Masuk"Untuk bayar reuni berlagak sok elit, diminta uang untuk beli susu sulit!" Adakah di sini yang punya kisah sama? Based on true story 'reader asal Malang ini'. Yuk, ikuti keseruan ceritanya! Jangan lupa subscribe ya, kalau kalian suka hihi! Karena ini kisah real, maka hasil royalti dari Novel ini akan dibagi dengan yang bersangkutan. Ayo, bantu Nina berjuang dan bangkit, ya, manteman! Terima kasih :)
Lihat lebih banyakEmma's POV
“Are you sure about that?” I asked my mom as soon as she flashed her diamond ring in my face. She's been head over heels in love with her new man, and while they get on my nerves sometimes, especially on the days I caught them making out in the living room, one thing I can't deny is the fact that they are good together. “Yes honey.” She replied beaming. “What's wrong?” Mom looked concerned, she probably sensed that I wasn't so cool with it, but I didn't want to be the party pooper. “Oh no. Don't get me wrong. I just wanted to make sure that you are certain about it.” I replied to her. “Besides, is it an old people's thing to not propose in public. Why did he slip the ring under the duvet?” I teased her. “Please!” She said, laughing. Before Mark, my soon to be step dad, it's been a really long while since I saw my mom so happy. She was a workaholic. A lifestyle I think she picked up after my dad. It was a great save from alcohol, but I still didn't have her to myself, it was all work, then Mark came along. “So what's next?” Do I get to be on your train?” I asked. She seemed so eager to laugh at every single thing. That probably is what happiness feels like. I hope I get to experience it someday. “You know that's a given.” She replied. I wasn't expecting that. I know it was a little delusional of me to think it was all a joke, but some part of me really wished it was. I needed my mom! Her marriage to Mark was going to mean a lot. Mark is a great guy, but I'd rather we stayed like this. I don't ever want anyone else to hurt my mom the way dad did. He broke her so bad, she could not help it. Our life wasn't so great afterwards, but it was at least drama free. Mark, who owns a chain of stores, one of which my mom operated, started visiting more often, and not just for business sake. In the beginning, it was nice that she came back from work less grumpy. Or that she started staying out a little later, giving me a itsy-bitsy little bit of freedom. Then she brought back leftovers, which were far more classy than the veggies we always had for dinner. I was excited and wished that whatever was driving change in this direction never stopped. Then she started coming home with my own pack. I knew she couldn't afford that from her salary, and that was where the suspicion started setting in. I mean, it was great that I could finally relate to all the great foods the girls at school always talked about, but I had my mom less. Mom was home less frequently, fortunately or unfortunately, it was also around that time that a new neighbor moved in with her kids, both about my age. Kayla made the first move. “Hi, I'm Kayla, he's Kevin.” She broke into my thoughts on one of those days when I stood in the hallway, hoping no one saw me while I gawked at how toned ‘he’ was. It had always been ‘he’, now I knew his name, I could call him by his name in my dreams. Shamelessly, I was enjoying the fact that he was stealing my dreams and that I said everything I ever wanted to say to him in real life there. “Oh. Uhm. Hi, Kay, Kayla.” I stuttered dumbly after she snuck up on me. Her voice clearly betrayed that she found it amusing. She was seconds away from ripping at the seams. “I'll tell him you fancy him. Some yeast to his ego that is already far off the roof.” She gave an eye roll and stalled off. She was a very attractive girl. For a second, she made me wish I was into women. I'd have all that beauty to myself, till my eyes caught Kevin again. I instantly unwished it. He was a Greek God in the form of a high school kid. “Oh, and he takes your classes too.” Kayla turned back and said when she was already within his earshot. Kevin turned back immediately and looked at who Kayla was referring to. Determined to not let him see me, I turned back and ran back into the house. I'm not proud of the last bit of memory I have from that morning, but the story is really incomplete without it. Mom always had the decency to not be in the same space I was when she and Mark were on their never ending calls they made when Mark was out of town. This time around, I ran inside determined not to let Kevin see who his stalker was. Mom was clothless, stark naked. I wished that was all. She was on a video call with Mark, and trust me when I say she had more clothes on than he did. I immediately ran back out, screaming. This time around, Kevin and Kayla ran towards me. With each step he took, I saw his thighs contract and relax, his hair toddling in the breeze, and his eyes looking for who just made the eerie sound in the ever quiet hallway. They had gotten really close before I remembered that I had to have something to tell them. Stupid me! I can't say anything about mom, never, that was between her and I… “Are you alright?” He asked. The moment he opened his mouth, I wished he took mine in his. My hormones were rioting and running wild. Kayla, who understood, stood behind him, laughing at the exchange. I was too embarrassed, already reddening in the cheeks. Kevin put his hands on my shoulder and held my face in one hand. “I asked if you are alright. You screamed really loud.” He repeated. “Sorry.” It's the only thing I could utter. My mind was blank.Malu Jika Istri Berjualan[Nin, apa maksudmu dengan berjualan barang-barang bekas di akun sosial media seperti itu? Apa kamu nggak malu, Nin? Nanti dikira aku yang nggak becus jadi suami, aku yang nggak bertanggung jawab sama kamu. Hapus, Nin!]Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Tian. Tentu saja hal itu membuat Nina geram bukan main. Tanpa membalas pesan itu, Nina langsung saja menghubungi nomor suaminya. Dengan amarah yang sudah cukup meletup, Nina langsung saja mengutarakan niatnya."Halo, Nin, kenapa ka–""Halo! Harusnya yang malu itu Mas Tian lah! Kenapa bisa istrinya berjualan pakaian dan koleksi pribadinya, hingga sampai melakukan hal seperti itu, harusnya sih, Mas Tian punya malu, ya! Kalau aku nggak usaha kayak gini, memangnya perut Hisam bisa kenyang? Tolong, jadi lelaki itu setidaknya punya perasaan, Mas, meskipun udah nggak punya otak yang berfungsi!" Karena rasa kesal yang terus melanda, Nina begitu menggebu memarahi Tian.Dia sudah teramat kesal, tak peduli lagi or
Bab 5 Gelagat Aneh"Loh, kata siapa, Sayang? Iya memang benar istri Tono sedang hamil besar. Tapi, dia belum pulang kampung. Nina ini bagaimana, sih? Kalau Tono pulang, Mas juga ikut pulang, dong! Kan kami ini satu rekan, satu pekerjaan. Hehe. Ini Tono masih di sini, dia tadi pamit keluar sebentar ada perlu. Makanya Mas tunggu dia pulang, buat pinjam uang, lalu Mas kirim nanti ke Nina. Sabar ya, cantiknya Mas ini!" jelas Tian panjang lebar.Nina hanya mengerutkan kening. Dia paham betul bahwa suaminya sedang berbohong. "Oh, oke! Ya sudah kalau gitu, Mas. Nina tunggu secepatnya. Nggak mau kan kalau nanti Hisam haus dan berujung dehidrasi? Kamu tahu sendiri, ASI-ku sama sekali nggak keluar? Jangan lupa sholat, lekas istirahat! Kerja yang semangat biar dapat banyak duit dan cepat pulang!" kata Nina yang sudah malas dengan kebohongan suaminya.Setelah mematikan telepon, Nina mondar-mandir. Selera makannya tiba-tiba saja hilang. Dia bingung, dengan cara apa dirinya bisa menyambung hidup k
Bab 4 Bersembunyi Di Balik Nama TonoSesampainya di rumah, Nina segera membuatkan sebotol susu untuk Hisam. Sambil menepuk lembut pantat sang buah hati, Nina mengalunkan sholawat agar anaknya kembali tertidur. Perut Nina lapar, dia baru sadar belum sempat makan dari siang tadi karena panik dengan kiriman uang dari suaminya yang tak kunjung masuk."Ssh, ushh, shhh … bobok yang nyenyak ya, adek Hisam sayang. Ibu mau sholat Isya dulu, lalu makan. Anak sholeh-nya Ibu pintar," ujar Nina berbicara sendiri. Seakan-akan Hisam bisa mendengar dan mengerti ucapannya.Nina beringsut mundur, dengan gerakan perlahan dia turun dari kasur. Tak lupa untuk membuat pagar mengitari Hisam dari bantal dan guling, agar anaknya itu tak jatuh.Setelah selesai, hal pertama yang Nina lakukan adalah mengecek notifikasi pesan di ponselnya. Lagi, dia harus menelan kecewa karena Tian belum ada kabar. Jangankan mengirim bukti transferan uang, membalas pesannya yang sejak Ashar tadi dia kirim pun tidak. Nina kesal, n
Bab 3 Bukankah Banyak Anak, Akan Banyak Rezeki?"Mas Tian kenapa? Kok kalian nggak pulang bareng?" Nina semakin mencecar untuk mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya puas."Eh, anu, itu … Tian memang masih ada proyek di sana. Malah sedang ramai-ramainya. Aku kembali karena istriku mau melahirkan kan, jadi aku sengaja ambil cuti dulu. Kasihan, ini anak pertama kami. Jadi, ya, aku rasa memang aku harus pulang, Nin. Apa Tian jarang mengabari kamu?" ujar Tono malah berbalas tanya pada Nina. Wajah lelaki itu tampak salah tingkah, sambil beberapa kali terlihat mengatur nafas dengan susah payah. "Apa pekerjaan di sana sedang ramai-ramainya? Wah, berarti bulan ini bisa jadi banyak uang, dong, ya!" celetuk Nina dengan wajah berbinar. Dia terlihat antusias sekali saat mengobrol dengan Tono."Iya, memang kan akhir-akhir ini sedang ramai. Tenaga kami banyak diperlukan untuk borongan pembangunan gedung-gedung bertingkat, perumahan, atau bahkan ruko. Malah bulan kemarin bukankah diberikan bonus
Bab 2 Mencari Pinjaman 30.000Nina segera menidurkan Hisam dalam ranjang, dia kembali mencoba untuk menghubungi Tian. Sudah lebih dari tiga kali Nina menelpon sang suami, namun tak ada tanda-tanda telpon dari Nina akan direspon. Wanita dengan mata bulat itu terlihat kesal. Dia beberapa kali mendesa
Bab 1 Susu Tak Terbeli[Maaf, ya, Nin, aku belum dapat uangnya. Kamu bisa sabar sedikit lagi, ya? Aku pasti usahakan!]Pesan masuk di ponsel Nina membuat wanita itu mendesah perlahan. Dia memang memberitahukan suaminya, Tian, melalui pesan singkat. Bahwa susu formula untuk Hisam sudah habis dan wak


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.