LOGINSuasana di dalam mobil menjadi senyap. Hanya derap roda mobil yang terdengar dari luar, berpadu dengan embusan angin musim gugur yang dingin. Selene bersandar perlahan, menatap keluar jendela, sementara pikirannya berputar.
Kata-kata Dirian barusan masih terngiang di kepalanya — tidak ada yang boleh melihatnya selain aku.
Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti kepemilikan sekaligus penjara.
“Kenapa diam?” tanya Dirian tiba-tiba tanpa menoleh.
Selene menatapnya singkat. “Aku hanya tidak tahu harus bicara apa. Kau tidak suka semua yang kulakukan.”
Dirian menarik napas, matanya menatap lurus ke jalan di depan. “Bagus, Aku tidak suka ketika orang lain memandangmu.”
Wajah Morvena memerah. Semburat merah muda naik ke pipinya, membuat rautnya tampak jauh lebih lembut dari biasanya. Ada rasa senang yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan, namun ia segera menggeleng pelan, seolah ingin menepis bayangan yang terlalu besar untuk diucapkan.“Jangan katakan hal-hal seperti itu,” ujarnya pada Ilard, suaranya halus namun tegas. “Itu bisa membuat orang salah paham. Mana mungkin aku yang bahkan tidak mengerti apa pun tentang dunia bangsawan menjadi duchess. Posisi itu milik istri sah Dirian.”Annie menatapnya dengan mata berbinar, seolah mendengar sesuatu yang justru membuatnya semakin bersemangat.“Justru karena itu Anda tidak seharusnya berkata demikian,” katanya cepat. “Saya akan sangat senang jika suatu hari menjadi pelayan seorang duchess.”
Dirian menatap Viviene dengan sorot mata yang dingin namun lelah. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan.Viviene tertawa pendek, tanpa humor. Wajahnya mengeras, matanya menyala oleh amarah yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau mencium wanita yang bukan istrimu,” ucapnya tajam. Setiap kata keluar seperti pisau. “Di hadapanku. Di kastil ini.”Ia menatap Dirian penuh kebencian dan di baliknya, kecemburuan yang pahit dan menyakitkan. Ia membencinya karena masih peduli dan Ia membenci dirinya sendiri karena hal itu.Dirian tidak mengelak dan tidak pula meminta maaf.“Aku hanya manusia,” jawabnya datar. “Dan terlebih lagi, aku lelaki. Melihat wanita secantik itu… wajar jika aku tertarik.&rdq
Viviene menatap Selene tatapan yang kali ini tidak lagi setajam sebelumnya. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang retak dan berantakan, seolah semua keberanian yang barusan ia pamerkan runtuh dalam satu detik. Selene bisa melihatnya dengan jelas, ejekan di wajahnya hanyalah topeng. Di baliknya, perasaan Viviene jauh lebih kacau daripada yang ia biarkan terlihat.Viviene akhirnya menunduk.Selene tidak tersenyum. Suaranya justru tenang, terlalu tenang. “Viviene,” katanya pelan, “selama ini aku tidak pernah hidup dengan cinta Dirian. Dan kau tahu itu.”Viviene masih menunduk.Ia menoleh sedikit, seolah kata-kata berikutnya sudah lama berdiam di dadanya. “Jadi entah ada wanita baru, atau kau sekalipun yang kembali… semuanya sama saja bagiku.”
Selene membeku.Waktu seolah berhenti.Dagny mencengkeram pakaian Selene lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dada ibunya, bahunya naik-turun menahan isak.“Ayah tidak mau kami lahir,” bisiknya lirih. “Mereka bilang… ayah membunuh anak-anaknya sendiri.”Dirian mundur setengah langkah.Seumur hidupnya, ia menghadapi perang, pengkhianatan, kematian namun tidak satu pun yang menamparnya sekeras kata-kata itu. Wajahnya memucat, bibirnya terbuka namun tak ada suara yang keluar.“Apa… siapa yang mengatakan itu padamu?” tanyanya akhirnya, serak.Baru saja Divrio akan menjawab,
Kata-kata itu jatuh seperti racun.Salah satu ibu pengasuh terisak tertahan. Daisy memucat, tangannya bergetar memegang keranjang. Annie menunduk dalam, sementara Sven mengepalkan tangan menahan amarah yang bukan haknya untuk diluapkan.Dagny menatap Divrio, matanya membesar.“Kak…?” bisiknya polos.Divrio tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya menatap Viviene tanpa gentar, tatapan anak kecil yang dipaksa tumbuh terlalu cepat oleh kebencian orang dewasa.Morvena akhirnya bergerak.Ia menoleh ke arah Viviene, tatapannya tajam, dingin, dan berbahaya. “Cukup,” katanya pelan, namun cukup untuk membuat udara bergetar.Semua orang masih membeku.
Morvena mengangguk dengan senyuman mengembang. “Terima kasih, Dirian.”Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu terbuka, Sven yang sejak tadi menunggu langsung menegakkan tubuhnya.“Ayo,” kata Morvena padanya. “Temani aku.”Sven menunduk patuh dan mengikutinya pergi.Dirian bangkit dari tempat duduknya.Langkahnya keluar dari ruang kerja terasa lebih berat dari biasanya. Lorong kastil yang panjang menyambutnya dengan bisik-bisik yang tak lagi disembunyikan. Nama itu Viviene mengalir dari mulut ke mulut, dari pelayan ke penjaga, seperti bayangan lama yang dipaksa bangkit kembali.Dirian mendengarnya. Namun ia memilih meng







