แชร์

Bab 349. Rencana Pergi Berdua

ผู้เขียน: Te Anastasia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-06 15:47:29

"Tuan Duke ingin mengajak Anda pergi ke Valdenberg besok pagi, Nyonya Alice."

Ucapan Arshen membuat Alice membuka bibir dan mengerjap cepat. Pria itu menemui Alice di balai suaka anak siang ini.

Alice mengusap keningnya pelan. "Mengapa mendadak sekali? Padahal pagi tadi dia tidak mengatakan apapun padaku, Arshen," ujarnya.

Pria berambut pirang panjang itu tersenyum. "Anda, seperti tidak mengenal Tuan Duke saja," ujarnya.

"Ya ampun, bagaimana ya?" Alice menoleh ke belakang menatap anak-anak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 423. Menjadi yang Paling Dicintai

    Matahari sudah tinggi, sekitar pukul delapan pagi Allard dan Alice masih bergelung di bawah selimut di dalam kamarnya. Suara gemericik air mancur di taman istana, ditambah kicauan burung-burung pagi membangunkan Alice dari tidurnya yang lena setelah semalam ia dan Allard tertidur pukul tiga dini hari. "Engghh ... Jam berapa ini?" lirih Alice. Wanita merentangkan kedua tangannya, lalu Alice membuka mata dan tertunduk, ia menatap Allard yang tidur dalam pelukannya, pria itu menyembunyikan wajahnya pada dada Alice. Memang semalam Alice memeluknya erat-erat. Alice mengusap rambut hitam Allard dan terdiam melamun mendengarkan suara lonceng angin di balkon kamarnya. "Allard...." Alice menepuk pelan punggung suaminya. "Hm?" Allard bergumam malas. "Masih pagi, Sayang. Aku masih mengantuk," jawab pria itu. "Matahari sudah tinggi. Apakah kau tidak ada acara hari ini?" tanya Alice sambil mengusap punggung kekar sang suami."Ada," jawab pria itu. "Seharian di atas ranjang denganmu." "Ck!

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 422. Pelukan Terhangat

    Hari sudah malam, Allard perlahan-lahan melepaskan pelukan tangan Alice padanya. Hampir setiap tengah malam, Allard selalu kabur dari atas ranjang. Bukan tanpa alasan Allard melakukannya, karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sedangkan Alice selalu menempel padanya saat pagi dan siang bila Allard di rumah, sampai pria itu tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaannya. Allard keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni anak tangga menuju ke ruang kerjanya. Rupanya Arshen sudah berada di sana. "Selamat malam, Yang Mulia," sapa Arshen saat melihat Allard. "Hm. Kau sudah dari tadi?" tanya Allard pada tangan kanannya tersebut. "Sudah, Yang Mulia." Arshen menatap Allard yang kini duduk di kursi kerjanya dan membuka beberapa lembaran demi lembaran kertas. "Yang Mulia, Nyonya Alice mendapatkan surat dari Grandvilles," ujar Arshen. Pria berambut pirang diikat itu berjalan mendekati Allard dan meletakkan sebuah surat di hadapannya. "Dari Pangeran Alexander untuk Nyonya

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 421. Apapun Untuk Istriku

    Semenjak kabar kehamilan Alice didengar oleh beberapa keluarga besar bangsawan Raszberg, setiap hari para rekan Alice, khususnya para wanita dari keluarga bangsawan datang membawakan sesuatu untuknya. Alice yang begitu baik pada semua rekannya, mendapatkan balasan yang sama dari mereka semua. Ada yang membawakannya makanan manis, buah-buahan, hingga hadiah berupa barang-barang untuknya sampai untuk bayi Alice nanti. Di ruang tamu istana barat, Alice berbincang dengan Lady Jane James yang datang bersama Viscountess Veronica. "Awalnya saya pikir pelayan pribadi saya membawa berita palsu tentang kehamilan Anda, Yang Mulia Nyonya Duchess, ternyata kabar itu benar adanya." Lady Jane James tersenyum manis menatap Alice. "Aku juga berpikir begitu, Lady Jane," sahut Viscountess Veronica.Alice membalas senyuman manis mereka. "Terima kasih, kalian sudah menyempatkan waktu untuk bertemu denganku di sini, dan sampai repot-repot kemari membawakanku banyak hadiah seperti ini." "Ini bukan hal

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 420. Kau Jauh Lebih Spesial

    "Apa, Ayah?! Xander mau punya adik?!" Pekikan keras itu berasal dari arah dua anak yang duduk di ruang tamu kediaman Allard. Xander dan Tricia baru saja pulang jalan-jalan bersama Tricia dan Arshen. Mereka semua terkejut saat mendengar kabar kehamilan Alice yang Allard sampaikan. Allard mengangguk. "Ya, saat ini Ibu kalian sedang hamil." Lisa dan Arshen terkejut, sekaligus juga merasa sangat bahagia. "Ya ampun, kita benar-benar mau punya adik!" seru Xander tersenyum lebar. "Senangnya...." Tricia langsung berjalan mendekati Alice dan memeluknya dengan erat, diikuti oleh Xander. Alice membalas pelukan kedua anak itu. Xander dan Tricia sangat gembira, hal ini adalah sesuatu yang mereka inginkan dari lama. "Mulai sekarang, Ibu harus banyak istirahat. Ibu tidak bisa terlalu lama menemani kalian bermain," ujar Alice pada kedua anaknya. "Tidak apa-apa, Bu. Kan ada Kak Lisa!" seru Tricia menunjuk ke arah Lisa. Alice memperhatikan gadis yang kini berjalan mendekat padanya dan terseny

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 419. Hadiah dari Tuhan

    Alice kembali ke kamarnya setelah selesai sarapan. Allard menemaninya sambil menunggu dokter datang. Alice menatap Allard yang kini menekuk kedua lututnya di hadapan Alice. Wanita itu cemberut menatapnya. "Kenapa kau malah cemberut?" tanya Allard, walaupun lemas dia masih tersenyum. "Kalau aku benar-benar hamil, tapi kalau kau yang merasakan semua keluhannya. Aku merasa bersalah," lirih Alice tertunduk sedih. Allard terkekeh, ia mengusap kepala Alice dan mengecup pipi wanita cantik itu. "Memangnya kenapa kalau aku yang merasakannya, Sayang? Ini 'kan anak kita ... justru lebih baik aku yang merasakannya," jawab Allard menenangkan Alice. "Berdoalah, semoga kita benar-benar diberikan keturunan oleh Tuhan." "Heem." Alice mengangguk kecil. Ia menatap Allard yang kini tersenyum padanya. "Bisakah kau memelukku?" "Tentu saja, Sayang." Allard beranjak dan duduk di samping Alice, ia memeluk sang istri dan mengecup pucuk kepalanya. Setelah Allard ingat-ingat, memang akhir-akhir ini Alic

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 418. Tanda-tanda Kabar Bahagia

    Hari demi hari telah berlalu, dari musim semi hingga tiba-tiba hari sampai ke musim panas. Alice dan Allard perencana akan kembali ke kediaman Duke hari ini, setelah mereka meninggalkan kastil Duke cukup lama. Segala persiapan hendak mereka siapkan di tengah kesibukan keduanya. Alice yang masih sibuk dengan kegiatan dan tugas-tugasnya, begitu juga dengan Allard. "Allard, apakah hari ini kau hadir dalam acara pertemuan?" tanya Alice menatap sang suami. Allard yang kini duduk di tepi ranjang di dalam kamarnya, terdiam menunduk memijit pelipisnya. Alice berjalan mendekati, menyentuh pundaknya. "Sayang ... kenapa? Kau sakit?" tanyanya. "Kepalaku sangat pusing setiap pagi," jawab Allard. "Badanku juga panas dingin, mataku sangat berat." Alice menyentuh kening Allard dengan telapak tangannya. "Tidak demam padahal," cicit Alice. "Aku akan memanggil dokter saja kalau begitu." "Tidak perlu, Sayang." Allard menahan lengan Alice. "Hanya pusing biasa. Tidak perlu khawatir. Sepertinya aku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status