เข้าสู่ระบบ
"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan kening yang mengerut saat membuka pintu rumahnya.
Di depan pintu berdiri seorang gadis dengan pakaian sederhana. Rambut panjangnya sedikit basah karena hujan. Ia tampak gugup ketika pria tinggi di hadapannya menatapnya dengan tajam. Gadis itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia membuka tas kecil yang ia bawa. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena. "Kamu tidak mendengar pertanyaanku?" tanya pria itu lagi dengan nada sedikit tidak sabar. Gadis itu segera menulis sesuatu di buku kecilnya. Setelah itu, ia mengangkat buku tersebut agar bisa dibaca oleh pria di depannya. Tulisan di buku itu berbunyi: "Saya pelayan baru yang dikirim oleh agen." Pria itu membaca tulisan tersebut dengan alis yang sedikit terangkat. "Lalu kenapa kamu tidak bicara?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. Gadis itu kembali menunduk dan menulis. "Saya tidak bisa bicara." "Kamu bisu?" tanya pria itu dengan nada terkejut tipis. Gadis itu mengangguk pelan sambil menggenggam buku kecilnya dengan gugup. Suasana menjadi hening beberapa saat. Pria itu memperhatikan wajah gadis di depannya dengan tatapan menilai. Kemudian ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Masuk," ucapnya singkat tanpa menoleh. Gadis itu sedikit terkejut, tetapi segera mengikuti pria tersebut masuk ke dalam rumah besar yang terlihat sangat mewah itu. Ruang tamu rumah itu tampak luas dengan perabotan mahal di setiap sudutnya. Gadis itu berdiri dengan canggung sambil memegang buku kecilnya erat-erat. Pria itu berhenti berjalan dan menoleh kepadanya. "Aku Arsen Wijaya," ucapnya dengan nada datar. "Pemilik rumah ini." Gadis itu segera menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Lalu ia kembali menulis di buku kecilnya. "Nama saya Aluna." Arsen membaca tulisan itu dengan ekspresi datar. "Kamu tahu pekerjaanmu di sini?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di dada. Aluna kembali menulis dengan cepat. "Saya akan bekerja sebagai pelayan rumah." Arsen menatapnya beberapa saat. "Kamu bisa memasak?" tanyanya dengan nada menguji. Aluna mengangguk cepat. "Bersih-bersih?" tanya Arsen lagi dengan alis yang sedikit terangkat. Aluna kembali mengangguk. Arsen memperhatikan gadis itu beberapa detik. Wajahnya terlihat sedang berpikir. Biasanya ia tidak suka memiliki banyak orang di rumahnya. Terlebih lagi orang yang bahkan tidak bisa berbicara. Namun gadis ini terlihat berbeda. Wajahnya polos, matanya jernih, dan sikapnya sangat hati-hati. Arsen menghela napas pelan. "Baiklah," ucapnya akhirnya dengan nada memutuskan. Aluna langsung mengangkat wajahnya dengan mata yang berbinar. "Kamu mulai bekerja hari ini," lanjut Arsen dengan nada tegas. Aluna segera membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih. Namun Arsen kembali berbicara. "Tapi ingat satu hal," ucapnya dengan tatapan serius. Aluna menatapnya penuh perhatian. "Jangan membuat masalah di rumah ini," kata Arsen dengan nada dingin. Aluna segera mengangguk cepat. Arsen berbalik untuk pergi menuju tangga. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali jatuh kepada gadis yang masih berdiri canggung di ruang tamu itu. Entah kenapa, kehadiran gadis bisu itu terasa sangat mencolok di rumah yang selama ini selalu sepi. Arsen tidak tahu bahwa sejak hari itu hidupnya akan mulai berubah. Semua karena seorang gadis yang bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dan tanpa ia sadari, gadis itu perlahan akan menjadi seseorang yang paling ingin ia miliki. Saat Arsen benar-benar sudah pergi, Aluna tampak berdiri canggung di ruang tamu yang luas itu. Ia melirik ke sekeliling dengan ragu. Rumah sebesar ini terasa asing baginya. Aluna tampak bingung harus pergi ke mana. Ia tidak ingin membuat kesalahan di hari pertama bekerja, apalagi setelah majikannya tadi memperingatkannya agar tidak membuat masalah. Namun, tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Aluna refleks menoleh. Seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya dengan wajah yang tampak ramah dan senyum lembut. "Kamu pelayan baru di sini?" tanya wanita itu dengan nada hangat saat sudah berdiri di depan Aluna. Aluna menganggukkan kepalanya pelan. Wanita itu memperhatikannya beberapa detik, lalu tersenyum lebih lebar. "Oh, perkenalkan. Saya kepala pelayan di sini," ucapnya ramah sambil menepuk dadanya pelan. "Nama saya Inara, tapi semua orang biasanya memanggil saya Bi Ina." Aluna segera membuka tas kecilnya dan mengeluarkan buku serta pena. Dengan cepat ia menulis sesuatu, lalu menunjukkan tulisannya kepada wanita itu. "Nama saya Aluna." Bi Ina membaca tulisan itu dengan seksama. Kemudian ia kembali menatap Aluna. "Aluna?" ulangnya sambil tersenyum. "Nama yang cantik." Aluna membalasnya dengan senyum kecil yang malu-malu. Namun tak lama kemudian Bi Ina tampak menyadari sesuatu. "Tunggu sebentar," ucapnya dengan alis yang sedikit terangkat. "Kenapa kamu menulis?" Aluna kembali menunduk dan menulis di bukunya. "Saya tidak bisa berbicara." Bi Ina membaca tulisan itu dengan mata yang sedikit melebar karena terkejut. "Kamu… tidak bisa bicara?" tanyanya dengan nada pelan. Aluna hanya mengangguk pelan. Beberapa detik Bi Ina terdiam, seolah sedang mencerna informasi itu. Namun kemudian wajahnya kembali melembut. "Kalau begitu tidak apa-apa," ucapnya dengan senyum menenangkan. "Yang penting kamu bisa bekerja dengan baik." Aluna langsung mengangguk cepat. "Baiklah," lanjut Bi Ina dengan nada ramah. "Ayo ikut saya. Saya akan menunjukkan kamar pelayan dan tempat-tempat yang perlu kamu ketahui di rumah ini." Aluna segera mengikuti langkah Bi Ina. Meski masih merasa sedikit gugup, setidaknya sekarang ia tidak lagi berdiri sendirian di rumah besar yang terasa begitu asing baginya."Kondisinya sudah jauh membaik selama beberapa hari ini," ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Aluna. Arsen yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung menatap dokter itu dengan serius. "Jadi, sepertinya kami sudah bisa melakukan tindakan selanjutnya." Mendengar itu, Aluna langsung terlihat sedikit tegang. Sementara Arsen perlahan menggenggam tangannya mencoba menenangkan. "Butuh waktu berapa jam, Dok?" tanya Arsen. Dokter itu membuka map pemeriksaan sebelum menjawab, "Mungkin sekitar dua sampai empat jam." Arsen mengernyit pelan. "Cukup lama?" Dokter mengangguk. "Karena beberapa bagian tubuhnya mengalami kerusakan yang harus diperbaiki dengan benar." Tatapannya kemudian beralih kepada Aluna. "Kalau tidak ditangani dengan baik, kemungkinan bisa meninggalkan kecacatan." Ucapan itu membuat suasana kamar langsung hening. Aluna perlahan menundukkan pandangannya. Sementara rahang Arsen langsung menegang. "Kalau begitu…" ucap Arsen pelan. "Lakukan yang ter
"Kau sudah bangun?" tanya Jack saat melihat Bella mulai mencoba duduk di atas ranjang. "Hmm…" deham Bella pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Hari sudah berganti pagi. Cahaya matahari masuk melalui jendela apartemen. Dan sejak semalaman, Jack tetap berada di sana menemani Bella. Bahkan untuk pertama kalinya, pria itu membawa Bella ke apartemennya sendiri. Biasanya mereka hanya bertemu di bar. Tidak pernah lebih jauh dari itu. Karena Jack selalu menjaga batas di antara mereka. Bella perlahan membuka matanya lebih lebar. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang terasa asing. "A-Aku di mana?" tanyanya dengan suara serak. "Di apartemenku," jawab Jack singkat. Mata Bella langsung membelalak kecil. Ia menoleh cepat ke arah Jack yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari ranjang. "K-Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya lagi. Jack menghela napas pelan. "Kau mabuk berat tadi malam." Bella langsung terdiam. Perlahan ingatan tentang semalam mu
"J-Jack… jangan tinggalkan aku…" gumam Bella lirih. Tubuhnya lemah. Kepalanya terkulai di bahu Jack. Belum sempat Jack menjawab— Tiba-tiba Bella muntah. "Ugh—" Jack langsung sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dengan cepat ia memiringkan posisi Bella agar tidak tersedak. Wajahnya langsung berubah serius. Ia menoleh ke arah salah satu karyawan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Ambilkan tisu!" perintahnya tegas. "Baik, Tuan!" sahut karyawan itu dan segera berlari mengambil tisu. Jack menepuk pelan punggung Bella. "Pelan… keluarkan saja," ucapnya menenangkan. Bella hanya bisa terisak lemah di sela-sela muntahnya. Tak lama, karyawan itu datang membawa tisu. Jack langsung mengambilnya lalu membersihkan mulut Bella dengan hati-hati. "Air," ucap Jack singkat lagi. Karyawan lain segera mengambilkan air mineral. Jack membantu Bella untuk minum sedikit. "Cukup… jangan terlalu banyak," ucapnya pelan. Bella menatap Jack dengan mata setengah terpejam. Air matanya
"T-Tuan… mata Aluna bergerak," ucap Bi Ina dengan suara bergetar. Sejak tadi ia tidak berhenti memperhatikan Aluna. Mendengar itu, Arsen langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada gadis di depannya. Dan benar— Kelopak mata Aluna mulai bergerak perlahan. Jantung Arsen langsung berdegup kencang. "Aluna…" panggilnya lirih. Aluna berusaha membuka matanya. Namun tubuhnya terlihat sangat lemah. Napasnya masih belum stabil. Arsen langsung menoleh cepat ke arah Bi Ina. "Panggil dokter sekarang," perintahnya tegas. "Baik, Tuan!" jawab Bi Ina lalu segera berlari keluar ruangan. Sementara itu, Arsen kembali mendekat. Tangannya perlahan menggenggam tangan Aluna. "Aluna… dengar aku," ucapnya pelan. Mata Aluna akhirnya sedikit terbuka. Pandangan itu masih samar. Namun perlahan— Ia bisa melihat sosok di depannya. Arsen. Air mata langsung menggenang di sudut mata pria itu. Perasaan lega bercampur haru memenuhi dadanya. "Maaf…" ucap Arsen lirih. Suaranya bergetar. "M
"Ini semua salahku…" Gumaman Arsen membuat Jack langsung menoleh ke arahnya. Arsen sedang bersandar di dinding lorong rumah sakit sambil memegangi kepalanya. Wajahnya terlihat kacau. Penuh tekanan dan penyesalan. Lalu tanpa disadari— Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Membuat Jack langsung mendekat dengan panik. "Arsen…" panggilnya pelan. Namun Arsen hanya menundukkan kepalanya. "Tidak, ini bukan salahmu," ucap Jack mencoba menenangkan. Arsen langsung menggeleng kuat. "Ini salahku," suaranya terdengar berat. "Kalau waktu itu aku tidak memecatnya…" Napasnya mulai tidak beraturan. "Maka Aluna tidak akan menjadi seperti ini." "Arsen, jangan menyalahkan dirimu sendiri," ucap Jack lagi. Namun tiba-tiba Arsen mengangkat wajahnya. Matanya memerah dipenuhi emosi. "Tentu saja ini salahku!" bentaknya keras. Suasana lorong rumah sakit langsung terasa semakin menegangkan. "Apa kamu lupa kejadian empat tahun lalu?!" teriak Arsen penuh emosi. Jack langsung te
"Bagaimana keadaannya?" Arsen bertanya begitu tiba di rumah sakit setelah pergi dari rumah Aluna. Napasnya masih tidak beraturan. Wajahnya terlihat tegang dan penuh kekhawatiran. Jack yang sedang berdiri di depan ruang perawatan langsung menoleh saat mendengar suara Arsen. Pria itu mengembuskan napas berat sebelum akhirnya menjawab, "Lambungnya sangat parah kata dokter." Ucapan itu membuat rahang Arsen mengeras. Namun Jack belum selesai. "Kalau tadi kita terlambat membawanya…" suara Jack perlahan melemah. Ia menghentikan ucapannya sesaat. Membuat Arsen langsung menatapnya serius. "Dia akan apa, Jack?" tanya Arsen dengan nada tegang. Jack menatap Arsen beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan, "D-Dia akan meninggal… kalau kita terlambat membawanya ke rumah sakit." Mata Arsen langsung membelalak. Jantungnya berdegup keras. Untuk sesaat— Ia merasa tubuhnya membeku. Bayangan Aluna yang terbaring lemah langsung muncul di kepalanya. Dan saat men







