เข้าสู่ระบบTiga hari berlalu sejak pertemuan menjengkelkan di ruang rapat dewan klan dan dalam tiga hari itu pula, dunia bawah tanah Lebanon menyaksikan bagaimana murka seorang Malik Al-Fayed terwujud dalam bentuk abu dan kehancuran finansial.Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Zayn duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap layar televisi datar di dinding dengan tatapan kosong bercampur ngeri. Saluran berita internasional menyiarkan gambar langsung dari pesisir Laut Hitam. Kepulan asap tebal membubung ke langit malam Odessa, Ukraina. Tiga gudang logistik terbesar milik keluarga Madame Soraya rata dengan tanah akibat ledakan beruntun yang secara resmi disebut polisi lokal sebagai "kebocoran gas industri".Namun, semua orang di lingkaran dunia bawah tahu kebenarannya. Itu adalah eksekusi terencana. Kargo senjata selundupan bernilai jutaan dolar hangus tak bersisa. Saham perusahaan cangkang keluarga Soraya anjlok hingga titik nadir dalam hitungan jam. Keluarga itu bangkrut seketika
Sinar matahari telah lama tenggelam di ufuk Mediterania saat Amira perlahan membuka matanya. Kamar tidur utama itu hanya diterangi oleh lampu temaram di nakas. Hal pertama yang menyerbu indranya adalah aroma oud yang maskulin, pekat, dan mendominasi, aroma yang kini secara aneh memberikan efek menenangkan bagi sistem sarafnya yang sempat hancur.Amira mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan. Di kursi berlengan kulit di sudut ruangan, duduklah sang Iblis Beirut. Malik telah melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dihiasi beberapa bekas luka lama, bukti nyata bahwa tahta yang dia duduki dibangun di atas pertumpahan darah. Pria itu tengah memutar gelas kristal berisi bourbon di tangannya, menatap Amira dengan intensitas yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.Melihat Amira tersadar, Malik meletakkan gelasnya dan melangkah mendekat. Ranjang king-size itu sedikit melesak saat Malik duduk di tepinya."Kamu tidur cukup lama, Habibti," suara bariton Malik
Aroma oud yang pekat, maskulin, dan sarat akan dominasi menguar dari tubuh Malik, memenuhi ruang pertemuan utama klan Al-Fayed. Ruangan berdinding kayu mahoni gelap itu biasanya hanya menjadi saksi bisu pertumpahan darah dan negosiasi senjata. Namun siang ini, udara terasa sangat pengap oleh intrik picikan yang membuat rahang Malik mengeras.Di ujung meja bundar berukir, para tetua dewan, Bashir, Yusuf, dan Hamza duduk dengan wajah berkerut serius. Di seberang Malik, duduklah dua tamu yang kehadirannya di ruang sakral ini saja sudah membuat darah sang Capo mendidih. Ada Madame Soraya dan putrinya yang didandani bak boneka porselen, Layla.Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah sosok Bibi Najwa yang duduk di samping Paman Bashir. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun kerah tinggi bergaya Victoria, sengaja menutupi memar ungu bekas cengkeraman Malik di lehernya dengan senyum licik yang memuakkan terukir di bibir merahnya."Aliansi ini adalah langkah paling logis untuk klan
Najwa Al-Fayed melangkah menyusuri lorong remang-remang di sebuah vila kuno di pinggiran Baabda. Ini adalah tempat pertemuan rahasia para Consigliere tua, tiga pria yang telah mengabdi pada klan Al-Fayed sejak zaman kakek Malik masih menyelundupkan emas di pelabuhan. Mereka adalah penjaga tradisi, hakim moral, dan pemegang kunci restu dewan klan.Dengan leher yang dibalut syal sutra tebal untuk menyembunyikan memar keunguan bekas cengkeraman Malik, Najwa duduk di hadapan mereka. Napasnya masih terasa berat, namun dendam di dadanya jauh lebih menyesakkan."Paman Bashir, Paman Yusuf, Paman Hamza," suara Najwa bergetar, sengaja dibuat sedramatis mungkin. "Aku datang membawa aib yang akan menghancurkan fondasi klan kita jika tidak segera dihentikan."Bashir, pria tertua dengan janggut putih panjang dan mata yang sudah mulai keruh, menyesap kopi pekatnya perlahan. "Bicara namamu dengan tenang, Najwa. Apa yang membuatmu begitu gemetar?""Malik," desis Najwa. "Keponakan kita yang agung itu,
Lobi utama gedung klan Al-Fayed di pusat kota Beirut biasanya merupakan tempat yang tenang, simbol kemegahan dan otoritas. Namun, ketenangan itu pecah saat Bibi Najwa berlari masuk dengan napas tersengal. Riasan wajahnya yang mahal kini luntur bercampur air mata dan keringat, kalung mutiaranya yang bernilai ribuan dolar telah hilang separuh, meninggalkan lehernya yang memar kemerahan. "Tuan Zayn! Di mana Tuan Zayn?!" teriaknya histeris pada para penjaga yang kebingungan. Tanpa menunggu jawaban, ia menerjang masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai kantor eksekutif. Sepanjang perjalanan di dalam lift, tangan Najwa gemetar hebat. Bayangan mata Malik yang hitam dan dingin, mata seorang pembunuh yang tak memiliki nurani, terus menghantuinya. Ia merasa seolah tangan besar keponakannya itu masih melingkar erat di tenggorokannya, merenggut nyawanya inci demi inci. Pintu kantor Zayn terbuka dengan dentuman keras saat Najwa menabraknya. Zayn, yang sedang duduk lesu di balik meja kerjany
Sinar matahari sore menembus kaca antipeluru penthouse Apex Tower, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Amira berdiri di dekat meja dapur island, mencengkeram tepian marmer itu dengan buku-buku jari memutih. Kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya melilit perih.Sejak pusaran konflik ini dimulai dari rumah sakit, pelarian, hingga terkurung di menara gading Malik, selera makan Amira hancur lebur. Lambungnya yang kosong kini memprotes keras, diperparah oleh kecemasan yang terus menggerogoti kewarasannya.Di saat ia memejamkan mata mencoba menenangkan napasnya, denting halus lift pribadi terdengar memecah keheningan. Amira mengernyit. Ini terlalu cepat untuk kepulangan Malik dari Tripoli.Namun, alih-alih langkah kaki berat dan maskulin milik sang Capo, yang terdengar adalah ketukan nyaring sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer, disusul oleh suara lengkingan wanita paruh baya yang sangat familiar dan selalu membawa teror psikologis bagi Amira."Minggir, bodoh! Kamu
Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja
Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, di
Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratn
Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," pe







