LOGINMalam itu, Jakarta baru saja diguyur hujan rintik. Udara lembap menyelimuti kawasan industri di Jakarta Utara. Arya memarkirkan motor matic tua pinjaman dari tetangganya di sebuah warung kopi yang letaknya sekitar seratus meter dari gerbang gudang cabang tujuh. Ia sengaja tidak membawa mobil kantor agar tidak mencolok. Dengan jaket hitam dan topi yang ditarik rendah, Arya tampak seperti pekerja sif malam biasa.
Ia memesan segelas kopi hitam, matanya tajam memperhatikan truk-truk besar
Arya merapikan kancing jasnya, melangkah keluar dari ruang direktur utama dengan tenang di samping Sonya.Pintu ruang rapat eksekutif terbuka lebar, memamerkan sosok Bagas yang duduk congkak bersama Clara dan lima auditor berpakaian serba hitam."Selamat pagi, Bu Sonya. Tampaknya mantan supir kesayanganmu ini makin betah duduk di kursi manajer," sapa Bagas dengan nada menyindir.Sonya melangkah masuk, memancarkan aura Ratu Besi yang dingin tanpa menyunggingkan senyum sedikit pun."Jaga mulutmu, Bagas. Kamu datang ke kantor pusat Marunda Fast tanpa janji resmi," tanggap Sonya tajam.Clara menyilangkan kakinya dengan anggun, memamerkan senyum manis yang tertuju penuh pada Arya."Jangan emosi dulu, Bu Direktur. Kami datang membawa berkas akuisisi saham dan bukti audit independen," potong Clara halus.Arya menarik kursi di ujung meja rapat, d
Sonya menduduki kursi kebesarannya di ruang direktur utama, melipat kedua tangan di atas meja kayu mahoni yang mengilat.Di hadapannya, tiga staf administrasi dan Nadia, sekretaris magang berparas manis, berdiri sejajar dengan kepala sedikit tertunduk."Saya memanggil kalian bukan untuk membuang waktu rapat rutin," ucap Sonya dengan suara dingin yang memotong udara ruangan.Nadia merapikan rok kerjanya yang sedikit di atas lutut, berdeham pelan mencoba mencairkan ketegangan."Ada instruksi khusus terkait laporan keuangan pangkalan Tanjung Priok, Bu Sonya?" tanya Nadia sopan.Sonya menyandarkan punggungnya, menatap Nadia dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tingginya dengan pandangan menilai."Bukan soal laporan, tapi soal etika kerja dan batasan teritorial di kantor ini," sahut Sonya tajam.Arya berdiri di balik pintu kaca es yang se
Brian menatap jemari Maya yang masih hinggap di punggung tangannya, lalu segera menarik tangannya ke belakang dengan gerakan cepat dan tegas."Maaf, Mbak Maya. Mari kita bicara profesional di meja rapat," ucap Brian dengan suara berat, mempertahankan pandangan mata yang dingin.Maya sedikit terkejut, menarik kembali tangannya sambil tersenyum tipis nan penuh arti.Jessy melangkah maju dari arah pintu, melipat kedua tangannya di dada sambil melemparkan tatapan tajam yang mampu membekukan ruangan."Ada yang bisa saya bantu, Mbak Maya? Saya kepala administrasi yayasan ini, sekaligus istri dari Brian," ujar Jessy dengan nada tenang namun sarat tekanan.'Waduhhh… mampus kau, wanita pengganggu! Mbak Jessy sudah mengeluarkan jurus Ratu Besi cabang yayasan!' batin Slamet yang berdiri di pojok ruangan sambil memegang stopmap cokelat.Maya dengan cepat menguasai
Arya dan Sonya segera bergegas keluar dari kabin Alphard, melangkah mantap menuju lobi eksekutif kantor pusat Marunda Fast.Sementara urusan rapat investor di kantor pusat disiapkan oleh Cindy, kabar dari Yayasan Kasih Baskoro terus berlanjut.Siang itu, ruang tamu Yayasan Kasih Baskoro yang tampak bersih dan asri kedatangan sosok tamu wanita berpenampilan sangat mencolok.Seorang pengusaha wanita muda bernama Maya melangkah anggun, mengenakan gaun merah ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya.Maya datang membawa map tebal, tersenyum lebar menyapa Brian Baskoro yang sedang mendampingi anak-anak yatim belajar menggambar."Selamat siang Pak Brian... Maaf kalau kedatangan saya yang mendadak ini mengganggu aktivitas yayasan," sapa Maya bersuara lembut nan mendayu.Brian berdiri satset, merapikan kemeja kasualnya lalu menyambut kedatangan tamu tersebut dengan senyum
Arya menyeringai lebar mendengar permintaan nakal Ratu Besi di ruang VIP pangkalan Tanjung Priok.Tangan kapalan Arya meremas lembut pinggang mulus Sonya, membimbing sang majikan berjalan menuju parkiran.Pintu kabin Alphard hitam dibuka satset, lalu dikunci rapat dari dalam begitu mereka berdua masuk ke jok belakang.Kabin Alphard berinterior kulit tebal itu terasa dingin, kedap suara, dan sangat privat dari riuh pangkalan.Sonya meletakkan rantang makanan di atas meja lipat kabin, membukanya dengan jemari lentiknya yang anggun."Makan siang dulu Arya... Nanti tenaga suamiku habis kalau belum diisi nasi," tutur Sonya bersuara lembut.Sonya menyuapkan sendok berisi nasi hangat dan lauk rendang daging ke dalam mulut Arya yang siap menerima.Arya mengunyah santai, menatap lekat leher mulus Ratu Besi yang terpampang indah di balik gaun terus
Pintu mobil Alphard hitam membentur pembatas pintu dengan dentuman pelan saat Arya melangkah turun di pelataran.Arya tidak terkecoh oleh senyuman manis Nadia yang sedang membukakan pintu untuk Bagas di lobi utama.Pria tegap bekas supir itu melangkah cepat menghampiri Bagas, memotong jalan sang investor sebelum masuk ke dalam lift."Mau main trik apa lagi kamu di Marunda Fast, Bagas?" tegur Arya bersuara berat nan dingin."A-Arya... Saya cuma mau serahkan surat kerja sama dari PT Nusa Armada!" sahut Bagas mendadak gagap terkejut."Simpan surat busukmu itu!" pangkas Arya merebut bundel berkas dari tangan Bagas satset."Kamu pakai PT Nusa Armada untuk menyusupkan mekanik bayaran di pangkalan Tanjung Priok kan?" cecar Arya tajam.Nadia yang berdiri di samping Bagas mendadak pucat, melangkah mundur ketakutan melihat sorot mata Alpha Manajer







