Share

Tamu Istimewa

Author: Otty A
last update publish date: 2024-02-19 18:14:11

"Masuk ke kamar. Lupakan yang kau lihat barusan. Papa menyayangimu!" Rayhan memeluk Levin.

Meskipun begitu, jantung Levin masih berdegup kencang. Bocah kecil itu masih ketakutan melihat kondisi Ibunya yang tak baik.

Levin masuk ke dalam kamar. Lalu menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya. Rayhan juga masuk ke kamar. Ia melirik Sandra yang sudah memejamkan mata.

*****

Keesokan paginya, anak anak bangun lebih dulu. Mereka berlarian mengelilingi ruang tamu. Sandra keluar dari kamar. Wanita itu tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.

"Mama baru bangun ya?" tanya Ana.

"Ya sayang. Mama akan mandi sebentar lalu membuat sarapan untuk kalian." Sandra kembali masuk ke dalam kamar.

Saat ia menoleh ke arah tempat tidur, ternyata suaminya juga sudah bangun.

"Apa kah kau masih sakit?" Rayhan bertanya.

Sandra menatap kosong ke arah jendela kamar, tanpa menjawab sepatah katapun.

"Kau tahu sifatku. Tapi kau tetap melakukan kesalahan. Ini semua salahmu sendiri. Bukan salahku." Seperti biasanya, Rayhan membela dirinya sendiri.

"Kring...! Kring...!" Suara handphone Rayhan berbunyi.

"Ya! Halo! Tinggal 20 meter lagi. Benar. Di sekeliling Villa ada pohon Pinus. Apa kau sudah sampai?"

"Aku sudah sampai di depan," jawab seorang lelaki dari sebrang telepon sembari mematikan sambungan telepon.

"Cepatlah pergi mandi. Dandan dengan cantik. Wajahmu terlihat kumal. Cepat sana!" Rayhan meminta sang istri untuk membersihkan diri.

Rayhan beranjak dari tempat tidurnya , ia keluar dari kamar. Langkah kakinya begitu cepat menuju ke arah pintu utama villa.

"Ceklek!" Rayhan membuka pintu.

"Kau sudah di sini! Ayo masuk."

"Aku harap kau tak marah kepadaku karena hal kemarin."

"Hal kemarin apa? Aku sudah melupakan semuanya!" seru Rayhan.

"Baguslah kalau begitu."

"Kau duduk di sini. Aku akan mandi sebentar! Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri!" Rayhan masuk ke dalam kamar lain untuk mandi.

Begitulah percakapan kedua sahabat, yang sudah berkawan semenjak duduk di bangku perkuliahan.

*****

Usai mandi, Rayhan langsung meminta Sandra untuk membuatkan kopi.

"Sayang! Tolong buatkan kopi 2 cangkir. Atau kalau kamu malas suruh Mbok Sukra yang buatkan." Rayhan berteriak kepada istrinya dari ruang tamu.

"Ray, nggak perlu repot. Aku buat sendiri juga bisa."

"Halah repot apaan?! Gunanya istri kalau bukan untuk disuruh begitu lalu untuk apa?" Rayhan menjawab dengan ketus.

"Ray, mana anak anak? Aku belikan cemilan dan es krim kesukaan mereka."

"Mereka main di dalam kamar. Sini biar aku simpan di freezer."

Rayhan berjalan ke arah dapur sembari membawa bungkusan berisi cemilan dari kawannya. Ia berpapasan dengan istrinya yang sedang membawa nampan.

"Ada makanan apa di meja?" tanya Rayhan.

"Sudah siap semuanya mas, nasi ataupun lauknya," jawab Sandra pelan.

Sandra melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana teman suaminya sedang duduk. Alangkah kagetnya Sandra, saat melihat ternyata yang datang ke Villa itu adalah Arya.

Tangannya gemetar memegang nampan. Wajahnya merona. Ketika mereka berdua saling memandang, keduanya menjadi salah tingkah.

"Sandra! Hai apa kabarmu?"

"Aku baik," jawab Sandra dengan wajah penuh senyuman.

Mereka berdua saling menatap dan tersenyum.

"Aku belikan coklat untukmu, terimalah...."

"Eh... Tapi..."

Belum sempat Sandra menyelesaikan kata - katanya, Rayhan datang ke ruang tamu.

"Ambil saja! Sudah capek-capek Arya bawa, mau kamu tolak?!" Rayhan menyela pembicaraan.

Sandra menerima coklat dan langsung pergi menuju ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, Sandra melihat coklat pemberian Arya.

"Dia memperhatikan aku terlalu berlebih-lebihan, ataukah aku yang terlalu mendalam memikirkan Arya?"

"Perasaan apakah ini? Cinta? Kagum? Atau hanya pelampiasan diriku saja yang kurang kehangatan seorang pria?"

"Hentikan pikiran yang tidak sepantasnya ini. Lebih baik aku ke ruang makan, menyiapkan makan siang." Sandra beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dapur.

Sandra menyiapkan sebakul nasi putih hangat, sepiring penuh ikan goreng dan semangkuk sayur sup, dibantu oleh Mbok Sukra.

Mbok Sukra adalah asisten rumah tangga yang ada di villa. Ia juga lah yang membantu tamu villa, untuk berbelanja.

Semua bahan makanan dibeli dari warga sekitar. Ikan yang merupakan hasil tangkapan warga dari Danau Blue Bell dan sayuran dibeli dari salah satu kebun milik warga.

Semua orang sudah siap di meja makan, Arya diam - diam memandangi Sandra.

"Wanita itu adalah makhluk yang sangat indah. Ia bagaikan malaikat pelindung untuk keluarganya." Arya bicara dalam hati.

"Jika pertemuan ini tak memiliki arti, seharusnya tidak akan tumbuh rasa menggelitik di dalam dada."

"Apa - apaan ini? Kenapa aku terus memikirkan istri dari sahabatku?"

"Bro! Eh! Kok bengong? Apa yang kamu pikirkan?" ucap Rayhan seraya menggoncang bahu temannya.

"Cantik," jawab Arya lirih.

"Apa?" Rayhan bertanya karena suara Arya tak begitu terdengar olehnya.

"Makanannya tampak lezat." Arya mengelak mencoba menutupi jawaban spontannya tadi.

Mereka semua menghabiskan waktu siang, bersama. Sesekali kedua sahabat itu bernostalgia semasa duduk di bangku kuliah.

"Pa... Ayo naik perahu!" rengek Levin.

"Sore saja ya."

"Tapi Pa... Langit sudah mendung. Kalau sore hujan lagi, pasti batal naik perahu." Levin mulai merajuk, bibirnya meruncing maju ke depan.

"Ya ya ayo berangkat sekarang! "

"Hore!" Anak anak berteriak.

"Ayo Ma. Ayo Om. Kita berangkat."

Levin menarik tangan Sang Ibu seraya menoleh kearah Arya.

Mereka berjalan bersama. Seperti biasa, Ana meminta digendong oleh Ayahnya.

"Bip...! Bip...!" Handphone Rayhan bergetar. Ada sebuah pesan singkat masuk.

"Selamat siang. Ray, ini Doni. Ampun...! Sulit sekali menemukan nomor handphonemu! Aku ada ikan Zebra Pleco, sesuai pesananmu kemarin."

Rayhan senang sekali, ikan hias pesanannya sudah siap dibeli. Ia langsung menelepon balik.

"Tut! Tut!"

"Hallo! Don... Serius sudah ada ikan pesananku?"

"Iya serius."

"Kamu dimana sekarang? Susah sekali mencari nomormu. Giliran dapat nomormu, malah susah dihubungi."

"Iya sorry... Bro! Saya lagi di luar kota. Family time. Ngomong - ngomong berapa harga ikan itu?"

"Murah 7 juta saja."

"Apa 7 juta? Pasaran harga hanya 3 jutaan kok yang ini mahal! Kamu jualan motor apa jualan ikan?" Rayhan berteriak kaget sembari menurunkan Ana dari gendongan.

Rayhan meneruskan bercakap dengan temannya melalui handphone. Sementara Ana merengek minta digendong.

Melihat Ana yang merengek, Arya tidak tega. Ia langsung menggendong tubuh mungil yang berdiri di hadapannya.

"Sudah sama Om saja ya. Papa sedang sibuk." Arya menenangkan Abel.

Levin meraih tangan Arya dan Sandra secara bersamaan.

"Ayo Ma. Kalau nunggu Papa pasti lama."

"Tunggu dulu. Nanti Papa marah." Sandra tak serta Merta menuruti permintaan Levin.

"Mama, kok nunggu sih? Papa suka lama kalau angkat telepon. Mumpung belum hujan."

Mendengar anak anaknya yang terus merengek, Rayhan menyuruh mereka berempat berangkat lebih dulu.

"Jangan ribut. Malu dilihat banyak orang! Kalian berangkatlah berempat. Arya aku titip anak anak ya. Selesai kesepakatan harga ikan, aku akan menyusul," ucap Rayhan.

Arya berjalan di depan bersama Ana dan juga Levin. Sandra mengikuti dari belakang dengan ragu.

"Om, ada yang jual layangan. Lihat!" Levin menunjuk ke arah layangan yang sedang diterbangkan oleh penjualnya.

"Levin mau? Ayo beli!"

Levin mengangguk dan berteriak. "Asik!" Anak kecil itu tersenyum sambil bertepuk tangan.

"Jangan merepotkan Om Arya," ujar Sandra kepada putranya.

"Apa yang merepotkan? Mereka bahagia, begitu juga denganku." Arya menyahut dengan senyuman.

"Ana sini ikut Mama. Biar Mama yang menggendongmu. "

Namun Ana tak menjawab. Karena tengah asyik mengamati sekeliling. Banyak penjual makanan. Ada yang menawarkan buah, sayur mayur, ikan dan juga bunga.

"Sudahlah Sandra. Ana merasa nyaman dalam gendonganku. Ayo kita segera menyewa kapal, anak anak sudah tak sabar ingin mengelilingi danau," ucap Arya.

"Situasi apakah ini ? Kenapa perasaan di dalam hati menggoda diriku? Apa aku jatuh hati kepada teman suamiku?"

"Kelak waktu yang akan menjawab semua pertanyaan penuh keraguan ini. Setiap pertemuan pasti memiliki makna di dalamnya." Sandra bicara kepada dirinya sendiri.

Mereka kemudian menyewa sebuah kapal. Melihat pemandangan danau penuh kabut dari dekat. Cuaca berubah dingin, sesekali petir menyambar. Terdapat keramba ikan milik warga di kanan kiri danau. Banyak pohon Cemara dan Pinus di tepiannya.

Saat asik mereka melihat pemandangan, terlihat Rayhan dari kejauhan melambaikan tangan.

" Papa! Kami jalan jalan dulu." Levin berteriak.

"Papa! Tunggu sebentar ya." Ana ikut berbicara.

Sandra menoleh ke arah Rayhan. Sementara Rayhan menatap Sandra dengan tajam.

"Gawat! Mas Rayhan pasti akan memarahiku karena tidak menunggunya naik perahu." Sandra ketakutan. Pikirannya jadi tidak tenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Seputar Cerbung
kabur aja daripada kdrt lagi
goodnovel comment avatar
Imamah Nur
Waduh, bahaya ini Sandra, bisa-bisa kau dipukul lagi 🥲
goodnovel comment avatar
Wee Daevii
rasain ditinggal hehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Warisan Pengkhianatan

    Suara seorang pria membuat Viko menoleh. Langkah kaki terdengar mantap memasuki ruangan.Seorang pria berdiri di ambang pintu.Tegap. Tenang. Tatapannya lurus, dia lah Andrew. Mata Viko langsung menyipit. "Kau…?" suaranya penuh curiga.Ana tidak menoleh. Namun bahunya sedikit mengendur. Seakan kehadiran pria itu… memberi kekuatan.“Ayo, Ana,” ucap Andrew lagi, kali ini lebih tegas. "Kita tidak perlu membuang waktu di tempat seperti ini.” Kata-katanya dingin terasa menusuk.Johan langsung melangkah maju.“Andrew, kau benar benar licik! Kau menekan kami untuk menyerahkan saham milik Viko!” bentaknya.Andrew menatapnya sekilas." Pak Johan yang terhormat, kebenaran sudah terbongkar. Dan sekarang, anda ada pada posisi yang salah. Anda mendukung perbuatan zinah yang dilakukan oleh anak anda!" Andrew menjawab spontan. Kalimat itu membuat suasana semakin panas.Viko mengepalkan tangan. "Ana," suaranya menekan

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Balas Dendam

    Kalimat itu menggantung di udara.“Tentang anak Viko dari mantan pembantu anda!”Senyum di wajah Aurelia perlahan menghilang.Wajahnya memucat.“A-apa maksudmu, Ana?” suaranya bergetar, berusaha terdengar tenang.Ana menolak untuk duduk apalagi berbasa basi. Ia tetap berdiri.Tatapannya lurus, tajam, tanpa ragu.“Jangan berpura-pura tidak tahu, Ma,” ucapnya pelan.Nada suara Ana terdengarrendah… tapi menusuk. "Aku sudah melihatnya sendiri. Di rumah sakit. Asih… dan anaknya."Suasana menegang. Detik jam terasa lambat. Aurelia menelan ludah.“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan—"“Kalimat itu terlalu sering dipakai untuk menutupi kebohongan,” potong Ana. Ia melangkah maju satu langkah.“Yang ingin aku tahu sekarang cuma satu.” Tatapannya mengeras. “Sejak kapan Mama tahu hubungan Viko dan pembantu itu?”Pertanyaan itu jatuh seperti palu. Membuat Aurelia terdiam. Bibirnya terbuka… tapi tak ada kata yang keluar

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Mama Mertuaku adalah Pengkhianat

    Sandra menelepon Levin, anak tertuanya. Ia mengatakan persis seperti dengan apa yang dikatakan oleh Ana. "Jadi Ana ingin bercerai dengan Viko?" sahut Levin dari sebrang telepon. "Iya! Tapi entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Mama juga tidak tahu. Levin, tolong pergi temui adikmu. Mama juga akan ke sana sebentar lagi. Perceraian di saat hamil, itu konyol sekali!" Sandra menggenggam erat ponselnya. "Hmm! Baik lah. Aku akan ke rumah Ana." Levin mengakhiri pembicaraan. Sandra turun ke bawah. Ia meminta asisten rumah tangganya untuk memasak. Setelah itu, ia pergi dengan supir. *****Levin sudah tiba di rumah Ana. Security rumah menyapanya. Tapi orang yang dia cari ternyata tidak ada di rumah. "Ana belum pulang?" Levin mengerutkan kening. "Belum, Pak. Bu Ana pergi pagi-pagi sekali. Dan sampai sekarang belum kembali.""Kemana Ana pergi?" "Saya juga tidak tahu, Pak. Bu Ana tidak men

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Anak Itu Milik Suamiku

    Pagi itu terasa berbeda. Biasanya Ana akan menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak menu makan siang dan makan makan malam. Tapi sekarang, ia hanya duduk diam di ruang makan, secangkir teh di depannya sudah dingin tanpa tersentuh. Tatapannya kosong, namun pikirannya bekerja tanpa henti."Tagihan rumah sakit itu sebenarnya milik siapa?" Ana bermonolog. Deretan angka yang ada di lembar tagihan itu terus berputar di kepalanya.Bukan angka kecil. Bukan angka untuk luka ringan. Itu adalah angka… untuk sesuatu yang besar.Ana menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamar, mengambil tasnya, dan bersiap tanpa banyak suara."Aku harus tahu semuanya." Hari ini, ia tidak akan menunggu, ia akan mencari tahu.****Rumah Sakit Royal Pyruz tampak megah dari luar. Bersih dan juga tenang. Ana berdiri beberapa detik di depan pintu masuk, menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk."Ini temp

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Rahasia yang Dijaga Mati-Matian

    "Untuk apa aku harus menjawab pertanyaan dari orang asing?” Asih melengos, membuang muka ke arah lain.“Kau wanita yang tidak punya hati! Kau merusak kehidupan pernikahan wanita lain! Dan sekarang kau berlagak seperti orang suci!” Levin tersulut emosi.Suster tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat Levin menghentikan kata-katanya.“Maaf, pasien harus beristirahat sekarang,” ucapnya singkat, namun cukup jelas—itu adalah bentuk pengusiran yang halus.Levin tak ingin membuat keributan di rumah sakit. Ia pun keluar dari ruangan Asih.Begitu langkah Levin menghilang, Asih segera mengirim pesan teks pada Viko. Ia menuliskan bahwa ada seorang lelaki asing yang masuk ke kamarnya dan mempertanyakan hubungan mereka.Namun sayang, ponsel Viko sedang mati. Pesan itu tak pernah terbaca.Di tempat lain, Viko baru saja tiba di rumah. Ana menyambutnya dengan wajah berseri.“Kenapa pulang terlambat? Aku sudah menunggumu sejak tadi,” prote

  • Gairah Terlarang Sahabat Suamiku   Sisa Cinta di Tengah Luka

    "Lakukan saja apa yang kau mau! Tes DNA atau apa pun itu! Aku tidak takut.”Suara Viko menggema lantang. Tatapannya tajam, sama sekali tak menunjukkan rasa gentar.“Dan jika hasilnya tidak sesuai dengan tuduhanmu barusan, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik!”Levin terdiam. Keragu-raguan mulai menyusup ke benaknya. Namun bukti bahwa Viko adalah penanggung jawab Asih masih tak terbantahkan.Atau… apakah dia hanya menolong Asih atas dasar kemanusiaan semata? batin Levin.“DRrrt!”Ponsel Levin bergetar. Satu panggilan masuk—dari orang tuanya.“Levin! Kau pergi ke mana? Kenapa belum kembali ke sini? Mamamu mencarimu sejak tadi!” suara Arya terdengar tegas dari seberang telepon.“Iya, Dad. Aku akan ke sana. Tidak usah khawatir. Aku tadi cuma ke kantin,” jawab Levin beralasan.Viko melirik tajam ke arahnya.“Siapa yang sedang dirawat di sini?” tanyanya curiga.“Bukan urusanmu!” balas Levin ketus. Ia l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status