Entre ses griffes

Entre ses griffes

last updateLast Updated : 2026-04-13
By:  DarknessUpdated just now
Language: French
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
57Chapters
894views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Entre ses griffes Elle a lutté , mordu , gratté , supplié. Mais il l’a quand même prise. Et il n’a jamais eu l’intention de la rendre. Alyssa Bennett, jeune médecin urgentiste à Houston, pensait avoir tout vu : le sang , la peur , la mort. Jusqu’à ce qu’elle tente de sauver le mauvais homme. Un patient inconscient, criblé de balles, escorté par des ombres aux regards vides. Et lui. Silas Cruz. Le nom qu’on murmure avant de mourir. Chef impitoyable du cartel mexicain de Sombra Roja. Un homme pour qui la vie ne vaut que si elle plie sous ses ordres. Il aurait pu l’éliminer. Mais il l’a trouvée belle dans sa colère. Intrigante dans sa révolte. Alors il l’a volée. Arrachée à sa vie, à son pays, et enfermée dans son domaine au cœur du Mexique , un manoir doré aux murs tachés de sang. Alyssa devient sa captive. Mais elle refuse de courber l’échine. Elle se débat, frappe, crie. Elle le hait. Le défie. Et Silas adore ça. Il aime la guerre qu’elle lui livre. Il veut la briser lentement, jusqu’à ce qu’elle le supplie de rester. Et sous la peur, la douleur, le poison d’un désir interdit s’insinue. Parce que ce qu’il veut n’est pas seulement son corps. C’est sa soumission. C’est sa lumière. C’est la faire sienne… jusqu’à l’obsession. Mais quand deux bêtes se déchirent, ce n’est jamais sans conséquences. Et parfois, ce n’est pas celui qui possède le plus d’armes… qui gagne.

View More

Chapter 1

Chapitre 1 : Le Prix du Sang

Gabriella diam-diam mengirim wanita simpanan Nigel ke luar negeri tanpa sepengetahuan pria itu.

Malam itu juga, Nigel menculik orang tua Gabriella. Dia ingin menggunakan nyawa orang tua Gabriella untuk menukar keberadaan wanita simpanannya.

Nigel mendorong ponselnya ke hadapan Gabriella. Di layar, kedua orang tuanya terikat di kursi dan di dada mereka ditempelkan bom dengan penghitung waktu. Angka hitung mundur di layar terus berkurang detik demi detik.

00:59:59

00:59:58

Pria itu duduk di seberangnya dengan mengenakan setelan rapi. Jari-jarinya yang panjang mengetuk meja dengan ringan, seolah sedang menunggu seseorang menandatangani kontrak yang sama sekali tidak penting.

"Gab, kamu masih punya 59 menit." Nada bicaranya tenang, bahkan sedikit lembut. "Katakan padaku, ke mana kamu kirim Della?"

Seluruh tubuh Gabriella terasa dingin. Tenggorokannya seperti tercekik hingga tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Ini sudah ketiga kalinya Nigel menanyakannya.

Pertama kali, dia bertanya ke mana Della pergi, dan Gabriella memilih diam.

Kedua kali, Nigel mencengkeram dagunya dan ibu jarinya mengusap bibir Gabriella sambil bertanya dengan suara rendah, "Gabriella, jangan buat onar."

Sekarang, yang ketiga kalinya. Dia menggunakan nyawa orang tua Gabriella untuk memaksanya bicara.

"Nigel ...." Suara Gabriella gemetar, "Itu orang tuaku. Mereka orang paling penting dalam hidupku ...."

Nigel terkekeh pelan, tetapi tatapannya tampak dingin dan menakutkan. "Begitu ya? Kalau begitu, waktu kamu mengirim Della pergi, kenapa kamu nggak memikirkan betapa pentingnya dia bagiku?"

Gabriella menatap Nigel dengan tajam dan tiba-tiba merasa semuanya terasa konyol.

Penting?

Nigel pernah berkata bahwa wanita di luar hanya untuk bersenang-senang, kalau sudah bosan bisa dibuang kapan saja. Dia pernah berkata bahwa Gabriella-lah orang yang paling dia cintai.

Namun sekarang, Nigel ingin membunuh orang tua Gabriella demi Della.

"Nigel ...." Suara Gabriella serak tak karuan, "Kalau aku nggak bilang, kamu benar-benar mau bunuh mereka?"

Nigel sedikit mencondongkan tubuh, mata hitamnya memantulkan wajah Gabriella yang pucat. "Kamu boleh coba."

Tubuh Gabriella gemetar hebat, air matanya jatuh menghantam permukaan meja. Dia tidak mengerti, kenapa semuanya bisa menjadi seperti hari ini.

Jelas-jelas Nigel dulu pernah mencintainya dengan begitu nyata.

Dulu, Gabriella hanya gadis dari keluarga biasa. Sementara Nigel adalah pewaris keluarga konglomerat papan atas di ibu kota, sejak lahir sudah menjadi anak kebanggaan yang angkuh dan berkelas, tidak pernah mengalah kepada siapa pun.

Namun, dia malah jatuh cinta pada Gabriella pada pandangan pertama.

Saat mendekati Gabriella, terjadi kehebohan di seluruh kota. Sembilan puluh sembilan kali dia menyatakan cinta dan setiap kali selalu mengguncang seluruh kota.

Helikopter menjatuhkan karangan mawar raksasa dari langit dan seluruh jalan distrik finansial dipenuhi layar LED yang menampilkan pengakuan cintanya. Bahkan pada hari ulang tahun Gabriella, dia membuat kembang api di seluruh kota merekah hanya untuk wanita itu.

Gabriella akhirnya tergerak. Namun, orang tuanya menentang dengan tegas.

Mereka tahu persis seperti apa dunia keluarga konglomerat. Meski ada istri sah di rumah, selalu saja ada simpanan di luar sana. Cinta para pewaris keluarga kaya tidak benar-benar seperti dongeng.

Mereka ingin menikahkan Gabriella dengan orang yang setara secara status. Namun, Nigel langsung berlutut di depan rumah mereka selama satu hari satu malam. Dia melepaskan semua harga dirinya, hanya demi memohon kesempatan untuk menikahi Gabriella.

Akhirnya, orang tuanya luluh.

Setelah menikah, Nigel memanjakannya sepenuh hati dan selalu mengalah dalam segala hal.

Saat dia mengalami nyeri haid, Nigel langsung terbang pulang dari luar negeri di malam hari hanya untuk memasakkan semangkuk air gula merah untuknya.

Ketika Gabriella bercanda mengatakan ingin makan kue kastanye dari bagian barat kota, Nigel mengemudi memutar setengah kota hanya untuk membelinya.

Gabriella mengira, dirinya telah menikah dengan orang yang tepat.

Sampai suatu hari, dia pertama kali mendengar nama "Della".

Saat itu, asistennya sedang mengobrol santai dengannya. Katanya, ada seorang mahasiswi yang sengaja jatuh di depan Nigel saat dia sedang berpidato dan mencoba mendekati Nigel dengan cara basi.

Gabriella hanya tersenyum dan tidak terlalu memikirkannya. Bagaimanapun juga, terlalu banyak wanita yang ingin mendekati Nigel. Namun, Nigel selalu menjaga dirinya.

Akan tetapi, saat kedua kalinya dia mendengar nama itu, kejadiannya malah di atas ranjang.

Nigel berada di atas tubuhnya. Saat gairah memuncak, dia memanggil dengan suara rendah, "Della."

Pada saat itu, rasanya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Gabriella menanyainya dengan marah, tetapi Nigel memeluknya dan menjelaskan bahwa memang dia pernah terpikir untuk menjadikan Della sebagai wanita simpanan, tetapi hanya untuk bersenang-senang di luar.

"Orang-orang di kalangan kita memang begitu, Gab. Orang yang paling aku cintai tetap kamu. Itu nggak akan pernah berubah."

Namun setelah itu, Nigel semakin tidak terkendali. Dia membelikan perhiasan untuk Della, menghadiahkan rumah mewah, bahkan membawanya ke pesta pribadi. Skandal mereka menyebar ke seluruh kota.

Gabriella pernah menangis dan marah, tetapi Nigel tidak lagi menenangkannya seperti dulu. Dia hanya berkata dengan dingin, "Jangan cari-cari masalah, deh."

Akhirnya, Gabriella tidak tahan lagi dan mengirim Della ke luar negeri.

Namun, dia tidak menyangka reaksi Nigel akan sebesar itu. Nigel menculik orang tuanya dan memasang bom di tubuh mereka, hanya untuk memaksanya mengatakan di mana Della berada.

"Dia di Swiss." Akhirnya dia berbicara dengan suara gemetar. "Di Zurich, vila atas namaku."

Nigel menatapnya beberapa detik, seolah menilai apakah dia berbohong atau tidak. Setelah itu, Nigel mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

Setelah memastikan semuanya, Nigel mengambil jasnya dan berjalan cepat hendak menjemput orang itu.

"Orang tuaku gimana?" Gabriella tiba-tiba menarik lengan bajunya dan berkata, "Kamu sudah berjanji, asalkan aku mengatakan semuanya, kamu akan melepaskan mereka!"

Nigel menoleh menatapnya dengan sorot mata tanpa emosi. "Pabrik terbengkalai di selatan kota. Cari sendiri."

Gabriella terhuyung-huyung berlari keluar, lalu mengemudi langsung menuju selatan kota.

Saat Gabriella menemukan mereka, bomnya hanya tersisa sepuluh menit lagi.

Ayah dan ibunya diikat di kursi dan mulut mereka disumbat. Begitu melihatnya, mereka langsung menggeleng keras, memberi isyarat agar dia segera pergi.

Gabriella berlari mendekat dan berusaha membuka tali yang mengikat mereka dengan tangan gemetar. Namun, bunyi hitung mundur bom itu seperti panggilan kematian yang terus berdetak.

00:03:21

00:03:20

Gabriella tidak bisa membukanya. Air matanya terus mengalir karena panik.

Tiba-tiba, ayahnya mendorongnya dengan keras. Dia terhuyung mundur dan pada detik berikutnya, ayahnya menghantamkan tubuhnya ke arah bom itu.

"Ayah!!!"

Suara ledakan memekakkan telinga. Gelombang panas langsung menghantam tubuhnya. Dia terpental jatuh ke tanah dan pandangannya dipenuhi warna merah darah.

....

Saat tersadar kembali, Gabriella sudah berada di rumah sakit. Ayah dan ibunya mengalami luka berat, tetapi untungnya mereka masih hidup. Dia berlutut di depan ranjang rumah sakit, menangis sambil meminta maaf.

"Maaf ... aku memilih orang yang salah ...."

Ibunya mengangkat tangan dengan lemah dan mengusap rambutnya.

"Anak bodoh, mulai saja lagi dari awal."

Gabriella menggeleng. "Dia nggak akan membiarkanku pergi."

Sejak pertama kali mengetahui keberadaan Della, Gabriella sebenarnya tidak sanggup menerimanya. Bukan berarti dia tidak pernah berpikir untuk bercerai. Namun, setiap kali dia menyusun sebuah perjanjian perceraian, Nigel selalu merobeknya.

Nigel berkata bahwa hubungannya dengan Della hanya untuk bersenang-senang. Jika sudah bosan, dia akan meninggalkan wanita itu. Cinta sejatinya tetap Gabriella dan dia tidak akan pernah membiarkannya pergi.

Ayah Gabriella menggenggam tangannya.

"Nggak, Gabriella. Ada satu hal yang kamu nggak tahu dan mungkin dia juga sudah lupa. Malam waktu dia datang melamar dan kamu setuju menikah, aku dan ibumu sudah membuatnya menandatangani sebuah perjanjian perceraian."

Gabriella tertegun.

"Kalau suatu hari dia mengkhianatimu, perjanjian itu langsung berlaku. Kamu bisa langsung bercerai. Dan keluarga kita ... akan menghilang selamanya."

Gabriella terpaku. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ternyata, sejak awal orang tuanya sudah menyiapkan jalan keluar untuknya.

....

Keesokan harinya, Gabriella melakukan dua hal.

Yang pertama, dia bersama ayah dan ibunya membawa perjanjian perceraian yang sudah ditandatangani itu ke kantor pengacara.

Setelah membacanya, pengacara itu mengangguk. "Perjanjian ini sah. Perceraian bisa langsung berlaku."

Yang kedua, mereka sekeluarga pergi mengurus penghapusan data kependudukan.

Begitu prosedur itu selesai, di dunia ini tidak akan ada lagi seseorang bernama Gabriella. Nigel juga tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.

No Comments
57 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status