perempuan yang kita tunggu-tunggu kehadirannya." Berkali-kali aku hampir terjungkal saat tangan kekar Mas Galih mendorong tubuhku di depan rumah. Tak ada kelembutan sama s
Kedatangan Keluarga Mantan Aku duduk menghadap suami istri yang duduk berdampingan. Sang suami menegakkan tubuhnya di atas sofa ruang tamuku. Matanya berkali-kali mengalihkan pandangannya denganku saat kami bertatapan tanpa sengaja. Tangan sang istri bergelayut di lengan suaminya, menegaskan denga


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر