เข้าสู่ระบบDior membeku.Siera tidak mengatakan itu sebagai ancaman. Ia mengatakannya karena benar-benar merasa tidak sanggup menghadapi apa pun lagi.Dior merasakan sesuatu yang sangat asing menyentuh pikirannya karena perempuan di hadapannya sedang berusaha menjauh darinya, dan Dior tidak tahu bagaimana cara menghentikannya tanpa membuat keadaan semakin buruk."Siera."Siera tidak menjawab. Ia hanya menatap Dior beberapa detik, kemudian berbalik dan berjalan pergi dan Dior tetap berdiri di tempatnya.Ia bisa saja memerintahkannya untuk berhenti, bisa saja mengejarnya dan bisa saja menggunakan kedudukannya sebagai Kaisar untuk membuat Siera tetap berada di sisinya. Namun ia tahu semua itu tidak akan menyelesaikan apa pun.Dior tahu itu.Yang tidak ia ketahui adalah satu hal. Apa yang sebenarnya pernah terjadi kepada Siera sampai sebuah mahkota membuatnya terlihat seperti sedang berhadapan dengan kematian?Dior tidak memiliki jawaban. Ia hanya berdiri di koridor yang semakin sunyi, menatap pungg
Dior terdiam.Tidak ada perubahan besar di wajahnya. Hanya sorot matanya yang sedikit mengeras ketika melihat tangan Siera yang masih gemetar di atas kain gaunnya. Ia telah menduga banyak kemungkinan. Siera mungkin akan meminta waktu untuk berpikir. Mungkin menolak karena merasa belum siap. Mungkin mengatakan bahwa menjadi Ratu adalah tanggung jawab yang terlalu berat baginya.Namun bukan seperti ini.Siera tidak sekadar menolak, ia terlihat takut.Bukan ketakutan kecil yang muncul karena terkejut mendengar sebuah lamaran. Ketakutan itu terlalu dalam dan terlalu nyata, sampai-sampai Dior bisa melihat bagaimana napas Siera berubah, bagaimana bahunya menegang, dan bagaimana perempuan itu berusaha keras menyembunyikan gemetar di tangannya sendiri.Dior perlahan menurunkan pandangan kepada jemari tersebut, kemudian kembali menatap wajah Siera."Siera."Tidak ada jawaban.Dior menunggu beberapa detik."Kenapa?"Siera menelan ludah.Ia ingin menjawab dengan tenang. Seperti yang selama ini s
Siera terdiam.Barulah ia memahami bahwa bahkan sebuah surat sederhana pun mungkin bisa menjadi celah yang membahayakan dirinya sendiri. Jika seseorang mengetahui bahwa Dior masih berhubungan dengannya, maka Siera pun bisa ikut terseret ke dalam persoalan yang sedang dihadapi lelaki itu.Siera menghela napas."Saya tetap marah."Dior kembali menatapnya."Tapi sekarang Anda sudah kembali. Jadi jangan lakukan itu lagi."Dior tidak mengatakan apa-apa. Siera mengira lelaki itu tidak akan memberikan jawaban. Namun setelah beberapa saat, Dior akhirnya mengangguk kecil."Baik."Siera menatapnya, jawaban sesingkat itu seharusnya tidak berarti banyak. Namun entah mengapa, kali ini Siera merasa cukup. Ia kemudian teringat sesuatu dan kembali memandang Dior dengan lebih serius."Dan satu hal lagi."Dior menunggu."Jangan mengatakan bahwa Anda hanya akan menjadi Kaisar untuk sementara seolah-olah semuanya bisa selesai begitu saja."Dior diam."Apa pun yang akan Anda lakukan setelah ini, pikirkan
Siera terdiam.Jemarinya berhenti bergerak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ada sesuatu dalam suara Dior yang membuatnya tidak sanggup mengeluarkan pertanyaan atau nasihat seperti yang semula ingin ia sampaikan.Siera hanya berdiri di sana dan membiarkannya. Pelukan Dior perlahan menjadi sedikit lebih tenang, tetapi belum juga terlepas. Seakan-akan lelaki itu hanya membutuhkan beberapa menit untuk tidak memikirkan apa pun selain kehangatan yang ada di dalam pelukannya.Siera akhirnya menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Dior."Kalau begitu..." ucapnya lirih, "istirahatlah sebentar."Dior tidak menjawab, lengannya yang melingkari tubuh Siera sedikit mengendur, bukan untuk melepaskan, melainkan membuat pelukan itu terasa lebih nyaman.Siera memejamkan mata dan membiarkan Dior tetap berada di sana selama yang ia perlukan.Dior masih memeluknya. Siera tidak tahu sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu. Ia hanya bisa merasakan lengan lelaki itu yang masih melingkar erat di tu
Siera terdiam. Yelian meliriknya, sementara Dregory hanya menatap Dior dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ia jelas tidak senang melihat putrinya dibawa pergi setelah malam panjang itu.Menyadarinya, Siera segera menoleh kepada ayahnya."Ayah..."Dregory memandangnya.Siera tersenyum kecil, berusaha menenangkan lelaki itu."Tidak apa-apa. Aku hanya akan berbicara sebentar dengan Yang Mulia."Dregory masih diam. Ia jelas tidak rela, tetapi sebelum sempat berkata apa pun, Dior sudah mendekat dan menatapnya dengan mata merahnya."Apa kau akan melawan perintahku, Duke?"Dregory terdiam. Yelian yang berdiri di sampingnya bahkan menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil.Dregory hanya memandang Dior beberapa saat. Dalam hati ia menggerutu.Kurang ajar.Dulu ia masih bisa memperlakukan Dior sebagai Grand Duke muda. Mereka bebas berdebat, saling mengancam, bahkan Dregory masih bisa menyuruhnya pulang jika sudah bertindak terlalu jauh.Namun sekarang, Dior adalah Kaisar. Dregory
Ketika istana mulai sepi, Siera dan Yelian masih berdiri di depan pintu utama. Para bangsawan sudah pergi, sementara para pelayan dan prajurit masih membereskan kekacauan malam itu. Beberapa kereta juga telah meninggalkan halaman, tetapi mereka masih menunggu Dregory keluar setelah urusannya dengan Dior selesai.Siera beberapa kali melirik pintu yang masih tertutup, lalu menoleh kepada kakaknya."Kak, apakah Ayah akan lama?"Yelian yang bersandar ringan pada salah satu tiang di dekat pintu menatapnya. Ia mengangkat bahu pelan."Aku tidak tahu. Kalau kau ingin kembali, ayo kita pulang lebih dulu."Siera terdiam, tapi matanya kembali menatap pintu istana.Yelian memperhatikannya. Ia tahu Siera masih berdiri di sana bukan hanya untuk menunggu Dregory. Sejak keluar dari ruang sidang, perhatian Siera terus tertuju ke istana, seolah ia masih menunggu seseorang.Yelian akhirnya mendekatinya."Dior menjadi Kaisar."Siera perlahan menoleh kepadanya.Yelian melanjutkan dengan nada tenang, "Aku
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh







