MasukAgus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me
"Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar
Melihat bos mereka tewas mengenaskan dengan muka hancur berdarah, sisa-sisa mafia luar kota mendadak hilang nyali. Senjata-senjata tajam di tangan mereka berjatuhan ke tanah."Ampun, Bos! Ampun!" jerit beberapa preman sambil berlutut gemetar di atas tanah.Pandangan Agus yang gelap dengan tatapan membunuh. Dia melangkah maju menekan lukanya, menyisakan jejak darah di setiap pijakan."Kagak ada kata ampun buat bangsat yang berani ngusik territory gua!" bentak Agus nyaring.Pipa besi di tangan Agus kembali mengayun tanpa ampun. Bersama Adul dan Cak Kumis yang makin kalap, mereka membabat habis sisa-sisa dedengkot pasar luar kota. Jeritan kesakitan meraung-raung di kegelapan malam hingga area gudang perbatasan benar-benar hening.Truk-truk pasokan yang sempat ditahan kini dikuasai penuh oleh anak buah Agus. Jaringan mafia luar kota dihancurkan total malam ini sampai ke akar-akarnya.Agus melempar pipa besinya yang berlumur darah segar ke tanah. Dia berdiri tegak di tengah reruntuhan mus
Musik di ballroom hotel berbintang itu masih mengalun lambat sewaktu Adul melangkah tergesa menembus kerumunan. Di belakangnya, Cak Kumis mengekor dengan napas berburu dan mata merah menahan banting."Bos! Gawat, Bos!" kata Adul setengah tertahan di samping telinga Agus.Agus yang sedang menggandeng pinggul Rosa langsung menghentikan langkah. "Kalian ngapain ke mari? Kagak tahu tempat lo?""Anjir lah. Ancur, Gus! Pasukan mafia pasar dari luar kota turun!" potong Cak Kumis cepat, suaranya gemetar menahan amarah. "Mereka sekongkol sama orang sisa-sisa grosir senior yang dendam sama lo!"Mata Agus terbuka lebar. Aura gaharnya langsung memuncak. "Bicara yang jelas. Jangan kaya cewek panik!""Jalur distribusi pangan ke kota diblokir total, Bos!" timpuk Adul cepat. "Truk-truk kita dicegat di perbatasan perbatasan. Bajingan-bajingan itu bawa massa ratusan orang. Kata mereka, kalau lo kagak nyerahin hak kelola pasar malam ini, seluruh lapak Mbak Sari dan satu pasar bakalan dibakar habis!"Ros
Pagi-pagi sekali dapur rumah gedong sudah riuh oleh denting sutil dan wajan. Sari tersenyum-senyum sendiri mengingat gempuran tanpa ampun dari Agus semalaman. Meski selangkangan dan pinggulnya masih terasa pegal linu, selesai mandi dia langsung melesat ke dapur dengan semangat membara.Aneka hidangan spesial sudah tersaji rapi di meja makan, ayam goreng serundeng, sambal terasi hangat, hingga sayur lodeh katuk kegemaran keluarga.Langkah kaki Rosa terdengar turun dari tangga sambil menggendong si Perkasa. Melihat itu, Sari cepat-cepat menyambut dengan wajah berbinar."Selamat pagi, Mbak Rosa! Sini, si Perkasa biar Sari yang pegang," sapa Sari ramah, langsung merengkuh si Perkasa ke dalam dekapannya."Pagi, Mbak Sari... Ya ampun, masakannya banyak banget," puji Rosa terharu melihat meja makan yang penuh hidangan lezat.Sari mengambil mangkuk kecil berisi bubur bayi, lalu menyuapi si Perkasa dengan telaten dan sabar. Jemari lentiknya begitu gesit mengusap sudut bibir si Perkasa yan
Pelataran pasar tradisional disulap mendadak jadi panggung pesta syukuran menggelegar. Janur kuning berdiri megah di samping deretan lapak. Ratusan pedagang, kuli panggul, hingga kelompok preman berkumpul rapat, menikmati tumpeng dan es buah gratis yang disediakan Agus.Suasana yang biasanya riuh oleh teriakan tawar-menawar kini berganti jadi sorak-sorai penuh rasa segan. Tak ada lagi preman atau pedagang grosir senior yang berani menatap liar ke arah Sari. Hari ini, wanita paling bening dan montok di pasar itu resmi berstatus istri kedua Sang Bos Besar."Gila... Si Agus beneran jadiin si Sari bini mudanya," bisik salah satu preman pasar dengan mata takjub."Ssshh! Jaga mulutmu! Mau dicopot kepalamu sama anak buah Cak Kumis?!" tegur temannya ketakutan.Agus berdiri di tengah panggung dengan kemeja batik hitam yang membalut dada bidangnya. Tangan kekarnya melingkar posesif di pinggul bohay Sari yang tampil sangat menggoda memakai kebaya merah ketat penonjol lekuk tubuh."Dengar l
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p
“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu







