เข้าสู่ระบบ
Di hari ulang tahun pernikahan Esther Llewellyn dan Erland Dawson yang kelima. Esther sudah bersiap dengan gaun malam yang indah, untuk menyambut kedatangan suaminya.
Namun, Erland justru datang dengan membawa sebuah kejutan. Seorang madu. “Siapa dia, Erland?” tunjuk Esther ke arah wanita dengan gaun berleher rendah yang menampilkan belahan dadanya yang sintal. Wanita itu berdiri di dekat Erland dengan kedua tangan yang melingkar di lengan pria itu. Hati Esther memanas melihatnya. “Dia Tiara, madumu!” jawab Erland datar. Bagai petir di siang bolong. Esther terkejut bukan main. Esther merasa jantungnya ditikam berkali-kali. Rasa sakit seketika dia rasakan di sudut hati. Dunia Esther runtuh dalam sekejap. “Madu? Apa maksudmu, kau menikah lagi?” tanya Esther dengan kedua mata yang sedikit melebar, menandakan kemarahan yang tak terbendung. “Ya.” Lagi-lagi Erland menjawab dengan suara datar. Bahkan terkesan sangat malas. Akhir-akhir ini, Erland memang bersikap sangat dingin. Esther tidak mengerti, apa yang membuat suaminya berubah. Esther hanya berpikir bahwa suaminya lelah karena harus bekerja siang dan malam. Namun, hari ini terjawab sudah. Suaminya memiliki wanita lain. “Kenapa, Erland? Kenapa kamu melakukan ini?!” seru Esther dengan nada menuntut. Alih-alih memberikan jawaban, Erland justru terdiam tanpa kata. Hanya tatapan yang sedingin es, pria itu tunjukkan. “Jawab, Erland. Jangan diam saja!” pekik Esther dengan nada bicara ketidaksabarannya. “Apa kurangku selama ini, Erland?” “Kekuranganmu adalah karena kau itu mandul!” Alih-alih jawaban itu keluar dari mulut Erland. Justru, hal itu terdengar dari mulut orang lain. Esther menoleh ke arah sumber suara dan melihat wanita paruh baya berjalan dari arah kanan. “Mama!” seru Esther. Corrina Dawson adalah ibu dari Erland yang tak lain adalah ibu mertuanya. Wanita itu melangkah mendekat dan berhenti di dekat Erland. Wajahnya terpancar sebuah kebahagiaan. Kening Esther mengkerut melihatnya. “Selamat datang di keluarga Dawson, Tiara,” ucap Corrina dengan senyum yang terpahat di bibir tuanya. Hal itu membuat Esther mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak tahan berdiam diri dan hanya melihatnya saja. “Ma, apa maksudnya ini?” cecar Esther kepada ibu mertuanya. Esther yakin, bila sang ibu mertua memiliki peran besar terhadap pernikahan kedua suaminya yang secara tiba-tiba. Corrina menoleh dengan santai ke arah Esther, tatapannya terlihat dingin. Berbanding terbalik saat berhadapan dengan Tiara. Bahkan senyumannya terlihat sangat meremehkan. “Ini sudah lima tahun sejak kalian menikah, tapi kau belum juga hamil,” cibir Corrina. Esther mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Segala cara telah dia lakukan untuk mendapatkan momongan. Namun, dia bukanlah Tuhan yang bisa mewujudkan segalanya. Menurut pemeriksaan, baik dirinya maupun Erland dalam kondisi baik-baik saja. Hanya saja, Tuhan belum memberikan kepercayaan soal anak. Namun, rupanya hal tersebut menjadi ancaman bagi pernikahannya. “Ma, aku dan Erland sudah berusaha, tapi soal anak itu bukan kuasa kami!” seru Esther mencoba memberi pengertian kepada Corrina. Akan tetapi, sepertinya Corrina tidak peduli. Keputusannya untuk memberikan restu kepada putranya untuk menikah lagi sangatlah tepat baginya. Tanpa memikirkan perasaan Esther, Corrina kembali bersuara. “Justru itu, kau tak perlu berusaha lagi. Karena kau mandul, maka tugas memberikan keturunan berpindah pada Tiara,” kata Corrina. Esther menggeleng tak percaya. Menikah bukanlah soal keturunan saja, tetapi juga kepercayaan. Tetapi, Esther melihat dua orang yang telah dia percaya selama ini telah mengkhianatinya. Esther kembali mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap Erland yang masih terdiam. “Erland, kenapa kau diam saja?!” Esther berharap sebuah penjelasan keluar dari mulut suaminya. “Kak Esther. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara, kalau aku hamil, anak ini akan menjadi anakmu juga,” sela Tiara dengan suaranya yang dibuat-buat. Kali ini Esther tidak dapat menahan diri. Satu tamparan mendarat di pipi wanita itu. Plakkk! Tiara menangis, dan itu memicu kemarahan Erland. Pria itu pun melakukan hal yang sama. Memberikan sebuah tamparan ke pipi Esther. Tamparan itu begitu keras hingga membuat Esther terjatuh ke lantai. Esther membeku, dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Tatapannya nanar ke arah lantai. “Aku tidak menyangka bahwa kau adalah wanita yang kasar. Aku melakukan semua ini demi keluarga kita. Tapi kau malah bertindak di luar batas!” Sekian lama terdiam, akhirnya Erland buka suara. Namun, kemarahan jelas terlihat di wajah pria itu. Rupanya Erland tidak terima karena Esther menampar Tiara. “Beraninya kau menamparku!” Selama pernikahan, Erland tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Tapi kali ini, pria itu melakukannya, dan semua itu karena Tiara. “Kau pantas mendapatkannya karena kau terlalu arogan!” sela Corrina yang seolah menyiram bensin ke dalam kobaran api. Esther menatap nyalang ke arah Corrina. Tidak tahan dengan semua ini, Esther pun bangkit, dan berlari keluar rumah. Untuk meluapkan kemarahannya, dia mengendarai kendaraan dengan sangat kencang, menuju ke kelab malam. Tempat yang sama sekali tidak pernah dia kunjungi sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, dia menyentuh minuman yang memabukkan. Esther putus asa, dia menenggak satu gelas, dua gelas dan menghabiskan beberapa botol. Namun, dia tidak menyangka bahwa dirinya memiliki pengendalian diri yang cukup baik terhadap minuman beralkohol. Dengan setengah kesadarannya yang tersisa, dia mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Keadaan sangat sepi saat dia tiba di rumah. Esther berjalan mengendap, sedikit sempoyongan. Tatapannya sedikit buram, namun dia mencoba untuk menggapai tangga. Tiba di lantai atas, dia melihat pintu kamar yang terlihat sangat banyak. Ini pasti karena efek minuman tersebut. “Ah, sial. Di mana kamarku? Kenapa banyak sekali pintu?” gerutu Esther. Dengan kepala berat, dia memasuki sebuah pintu dengan acak. Pintu dibuka dengan mudah, dengan begitu Esther yakin bahwa ini adalah kamarnya. Esther berjalan sempoyongan menuju ke ranjang, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang mengawasinya.“Aku ingin bicara denganmu.” Suara Valencia terdengar dingin. Tatapannya sendu, tatapannya sayu. Arion menghela napas panjang. Sepertinya ia tidak bisa menghindar lagi. “Di sekitar sini ada restoran enak. Kita bicara sambil makan saja,” ucap Arion. Dan di sinilah mereka berada. Restoran dengan menu utama makanan China. Dan Arion sengaja memesan hotpot. Hotpot adalah hidangan komunal populer khas Tiongkok yang menyajikan kaldu mendidih di atas meja, di mana pengunjung memasak sendiri bahan mentah seperti irisan tipis daging, seafood, sayuran, tahu, dan mie.Ini adalah hidangan sosial yang interaktif, cocok dimakan bersama, dengan kuah khas seperti mala, kolagen, atau kaldu ayam. Hidangan tersebut juga sangat cocok untuk mengubah mood yang buruk. Meski Arion sudah kenyang karena ia sudah makan dengan Esther, tetapi ia tetap menunjukkan niat baiknya menemani Valencia makan. Arion mencapit satu slice daging lalu mencelupkan ke dalam kuah kaldu yang mendidih, beberapa menit kemudian i
Bab 159. Valencia membeku di tempat. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar, dan menutup kembali pintu, menyisakan celah kecil yang bisa ia gunakan untuk mengintip. Tampak Esther tersenyum, dan membiarkan pria itu masuk ke dalam apartemennya. Valencia merasa ada ribuan panah yang menusuk jantungnya. Arion adalah calon tunangannya, tetapi pria itu justru mengunjungi wanita lain. Valencia ingat sekali, alasannya tinggal di apartemen ini. Karena ingin hidup mandiri, selain itu, tempat ini juga sangat dekat dengan tempat kursus modelingnya. Tetapi kini ia mengerti, alasan lain dirinya memutuskan untuk tinggal di sini. Mungkin saja ini cara Tuhan menunjukkan semuanya pada dirinya.“Sepertinya dugaanku benar, mereka memiliki hubungan?” batin Valencia. Esther menyiapkan peralatan makan untuk dirinya dan Arion. Menyiapkan air putih, dan juga gelas sampanye. Selain membawa makanan, Arion juga membawa anggur untuk pencuci mulut. “Saat ke sini, apa kau tidak takut ketahuan Valencia?” tanya Es
Sejak awal, Tiara memang menginginkan Esther dan Erland bercerai. Agar posisi Nyonya Dawson menjadi miliknya, dan tujuannya sebentar lagi tercapai. Tetapi, sepertinya Erland berusaha untuk mempertahankannya. Pria itu mencari bukti perselingkuhan Esther dan Arion, dan Tiara memilikinya. Namun, ia tidak berniat untuk memberikannya pada Erland supaya proses perceraiannya berjalan dengan lancar. Tiara segera menuju ke kamarnya. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja rias kemudian mencari video itu. Setelah mendapatkannya ia melihatnya sejenak. Ia ingat sekali di mana ia mengambil video ini. Ia berpikir, bahwa video ini bisa ia gunakan untuk menyerang Esther. Siapa sangka, ia tidak memiliki keberanian untuk itu. Tanpa ia melakukan itu pun, Esther pergi dengan sendirinya. Pada akhirnya ia harus melenyapkan video. “Kak Erland, maafkan aku.” Setelah mengatakan itu, Tiara segera menekan tombol hapus. “Apa yang kau lakukan?” Mendengar itu, Tiara seketika menegang. Jantungnya be
Bab 157. Esther membeku di tempat, ia menatap Valencia. Saat pertama kali melihat Valencia, ia berpikir bahwa wanita ini sangat pintar. Akan tetapi, sepertinya ia salah, Valencia adalah wanita yang polos. Alih-alih merasa panik, Esther justru terlihat tenang. Ia mengulas senyum kecil, lalu meletakkan cangkir di tangan di atas meja. “Nona Vale,” panggil Esther. “Itu sebabnya kau tidak menyukaiku ‘kan? Karena kau menganggap aku memiliki hubungan dengan Arion? Benar begitu?” Mendengar itu, Valencia justru tertegun. Bagaimana Esther bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya? Apa wanita ini paranormal atau cenayang? “Nona Vale, terkadang hidup memang tidak sesuai dengan keinginan kita. Banyak sekali kenyataan yang menyakitkan,” kata Esther. Valencia kembali diam. Kali ini ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Esther. Ia hanya bertanya soal hubungannya dengan Arion, akan tetapi wanita itu justru memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang ia berikan. “Hidup ini sang
“Aaaa…!” Sui seketika berteriak saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Saat itu ia baru saja mandi dan sedang mengenakan handuk saja. “Tuan Erland. Anda tidak sopan!” seru Sui dengan tatapan berapi-api. Erland tampak membeku di tempat. Ia pikir tadi adalah Esther. Tetapi rupanya ia salah. “Kau…” Erland jelas mengenalnya, dia adalah pelayan yang pernah bekerja di kediaman Dawson. Namun, ia memecatnya karena permintaan Tiara. Melihat Erland yang hanya diam, buru-buru Sui menutup pintu. Suara hentakan membuat Erland seketika terpejam. Ia merutuki diri. Apa yang dimaksud seorang wanita adalah Sui.Semua orang yang mendengar teriakan segera datang. “Tuan, apa yang terjadi?” tanya Robert. Erland menatap Robert, kepalanya menggeleng pelan sebagai kode bahwa apa yang dicari tidak ada. “Dia bukan Esther, tapi seorang pelayan,” kata Erland. “Apa?” Tak lama kemudian, dua orang polisi segera bergabung dengan keduanya. Mereka juga tidak menemukan apa yang dicari. “Nihil.” “Susah kubilang, ‘
Bab 155. Arion refleks menegakkan tubuhnya, tatapannya seketika membesar. Apa yang baru saja ia dengar? Apa tidak salah? “Esther, apa yang kau katakan?” “Apa kurang jelas? Sepertinya jaringannya tidak lancar.” “Tidak, aku hanya ingin kau mengulangi ucapanmu saja.” Suara Arion mendadak meninggi. “Arion aku ingin kita tidak bertemu dulu.” Pada akhirnya Esther mengulangi ucapannya. “Tapi kenapa?” Arion menuntut sebuah alasan. “Esther kau sungguh tidak ingin meninggalkanku ‘kan? Apa ini tujuanmu meminta tinggal terpisah, dan pada akhirnya ingin meninggalkan aku?” cecar Arion, wajahnya tampak memerah menahan amarah. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang. Sebaiknya kau pulang. Erland ada pihak kepolisian sedang menuju ke mansion.” “Apa?” Eric sejak tadi memperhatikan Arion melalui kaca spion. Mendengar percakapan pria itu, membuatnya penasaran. “Tuan, apa yang terjadi?” tanya Eric. “Eric, putar balik. Kita ke mansion sekarang.” Di sisi lain, Erland dan dua orang petugas ke







