LOGIN“Karina!”Suara familiar itu memecah ketegangan hingga Karina menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitu menemukan Dimas sedang berjalan cepat dari ujung lorong, hembusan napas leganya lolos seketika. Wanita itu bangkit berdiri, berjalan menghampiri Dimas dengan ketegangan yang perlahan lenyap dari wajahnya.“Kamu nekat banget keluar sendirian. Kenapa nggak tunggu aku pulang?” Dimas menangkup kedua sisi wajah Karina.“Aku mau masakin kamu, tapi semua bahan udah habis, Dim.”Sejenak, Dimas memejamkan mata erat. “Tapi kamu nggak apa-apa?”Alih-alih menjawab, Karina menoleh ke belakang. Ke titik dimana pria paruh baya tadi berdiri.Dia sudah tidak berada di sana. Karina mengembalikan pandangan pada Dimas. “Aku nggak apa-apa. Tapi …” wanita itu berjinjit dengan tangan terangkat, lantas menjangkau telinga Dimas yang lekas membungkuk. “Tadi, ada laki-laki yang ikutin aku.”Ekspresi Dimas menggelap begitu kalimat itu sampai ke telinganya.***“Bos, ada Dimas. Dia nyusulin Bu Karina.” pria s
Menjelang sore, Karina turun dari unit apartemen Dimas dengan langkah santai. Walau kini dia punya kesibukan baru—membuat konten edukasi Bahasa Inggris, hanya berada di dalam apartemen selama beberapa hari tetap saja memunculkan jenuh. Beberapa bahan mentah di kulkas sudah habis. Dia berencana berbelanja dan memasak sebelum Dimas pulang. Di tengah perjalanan menuju swalayan di seberang apartemen, aroma harum kopi tercium kuat begitu langkahnya melewati sebuah kafe. Kafe itu berada di area ruko yang menyatu dengan lantai dasar apartemen Dimas. Langkah Karina terhenti. Memutuskan untuk mampir, wanita itu masuk dan menghampiri meja barista, menyebutkan pesanan, lalu menunggu pesanan dibuatkan sambil duduk di salah satu kursi. Semuanya terasa wajar. Sampai … Dia menemukan tatapan seorang pria yang beberapa kali terasa seperti mencuri pandang ke arahnya. Pria itu duduk di salah satu kursi, menikmati kopi sambil sibuk dengan ponsel. Dia sudah berada di sana ketika Karina datang.Memutus
Caca sangat payah saat berbohong. Dari bagaimana Caca menjawab terbata, Dimas bisa menebak. Tetapi, dia tidak ingin menekan Caca dan memaksanya mengakui kebenaran. Caca tidak bersalah. Perempuan ini justru menjadi pihak yang sangat rawan dimanfaatkan, oleh sisi kepolisian. Dan oleh Dimas.Dimas menangkap sekilas ekspresi Caca yang menahan senyum saat melihat layar ponsel. Padahal baru beberapa saat lalu dia begitu terpukul dengan berita perginya Revan. Insting tajam Dimas berkata, itu kabar dari Revan.Dimas beralih memeriksa chat dengan Revan di ponselnya sendiri. Dia memang belum mengirim chat apa pun ke nomor Revan. Namun hanya ingin memeriksa apakah pria itu sedang aktif. Dan tebakannya benar.Ada sebuah teks ‘online’ yang muncul di bawah nama kontak Revan.Lalu sekejap kemudian, foto profil Revan menghilang.Dimas mengernyit, sebuah kecurigaan muncul dalam benaknya. Diketiknya pesan teks untuk menguji.[ Revan ][ Van ]Ceklis satu.Dimas mengusap dagunya. Tentu. Bukankah ini
Secepat kedipan mata, warna abu-abu ceklis berubah menjadi biru.Revan … baru saja membaca semua pesannya.Jantung Caca rasanya seperti berhenti berdetak. Terlebih, ketika sebuah teks ‘online’ muncul di bawah nama ‘Mas Revan’. Caca buru-buru menekap mulut, takut jeritannya lolos tanpa sadar.Sebuah balon teks muncul, kalimat ‘sedang mengetik’ membuat Caca hampir melompat dari kursi saking senangnya.[ Ciee kangen. :p ]Caca melirik kaku ke arah Pak Dimas yang baru saja duduk di kursinya. Aman. Pria itu kini fokus dengan layar laptop. Caca buru-buru beralih ke ponsel, mengetik balasan secepat yang dia bisa. Sengaja dia ketik panjang-panjang dalam satu kotak chat agar Revan bisa membacanya sekaligus tanpa terpotong.[ Kamu nggak jawab aku, Mas? Pertanyaanku banyak banget loh. Yang direspon kok yang nggak penting? Kamu resign? Kok nggak keluar baik-baik sih? ]Terkirim.Ceklis satu.Caca menunggu. Satu detik. Dua detik. Tanda ceklis satu tak juga berubah menjadi ceklis dua.Bahu Caca kem
“Ca, waktu itu … kamu sempat salah kirim pesan ke nomor saya. Kamu bilang, harusnya kirim ke Revan. Saya sempat baca, ‘besok Senin mau lagi’.” Atasan Caca—Pak Dimas, menaikkan sebelah alis, menatap Caca tajam hingga Caca merasa seperti terpojok di lorong yang buntu.Punggung Caca seketika menegang.“Bisa kamu jelasin, maksudnya apa?” lanjut Pak Dimas lagi, nadanya dingin, seakan menghakimi.Caca menunduk. Suaranya bergetar saat dia membuka mulut, “Saya … saya nggak bermaksud kirim pesan itu untuk Bapak, Pak. Sumpah.”“Saya tahu.” Pak Dimas memotong. Suaranya lekas membuat Caca menoleh. Pria itu berdiri sambil menarik napas panjang. Langkahnya diayun tenang memunggungi Caca, badannya kini menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Pria itu bergeming sejenak, seperti sedang mengumpulkan kata-kata yang tidak biasa dia ucapkan.“Ca, saya mau tanya sesuatu.” Setelah keheningan memerangkap, Pak Dimas menoleh, menatap Caca lurus. “Dan saya butuh jaw
Dimas melangkah cepat keluar dari ruang kerja menuju pintu tangga darurat. Tempat yang paling jarang dijangkau orang-orang. Sambil melangkah, jarinya dengan gesit melakukan panggilan ke nomor Bramanta.“Selamat pagi, Pak Dimas.” suara Bramanta terdengar tak lama setelah nada sambung berhenti. Dimas langsung menyahut tanpa basa basi.“Pak, dia benar-benar pergi?”“Dia pergi.” Bramanta bergumam rendah. “Kami kehilangan jejak.”Sebuah helaan napas keras dihembuskan Dimas. Revan kabur. Dan fakta itu memperkuat keterlibatan Revan dengan Reno.Jika tebakan Dimas benar, Revan sebenarnya mulai menaruh curiga saat alat penyadap yang dia pasang di speaker Dimas tak menyampaikan informasi apa pun—tentu karena benda itu sudah dipindahkan Dimas ke balkon, tanpa mencabutnya dari port. Revan yang penasaran dengan alat penyadapnya yang tak merekam apa pun, akhirnya mengambil kesempatan menyalakan sistem smart home di handphone Dimas ketika Dimas mabuk. Puncaknya, saat Dimas tidak berada di Jakarta,







