Home / Mafia / Gadis Kecil Dua Miliar / Berhenti Bekerja

Share

Berhenti Bekerja

Author: Masdawati
last update Last Updated: 2025-10-30 15:06:24

"Lalu?" tanya Beatrice dengan suara bergetar sambil menatap Nathan dengan tatapan sedih dan kecewa menjadi satu.

Nathan merasa iba dengan keadaan itu, namun Nathan tidak boleh hanya mempedulikan satu orang saja. Nathan berusaha profesional, sekalipun wanita yang di depannya itu adalah wanita yang menarik perhatiannya.

"Aku katakan kau jangan datang dulu sebelum waktu yang kutentukan, maksudku kau boleh bekerja kembali saat semuanya telah membaik. Aku tidak memecatmu, aku pastikan pintu kilang terbuka untukmu saat kau membutuhkan pekerjaan, tapi pastikan orang-orang itu tidak datang kesini lagi," jelas Nathan.

"Aku bekerja disini agar bisa menutupi hutang-hutang ayah kepada orang-orang itu, tetapi tuan memberhentikanku bekerja. Tidak apa-apa, tuan, itu adalah hak tuan," ucap Beatrice, dan tidak disadarinya air matanya menetes.

Nathan menarik napasnya dalam-dalam dan hampir saja tangan Nathan menyentuh pipi Beatrice, namun Beatrice dengan cepat menghapus jejak air matanya sendiri. Nathan tidak tahu harus mengucapkan apa-apa lagi, Nathan merogoh saku celananya dan menyerahkan upah Beatrice yang sudah ada di dalam amplop.

"Maafkan aku, Beatrice, ini upahmu ya," ucap Nathan, dan Beatrice tanpa berucap apa pun pergi meninggalkan Nathan yang berdiri mematung di tempat yang sama.

Beatrice mengambil semua peralatan pribadinya dari kilang. Beatrice melangkah keluar kilang, melihat masih ada Nathan berdiri di sana menatapnya dengan tatapan sedih, namun Beatrice berusaha mengabaikan itu.

"Permisi, tuan," gumam Beatrice dengan suara kecil saat lewat di depan Nathan.

Beatrice melangkahkan kakinya dengan berat sambil menatap lurus kosong ke depan seakan-akan putus asa dengan semua yang dia alami. Orang-orang yang melihat Beatrice sepanjang jalan hanya menggelengkan kepalanya dan beberapa dari mereka mengejek Beatrice.

Tidak terasa satu jam lamanya kaki Beatrice melangkah, dan akhirnya Beatrice tiba di rumahnya sore hari. Beatrice sedikit bingung saat melihat pintu rumahnya terbuka kecil.

"Siapa di dalam rumah? Tidak mungkin itu ayah. Karena kebiasaannya juga pulang malam atau bahkan subuh," gumam Beatrice.

Dengan cepat dan mengabaikan rasa sakit hatinya setelah dipecat itu, Beatrice melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Saat berada di ruang tamu, Beatrice melihat ayahnya sedang bersama seorang wanita yang sudah cukup berumur namun terlihat cantik.

"Ini putriku yang kuceritakan itu," jelas Jhon memperkenalkan Beatrice kepada wanita itu.

Kebingungan tergambar di wajah Beatrice. Wanita itu menatap Beatrice dari atas hingga ke bawah lalu tersenyum dengan lembut menyapa Beatrice.

"Gadis yang cantik, siapa namamu?" tanya wanita itu berdiri dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

Masih dengan pikiran penasaran dan bingung, Beatrice masih mencoba untuk menyambut dengan tenang.

"Salam, nyonya. Aku Beatrice,"

Wanita itu mengangguk dan tersenyum.

"Aku Valery, orang-orang biasa memanggilku Vale. Senang berkenalan dengan Beatrice. Kau cantik sama seperti ayahmu menceritakan bagaimana kecantikanmu kepadaku,"

Beatrice tersenyum kaku dan melirik ayahnya untuk meminta penjelasan. Namun Valery yang melihat itu mengerti dan membuka suaranya kembali, tersenyum manis menatap Beatrice.

"Mungkin kau bertanya siapa aku, iya kan? Aku salah satu pemilik klub malam, dan ayahmu memintaku untuk mempekerjakanmu di sana. Awalnya aku ragu untuk menerima, namun ayahmu meyakinkan aku untuk menerimamu karena kau orang yang telaten dan cantik. Terbukti ayahmu benar setelah aku melihat kau secara langsung."

Beatrice mendengar itu bagaikan tersambar petir di sore hari.

"Ayah," gumam Beatrice dengan suara bergetar, mata berkaca-kaca. Belum hilang rasa sakit hatinya kepada ayahnya perihal rumah yang hampir disita, ditambah lagi dengan keadaan sekarang ini.

"Ayah melakukan ini bukan semata-mata kemauan ayah, ayah hanya ingin rumah peninggalan ibu tidak disita. Dan kau harus tahu jika kau mengiyakan dan ikut bekerja dengannya, kau akan bisa membayar hutang dan mempertahankan rumah ini. Itu sudah perjanjian kami dengan nyonya Valery. Benar kan, nyonya?" tanya Jhon memastikan.

"Benar sekali, Beatrice," Valery mengangguk kecil.

Sebenarnya Beatrice sedikit bingung melihat sifat ayahnya itu, kali ini ketika mengatakan sesuatu ayahnya tidak marah.

"Masih banyak pekerjaan lainnya, ayah. Kenapa harus bekerja di klub malam? Apa tidak ada pekerjaan lain? Lalu kenapa harus aku? Kenapa bukan ayah saja? Aku perempuan, ayah. Bagaimana jika hal yang tidak diinginkan terjadi? Apa ayah mikir sampai kesana, ayah?" keluh Beatrice di depan Valery.

"Pekerjaan ini bukan seperti yang kau pikirkan. Tugasmu tidak melayani laki-laki hidung belang. Hanya mengantarkan minuman pada pemesan saja. Aku pastikan tidak terjadi seperti apa yang kau takutkan," jelas Valery dengan sabar.

"Lebih baik aku mencari pekerjaan lain saja, boleh kan, ayah? Aku akan bayar hutang-hutang ayah pada orang itu," tolak Beatrice.

"Dengan cara seperti apa? Dari kilang gandum? Kau bekerja di sana saja upahnya hanya cukup untuk makan," Jhon mulai kesal menghadapi Beatrice.

"Aku tidak memiliki waktu yang banyak. Jika kau tidak ingin juga tidak apa-apa. Masih banyak di luar sana yang jauh lebih cantik dan mau dibayar sebesar satu hingga dua juta per harinya,"

Beatrice mendengar itu terdiam, dan baginya itu gaji satu bulan.

"Baiklah, aku permisi. Aku mencari yang lain saja. Aku harap kau tidak mencariku lagi, Jhon, untuk itu," Valery berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu.

Lagi-lagi tangan Jhon mendarat di wajah Beatrice karena marah. Beatrice memegang pipinya.

"Nanti kau kuantarkan bertemu dengannya. Kau tidak boleh menolak. Kau mengerti," marah ayahnya dan pergi keluar mencoba mengejar Valery.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Kurang Percaya

    “Sepertinya penanganan di rumah sakit ini tidak ada benarnya, bagaimana mungkin seseorang yang sudah di tangani dokter yang katanya profesional itu tidak mampu memberikan yang terbaiknya, yang ada anak itu semakin parah. Dimana keahlian mereka?” marah Maximian yang berada di luar ruangan itu, sambil mendaratkan beberapa pukulan di dinding. Tiffani bersembunyi di balik tubuh Beatrice, sementara Deon hanya berdiri sambil menatap pintu ruangan Helen di rawat, seakan akan tidak ingin mengalihkan pandangannya dari pintu itu sampai pintu itu terbuka. Beatrice mencoba menenangkan Tiffani yang berada dibelakang Beatrice. Gage menyadari itu lalu mendekat ke arah Maximian. “Tuan, sepertinya salah satu anak itu takut melihat tuan seperti itu, kontrol emosimu tuan,” bisik Gage, Maximian tersadar dan melihat ke arah Tiffani yang ketakutan. “Ah maafkan paman, Fani. Paman tidak mampu mengendalikan emosi paman,” ucap Maximian sambil menurunkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya. “Sepertinya

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Tidak Mendapatkan Restu

    “Aku mendengar kau sudah memiliki anak dari seorang gadis malam.” Ucap Graciella istri dari Robert, saat Maximian menemui kakeknya di rumah saat mendengar kakeknya sudah sadarkan diri. “Ini pasti ibu yang memberitahu,” gumam Maximian kecil. “Kau jauhi wanita itu, dia hukan wanita yang baik baik. Bukankah ibumu sudah mengenalkanmu dengan Jessie yang jelas jelas perempuan baik baik?” ucap Graciella. Robert hanya diam menatap plafon kamarnya dengan tatapan kosong. “Aku kesini hanya untuk menemui kakek, bukan untuk mendengarkan omongan yang tidak penting,” Ucap Maximian. Graciella terkejut, begitu juga dengan Robert mengalihkan pandangannya menatap cucunya yang duduk di kursi sebelah kasurnya itu. “Sejak kapan kau melawan seperti ini Maximian?” ucap Robert dengan suara dinginnya. Graciella menggelngkan kepalanya. “Aku memiliki anak dengan perempuan itu,” mendengar itu Robert semakin terkejut. “Bagaimana mungkin kau sangat yakin jika itu anakmu. Sementara dia hanya wanita malam yang

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Curiga

    “Selamat pagi paman,” sapa Tiffani yang sejak kapan berdiri disamping sofa besar Maximian tidur. “Ah iya pagi Fani, sudah lama berdiri disana?” tanyanya. Tiffani mengangguk dengan polosnya, Maximian melirik sekilas ke arah Beatrice yang sedang memberikan makan Helen. “Kata ibu paman sedang tidak enak badan, itu yang membuat Tiffani tidak membangunkan paman. Takut membuat paman tidak nyaman tidur dan membuat paman semakan sakit.” Maximian menggelengkan kepalanya kecil, melihat sifat manis Tiffani kepadanya. “Terima kasih, Beatrice,” ucap Maximian dengan tulus. “Kau tiba tiba tidak sadarkan diri semalam, dan aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, dan aku meminta salah satu keluarga pasien yang lewat semalam dari depan pintu kamar ini, dan dia menggendong mu untuk masuk di dalam.” Maximian mengangguk mengerti. “Baiklah, ini sudah pagi, tidak baik jika kau berada di ruangan ini berlama lama. Akan menggiring isu yang tidak baik. Aku sudah menghubungi Gage untuk menjemp

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Dia wanita baik

    “Kenapa kau muncul setelah apa yang dijalani Beatrice selama ini?” tanya Thomas dengan suara dingin menatap Maximian. “Kau tidak ada hak untuk tahu banyak tentangku dan Beatrice,” tegas Maximian. Pandangannya mengunci mata Thomas yang terlihat lelah itu saat melewati perjalanan yang cukup panjang setelah mendengar Helen sakit, dan menjaga tidur Helen agar tetap nyaman itu. “Dia sudah cerita kepadaku, kalau kalian tidak memiliki hubungan apa apa. Dan bahkan kau yang menegaskan kepadanya untuk tidak memunculkan dirinya di depanmu setelah malam kejadian itu terjadi. Bukankah begitu?” Mendengar itu, perasaan Maximian semakin panas. “Tuan Maximian, aku rasa tuan bisa mencari bahkan banyak wanita yang jauh lebih sempurna yang tuan bisa dapatkan diluar sana. Jangan menganggu Beatrice lagi. Aku akan menjamin mereka dan ketiga anaknya.” Maximian semakin panas dan menarik kerah kemeja Thomas. Namun Thomas tersenyum dan menatap teduh mata Maximian. “Untuk apa kau mengejar wanita malam yang

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Mereka tidak mengenalmu

    Maximian parkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah milik kakeknya dan menemui kakeknya yang sedang rebahan di kasur dan selang infus terhubung di tangannya. Maximian sudah paham betul apa yang akan didengarnya di dalam rumah itu. Dan benar saja, Maximian melangkah dan tiba di ruang tamu dimana semua satu keluarga berkumpul, Ariana menatapnya dengan tatapan tidak enak. Maximian mengabaikan itu. Maximian hendak melanjutkan langkahnya menuju kamar kakeknya namun suara ibunya membuatnya berhenti sebentar. “Ternyata kau ingat kalau kau masih memiliki keluarga, Maximian!” tekan Ariana. Maximian menarik nafas dan memandang ibunya sebentar. “Aku harap ibu jangan membuatku semakin menjauh dari keluarga ini,” mendengar itu Ariana merasa sakit hati karena ucapan putra satu satunya itu. “Kau mengatakan seperti itu kepada ibu, Maximian?” tatapan Ariana berubah menjadi sendu. “Aku datang kesini karena hanya ingin melihat keadaan kakek saja, aku tahu kalian juga berkumpul disini bukan sema

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Sakit

    Maximian menatap Beatrice dengan tatapan yang cukup dalam, bahkan Beatrice menyadari tatapan itu, namun seberusaha mungkin dia menyembunyikan kegugupan dengan mengajak mengobrol Deon dan Fani. ‘Maximian hanya diam menatap Beatrice dan kedua ketiga anaknya itu secara bergantian. Maximian tidak ingin mengganggu tidur Helen yang di brankar itu. Pikiran Maximian berperang “Kenapa tuan menatapku seperti itu? Apa tuan merasa menyesal membawa putriku ke rumah sakit tuan?” tanya Beatrice karena mulai risih dengan pandangan Maximian kepadanya. Maximian yang awalnya di seberang brankar, berjalan mengitari brankar tempat Helen tertidur dan berdiri tepat di depan Beatrice dan kedua anaknya itu. “Maafkan aku,” Maximian menundukkan kepalanya, air matanya menetes tanpa sadar. “Kenapa paman meminta maaf, paman tidak bersalah. Harusnya kami berterima kasih karena paman membantu membawa adikku ke rumah sakit,” ucap Fani. “Tiffani, kecilkan suaramu yang seperti toa itu, itu akan membuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status